
"Oh yah Hel, kamu tinggal disini kan?" tanya Tuan Nugraha di sela sela makannya, namun Helmi hanya diam tanpa ingin membalas pertanyaan sang Ayah.
"Mas, papah nanya loh," ucap Ali menyikut lengan suaminya ia tidak enak dengan keadaan canggung di meja makan tempat mereka berada
"Tidak apa Al, Helmi memang jarang bicara" ucap Tuan Nugraha mencoba menghilangkan rasa canggung menantunya. "Papah, cuma mau bilang besok papah harus berangkat ke Singapura untuk beberapa hari".
"Hm" Helmi hanya berdehem tanpa menjawab.
"Sudah selesai Al?" tanya Helmi pada istrinya padahal jelas-jelas saat ini Ali baru memasukkan nasi ke dalam mulutnya hanya dua suap.
"Kenapa mas?" tanya Ali bingung.
"Kita pulang," ucap Helmi yang langsung membuat semua orang di sana terkejut dengan ucapan Helmi.
"Mau pulang kemana Hel?" Tuan Nugraha menatap tajam putra tunggalnya.
"Istriku tidak nyamab di sini, lagipula kita butuh privasi" jawab Helmi lalu menarik paksa lengan Ali, hingga Ali terpaksa bangkit dari duduknya.
"Ayo!" ucap Helmi.
"Tapi mas-" Helmi menatap tajam Ali hingga akhirnya Ali memilih mengalah dan menuruti kemauan suaminya.
"Sebenarnya kita mau kemana sih mas?" tanya Ali setelah masuk ke dalam mobil mereka
"Apartemen" jawab Helmi dingin, Ali sungguh tidak mengerti mengapa suaminya selalu bertindak aneh dan semaunya saja.
Sesampainya di sana, Helmi menyuruh satpam untuk membantunya membawa barang bawaan mereka, setelah itu ia juga tak lupa memberikan uang, sebagai tip kepada mereka.
"Woww!" puji Ali saat melihat isi apartemen yang nampak tak pernah dihuni orang, keadaan yang gelap di tambah lampu yang sengaja dimatikan. "Apa tempat ini tak pernah terpakai?" tanya Ali lagi.
__ADS_1
"Tidurlah di kamar sana" ucap Helmi menunjuk salah satu kamar di samping kamarnya.
"Apa kita tidur terpisah?" tanya Ali polos.
"Ck! kau pikir aku mau tidur bersama perempuan yang tidak tahu malu seperti mu hah?!" tanya Helmi lalu berlalu keluar meninggalkan Ali seorang diri.
"Mas!" teriak Ali namun Helmi tak menghiraukan teriakan Ali yang memanggilnya untuk kembali.
Helmi menyalakan mobilnya dan membawanya membelah jalanan ibu kota di tengah malam, sepanjang perjalanan tatapannya lurus ke depan pikirannya melayang entah kemana.
Hidup di dalam keluarga kaya raya, mungkin bagi orang lain adalah sesuatu yang harus mereka gapai. Namun bagi Helmi hidup di dalam keluarga kaya tidak ada bedanya dengan hidup tanpa memiliki orang tua. Sebenarnya dari kecil Helmi selalu merasa kesepian, hanya Omanya yang menemaninya melalui malam malam yang selalu ia takutkan, orang tuanya bahkan tidak tahu jika Helmi memiliki riwayat penyakit insomnia akut, bahkan sedikitpun mereka tidak pernah bertanya bagaimana keadaan Helmi atau apapun, ayahnya hanya memikirkan perusahaannya yang sempat bangkrut 20 tahun lalu padahal Helmi bersusah payah mendirikan perusahaan hingga sebesar ini hanya untuk agar papahnya bisa menemaninya dan Omanya. Sedangkan mamahnya ia terlalu sibuk dengan arisan sosialita nya yang tidak berpaedah sedikitpun.
Itulah mengapa Helmi menjadi seseorang yang sulit di atur, Helmi bahkan sudah terbiasa dengan kelamnya dunia malam, setiap malam akan ada wanita yang menemaninya berolahraga di atas ranjang sampai dini hari, terkadang dia juga akan di temani sang kekasih namun setahun belakangan ini, dia tidak pernah bertemu dengan kekasihnya lagi karena setaunya Angel di kirim ke suatu tempat yang ternyata di tempat sama dengan istrinya. Karena itu pula pribadi Helmi lebih sulit untuk di atur atur, memanjakan para j****gnya dengan uang hasil jerih payahnya sendiri.
