Salahkah Aku?

Salahkah Aku?
56.Dinner


__ADS_3

Di sepanjang perjalanan Ali tak lepas lepas menggenggam tangan sang suami tanpa merasa kaku atau grogi, matanya pun tak lepas menatap wajah yang lebih bersinar dari biasanya. Pahatan yang sempurna bak dewa Yunani kini berganti menjadi lebih sempurna seperti ketampanan nabi Yusuf entahlah Ali berfikir jika suaminya pria tertampan pada zaman ini.


"Kenapa sih Al? dari tadi kok liatin nya gitu banget?" tanya Helmi salah tingkah dengan sang istri yang tak berhenti menatapnya, bahkan ia mengemudi dengan sebelah tangan karena sang istri tidak melepaskan tangannya dari genggamannya.


"Mas, kalo depan orang jangan liatin bibir ini nya yah?" ucap Ali mengusap bibir sang suami yang saat ini membentuk lengkungan ke atas.


"Emang kenapa? cemburu?" goda Helmi menaikkan sebelah alisnya.


"Yah jelas lah, aku istri kamu, wanita mana yang gak cemburu kalo suaminya di puji orang" ucap Ali dengan bibir mengerucut.


Cup


"Iyah sayang aku usahain," ucap Helmi mengecup pipi sang istri dan mengelus lembut pucuk kepala sang istri.


Sepanjang perjalanan Helmi benar benar di buat jatuh cinta oleh sang istri, bibirnya tak berhenti tersenyum dan sesekali ia tertawa dengan celotehan sang istri ya g selalu merengek agar ia tak memperlihatkan pesona tampannya pada wanita lain.


Sampai di apartemen, Helmi membuka pintu dan mempersilahkan sang istri masuk seperti layaknya sang pengawal pada ratunya.


"Silahkan masuk Nyonya Nugraha" ujar Helmi membungkukkan badannya,

__ADS_1


"Terimakasih" jawab Ali genit lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam dengan tatapan tak lepas menertawakan tingkah suaminya yang bertingkah layaknya sang pengawal, namun sedetik kemudian ia menjerit saat melihat rumahnya yang nampak seperti restoran mewah dengan meja bundar yang dihiasi oleh bunga di sepanjang.


"Ini buat aku?" Ali girang menatap tak percaya pada suaminya yang kini tengah tersenyum lebar sambil mengangguk mengiyakan ucapan sang istri.


"Ahh,,,,,, suamiku romantis banget" teriak Ali memeluk suaminya dengan perasaan haru yang membuncah dalam hatinya, tak lupa ia juga menarik tubuh sang suami agar bisa ia hadiah kecupan di wajahnya.


Helmi memeluk sang istri sebentar lalu mengajaknya berjalan di atas karpet merah yang di hiasi oleh lilin dan taburan kelopak bunga mawar di sepanjang lantai, Helmi sengaja mematikan lampu dan menggantinya dengan menghidupkan lilin agar suasana menjadi indah di bawah temaramnya lampu dan di bawah sinar rembulan.


"Ganti baju dulu gih, aku udah siapin baju buat kamu" ucap Helmi mengedipkan sebelah matanya genit, namun Ali hanya diam tanpa melakukan pergerakan.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Helmi saat tubuh sang istri bergetar,


Ali malah menangis tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaan suaminya.


"Sayang, kok kamu nangis? apa aku ngelakuin kesalahan?" Helmi kelimpungan saat sang istri malah menangis sambil memukul-mukul dada bidang suaminya.


"Kamu gak suka tema nya kayak gini? biar aku ganti yah? atau kamu kesal karena aku ngajak dinner nya di rumah seolah aku pelit sama kamu?" Helmi memberondong sang istri dengan Rentetan pertanyaan, ia sungguh bingung dengan istrinya yang malah menangis saat dirinya dengan susah payah menyiapkan acara makan malam romantis untuk sang istri.


Melihat suaminya yang kebingungan dan ketakutan Ali malah tertawa cengengesan, ia merasa lucu melihat wajah suaminya yang terlihat bingung.

__ADS_1


"Kok malah ketawa kenapa? tadi nangis sekarang ketawa? mood kamu cepet amat berubahnya?" tanya Helmi melongo tak percaya melihat sang istri yang saat ini malah tertawa sambil menarik narik pipinya.


"Kenapa kamu ngelakuin ini ke aku mas?" tanya Ali dengan tatapan sayu nya.


"Ngelakuin apa? apa kamu merasa tersinggung, atau memang aku berbuat kesalahan?" Helmi malah bertanya balik saat tak mengerti dengan pertanyaan istrinya, namun tangannya tetap menghapus jejak air mata yang masih tersisa di pipi mulus sang istri.


"Kamu pinter banget sih mas? aku nyampe bingung kenapa kamu bisa bersikap manis sama aku?"


"Kamu istri aku, emang dosa kalo aku bersikap manis sama istri sendiri hm?" ujar Helmi sembari memeluk pinggang sang istri dengan tatapan menatap penuh cinta istrinya.


"Yah gak dosa sih, cuman kan aneh aja orang kamu gak biasanya gini? aku emang istri kamu, cuman beda ajah sikap kamu akhir akhir ini tapi aku bersyukur dengan perubahan positif kamu mas" Ali merasa sangat bersyukur bisa dihargai oleh suaminya, baginya ini adalah sebuah berkah yang Allah kirimkan kepadanya.


"Maafin aku, aku gak bisa jadi suami yang baik buat kamu, aku juga sering ngelakuin kekerasan mau fisik maupun mental kamu, aku salah, aku emang gak pantes di maafin, tapi aku mohon maafin aku" ujar Helmi dengan mata berkaca-kaca menyesali perbuatan kejamnya kemarin.


"Ehh,, enggak gitu mas, aku udah maafin kamu kok, yang aku omongin tuh bukan itu, kamu nyiapin hal romantis kayak gini pasti ada maunya kan?" tanya Ali menaikkan kedua alisnya dengan bibir tersenyum geli.


"Itu sih pasti," ucap Helmi dengan tatapan mengalihkan tatapannya dari sang istri, "Tapi aku nyiapin ini tuh, sebagai terimakasih nya aku, karena tadi pagi kamu harus lembur sama aku" ujarnya mengecup sekilas bibir sang istri, dengan mata berkedip genit.


"Mas,,," rengek Ali mencubit perut suaminya, ia sungguh malu jika mengingat tadi pagi, bagaimana tidak malu suaminya memancing nafsunya namun menghentikan aksinya di tengah nafsunya sedang memuncak dengan alasan takut ia merasa jika suaminya hanya memanfaatkan tubuhnya saja.

__ADS_1


Ia yang geram pun membanting tubuh sang suami dan menggodanya, dengan menggesek gesekkan si anida pada si Otong yang terhalang oleh segitiga miliknya. Hingga akhirnya suaminya menyerah saat nafsunya tak bisa di bendung karena ia hanya menggesek gesekkan saja dengan suara laknatnya tanpa memberikan sang suami kenikmatan yang diinginkannya.


__ADS_2