
Saat sampai di lobby perusahasmua pasang mata menatap ke arah Ali dan Helmi yang saat ini tengah berjalan beriringan menuju keluar dengan tangan Helmi yang tak melepaskan tangannya dari tautan tangan sang istri.
"Mas,,," rengek Ali kesal karena semua orang menatapnya dengan tatapan mencemooh.
"Kenapa sayang hm?" tanya Helmi halus menghentikan langkahnya saat sang istri kembali merengek.
"Lepasin tangan aku, malu tau sama mereka!" gerutu Ali dengan langkah yang kakinya di hentakkan dengan sengaja. Helmi hanya bisa geleng-geleng kepala melihat cara istrinya merajuk yang tidak jauh dari anak kecil yang tak dituruti keinginannya.
Sedangkan semua pegawai menatap kepergian mereka dengan berbisik bisik, mencoba jawaban siapakah wanita yang berjalan dengan atasannya, apakah dia begitu istimewa bagi atasannya hingga tidak melepaskan tautannya. Padahal biasanya Angel ke kasih sang boss yang tadi diusir oleh asisten David yang selalu menempel pada atasannya bak ulet bulu.
"Siapa dia?" tanya pegawai satu ke pegawai yang lain yang hanya di jawab mengendikan bahu.
Sepanjang perjalanan bibir Helmi tidak henti hentinya melebar, entah mengapa berada satu mobil dengan Ali terasa membawa sepuluh orang di mobil. Istrinya tidak henti hentinya menggerutu hanya karena tadi dirinya tak melepaskan tautan tangannya pada sang istri.
"Mas, tuh harusnya mikir dong, publik tuh gak tahu kalo kita suami istri. Aku sih kalo di jelek jelekin gak masalah, tapi gimana pandangan mereka tentang hijab yang aku pakai, mereka pasti mengatakan jika aku salah satu pel*curmu yang bersembunyi di belakang hijab" gerutu Ali masih kesal dengan ulah suaminya yang mengakibatkan ia menjadi pusat perhatian di lobby tadi.
"Kamu tahu kan zaman sekarang tuh orang orang mikirnya pendek mereka pasti bilang 'yang pake jilbab belum tentu wanita baik baik', aku tuh kasian sama mereka yang pake jilbab akhlaknya baik tapi tercoreng jelek hanya karena hijabers lain yang akhlaknya minim, sepeti halnya aku, memang Iyah kita mahrom tapi mereka gak tahu kan kalo kita tuh pasutri mereka pasti mikirnya gini, 'Luhur di tiyung handap di Riung' "
Helmi hanya cengengesan mendengar ucapan yang Ali lontarkan ia tahu ia salah karena menggenggam tangan sang istri di tempat yang hanya tahu jika Helmi seorang casanova penikmat kenikmatan sesaat, mungkin mereka pasti berpikir seperti yang diucapkan Ali tapi namanya juga manusia pasti punya kesalahan, mereka aja yang suka bergosip dan pintar mencari kesalahan orang.
__ADS_1
"Tenang aja, nanti biar aku yang urus masalah mereka" ucap Helmi yang langsung membuat bibir Ali diam dengan kening mengkerut.
"Gimana caranya?" tanya Ali mengangkat dagunya meminta penjelasan.
"Yah gampang lah, tinggal liatin surat nikah kita bereskan?" ucap Helmi santai
"Gampang yah kata kamu? memang Iyah setelah nya mereka bakal berhenti ngomong kalo aku j***g tapi mereka bakal ngecap aku sebagai wanita pelakor seperti yang selalu kamu ucapin ke aku," ucap Ali menyindir
"Pelakor? siapa yang pelakor? semua orang juga tahu, kalo aku tidak menjalin hubungan dengan siapapun" ucap Helmi dengan kening berkerut.
"Lalu kenapa kamu selalu bilang kalo aku pelakor hah?!" ucap Ali yang sudah emosi dengan wajah tanpa dosa yang suaminya tampilkan.
"Kapan aku ngomong kayak gitu?" tanyanya lagi santai tanpa merasa bersalah
"Maaf," ucap Helmi menggenggam tangan Ali lalu mengecup punggung tangan sang istri dengan penuh penyesalan.
