
Tidak seperti pagi biasanya, pagi ini menjadi pagi dimana dua insan yang biasanya akan beradu mulut mulai dari mata yang mencoba terbuka sampai tertutup rapat kembali.
Misi yang paling membanggakan bagiku adalah, bisa menuntun pasangan ku ke jalan yang lebih baik.
"Bangun sa-yang" ucap Helmi menggoyangkan lengan Ali dengan suara serak khas orang bangun tidur namun matanya tetap terpejam, saat mendengar azan subuh berkumandang.
"Siapa yang harus bangun mas," ucap Ali cekikikan menengadahkan pandangan nya ke atas hingga kini netranya bisa melihat jelas wajah paripurna milik suaminya. Alis yang tebal dengan bulu mata lentik, hidung yang mancung namun tidak terlalu besar bibir tebal sensual menambah kesan seksi pada pemilik wajah di hadapannya, apalagi bulu bulu halus yang tumbuh di sekitar wajah Helmi menjadi nilai plus ketampanannya.
"Masih belum puas menatap wajah ku?" tanya Helmi menahan tangan Ali yang sedari tadi menyusuri wajahnya.
"Mengapa bulunya tidak di cukur?" tanya Ali malah mengalihkan pembicaraan.
"Bukankah kamu menyukai bulu ini, hm?" tanya balik Helmi mendusel duselkan wajahnya ke ceruk leher sang istri hingga cekikikan karena merasa geli.
"Mass geli tau,," ucap Ali menjauhkan wajah sang suami dari lehernya.
"Geli tapi nagihkan?" tanya Helmi menaik turunkan Alis menggoda Ali yang Mati Matian menahan malu dengan kata kata absurd suaminya.
__ADS_1
"Nagih apanya? gak usah aneh aneh deh, udah sana cepet ke Aer" ujar Ali mendorong tubuh suaminya agar mau melepas pelukannya yang melingkar pada tubuhnya
"Aku gak bisa wudhunya yang.. kamu ajarin yah?" ucap Helmi gamblang menunduk ke bawah menatap wajah sang istri yang kian memerah.
Jantung Ali berdegup dengan kencang saat suaminya memanggilnya dengan kata 'yang' jujur Ali sangat menyukai itu, tapi mungkin saja suaminya mengatakan kata Kramat itu karena sudah terbiasa memanggil para wanita.
"Yang,, kok malah bengong sih?" tanya Helmi saat melihat sang istri malah bengong dengan raut wajah yang terlihat kecewa, "Kamu pasti kecewa yah, punya suami yang wudhunya aja gak bisa?"
"Hahh? engg-gak kok, yaudah ayok" ucap Ali lalu beranjak dari posisinya
Dengan hati hati Ali memberitahu tatacara wudhu dia juga menyuruh Helmi mengikuti setiap bacaan yang diucapkan Ali.
"Biar aku aja yang masak..." ujar Helmi mengambil alih pisau yang sedang digunakan Ali.
"Gak papa mas, kamu duduk aja" ucap Ali sungkan
"Nurut sekali kenapa sih Al? gak bisa yah kalo harus nurut?" tanya Helmi yang langsung berubah dingin dengan tatapan tajamnya.
__ADS_1
"Yaudah mas, aku mau beresin kamar dulu" ucap Ali lalu melenggang pergi dari sana.
"Kamar atas udah aku beresin yang,, kamu tinggal sapu sama pel aja" teriak Helmi pada sang istri tanpa menghentikan aksinya yang sedang memotong.
Ali dibuat salah tingkah oleh panggilan Helmi padanya, ingin sekali Ali berteriak kegirangan namun urung karena Helmi pasti menganggap nya orang gila.
Dengan telaten Ali membersihkan seluruh sudut ruangan dengan sapu di tangannya, meskipun jantungnya masih berdetak sebisa mungkin Ali mencoba menyelesaikan pekerjaannya.
"Belum beres nyapunya yang?" tanya Helmi saat melihat istrinya masih mengayunkan sapunya di lantai, "Kalo nyapu tuh maju, jangan itu itu terus yang di sapuin nanti kalo yang lain syirik gimana?"
"Hah? m-- i-tu aku juga lagi nyapu"ucap Ali terbata-bata karena kini Helmi semakin berjalan dekat ke arahannya.
"Grogi yah?" bisik Helmi
glek
Cup
__ADS_1
Belum selesai jantung Ali terkejut dengan bisikan suaminya, kini lagi lagi suaminya mengecup hangat pipi kanannya, tidak tahukah Helmi jika saat ini wanitanya sedang berada di ujung maut akibat olahraga jantungnya.
"Biar aku yang beresin" ujar Helmi mengambil alih sapu dari genggaman istrinya.