Salahkah Aku?

Salahkah Aku?
23.Perkara Desert


__ADS_3

Hari ini entah sudah berapa kali Ali membuat dessert percobaan melalui siaran televisi dan YouTube yang dipelajarinya. Ali berencana mengisi waktunya dengan berjualan online, guna mengalihkan kesepiannya selama ini.


"Enak," ucap Ali saat merasakan dessert buatannya.


Tidak terasa waktu yang Ali habiskan sudah menunjukkan pukul 2 siang, Ali kebingungan saat melihat banyaknya dessert yang dibuatnya harus di bagikan pada siapa, disini Ali tidak memiliki saudara ataupun kerabat. Sampai akhirnya terbesit di pikirannya untuk mengirimkan dessert buatannya kepada seseorang yang pastinya selalu merasakan nikmatnya makanan restoran bintang lima, itung-itung penilaian juga.


Drt drt drtt


Hp David bergetar di tengah rapat para divisi, Helmi menatapnya tajam saat David mengalihkan perhatiannya pada ponsel di sakunya. David tau Helmi tipikal orang yang tidak suka jika bawahannya tidak fokus pada materi, sebisa mungkin David menahan rasa penasarannya saat nama Ali tertera di layar ponselnya.


Klink


Lagi lagi ponselnya berdering yang langsung membuatnya menjadi pusat perhatian. Ini adalah pertama kalinya ponsel David berdering di jam kerja.


"Apa kamu tidak berniat mengangkat atau membalasnya?" tanya Helmi dingin menghentikan aksinya yang sedang menjelaskan skil yang harus dikuasai oleh perusahaan.


"Maaf Tuan, saya akan menonaktifkan ponsel saya" jawab David patuh langsung menekan tombol merah pemati daya.


"Aku harap kesalahan seperti ini tidak terjadi lagi" ujar Helmi dingin mencekam pada seluruh karyawannya.

__ADS_1


"Baik Tuan" jawab mereka serempak.


Setelah menyelesaikan meetingnya David buru buru mengaktifkan kembali ponselnya ia cukup penasaran mengapa Ali sampai meneleponnya, ada rasa bahagia saat wanita yang berstatus sebagai istri atasannya meneleponnya David tahu itu salah tapi jika ada kesempatan mengapa tidak digunakan?.


"Pak David" panggil salah satu office girl dengan membawa trolly berisi dua yang diyakininya makanan.


"Ini ada titipan untuk anda" lanjutnya, yang langsung menghentikan langkah Helmi yang berjalan di depan David.


"Tumben?" tanya Helmi menahan tawa karena ini adalah sebuah perkembangan baik jika Asistennya menyempatkan diri untuk memiliki pasangan.


"Atas nama Tuan David, dari Nyonya Aliyanza"


Jantung Helmi berpacu dengan hebat saat mendengar nama istrinya, berbagai pertanyaan muncul di benaknya ada hubungan apa antara Ali dan David.


"Mm, terimakasih" ucap David mengambil alih trolly dari sang office girl. Kini David tahu tanpa harus membuka chat dari Ali jika Ali mengirim makanan untuknya.


"Mengapa istriku mengirimimu makanan? apakah setiap hari kamu mendapatkan makanan darinya?" tanya Helmi sinis dengan tatapan tajamnya.


"Tidak Tuan, ini adalah pertama kalinya Nona mengirimi saya makanan" jawab David jujur, karena memang ini pertama kalinya Ali mengirimnya makanan.

__ADS_1


"Apa harus sebanyak itu?" tanha Helmi dengan tatapan menuju trolly yang di pegang oleh asisten nya. "Pantas saja uang pemberian ku cepat habis, ternyata untuk hal sepele seperti ini, dasar tidak berguna!" umpatnya kesal lalu berjalan lebih dulu meninggalkan David yang masih bingung dengan ucapan Tuannya yang padahal ini tidak seberapa jika dibandingkan dengan kegilaannya di dunia malam.


Helmi tidak terima jika wanitanya mengirimi pria lain makanan, harga dirinya merasa terinjak injak apalagi Ali lebih memedulikan asistennya dibanding dirinya yang jelas jelas suaminya. Tangannya mengepal menahan amarah yang sudah memuncak, ingin sekali Helmi memaki Ali namun urung karena Angel kini tepat berada di depan matanya.


"Sayang,,, mengapa semalam tidak pulang ke apartemen hm?" tanya Angel, melingkarkan tangannya di leher kekasihnya dengan ekspresi manjanya. Biasanya amarah Helmi akan luluh jika berhadapan dengan kemanjaan kekasihnya namun kali ini tidak entah apa penyebabnya Helmi pun tidak tahu.


"Mengapa wajahmu kusut? apa ada masalah?" tanya Angel lagi saat tak mendapat respon dari kekasihnya, biasanya Helmi akan menciumnya jika dalam posisi ini meskipun ditempat umum.


"Duduklah, aku sedang tidak mood" ujar Helmi melepaskan tangan Angel di lehernya lalu duduk di kursi kebesarannya.


Angel tidak tinggal diam, ia duduk di atas pangkuan Helmi dengan posisi menghadap kearah Helmi, ia tahu jika mood Helmi buruk salah satu cara membujuknya adalah dengan memanjakannya.


"Mmmhhh" Angel duduk di pangkuan Helmi dengan tubuh yang tidak diam sengaja menggesek gesek milik*nya agar Helmi terangsang.


"Duduklah di sofa, aku harus bekerja" ucap Helmi menurunkan Angel tanpa menatap wajahnya sedikitpun.


Ini adalah pertama kalinya Helmi menolak bercinta di sepanjang sejarah hidupnya, karena biasanya tanpa diajak pun Helmi pasti menyerangnya. Pikiran Angel semakin menerka nerka apakah Helmi sudah mendapatkan kepuasan dari yang lain.


Sekelebat bayangan tentang Ali muncul dibenaknya, tangan Angel mengepal saat mengingat nama Ali, Angel tidak akan tinggal diam jika Helmi sampai berani menyentuh Ali

__ADS_1


__ADS_2