Ali sedikit terkesiap saat mendapati suaminya yang menggenggam tangannya bahkan mengecupnya, sungguh ia tak berniat mengungkit ucapan Helmi yang dulu memang menyakitinya, ia juga tidak marah ia hanya sedikit kesal saja pada sang suami yang suka bertindak sendiri.
"Maafin aku Al, aku selalu buat kamu nangis aku juga selalu buat kamu sakit hati, tapi sungguh Al sekarang aku menyesal Al, dulu aku memang sengaja melakukannya, itu juga bukan kekhilafan dulu aku ingin kamu pergi dari kehidupan aku yang gelap, aku takut memulai kehidupan baru dengan orang baru" ucap Helmi dengan nada suara bergetar dan mata yang mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
"Mas, jangan gini dong" rengek Ali ia merasa bersalah dengan ucapannya tadi.
"Al, apa kamu mau maafin aku? kamu pasti masih inget, tangan ini pernah menampar mu dan menyiksa mu, apa kamu tidak merasa sakit hati oleh perlakuan ku kemarin?" tanya Helmi ia sungguh takut jika Ali akan pergi meninggalkannya mengingat bagaimana dirinya dulu memperlakukan istrinya dengan kasar dan arogan.
"Mas, aku emang sakit hati saat kamu memperlakukan ku dengan tidak baik. Aku sadar betul, saat itu kamu memang tidak menginginkan ku ada di samping mu, aku juga tahu betapa takutnya kamu menjalin hubungan baru yang menurut mu sangat tabu, tapi aku yang bersikeras untuk tetap tinggal bersama mu jadi aku ikut andil dengan semua perlakuan mu kemarin, jika saja aku pergi mungkin aku tidak akan pernah merasakan rasanya tanganmu menampar atau memukul tubuhku, lagipula ini adalah skenario takdir yang Tuhan kasih ke hidup kita," ucap Ali dengan bibir tersenyum lebar ia bahkan mengusap air mata Helmi yang mulai mengalir tanpa permisi.
"Aku udah maafin kamu kok mas, selagi kamu masih mau berubah ke jalan yeng lebih baik untuk apa aku masih nyimpen dendam ke kamu?" ucap Ali mengecup punggung tangan sang suami yang kini menatapnya dengan tatapan penuh penyesalan.
"Semudah itu kamu maafin orang yang membuat hidupmu menderita?" tanya Helmi tak percaya dengan kata maaf yang begitu mudah terlontar dari bibir sang istri.
"Menderita? siapa yang menderita? bahkan aku lupa rasanya kekurangan finansial" ucap Ali diiringi tawa yang terdengar indah di Indra pendengaran sang suami.
"Apa semudah itu juga kamu mau berubah ke jalan yang lebih baik?" tanya balik Ali
"Ini semua berkat kamu," ucap Helmi yang malu karena merasa tersanjung dengan ucapan sang istri.
"Kamu mau berubah ke jalan yang lebih baik, apa sulitnya aku maafin kamu. Aku percaya dengan berubahnya kamu, kamu gak mungkin memperlakukan aku dengan kasar lagi, aku yakin itu" ucap Ali penuh keyakinan, "Satu yang perlu kamu ingat, jangan pernah menampar atau memukul wanita manapun, termasuk Angel atau musuhmu" ucap Ali memperingatkan sang suami.
"Insyaallah baby, aku akan berusaha" ucap Helmi bernafas lega dengan bibir yang tak bisa berbohong jika saat ini dirinya memang tengah berbahagia.
__ADS_1
"Jadi enggak makannya? aku lapar nih" ucap Ali merengek manja, entah mulai kapan Ali berani bersikap manja pada sang suami yang terkenal dnegan sifat angkuhnya.
Memaafkan bukanlah hal yang sulit, yang sulit adalah melupakan kejadian yang telah menimpa kita sebelumnya, namun jika kita mencoba berdamai dengan keadaan percayalah kamu akan ikhlas dengan masa lalumu yang menyedihkan dan fokuslah memperbaiki hidup tanpa ingin membuktikan pada orang lain jika kita bisa dan mampu.