
Aska segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar tidak tertinggal jauh dari mobilnya Renata. Dia juga masih ingat jelas mobilnya Renata yang berwarna pink. Saat mobil Renata terlihat tidak jauh dari mobilnya, Aska segera mengurangi kecepatannya.
Akhirnya mobil Renata sampai di cafe. Terlihat pengawalnya keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Renata. Saat Renata keluar dari mobil, dia meminta ponsel milik pengawalnya. Lalu dia berselfi sendiri di depan cafe. Dengan mengerucutkan bibir dan mengerlingkan satu matanya saat dia bergaya di depan kamera.
"Ini buat laporan untuk Kak Dirga" ucap Renata menyerahkan foto selfinya yang ada diponsel pada pengawalnya
"Dasar gadis centil" ucap Aska melihat Renata dari kejauhan dengan bersandar di badan mobil sambil bersedekap dada dan tersenyum menyudut
Renata pun masuk ke cafe dan menemui semua teman wanitanya yang sudah berkumpul menunggunya. Dia meletakan tasnya di atas kursi yang didudukinya. Sedangkan Aska terlihat mencari tempat duduk yang agak jauh dari Renata. Suasana cafe terlihat sangat ramai dan bising karena dentuman musik yang terdengar sangat kuat. Renata terlihat bersulang dengan teman-temannya yang duduk mengelilingi meja. Dia terlihat asik mengobrol dan tertawa bersama temanya.
Saat dia turun dari kursi karena ingin ke toilet, tasnya terjatuh karena tersenggol badannya. Karena pakaiannya yang sangat mini dan terbuka dia sedikit kesulitnya untuk mengambil tasnya. Tiba-tiba ada seorang laki-laki dengan sigap sudah mengambilkan tasnya yang jatuh. Renata merasa seperti pernah melihat laki-laki itu.
"Ini tas mu nona" ucap laki-laki yang ada di depan Renata sambil menyerahkan tasnya
"Terima kasih kak" ucap Renata pada laki-laki itu
"Kamu adiknya Dirga kan? Kenalkan saya Toni temannya Dirga" ucapnya sambil mengulurkan tangan
"Iya kak, saya Renata. Darimana kakak tahu?" tanyanya
"Aku adik ipar dari pemilik Alexander Corp.Aku pernah melihatmu saat menghadiri pesta ulang tahun pernikahaan kakak iparku Alexander" ucap Toni
"Oh iya aku ingat, aku melihat kakak waktu itu bersama Kak Niana" ucap Renata menjentikan jarinya
"Jadi dia adiknya pemilik Alexander Corp, bagaimana kalau aku melamar kerja di sana saja" batin Renata
"Iya betul sekali. Ternyata selain cantik, kamu juga cerdas walaupun kita belum pernah berkenalan waktu itu tapi memorymu cukup baik" ucap Toni
"He he kakak bisa saja. Kakak juga cerdas bisa mengingat siapa aku" ucap Renata terkekeh sambil menepuk pelan pundak Toni.
Toni pun menoleh ke arah tangan Renata yang menepuk pundaknya sambil tersenyum ke arah Renata. Bagaimana Toni bisa lupa dengan Renata karena saat pesta ulang tahun pernikahaan kakaknya, Toni selalu mencuri pandang padanya dan dia sangat menganggumi Renata.
"Aku berkata jujur kalau kamu memang cantik dan cerdas" ucap Toni memandang Renata penuh kekaguman
__ADS_1
"Hemm seandainya Kak Aska yang mengatakan itu, aku pasti senang sekali. Tetapi dia selalu bilang aku tengil dan ceroboh. Hah aku tidak ada baik-baiknya dimata Kak Aska hiks hiks" batin Renata dengan raut wajah yang terlihat sedih dengan memicingkan matanya dan menarik kedua sudut bibirnya seperti hendak menangis
"Hemm, kamu kenapa? Apa yang kamu pikirkan" tanya Toni
"Saya hanya penasaran saja kenapa Kak Niana bisa bersama Kak Toni waktu acara ulang tahun pernikahaan Tuan Alexander" tanya Renata
"Oh itu karena aku berteman baik dengan Niana. Bahkan Niana dan Dirga adalah teman SD ku juga?" ucap Toni
"Eemh begitu, ngomong-ngomong Alexander Corp apakah membuka lowongan kerja?"
