Salahkah Aku?

Salahkah Aku?
13.Murahan


__ADS_3

"Mau kemana?" tanya Ali yang lagi lagi melihat Helmi menyambar kunci mobilnya dengan pakaian santai yang sangat rapih.


"Tidak usah ikut campur urusanku" ucap Helmi menatap tajam Ali yang sedang berdiri mengambil air di dalam kulkas.


"Aku istrimu mas, jadi wajar jika urusanmu adalah urusanku juga" ujar Ali menjelaskan status mereka


"Kamu pikir aku menganggap pernikahan konyol ini sungguhan?" tanya Helmi tidak habis pikir dengan penjelasan Ali


"Mau enggak mau, suka enggak suka, kita tetap suami istri sah di mata hukum dan agama"


"Cih! lagipula menurut hukum negara, hubungan tidak saha jika salah satu dari mereka terpaksa, apalagi kita menikah bukan di landasi rasa cinta" ujar Helmi


"I Know it, tapi siapa disini yang terpaksa? aku? sama sekali tidak merasa terpaksa, jika itu kamu yang terpaksa, harusnya kamu tidak usah melakukan ijab Qobul mas," ujar Ali dengan suara yang sedikit tinggi.


"Sekarang aku tanya, kemana ajah kamu setiap malam dan mau kemana juga hari ini?" tanya Ali berendetan.


Helmi hanya berdecak kesal saat di tanyai oleh Ali yang seperti wartawan, tidak tahukah Ali jika Helmi sangat membenci seseorang yang mencampuri urusan pribadinya.


"Apa kamu tidak kapok dengan hukuman kemarin?" tanya Helmi dingin menatap Ali dengan tatapan mematikan. Sedangkan Ali ia terlihat seperti biasa saja dengan tatapan yang Helmi lemparkan kepadanya, padahal sebisa mungkin Ali meredam rasa takutnya dan mencoba menguatkan dirinya sendiri.


"Apa mas mau menghukum ku lagi?" tanya Ali lirih dengan tatapan sayu, "Jika memang itu cara agar mas tidak pergi ke tempat laknat itu, lakukanlah" lanjut Ali menyerahkan dirinya sendiri.


"Tidak bisakah kamu menatapku ada mas? aku tidak meminta cinta darimu, tapi aku mohon jagalah Marwah mu sebagai seorang suami, emmm,, tidak tidak, jagalah marwah mu sebagai pria, jangan merusak para wanita mas," pinta Ali


"Hahahah merusak? aku tidak semurah itu sialan! para j****g itu yang mengantri menunggu giliran dirinya bisa terlempar di atas ranjang bersamaku, bukan aku yang merusak, mereka bekerja dengan suka rela di bawah Kungkungan ku" jawab Helmi dengan bangganya.


"Mas, kamu tau? dengan kamu mencicipi yang murah, itu artinya kamu juga murah mas. Karena yang mahal tidak mungkin mau menyentuh yang murahan" ucap Ali yang langsung membuat hati Helmi tertusuk. "Jika mas memang melakukan hal intim, lampiaskan lah padaku, aku istrimu yang saha di sentuh oleh mu mas".


"Cih, kamu pikir aku mau menyentuh mu yang sedikitpun tidak menggugah nafsuku, dasar murahan, kamu tidak berbeda dari j****g di rumah bordil sana" ucap Helmi lalu berlalu meninggalkan Ali.

__ADS_1


"Beda mas" ucap Ali menahan lengan Helmi yang mulai berjalan meninggalkannya. "Dia wanita ilegal untuk mu sementara aku wanita legal di mata hukum agama dan negara untuk mu" tegas Ali.


Hahahaha


Tawa Helmi menggelegar mendengar penuturan Ali yang terdengar seperti lelucon. Bagi Helmi Ali tidak berkaca diri, menyuruh Helmi berhenti menjelajah wanita lain, dan hanya mengizinkannya menyentuh Ali seorang.


"Jangan terlalu berkhayal, kamu pikir aku mau menyentuhmu? hah? meskipun di dunia ini tidak ada lagi wanita selain mu, aku lebih memilih tidak bercinta dari pada harus menyentuhmu" ucap Helmi dengan kejamnya mengatakan seperti itu pada istrinya sendiri.


