Salahkah Aku?

Salahkah Aku?
47.Gosip


__ADS_3

Seperti biasanya jika pertemuan arisan mereka akan menyombongkan prestasi ataupun kelebihan menantu atau anak mereka seperti saat ini Nyonya Veronica di berondong berbagai pertanyaan oleh Nyonya Silva yang bertemu Helmi saat di restoran.


"Masa sih jeng kamu gak tahu siapa wanita yang di bawa makan siang oleh putramu?" tanya Nyonya Silva memojokkan Veronica, "Bukankah hubungan kalian baik baik ajah jeng? kok kamu spai gak tahu apa pun tentang putramu?"


Sedangkan Veronica hanya diam mencoba santai menanggapi ocehan teman sosialita nya jika bukan demi level sosialita, Veronica mana mau berkumpul bersama dengan Silva istri seorang pejabat pemerintah.


"Enggak gitu juga jeng, putra saya kan sudah besar, masa Iyah setiap pulang ke rumah ia harus saya berondong dengan pertanyaan anak labil? seperti kegiatan kamu hari ini apa, sama siapa, dimana. Gak mungkinkan, Helmi sudah besar paling dia jawabnya, yah kerja lah mah Helmi kan udah besar" papar Veronica diiringi tawanya dan teman yang lainnya.


"Oh gitu jadi jeng gak tahu siapa wanita kumuh yang di ajak jalan Helmi?" tanya Nyonya Silva dengan wajah kecewa


"Pastinya anak salah satu pelayan di rumah saya, Helmi memang dekat dengan putra putri mereka, yah namanya juga putra tunggal pasti pengen punya saudara lagi kan? putra saya memang begitu pada siapapun, dia gak pilih pilih ngajak jalan jeng, kadang Surti ajah di bawa ke luar negri" ocehnya berbohong demi menyelamatkan wajahnya di depan teman-temannya.


"Oh begitu yah jeng, ngomong ngomong jeng Arini katanya udah pulang dari luar negerinya?" tanya Nyonya Siska pada teman-teman nya


"Ah yang bener jeng, bukankah dia mau netao di sana yah?" tanya temannya yang lain.


"Gak tahu juga tuh, paling batal kali tinggal di sana, kalian tahu sendiri kan putrinya sungguh binal, jadi buat apa pindah kesana kemari kalo cuma buat ngasih tahu putrinya susah di urus, mending di sini aja kali yang semua orang udah tahu gimana sifat putrinya" ucap Nyonya Silva sengaja agar semua orang memberi penilaian plus pada putrinya yang terkesan kalem.


"Bener tuh jeng, gak kayak Nadia yah, baik pinter nurut lagi" puji jeng Siska yang memang sempat beberapa kali bertemu dengan putri temannya.


"Kalo aku punya anak kayak gitu mah serasa gagal jadi orang tua kita" ujar Nyonya Silva hingga membuat semua temannya bisa tertawa. "Eh jeng Siska, denger denger putramu sudah turun kerja di kantor yah?" lanjut Nyonya Silva.


"Iyah jeng, katanya pengen kayak Helmi bisa ngurus perusahaan besar, yah meskipun perusahaannya milik papahnya" ujar Nyonya Siska


"Anda bisa saja Jeng," ucap Veronica malu malu.


Sedangkan Nyonya Arini yang tadinya ingin menyapa teman teman sosialita nya yang selalu baik padanya kini memilih mengurungkan niatnya, ia sungguh kecewa terhadap teman temannya yang ternyata hanya baik di depannya saja, namun di belakang mereka malah asik membicarakan kegagalan nya dalam mengurus seorang anak.

__ADS_1


"Tante, Tante gak papa?" tanya Ali saat dirinya mendapati wanita yang kemarin, berkenalan dengannya mencoba menahan bobot tubuhnya dengan berpegangan pada meja meja di tempat makan sana. Hingga membuat beberapa orang yang sedang berkumpul melihat pada sumber suara yang bertanya.


"Saya baik baik ajah kok Al," ujar Nyonya Arini memaksakan senyumnya.


"Loh, ada jeng Arini sejak kapan?" ujar salah satu di antara mereka yang sedang menggosipkan dirinya.


Sedangkan Nyonya Arini hanya memaksakan senyumnya karena tubuhnya terasa bergetar hebat hingga menyulitkannya untuk bergerak.


"Tante duduk dulu ajah, kayaknya Tante terserang Tremor deh" ujar Ali menarik lengan Nyonya Arini untuk membawanya duduk.


"Makasih Al," ujar Nyonya Arini yang langsung diangguki senyuman oleh Ali, karena Ali sedang memesan air putih dan jus untuk nya dan Nyonya Arini.


