
Memang setelah hari dimana Ali menyerahkan mahkota nya pada pria yang berstatus sebagai suaminya, Ali lebih sensitif dengan ucapan yang suaminya lontarkan. Ia sering menangis sendiri menangisi mengapa suaminya tidak pernah menghargainya sedikitpun padahal dirinya telah memberikan sesuatu yang menjadi kebanggaan nya pada suaminya.
Seperti hari ini, setelah bentakan tadi pagi Ali menghabiskan waktu dengan menangis sepanjang waktu jika bukan karena waktu solat atau pun perut yang keroncongan mungkin Ali tidak akan mengehentikan tangisnya.
"Kenapa harus keroncongan segala sih?" gerutu Ali menatap perutnya dengan wajah ditekuk sebal, dengan terpaksa dirinya pergi keluar mencari makanan di cafe yang dulu memecatnya.
"Nona,,, akhirnya kita bertemu kembali" ucap seorang pria yang tak asing bagi Ali dengan wajah berbinar.
"Sulit sekali bertemu dengan anda Nona, bahkan mendapatkan Nomor telepon mu pun sangat sulit" keluh Jefry menarik kursi di hadapan Ali yang saat ini sedang menikmati makan siang di waktu sore hari.
"Kenapa mencariku?" tanya Ali acuh tak acuh
"Sangat di sayangkan jika wanita seperti anda tidak menjadi milik saya, itulah sebabnya saya terus terusan mencari anda" jawab Jefry tersenyum bahagia, entahlah saat ini hatinya berbunga-bunga bertemu kembali dengan wanita yang entah sejak kapan memenuhi hati dan pikirannya.
"Bisa wae Luh Bambang" ucap Ali yang langsung membuat Jefry tertawa terbahak-bahak dengan ekspresi Ali yang seolah itu adalah kata kata yang biasa dia dengar, biasanya para wanita akan salah tingkah hanya dengan satu kata yang keluar dari mulut Jefry uniknya Ali seolah tidak peduli sama sekali dengan ucapan Jefry.
"Aku dengar Nona Ali berhenti bekerja kenapa?" tanya Jefry menatap lekat wanita mungil dihadapan nya, sedangkan Ali hanya menjawab dengan mengendikan bahunya.
"Jika anda butuh pekerjaan beri tahu aku, di kantorku sedang membutuhkan tenaga kerja, jika anda mau saya bisa memperkerjakan anda" tawar Jefry tersenyum lembut pada wanita ketus dihadapan nya
"Aku hanya lulusan SD tidak berpengalaman bekerja sama sekali, bersyukur kemarin di terima di sini sebagai waiters walau sangat di sayangkan jika akhirnya aku di pecat dengan alasan tak masuk akal" jawab Ali sedikit meluapkan amarahnya.
menggemaskan.
Itulah pandangan Jefry pada Ali saat ini, ia begitu mengagumi sosok Ali yang terlihat tidak memaksakan seperti orang lain. Ia cukup menjadi dirinya sendiri dan masa bodoh dengan penilaian orang lain, bagaimana tidak masa bodoh lihatlah penampilan Ali yang memakai rok hijau baju tidur kuning dan jilbab instan hitam bukankah suah mirip jemuran lewat?
"Tidak masalah lulusan apapun asal anda bisa bekerja saya pasti memberi anda posisi yang sangat bagus" ucap Jefry bersemangat, biasa ada udang di balik bakwan bermanis ucapan karena punya tujuan
"Saat ini posisi ku sangat bagus" jawab Ali.
"Yah aku tahu posisi saat ini memang bagus, duduk di kursi yang sama dengan pria yang sangat di dambakan oleh banyak wanita" ucap Jefry membanggakan dirinya.
__ADS_1
"Percaya diri sekali kau Bambang" ujar Ali, "Posisi ku cukup bagus di salah satu perusahaan di sana" tunjuk Ali pada jalan yang membawa melewati bangunan pencakar langit.
"Oh jadi anda sudah bekerja di tempat orang lain" ucap Jefry mendadak lesuh karena kurang cepat merekrut karyawan, "Di posisi apa anda di sana? jangan katakan jika anda di posisi cleaning servis" ujar Jefry dengan mata melotot dan tubuh menegak.
"Cleaning servis rumah sih Iyah," jawab Ali tanpa menatap Jefry ia malah asik menggoyang goyangkan gelas minumannya,
"Lalu di posisi apa anda di sana?" tanya Jefry penasaran dengan posisi Ali di perusahaan yang Ali ceritakan.
"Istri CEO sekaligus eksekutif muda" jawab Ali meneguk minumannya hingga tandas tak tersisa.