"Kalau masalah perusahaan aku kurang begitu tahu tapi nanti aku coba tanyakan pada kakak iparku. Ini kartu namaku, kamu bisa menghubungiku jika ingin bertanya lebih jauh lagi" ucap Toni memberikan kartu identitas pada Renata
"Apa maksudnya bertanya lebih jauh, aku cuma mau bertanya tentang Alexander Corp" batin Renata
"Oh iya kak terima kasih. Rena permisi mau ke toilet dulu" ucap Renata langsung pergi meninggalkan Toni
Renata dan Toni terlihat mengobrol seperti sudah lama saling mengenal karena karakter Renata yang mudah akrab dengan semua orang. Aska mengamati mereka dengan tatapan tajam bagai ujung pedang yang siap menghunus siapa saja. Sepertinya hati Aska mulai memanas bagai arang yang telah dilempar bahan bakar lalu disulut dengan pemantik api. Api cemburu telah berkobar di dalam hatinya.
"Apa dia selalu bersikap centil pada semua laki? Ck, sudah berani membuat kekacauan di hatiku sekarang dia mencari laki-laki lain" batin Aska berdecak kesal sambil meneguk minumannya sampai habis sekali tegukan seperti orang yang sangat kehausan
"Kak Aska, kakak mengikutiku" seru Renata terkesiap saat menoleh ke belakang sambil memegang jaket yang tergantung di pundaknya
"Siapa yang mengikutimu? mamamu yang menyuruhku mengawasimu. Dan menyuruhmu pulang sekarang!" ucap Aska
"Apa mama juga menyuruhku pulang sekarang? kalau begitu katakan pada mama, aku masih mau bersama teman-temanku 2 jam lagi" ucap Renata mengembalikan jaket milik Aska lalu melangkah pergi meninggalkan Aska
"Kenapa tidak menurut, ikut aku pulang sekarang" ucap Aska menarik tangan Renata
"Lepaskan tanganku, aku belum mau pulang. Siapa kakak mengaturku?" tanya Renata membuat Aska menghentikan langkahnya
"Siapa aku, ck. Terus siapa kamu yang sudah berani mengacaukan perasaanku lalu pergi begitu saja" ucap Aska
"Apa maksud Kak Aska?" tanya Renata
__ADS_1
"Bukankah kata laki-laki yang tadi kamu adalah wanita cerdas. Begitu saja tidak paham" ucap Aska dan langsung kembali menarik tangan Renata untuk pulang
"Aku benar-benar tidak mengerti. Lepaskan tanganku" pinta Renata lagi
"Kamu benar tidak mengerti?" tanya Aska melangkah mendekati Renata tanpa melepaskan tangan Renata. Tubuh Renata pun akhirnya bersandar ke tembok. Aska mendekatkan wajahnya ke wajah Renata hingga kening mereka saling menempel. Hembusan nafas mereka pun dapat mereka rasakan. Aska memejamkan matanya dan berdiam sejenak mengatur nafasnya dengan dahi yang masih menempel di dahi Renata. Baju yang Renata kenakan membuat hasrat Aska bergelora. Jantung mereka berdebar kencang seperti mau lepas dari tempatnya.
"Kakak mau apa?" tanya Renata terbata. Pandangan mata Aska pun menukik tajam ke bibir Renata dan ibu jari tangannya mengusap lembut bibir Renata seolah mau menciumnya. Sepertinya Aska sedang berusaha keras menahan segala hasratnya. Kemudian Aska mengarahkan bibirnya ke sisi kanan pipi Renata dan membisikan sesuatu ke telinganya.
"Ayo pulang sekarang" ucap Aska lirih dan langsung menarik tangan Renata untuk berjalan mengikuti langkahnya dengan cepat
"Kak Aska lepaskan tanganku" seru Renata
"Berhenti bro!" teriak seorang laki-laki yang ada di belakang mereka karena melihat Renata ditarik Aska dengan kasar
Aska pun langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Wajahnya nampak kesal saat melihat siapa yang telah menghentikan langkahnya. Renata pun terjengit kaget "Kak Toni" ucapnya.
"Apakah anda ada urusan dengan saya" tanya Aska pada Toni
"Maaf bro lepaskan tangannya sepertinya dia tidak ingin mengikuti anda" ucap Toni
"Anda siapa?" tanya Aska yang masih memegang tangan Renata
"Saya temannya Renata" ucap Toni
"Ck, teman yang baru beberapa menit" gumam Aska tersenyum menyudut ke salah satu sisi seperti meremehkan
"Lalu anda sendiri siapa?" tanya Toni
"Kenapa mereka malah jadi berdebat" batin Renata
"Saya pacarnya Renata" ucap Aska berkacak pinggang dengan satu tangan dan tangan satunya masih memegang tangan Renata
"Pacar? apakah benar dia pacarmu?" tanya Toni pada Renata seolah tidak percaya karena kata teman-teman Renata yang sempat dia tanyai mengatakan Renata belum punya pacar
__ADS_1
"Apa yang harus aku katakan. Kalau aku jawab bukan nanti meraka tidak berhenti berdebat. Kalau aku jawab iya, nanti Kak Toni mengiraku sudah punya pacar. Dan mempersulitku untuk diterima kerja di Alexander Corp" batin Renata yang kebingungan