
Malam harinya Helmi benar benar mengabulkan keinginan sang istri yang ingin berkendara menggunakan motor hanya untuk sekedar berkeliling kota, semilir angin malam menusuk kulit mereka hingga Ali dengan sengaja memepetkan tubuhnya ke tubuh tegap sang suami, tangan mungilnya ia lingkarkan di pinggang sang suami yang sedang fokus mengendarai motor matic miliknya.
"Sayang dingin gak?" teriak Helmi dengan suara yang cukup keras melawan arus angin agar terdengar oleh sang istri.
"Dingin, tapi enak" jawab Ali dengan suara keras pula sambil mengeratkan pelukannya ke perut sang suami.
"Enak peluk peluk Abang yah?" goda Helmi cekikikan dengan tangan sebelah kiri mengelus ngelus tangan sang istri yang melilit erat di perutnya.
"Yah kali tukang ojeg, apa apaan Abang abangan" ujar Ali mencebik ia tak suka memanggil suaminya dengan nama Abang baginya terdengar gelay di Indra pendengaran nya.
"Tapi Abang emang suka dipanggil Abang" goda Helmi lagi lagi, ia tahu istrinya tak pernah memanggilnya dengan sebutan Abang, entah mengapa namun sekarang ia tahu jika istrinya tak suka memanggilnya Abang.
"Jijik tau gak? Abang tuh kayak manggil tukang cilok" ujar Ali,
"Mas juga kayak tukang bakso," kilah Helmi
"Tapi kan, panggilan mas ke suami emang udah lumrah, jadi gak asing lagi" ujar Ali, "Ngomong ngomong kita naik motor mau ngapain ajah sih mas?"
"Kamu yang ngajak kok kamu yang nanya juga? kamu emang mau beli apa?"
"Aku pengen beli bakso yang tadi,"
"Yang mana?" tanya Helmi yang tidak melihat tukang bakso di sepanjang perjalanan.
"Di depan gedung mas, itu ada tukang bakso di gerobak" ujar Ali
"Gedung mana sayang? di sini gedung kan banyak?"
__ADS_1
"Itu loh mas, gedung apartemen kita" ujar Ali yang langsung membuat Helmi mengerem motornya dengan mendadak sakit syok nya dengan penuturan sang istri.
***Ckitttttttt
Brughh***
"Awhhhh,,, sakit," desis Ali mengusap usap keningnya yang terbentur dengan punggung tegap suaminya, "Kalo mau ngerem tuh hati hati dong mas, jadi sakit kan?" rengek nya
"Sorry, lagian kamu kenapa gak bilang tadi? tau gitu kita gak usah jauh jauh jalan" gerutu Helmi kesal, ini adalah pertama kalinya ia berkendara di malam hari pada musim hujan yang pastinya sangat dingin, tidakkah Ali mengerti jika ia menahan dingin demi mengabulkan keinginannya
"Kok nyalahin aku sih mas, lagian mas kenapa baru many aku mau apa?" gerutu Ali tak terima dirinya di salahkan.
"Loh kok jadi gitu sih yang? harusnya dari awal kamu ngomong ke aku kalo liat makanan yang kamu mau langsung ajah beli," gerutu Helmi
"Yah kan kamu gak nanya mas,
"Kamu istri aku, jadi kalo mau apa apa ngomong langsung ajah gak usah nungguin di tanya" omel Helmi masih kesal dengan istrinya yang tak menerima kesalahan.
"Yang jangan nangis dong, maafin aku, aku tau aku salah" ujar Helmi sedikit menengok ke belakang.
"Kamu tuh selalu ajah kayak gitu mas, kalo aku gak ngomong kamu gak pernah nyadar, aku tuh kadang suka merasa miris sama diri aku sendiri tau gak mas?" pecah sudah tangis Ali yang selama ini ia coba untuk pendam,
Ali memang selalu berharap memiliki suami yang peka terhadap perasaan kita, suami romantis seperti pasangan pasangan di Novel meski hanya dengan cara sederhana, terkadang benar memang jika hal yang sulit kita terima adalah memiliki pasangan yang tak sesuai ekspektasi kita.