Hahahahahah
Jefry tertawa terpingkal-pingkal ia bahkan memegangi perutnya karena jawaban Ali yang menurutnya lucu, ia merasa dibodohi membuang waktu dan tenaga saking penasaran dengan pekerjaan Ali tapi nyatanya Ali malah mempermainkan nya.
"Hallu terus aja mbak," ucap Jefry masih dengan tertawa sumbangnya
"Lucu yah?" tanya Ali sinis saat melihat Jefruyyang masih tertawa.
"Nona Ali tunggu!" teriak Jefry namun tak Ali hiraukan, dengan sedikit berlari Ali pulang tanpa menjawab atau menghentikan langkahnya saat Jefry terus terusan memanggil namanya.
"Ckk,,, menyedihkan, aku saja merasa lucu dengan status ku apalagi orang lain" gerutu Ali masuk ke dalam apartemen. Hari ini dirinya merasa sangat kesal terutama jika mengingat perlakuan Helmi kepadanya.
"Aishhh sakit banget,,," desis Ali memegang perutnya yang terasa kram, buru buru Ali masuk ke kamar mandi melorot kan Cd nya guna melihat ada apa di sana.
"Aku pikir bibitnya premium, ternyata bibit hapa" sinis Ali mengingat jika rahimnya sudah pernah di pakai arena balap bibit kecebong suaminya namun tidak ada yang Finish dari sekian banyak bibit yang suaminya semburkan.
Setelah membersihkan diri, Ali memilih memakai daster lengan pendek yang panjangnya hanya sampai sebatas lutut dengan warna hijau bergambar kodok mata besar di sana. Ali duduk di depan televisi melihat tayangan Film romantis yang saat ini sedang booming.
"Mengapa awal mula menikahnya sama sepertiku? sama sama karena sang ayah" ucap Ali mellow melihat bagaimana tayangan film favorit nya mengingatkan dirinya tentang sang Ayah dan awal mula dirinya bisa menikah dengan Pria yang sat ini berstatus sebagai suaminya.
"Tapi masih mending Syifa mah Dafri nya baik banget tetep berusaha care walaupun berat, lah coba aku? jangankan care di anggap bini aja kagak" gerutu Ali dengan bibir komat Kamit mengumpat.
__ADS_1
Cklek
Telat bibirnya berkomat Kamit, pintu apartemen terbuka menampakkan pria tampan berwajah malaikat menenteng tas kerja di tengah kiri dan sebuah buket Snack di tangan kanan yang terlampir jas kerjanya. Ia masuk dengan gaya cool slow motion nya, di tambah dengan kancing kemeja yang terbuka dua dan jangan lupakan rambutnya yang sedikit acak acakan hingga membuat nilai plus kesempurnaan.
"Alll" ujar Helmi melambai lambaikan buket di hadapan wajah Ali yang malah menatapnya bengong.
"Mmm-mmm?" ujar Ali mengangkat dagunya gelagapan.
"For you" ucap Helmi memberikan buket Snack pada Ali yang langsung di terima antusias eh sang empu,
"Thank you suamikuh," ujar Ali dengan ekspresi malu malu meong, "Kamu sengaja beli buat aku?" tanya Ali dengan wajah berbinar bahagia.
"Hahh?" tanya Helmi gelagapan saat ditanyai kata kata yang sebenarnya paling ia takutkan, "Gak sengaja sih, cuma tadi pas pulang anak PKL ujan ujanan bawa macem macem buket, iseng aja aku beli kasian juga kan mereka ujan ujanan mana masih banyak"
Sungguh Helmi salah mengucapkan kata yang terdengar kasar pada singa betina yang terusik, wajah Ali memerah giginya bergemeretuk bahkan buket ditangannya tidak lagi di dekap seperti tadi.
Brak
Ali melempar bunga pemberian suaminya ke atas meja dengan keras matanya memerah mengkilat kan amarah, dadanya bergemuruh tangannya terkepal.
"Lain kali beli sama yang dagang nya sekalian, kasian kan kehujanan" ucap Ali halus namun penuh penekanan, setelah mengatakan itu Ali melenggang pergi dari sana tanpa mengatakan kata yang lain.
Brak
Helmi terlonjak kaget saat Ali membanting pintu kamar dengan kasar, ia tidak mengerti apakah ada yang salah dengan ucapannya? dia pikir tidak karena buket bunga itu di beli dari anak PKL.
"Mengapa mood nya berubah ubah?" gumam Helmi bingung sekaligus takut dengan perubahan mood Ali yang sangat cepat. Baru saja girang dan genit sedetik kemudian berubah menjadi aura mengajak perang.
**********
Hay Pembaca gaib ku jangan lupa like komen and vote yah biar othor receh ini semangat nulisnya,
__ADS_1
apalah daya ku tanpa kalian wahay gaib, aku ngemis nih pengen di kasih like sama komen kalo bisa kopinya juga boleh dong, biar bisa crazy up nya