Salahkah Aku?

Salahkah Aku?
67.


__ADS_3

Sore harinya Helmi pulang tepat seperti biasa, tidak ada raut kesedihan atau pun kecewa yang tersirat di matanya hanya ada siratan mata penuh cinta yang tersisa di sana saat menatap wajah sang istri yang berlari kecil menuju ke arahnya.


"Kenapa tidak ke angkringan hm?" tanya Helmi saat sang istri sudah berada di dalam pelukannya.


"Biar putra sama pak Yanto ajah yang ngurus, aku cuma mau ngurus suami doang" ujar Ali dengan mata berbinar penuh kebahagiaan.


"Kamu capek gak mas?" tanya Ali mendongak menatap wajah lesu sang suami namun tak urung u tuk menampilkan senyum lebar padanya.


"Kalo tiap hari liat kamu, meskipun harus jadi tukang panggul kayaknya aku gak bakal ngerasa capek" gombal Helmi yang langsung mendapat cubitan di perutnya. "Sakit sayang," rengek Helmi merajuk.


Seperti malam malam biasanya mereka menghabiskan waktu di atas ranjang dengan menghangatkan tubuh satu sama lainnya.


Hingga pagi harinya Ali bangun saat jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, yah pagi tadi suaminya mengajaknya kembali berolahraga hingga mau tak mau ia harus mau melayani sang suami yang terkenal gila dengan penyatuan.


hahahahahhahah


Suara tawa di bawah sana membuat Ali terbangun dari ranjang empuknya, ia bangkit dan mengambil long dres dan kerudung instan untuk menutupi rambut dan lehernya yang memerah.


"Enggak mungkin juga kan? gue bingung, harus percaya atau enggak, lagipula loh sering tidur sama Angel tanpa pengaman dia gak hamil sama sekali, giliran tidur sama gue dia malah langsung ngaku hamil, loh pikir gue mau percaya sama omongan j****g kayak Angel, gue yakin yang tidur tanpa pengaman sama dia gak cuma gue" gerutu Verrrel yang langsung mendapatkan lemparan sendal dari seseorang yang kini menatapnya penuh amarah.

__ADS_1


Verrel hanya bisa bengong melirik ke sana kemari dengan tatapan bingung sedangkan Leo matanya tak lepas dari pemandangan saat ini dimana wanita yang menarik perhatian mereka beberapa bulan ini, kini ada dihadapan mereka dengan tatapan nyalang nya.


"Dasar pria cabul, maunya enak doang!" teriak Ali menggelegar melempar seluruh barang di dekatnya.


Ia mengerti meski tak mendengar ucapan mereka sedari awal, ia yakin jika Angel yang mereka bicarakan adalah Angel temannya, jika bukan Angelica Angel mana lagi.


"Sayang.... STOPP.. apa tanganmu tidak pegal hm?" tanya Helmi menahan tangan Ali dan menggenggam nya dengan sesekali mengecup punggung tangan sang istri agar sedikit meredakan amarahnya


"STOPP kamu bilang? kamu lihat bajingan ini? seharusnya dia melindungi Angel yang sedang mengandung putranya, bukan malah mengejek nya di sini" teriak Ali dengan mata yang berkaca-kaca.


Ali seolah-olah merasakan apa yang Angel rasakan. Wanita mana yang tidak sakit hati saat dinilai hanya dari kelakuannya saja, apa tidak ada yang mau mendengarkan ucapan para pendosa seperti Angel. Dia tetap manusia sesekali hidupnya mengatakan kebenaran tanpa ada kebohongan.


"Sayang kamu mau kemana?" tanya Helmi menyusul sang istri yang berjalan tergesa-gesa.


"Jangan urusi urusanku, urusi saja teman mu yang gila" ucap Ali lalu menutup kasar pintu kamar mandi.


Brak


Helmi hanya bisa mengelus dada dengan perubahan mood istrinya yang mudah berubah ubah. Ia harus cukup ekstra sabar menghadapi sang istri yang pemarah.

__ADS_1


"Apa dia istrimu?" tanya Verrel dan Leo dengan wajah yang lesu. Yah mereka belum tahu siapa istri Helmi, karena kemarin kemarin mereka selalu bertemu di luar ruangan Helmi jika mengunjungi sang sahabat di kantor milik nya.


"Hmm,,," jawab Helmi mengangguk setuju dengan wajah yang pasrah jika sewaktu-waktu istrinya akan memintanya tidur terpisah lagi jika ia tak menyelesaikan urusan Verrel.


Namun fokus Helmi saat ini adalah tatapan kecewa sang sahabat yang terlihat seperti remaja patah hati karena diputuskan sang kekasih.


"Heyy hey hey.... ada pa dengan wajah kalian hah?!" tanya Helmi mengangkat dagunya dengan alis yang berkerut.


Ingatan Helmi kembali pada ucapan ucapan kedua sahabat nya yang ambigu, dimana mereka jatuh cinta pada wanita berhijab yang tidak pernah takut untuk membela siapapun meski yang dihadapi nya adalah para penguasa di negara ini.


"Jangan katakan jika wanita yang membuat kau sakit adalah istriku" ucap Helmi menatap tajam Verrel yang hanya bisa menghela nafas lesunya.


"Habis gimana lagi," ujar Verrel pasrah dengan amukan Helmi selanjutnya.


"Brengsek!" teriak Helmi mendorong tubuh Verrel hingga terdorong ke belakang sofa, tangannya terkepal bersiap melayangkan pukulan pada pria yang telah berani mencintai istrinya. Namun pukulannya terhenti di angkasa saat suara ketus menghentikan aksinya.


"Ckkk! aku akan pergi, jangan pernah mencariku" ucap Ali lalu pergi keluar dari sana.


"Sayang kamu mau kemana yang? tunggu" teriak Helmi mencoba mengejar sang istri yang berjalan tergesa gesa dengan pakaian yang rapih meski tanpa polesan di wajahnya sedikitpun.

__ADS_1


__ADS_2