
Wajah damai sang istri saat tidur mampu menghilangkan rasa lelah Helmi setelah bekerja sedari pagi sampai sore hari, di tatapnya wajah dengan mata sayu milik sang istri yang entah sejak kapan mulai memporak porandakan pikirannya. Dengan hati hati Helmi mengangkat tubuh sang istri ala bridal style, dan meletakkannya di atas ranjang king size miliknya.
Cup
Satu kecupan hangat Helmi labuhkan di kening sang istri dengan penuh kasih, lalu setelah nya ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari rasa lengket yang hinggap di badannya.
Howamm
"Aku dimana?" Ali mengerjap mencoba menelusuri seluruh ruangan yang tak asing baginya tapi yang pasti bukan kamarnya.
cklek
"Udah bangun Al?" Helmi masuk ke dalam kamar dengan piyama tidur yang melekat di tubuh atletis miliknya, ia menghampiri sang istri lalu duduk di tepi ranjang miliknya.
"Gimana tadi? udah dapet ruko nya?" tanya Helmi mencoba mencari topik pembicaraan.
"Kamu gak salah minum obat kan mas?" tanya Ali yang bingung dengan sifat Helmi yang berubah 180 derajat dari biasanya.
"Emang kenapa? ada yang beda sama aku? hm?" tanya Helmi dengan bibir melebar hingga menampakkan barisan gigi miliknya.
__ADS_1
"Ya jelaslah, emang kamu gak ngerasa?" tanya Ali tak percaya dengan jawaban yang diucapkan sang suami.
Sebenarnya Helmi juga cukup malu untuk mencari topik agar mereka setidaknya bisa berkomunikasi dengan baik, namun karena tekad ingin menghargai pernikahan nya Helmi rela mengesampingkan ego dan gengsi nya.
"Jadi istri tuh jangan suka nyolot kalo sama suami, kamu gak takut dosa?" tanya Helmi mengelus rambut Ali yang memang tak memakai kerudung.
"Nyolot juga enggak.... yah takutlah, emang situ yang kagak takut sama yang namanya dosa?"ucap Ali namun kalimat terakhirnya tercekat di tenggorokan hingga hanya bisa terucap di dalam hati.
"Aku tuh sebenernya juga ngerasa malu Al, sama kelakuan aku kemarin" ucap Helmi yang seolah tau dengan ucapan hati Ali yang saat ini berteriak "Apa laki gue cenayang? kok bisa tahu kesebalan gue?"
"Tapi balik lagi, namanya juga manusia pasti pernah ngelakuin kesalahan, manusia setaat Barsisoh aja bisa tergiyur sama maksiat apalagi aku yang ibadahnya bisa dihitung pake jari sendiri" ujar Helmi ingin mengaku pada Ali jika dirinya bersalah namun ia tak ingin sendirian saja di salahkan.
"Aku memang salah Al, tapi kan namanya juga manusia. Aku gak da niatan buat bawa bawa, itu tuh biar kamu tau ajah, kalo aku tuh salah karena iman aku yang tipis" ujar Helmi menundukkan kepalanya.
Ali tersenyum melihat perubahan pada diri Helmi, entah siapa yang merubah, Ali hanya percaya Allah memberi suaminya Taufik hidayah dan memberinya kesempatan untuk bertobat berubah menjadi pribadi yang jauh lebih baik
"Gak usah malu gitu dong," goda Ali mengangkat wajah suaminya yang mulai menahan tangis di pelupuk matanya. "Eh ngomong-ngomong kamu tau kisah Barsisoh dari mana?" tanya Ali yang Memang bingung suaminya tahu dari maa.
"Mm,, kemarin tuh mobil aku mogok Deket masjid kebetulan hujannya gede banget, terus aku neduh di masjid Deket mobil aku mogok, pas aku ke sana ternyata lagi kajian mengaji gitu, aku malu dong kalo gak ikut duduk. Aku duduk Deket pintu mesjid dengerin kisah Barsisoh yang ustadz ceritain ternyata sama kayak aku Barsisoh tergiyur kenikmatan ilusi namun naas nya dia gak di kasih kesempatan kedua, sedangkan aku Allah masih berbaik hati mau memberiku peluang agar menjadi lebih baik" cerita Helmi panjang lebar.
__ADS_1
"Terus apa hubungannya sama sifat kamu yang halus banget ke aku?" tanya Ali dengan wajah yang tak hisa menyembunyikan binar bahagianya.
"Aku belum bisa ninggalin maksiat sepenuhnya, jadi aku pikir selain ninggalin maksiat aku pun harus mulai bertanggung jawab dengan apa yang Allah titipkan sama aku, termasuk pernikahan kita, bukankah Allah benci dengan perceraian? maka dari itu mungkin aku harus belajar menghargai pernikahan ini" lanjutnya.
"Maafin aku yah Al, aku enggak bisa jadi imam yang baik buat kamu" ucap Helmi merasa bersalah atas apa yang telah dilakukannya.
"Belum bisa mas, bukan gak bisa" ucap Ali menggenggam tangan suaminya guna menyalurkan dukungannya.
"Tapi aku emang gak bisa Al, buktinya selama ini aku gak pernah solat" ucap Helmi merengek seperti anak kecil.
"Yah belajar dong,"
"Aku harus belajar sama siapa? kalo harus datang langsung ke ustad aku gak mau Al, malu kalo aib ku sampai diketahui orang" ucap Helmi putus asa.
"Gimana kalo kamu belajar dari kitab aku pas waktu di pesantren?" tanya Ali menawarkan usulnya.
"Emang kamu punya?"
"Yah punya lah, anak rajin gitu loh" bangga Ali yang langsung di sahuti gelak tawa oleh sang suami.
__ADS_1
"Kita pasti merasa malu saat orang lain mengetahui kekurangan kita, tapi cobalah belajar untuk tidak menjadikan diri kamu sempurna"