
Sedangkan di sisi lain seorang wanita tengah membanting seluruh barang yang ada di depan matanya, dia tidak bisa menerima jika sang kekasih telah jatuh pada wanita yang levelnya jauh di bawahnya. Mau di taruh di mana harga diri seorang Angelina Voldemort jika orang orang tahu bahwa dirinya kalah saing dengan wanita rendahan seperti Ali.
"Akan aku pastikan Helmi kembali menjadi milikku sialan!" teriaknya diiringi pekikan histeris darinya, ia sungguh tidak bisa menerima kenyataan yang saat ini menimpanya, ia rela meninggalkan orang tuanya hanya demi seorang laki laki, lalu apa balasan Helmi, ia malah di campakkan begitu saja seperti wanita yang tidak ada harganya sama sekali.
Terkadang hidup memang memuakkan, yang berjuang belum tentu berakhir menang, yang lama bertahan belum tentu duduk bersama di pelaminan.
Karma instan mungkin, mencampakkan orang tua sekejap kemudian di campakkan kembali oleh seseorang yang diperjuangkan nya.
Sedangkan si pria yang menjadi sebab utama dirinya menggila saat ini malah tengah bermesraan dengan sang istrinya di dapur.
"Kali ini mau bilang beli bunga karena apa? karena ngebantuin korban kebanjiran?" ucap Ali sinis, tanpa mengambil buket bunga yang di bawa sang suami, ia malah asik dengan spatula dan penggorengannya.
"Hehe enggak kok" jawab Helmi menyengir kuda,
"Terus karena apa kali ini?" ucap Ali yang masih kesal dengan insiden bulan kemarin, yang membuatnya malu sampai ubun ubun.
"Yah aku pikir kamu suka bunga, lagian kan kalo cewek bukannya suka yah di kasih bunga bunga kayak gini?" tanya Helmi bingung karena reaksi sang istri seolah tidak antusias menerima bunga beda halnya saat ia memberinya buket Snack sebulan lalu.
__ADS_1
"Al, kamu masih marah sama aku?" tanya Helmi takut jika istrinya masih menyimpan marah padanya karena ketidak jujurannya dulu.
"Maaf, waktu itu aku bingung mau ngomong apa, setelah dipikir-pikir akhirnya cuma alesan itu yang muncul di benak dan pikiran aku" ucap Helmi mematikan kompor lalu membalik tubuh sang istri agar menghadap ke arahnya.
"Maafin aku," ucapnya lagi dengan tatapan intens.
"Baperan amatan sih mas?" tanya Ali dengan tangan menangkup pipi sang suami yang dipenuhi dengan jambang. "Aku tuh cuma kurang suka aja sama buket bunga, mubazir tau gak?" papar Ali masih dengan snyum manisnya dan tangan yang mengelus ngelus pipi sang suami.
"Aku tuh masih hidup mas, jadi gak perlu bunga bunga kayak gini, lagipula kita udah punya banyak pengharum ruangan, buat apa repot repot beli bunga" ucap Ali mengecup singkat bibir sang suami tanpa merasa malu sedikitpun, entahlah Ali sudah tidak malu lagi jika berhadapan dengan sang suami.
"Yah kan cewek sukanya bunga, katanya wanita itu ibarat bunga yang cantik namun jika di petik akan mudah layu begitupun wanita jika keinginannya tidak di penuhi bukankah akan mencari tempat yang baru?" ucap Helmj cemas
"Sayangnya sama duitnya doang? sama yang nyarinya gak sayang emang?" tanya Helmi dengan nada serius.
Ali hanya diam terpaku mendengar penuturan sang suami yang terlalu sungkan untuk ia jawab.
"Aku bercanda kok, cup " ucap Helmi mengecup bibir sang istri yang sedikit terbuka, ia tahu apa yang ada di benak sang istri, entah ragu atau memang tak memiliki rasa sayang seperti yang diharapkan nya.
__ADS_1
"Mas?" ucap Ali saat Helmi melepaskan tangannya dan berbalik pergi.
"Kenapa sayang?" jawab Helmi selembut mungkin.
"Bunganya gak jadi buat aku?" tanya Ali menatap buket bunga yang masih anteng menyangkut di tangan suaminya.
"Katanya gak mau?" tanya Helmi gemas dengan tingkah istrinya
"Bukan gak mau mas, nanti gak usah beli lagi, ini yang terakhir, kalo mau ngasih aku bunga nanti ajah kalo kita udah beda alam" ucap Ali yang menurutnya sebuah guyonan namun mampu membuat jiwa Helmi terporak porandakan, lalu mengambil alih buket di tangan sang suami dan menghirup nya dengan perlahan.
"Kenapa mas? minta imbalan?" tanya Ali saat melihat sang suami tidak berkutik dari tempatnya berdiri.
"Mau sekarang apa nanti malem aja? aku udah selesai loh" ucap Ali mengedipkan matanya genit, bahkan ia tidak takut lagi untuk menawarkan diri pada sang suami.
"Maunya sih sekarang," goda Helmi menarik tubuh sang istri hingga mengikis jarak diantara mereka, "Tapi malem juga aku mau," ucap Helmi mengecup pipi sang istri lalu turun ke bibir ranumnya.
Tanpa menolak Ali mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya, tangannya pun tak tinggal diam menekan tengkuk Helmi untuk kembali menci*umnya.
__ADS_1
"Asal yang sekarang satu ronde aja yah" bisik Ali yang langsung diangguki oleh sang suami.
Tanpa membuang waktu Helmi kembali menautkan bibir mereka hingga kecapan demi kecapan terdengar memenuhi seluruh ruangan, tangannya mengangkat tubuh sang istri agar mudah ia gendong dengan posisi istrinya di depan. Dan terjadilah pergulatan panas di sofa yang biasanya menjadi tempat menonton namun kali ini malah menjadi tempat bermain film