"Hey Bro" sapa Verrel teman Helmi yang sama sepertinya penikmat dunia malam, dan penikmat lubang haram
"Apa ada yang baru?" tanya Helmi tanpa menjawab pertanyaan siapapun.
"Hahah, aku tau kamu selalu menginginkan yang baru, aku sudah persiapkan itu" ucap Leo lalu menjentikkan jarinya hingga pengawalnya datang menghampirinya.
"Bawakan yang baru kemari" titah Leo yang langsung diangguki oleh bawahannya.
Seperti malam malam biasanya Helmi berolahraga tanpa lelah di atas ranjang, meskipun j****gnya memintanya untuk berhenti tapi Helmi tidak memedulikan ucapannya, dia hanya ingin meluapkan amarahnya.
"Arghhhhh" teriak Helmi saat mencapai ******* entah yang ke berapa kali, karena Helmi menghajar wanita bayarannya hingga menjelang subuh.
"Pergilah" titah Helmi setelah melemparkan tiga juta rupiah pada j****gnya, ia tidak suka j****gnya ikut tidur menimbrung di ranjang yang sama dengannya. Meskipun Helmi terkesan kasar pada para perempuan malamnya, namun mereka tidak pernah kapok untuk bisa berolahraga ranjang bersama Helmi, karena kekuatan Helmi tidak bisa di ragukan lagi jika dalam urusan ranjang.
*
__ADS_1
*
*
Di rumah Ali masih belum tidur, tadinya ia ingin langsung tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya namun dia tidak bisa tidur karena pikirannya selalu memikirkan Helmi yang entah pergi kemana, dia tidak bisa tidur hingga akhirnya Ali memilih membereskan pakaiannya dan Helmi ke dalam lemari pakaian untuk mengisi waktu kosongnya.
Tepat waktu subuh Ali merasa mengantuk, namun dirinya menyempatkan diri untuk melakukan kewajibannya sebagi muslim.
"Ah mengantuk sekali, lagian mas Helmi kemana sih sampe jam segini belum pulang juga?" monolog Ali sambil melihat jarum jam yang yang tertempel di dinding.
"Woy bangun" sayup sayup Ali mendengar suara seseorang yang menyuruhnya untuk bangun, pinggangnya pun terasa ada yang menggoyang goyangkan, dengan mata yang masih berat Ali mencoba membuka matanya hingga netranya menangkap seseorang yang berpakaian rapi dengan jas yang melekat di tubuhnya.
"Iya mas," ucap Ali, Ali baru sadar jika dirinya ketiduran hingga tertidur di atas sajadah tempatnya solat.
"Jadi istri tuh harusnya bangun lebih awal di banding suaminya, ini jam 8 masih tidur ajah" gerutu Helmi lalu berlalu keluar dari kamar Ali
"Mas, tunggu" teriak Ali mengejar Helmi dengan masih memakai mukena yang melekat di tubuhnya. "Mau makan dulu? biar aku masakin sebentar"
"Tidak usah, lagi pula aku cukup pemilih dalam hal apapun" jawab Helmi datar tanpa menatap Ali, ia bahkan menepis kasar tangan Ali yang menahan lengannya
Deru mobil Helmi terdengar di pendengaran Ali, ia sungguh tidak mengerti dengan sifat Helmi, entah apa yang terjadi ia tidak tahu apapun, ia juga tidak mengerti dengan Helmi yang selalu berubah rubah sifat seperti bunglon.
"Sepertinya aku harus memasak makan siang untuknya" ucap Ali lalu berlari ke kamar dan mengganti mukenanya dengan pakaian rumahan miliknya.
Ali mencoba mencari bahan yang bisa di masaknya, hingga akhirnya ia menemukan ada beberapa potong daging dan wortel di dalam kulkas.
"Aku bikin SOP aja kali yah?" Ali bertanya tanya sambil memikirkan apakah Helmi mau memakan makanannya.
"Ah masa bodo di makan atu tidaknya, yang lenting aku sudah melakukan kewajibanku" ucapnya lagi lalu melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1