Salahkah Aku?

Salahkah Aku?
66.


__ADS_3

Tujuan Ali datang mengunjungi suaminya ke kantor bukan untuk mendengar uneg-uneg suaminya seperti ini, ia ingin seperti istri lain yang selalu datang ke kantor suaminya saat menjelang waktu makan siang.


Namun takdir berkata lain, hatinya bergetar saat mendengar betapa tersiksanya suaminya selama ini. Ali sangat menyesal karena ia sama sekali tak pernah menanyakan apa dan kenapa tentang kehidupan suaminya, seolah Ali acuh terhadap sang suami yang padahal sudah menunjukkan betapa ia sangat mencintainya.


Ali urung untuk masuk, ia ingin memberi waktu pada keluarga yang sebenarnya sudah keropos untuk berbicara dari hati ke hati dengan kepala dingin. Langkah kakinya melangkah dengan gontai menuju keluar perusahaan.


"Ali??" tanya Verrel dengan suara lantang dan mata yang berbinar bahagia, hilang sudah rasa sakit yang selalu menyiksanya hanya dengan bertemu dengan wanita yang diam diam mengusik hati dan pikirannya.


Sedangkan Ali ia hanya menatap Verrel dan sedikit melebarkan bibirnya tanpa mengucapkan sepatah katapun, otaknya blank karena mendengar rasa sakit suaminya langsung dari mulutnya.

__ADS_1


"Akhirnya kita bertemu lagi," ujar Verrel dengan tangan terangkat ke udara namun urung saat melihat tatapan tajam yang wanitanya lemparkan.


"Kamu tahu Honey? kemarin, aku bersumpah akan mendapatkan mu jika kita bertemu lagi, dan lihatlah rencana tuhan ternyata jauh lebih baik di banding ekspektasi ku selama ini, kita dipertemukan kembali tanpa sengaja dan aku bersumpah kali ini aku takkan melepaskan mu Honey"


"Cih!!! bermimpi saja" decih Ali muak dengan gombalan yang Verrel lontarkan, entahlah menurut Ali ucapan Verrel tak bisa di pegang janjinya.


"Hey, Honey! aku serius, jika kamu tidak yakin beri tahu aku dimana rumah mu dan aku akan segera kesana menemui kedua orang tuamu" ujar Verrel tanpa membuang waktu ia menarik lengan Ali dengan sedikit memaksa.


"Asal kamu tahu yah, aku tuh udah nikah" ujar Ali menghempaskan tangan Verrel yang membelit lengannya sedari tadi, ia tidak suka jika tubuhnya di garap oleh pria yang bukan mahramnya.

__ADS_1


"Hahahahh, itu tuh cara yang sangat klasik Nona" ujar Verrel terkikik geli saat ucapan Ali yang terdengar seperti bualan semata berani membodohinya.


"Kamu lihat baik baik ini buktinya" ucap Ali memperlihatkan jari manisnya yang tersemat oleh cincin bermata batu safir.


Verrrel mencoba memindai cincin yang diperlihatkan Ali kepadanya ia takkan mudah percaya pada wanita seperti Ali yang terdengar sedikit angkuh.


"Aku masih belum percaya sama sekali, saya yakin ini adalah cincin anda tapi bukan cincin married melainkan hanya sebatas cincin peninggalan keluarga anda, karena yang saya lihat cincin ini termasuk cincin legendaris yang kemungkinan besar turun temurun pemiliknya" ujar Verrel tersenyum smirk puas saat melihat Ali yang hanya diam.


"Terserah kau saja yang penting aku sudah jujur jika aku sudah menikah dan mencintai pasangan hidupku, lagi pula kepercayaan anda tidak penting untuk saya dan suami saya" ujar Ali lalu berlalu dari sana setelah sedikit membungkuk dengan pamitan yang sopan.

__ADS_1


glek!


Verrrel dibuat penasaran dengan wanita yang sudah membolak balikkan keadaan padahal niatnya ingin terlihat care di mata Ali namun nyatanya Ali tak meliriknya sedikitpun apalagi berniat membalas setiap gombalan maut ya g Verrel lemparkan.


__ADS_2