"Sayang please jangan nangis okey?" Helmi berkendara pun dibuat tidak fokus karena sang istri malah menangis sesegrukan, meski tanpa suara Helmi tahu jelas jika sang istri tengah menangis terdengar dari suara cegukan dan punggungnya yang memang tak memakai jaket terasa basah karena air mata sang istri.
Meskipun Helmi mencoba menenangkan Ali tetap tak berhenti menangis, tangisnya malah semakin menjadi saat motor yang mereka naik mulai masuk ke daerah gedung mereka.
__ADS_1
"Sayang makan baksonya mau di rumah atau di tempatnya ajah?" tanya Helmi menghentikan motornya di depan tukang bakso yang sedang melayani beberapa pembeli.
"Gak jadi, aku mau tidur ajah" jawab Ali tanpa mengangkat wajahnya yang bersembunyi di punggung sang suami.
"Loh kok gitu? kita udah berkeliling masa gak jadi sih yang?" ujar Helmi tak mengerti dengan pemikiran sang istri yang malah membatalkan keinginannya.
"Aku mau tidur ngantuk" ujar Ali dengan suara sedikit membentak.
"Yaudah ayok kita masuk" akhirnya Helmi menurut memasukkan kendaraan nya ke basemen khusus apartemen nya.
Sampai di dalam apartemen Ali masuk ke kamarnya semula dengan membanting pintu kamarnya dengan keras, Helmi yang mendengar suara pintu di banting hanya bisa menghela nafas berat, ia sungguh tidak mengerti dengan apa yang diinginkan wanitanya.
"Sayang jangan marah dong," ujar Helmi mengetuk pintu kamar sang istri beberapa kali dan mencoba untuk membuka pintunya namun susah karena pintu terkunci dari dalam
"Yang jangan gini dong, aku gak ngerti loh sebenarnya mau kamu apa?" ujar Helmi berusaha berbicara dengan halus namun dengan suara sedikit lantang agar sang istri dapat mendengar ucapannya.
"Yang aku masuk yah?" ucap Helmi yang sudah memegang remote kunci yang bisa dengan mudah membuka seluruh pintu hanya dengan memencet salah satu tombol dari remote control yang di genggamnya.
Klik
Pintu kamar terbuka menampakkan sosok sang istri yang telungkup dengan punggung yang bergetar menandakan jika istrinya masih menangis.
"Sayang jangan gini dong, aku gak ngerti mau kamu apa?" tanya Helmi memegang pundak sang istri dan membalik tubuhnya agar ia bisa melihat wajah sang istri.
"Udah yah nangisnya?" ucap Helmi yang sebenarnya memiliki perasaan takut jika sang istri akan berlama lama marah padanya, "Aku tau aku salah, maafin aku, aku gak tahu yang kamu mau apa?" lanjut Helmi.
"Kamu tuh bukan gak tahu, tapi kamu gak mau nyari tahu, buat apa sekolah tinggi kalo sama perasaan istri ajah kamu gak ngerti" teriak Ali beranjak bangkit dari posisinya dan berlenggang pergi dari sini, ia memilih naik ke atas kamar yang biasa mereka tempati.
__ADS_1
Dadanya terasa sesak ada perasaan tak terima saat suaminya benar benar tak mengerti kan perasaan nya, tidakkah suaminya mengerti jika Ali menginginkan bakso tadi. Tadi ia mengatakan tidak jadi sebenarnya ia hanya merajuk saja, namun sialnya suami monotonnya malah berpikir jika ia memang benar benar tidak mau. Ali sadar mungkin suaminya memang belum benar benar menerima nya di dalam kehidupannya, dari sekian banyak hari yang mereka lewati suaminya tidak akan mengerti jika ia tak menjelaskan dan suaminya tidak akan peka jika bukan ia yang meminta.
Terkadang memecahkan rumus matematika lebih mudah di banding memecahkan rumus mode marah wanita.