"Jeng Arini sakit?" tanya Nyonya Silva, mereka semua datang menghampiri Nyonya Arini hanya Veronica yang tidak bangkit dari duduknya.


"Cih! tidak usah pura pura peduli," ujar Nyonya Arini sinis mencoba menahan rasa sesak di hatinya.


"Gitu gimana? saya pikir kalian berbeda dari orang orang ternyata sama yah, bahkan kalian lebih kejam dari mereka yang selalu mencemooh di depan mata saya" ucap Nyonya Arini sengit.


"Gini deh jeng, kan kita gak salah ngomong, putri tunggal Jeng Arini emang gak bisa di atur kan?" tanya Nyonya silva yang di sahuti anggukan kepala oleh yang lainnya.


"Mengapa kemarin kemarin kalian memuji prestasinya saat bersekolah dulu, tanpa mengatakan kebinalan putri saya hah?!" ujar Nyonya Arini dengan suara kencang.


"Mengapa hanya putri saya yang di katakan binal dan sulit di atur sedangkan pasangan gilanya putri saya kalian puji puji? hah?!" teriaknya lagi, "Asal anda tahu jika saya gagal mendidik putri saya, apakah Veronica tidak gagal mendidik putranya hah?! mengapa hanya saya yang kalian katakan gagal?" teriak Nyonya Arini, hingga air mata yang tadi ia tahan sudah tidak bisa ia bendung hingga mengalir tanpa permisi.


"Apa yang anda katakan Nyonya Arini?" tanya Veronica dengan suara lantang menghampiri Nyonya Arini yang menangis di pelukan Ali. "Jelas jelas putri anda yang membuat putra saya jadi semakin sulit di atur, lalu apa anda akan menyalahkan putra saya hah?! lalu sekarang anda akan membalikkan keadaan hah?!" teriak Veronica menggila.


"Anda sendiri yang gagal mendidik putri anda lalu dengan mudahnya anda menyalahkan putra saya, semua orang tahu bagaimana kehidupan putri anda, jelas anda seorang ibu gagal dalam mendidik anak," bentak Nyonya Veronica pongah

__ADS_1


Semua orang yang ada di sana langsung berbisik bisik bahkan orang lain pun ikut menjelekkan Nyonya Arini.


"*Benar yah, orang benar anaknya yang gak tahu malu, malah nyalahin anak orang penyebabnya"


"Udah tahu dia yang gagal mendidik pake mau nyalahin gegara anak orang lagi"


"Kalo itu putri saya, sudah saya kasih pelajaran mengirimnya ke desa terpencil agar tau apa arti kehidupan sesungguhnya*"


Semua kata kata menusuk terdengar di Indra pendengaran Ali, hingga nafas Ali memburu mendengarkan ocehan para ibu ibu yang tidak sadar jika mungkin saja putra putri mereka sama seperti putri Nyonya Arini hanya saja mereka pintar bersembunyi.


"STOPP!!!!" teriak Ali menggebrak meja, ia sungguh tahu apa yang dirasakan Nyonya Arini saat ini.


Brakk


"Apa kalian tidak takut jika putra putri kalian sama gilanya di luar sana?! hanya saja mereka pintar bersembunyi? haha?!" tanya Ali berdiri sambil berteriak.


"Semua orang pasti memiliki kekurangan, tidak kah kalian malu jika kalian sama gilanya? sok benar sendiri padahal kalian tidak sadar jika saat ini kalian sedang menunjukkan kekurangan hidup kalian, untuk apa gaya Hedon level tinggi, sekolah ke universitas terpandang jika kalian hanya berkahir menjadi orang orang yang tidak berkaca diri?" lanjut Ali.


"Sadarlah, kalian tidak jauh berbeda dengan orang yang kalian bicarakan" ucap Ali mengakhiri ucapannya saat seorang pelayan datang membawakan pesanannya.


"Nyonya, silahkan di minum dulu" ujar Ali memberikan segelas air putih pada Nyonya Arini.


Tanpa Ali sadari dari kejauhan dua orang pria dengan pakaian rapi, menatapnya dengan penuh kekaguman saat Ali berani berteriak di depan wanita wanita terpandang di kota ini.


"Gila nih Cewek, kalo di liat dari dandanan kalem banget, pas udah ngomong kayak gak takut mati, sumpah" ujar salah satu dari mereka pada temannya yang masih anteng melihat bagaimana Ali menggila di hadapan ibu ibu sosialita.


"Kalo Tuhan ngasih cewek begini ke gue, sumpah gue bakal tutup semua usaha gelap gue" ujar Leo pada Jefry tanpa mau mengedipkan matanya.

__ADS_1


"Langkahi dulu mayat gue" ujar Jefry tak ingin kalah.


__ADS_2