Salahkah Aku?

Salahkah Aku?
29.Khawatir Namun Kasar


__ADS_3

Setelah kejadian di pagi hari yang sangat mengesankan, Ali selalu merasa canggung saat bertemu dengan suaminya. Apalagi setelah kegiatan panas itu Helmi tak berubah sedikitpun, tetap ketus dan dingin irit bicara namun sekali bicara bisa merobohkan kesabaran seorang Ali, padahal awalnya Ali berpikir setelah melakukan penyatuan, Helmi akan sedikit berubah.


"Hufttt,,, mungkin dia masih belum percaya jika hari itu aku sama sekali tak pernah berhubungan dengan siapapun" lirih Ali mengingat bagaimana setelah percintaan itu Ali tetap bersumpah namun Helmi hanya diam tanpa menyahut.


"Apa kau ingin membuat kebakaran di rumah hah?!" teriak Helmi tergopoh-gopoh turun ke bawah dengan nafas ngos-ngosan, hingga membuat Ali sadar jika dirinya sedang memasak hingga gosong.


"Astaghfirullah!" teriak Ali lantang lalu mematikan kompornya.


"Dasar tak becus! jika tak ingin memasak jangan lakukan, membuat onar saja" bentak Helmi dengan tatapan tajam yang nyalang.


"Maaf" cicit Ali menahan cairan panas yang sudah mulai mengembun.


"Tidak usah masak, beli saja di cafe bawah" titah Helmi lalu berlalu dari sana meninggalkan Ali yang pastinya menangis.


Helmi sebenarnya khawatir jika sesuatu terjadi pada Ali namun egonya tetap tinggi hingga membentak sang istri sampai ketakutan, padahal jelas-jelas dirinya sangat khawatir.

__ADS_1


Lutut Helmi terasa lemas saat sampai di kamarnya, dia tidak suka melihat Ali yang menahan tangis karena bentakan nya.


"Mengapa begitu peduli padanya? apa karena effect fucking love itu?" Helmi bertanya pada dirinya sendiri.


"Yah pasti, itu karena aku ingin merasakan rasa kemarin lagi, makanya khawatir yah pasti karena itu tidak mungkin yang lain," ucap Helmi menepis jauh jauh pikiran khawatirnya yang berlebihan, bahkan ia sempat ingin turun ke bawah lagi untuk merengkuh tubuh sang istri.


Sampai saat dirinya akan berangkat ke kantor Helmi tak melihat Ali lagi, ingin melihat keadaannya namun ia malah memilih membuka pintu dan pergi dari sana.


Sampai di kantor David sang asisten hanya mengkerut bingung melihat air wajah sang atasan yang tidak seperti kemarin. Padahal David lebih suka melihat wajah ceria sang atasan dibanding wajah dingin yang terlihat seperti monster kelaparan.


Yah setelah sarapan pagi yang panas bersama Ali, Helmi selalu terlihat cerah ceria jika di kantor, bahkan ia akan pulang lebih cepat dari biasanya. Angel pun sempat bingung saat Helmi tak ingin tidur di apartemen mereka dan memilih tidur di rumah Omanya setidaknya itulah yang Helmi katakan pada Angel.


"David, bagaimana cara membujuk wanita?" tanya Helmi melonggarkan dasinya yang terasa mencekik dengan wajah menahan malu.


"Tuan, apa anda salah meminum obat?" tanya David lagi mencoba meyakinkan jika sang Tuan salah meminum obat.

__ADS_1


"Jawab saja sialan!" desis Helmi tertahan.


"Biasanya pria akan memberikan buket bunga atau pun sekarang sedang musim buket Snack Tuan" ujar David yang langsung diangguki oleh Helmi.


"Tuan, apa anda sedang berkencan dengan gadis belia?" tanya David lagi lagi


Kening Helmi berkerut bingung dengan pertanyaan asistennya. "Memang kenapa?" Helmi malah bertanya kembali dengan pertanyaan yang kembali terlontar oleh sang asisten.


"Akhir akhir ini saya bermain media sosial Tuan" ucap David


"Lalu?"


"Saya melihat penerima buket bunga atau buket Snack mereka hanya gadis gadis belia, bukan wanita seperti Nona Angel" lanjut David, yang langsung membuat senyum di bibir Helmi terbit.


"Siapa juga yang akan memberi Angel buket" ucap Helmi lalu melangkah masuk ke ruangannya meninggalkan David yang masih berkecamuk dengan pemikirannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2