Ali hanya diam termenung mendengar penuturan dan hinaan yang Helmi lontarkan kepadanya, dari hari ke hari Minggu ke Minggu, bulan lalu sampai bulan ini sifat Helmi masih saja tidak berubah, tidak pernah menganggapnya ada, yang ada hanya cacian dan makian yang selalu Helmi berikan. Ali sadar dengan dirinya menawarkan diri pada Helmi sama saja seperti j****g di luaran sana, tapi bagi Ali sebuah kewajiban seorang istri menawarkan haknya kepada sang suami, entah mereka menikah karena cinta, perjodohan, atau keterpaksaan.


"Ya Allah, aku harus bagaimana? mengapa sangat sulit meluluhkan hati mas Helmi, padahal Ali hanya ingin mas Helmi setidaknya sedikit berubah, Ali mau mas Helmi meninggalkan dunia malamnya" lirih Ali sembari meneteskan air mata yang turun dari pelupuk matanya.


"Mungkin aku kurang berusaha, aku harus lebih berusaha" ucap Ali menyemangati dirinya sendiri.


*


*


*


"Ahhh sial! padahal baru tidur 2 jam yang lalu" umpat Helmi terpaksa bangun dari ranjangnya. Yah semalam Helmi pulang pukul 5 dini hari, sehingga Helmi hanya tidur sebentar sebelum matahari membangunkan nya kembali.


"Udah mau berangkat mas?" tanya Ali tetap memasang senyum menawannya.


"Hm" jawab Helmi hanya berdehem tanpa melirik Ali sedikitpun.


"Oh ya mas, mas punya uang gak?" tanya Ali hati hati


"Buat apa?" tanya Helmi bingung, karena ini pertama kalinya Ali meminta sepanjang pernikahan.

__ADS_1


"Aku pengen keluar rumah ajah bosen, uang aku udah habis, gak papa kan kalo aku minta uang mas sedikit ajah" pinta Ali dengan tatapan puppy eyes nya


"ck!" Helmi berdecak, sebenarnya dia malu bukan kesal. Malu karena lupa memberi Ali uang jajan, mengirim bahan makanan pun usul David. "Pakai ini," ucapnya memberikan satu buah kartu ATM


"PIN nya berapa mas?" tanya Ali menahan Helmi yang mulai berjalan,


"Tanggal lahir aku," jawab Helmi.


"Yah berapa? mas kan tau, kita tidak sedekat itu untuk mengetahui tanggal lahir kita satu sama lain?" tanya Ali yang sebenarnya membuat harga diri Helmi terguncang dan popularitasnya terancam.


"Ck! 11031985" ucap Helmi ketus


"Wow, ternyata sangat tua yah? aku baru sadar jika umur kita jauh berbeda" ucap Ali yang tidak ditanggapi Helmi ama sekali.


Setelah Helmi pergi, Ali segera membereskan pekerjaannya membersihkan meja dan piring yang tidak di sentuh sedikitpun oleh Helmi. Seperti biasa setiap pagi dan sore Ali akan mengirim makanan yang tidak Helmi makan ke pos satpam, sebenarnya Ali juga tahu jika Helmi tidak pernah memakan makan siang yang selalu di kirimkan nya melalui jasa ojeg online, tapi Ali mencoba bersikap biasa saja, Ali masih berharap suatu saat Helmi akan menganggapnya ada meskipun mustahil bagi Ali untuk Helmi menerimanya tapi Ali percaya dengan Kun nya Allah.


"Sepertinya aku harus membeli skincare" ucapnya, Ali memang selalu membaca google tentang caranya membuat suami betah di rumah, langkah pertama yang harus Ali lakukan adalah merawat tubuhnya dengan skincare ran dan pergi ke salon untuk Spa.


"Apa anda punya kartu Member di sini Nona?" tanya sang resepsionis saat Ali mendaftar untuk perawatan kulit.


"Tidak Mbak, ini pertama kalinya saya pergi ke salon" ucap Ali ramah yang langsung di angguki oleh sang resepsionis.


"Apa mbak mau membuat kartu member? sayang loh Mbak, di salon ini kualitasnya sangat bangus sehingga bayarannya sangat fantastis, jika memakai kartu member akan di beri sedikit diskon hanya saja setiap bulan atau Minggu mbak wajib datang kemari untuk perawatan" papar Sang resepsionis.


"Jika saya tidak datang apa ada konsekuensinya?" tanya Ali lagi


"Yah ada, Mbak wajib membayar setengah dari harga perawatan" jelas sang resepsionis.


"Kalo begitu saya coba dulu saja mbak, jika cocok saya akan membeli kartu membernya" jawab Ali ramah.

__ADS_1


"Baik Mbak, silahkan duduk di kursi tunggu, saya tunggu kabar baiknya"


__ADS_2