Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan

Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan
Episode 83 Memikirkan Cara Membalas Dendam


__ADS_3

Sedangkan di dalam rumah Dirga sudah selesai mandi lalu menuju ruang ganti baju. Dia mulai memakai celana kerjanya dan sedang memilih kemeja yang ingin dipakainya. Tidak seperti hari biasanya yang terlihat masih merebah di atas kasur empuknya bersama Niana bergelung selimut tebal. Terlihat Niana mulai bangun dari lelapnya tidur yang berkualitas tanpa gangguan dan hasrat dari suaminya yang biasa muncul mendadak hingga serangan di atas ranjang pun tak bisa dihindarinya. Melihat tidak ada keberadaan Dirga, kakinya yang masih sakit sedikit tak seimbang melangkah pelan dan hati-hati menuju ruang ganti baju.


"Sayang kamu sudah mandi?" ucap Niana menghampiri suaminya yang sedang berdiri di depan rentetan baju kerjanya yang digantung rapi sesuai warna


"Iya, aku harus ke kantor lebih awal karena pekerjaanku banyak sekali hari ini" ucap Dirga mengambil kemeja putih dari dalam almari lalu memakainya


"Aku senang karena kamu terlihat bersemangat seperti ini?" ucap Niana membantu mengancingkan kemeja Dirga


"Semua demi kamu dan masa depan kita dan anak-anak kita" ucap Dirga meraih pinggang Niana mendekat ke tubuhnya


"Anak kita? aku saja belum hamil kenapa kamu sudah memikirkan masa depan anak" ucap Niana memakaikan dasinya Dirga


"Semua tentangmu dan masa depan kita sudah ada dalam rencanaku jadi aku harus memikirkannya dengan baik"


"Kalau begitu jangan pernah meninggalkan ku untuk mewujudkan masa depan yang kamu rencanakan"


"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, jadi segera berikan aku anak-anak yang lucu dan mengemaskan sepertimu" ucap Dirga mencium ringan bibir mungil Niana


"Memangnya kamu mau anak berapa?" tanya Niana yang masih merapikan dasinya Dirga


"Emmpp berapa ya kalau Sebanyak-banyaknya kamu bisa tidak?" tanya Dirga mengulum senyum dan menggoda Niana yang sedang memakaikan dasinya


"Kalau mau sebanyak-banyaknya pelihara saja bebek. Memangnya siapa yang akan kuat melahirkan anak Sebanyak-banyaknya yang jumlahnya tidak jelas" gerutu Niana


"Baiklah berapa saja yang penting kamu mommynya dan aku dadynya" ucap Dirga berbisik mesra ke telinga Niana sambil memberikan tiupan kecil di telinga Niana


Bisikan Dirga yang terdengar lirih dan mesra membuat wajah Niana pun jadi memerah. Dia pun menelan salivanya dan bergidik merinding. Tanpa sadar tangannya mengencangkan dasi dileher Dirga dengan kuat


"Huk huk kenapa mencekiku, ?" ucap Dirga terbatuk kekurangan oksigen

__ADS_1


"Maaf sayang, aku tidak sengaja. Kamu tidak apa-apa kan?" ucap Niana khawatir lalu melonggarkan dasinya Dirga


"Kalau aku mati beneran, kamu pasti akan menangis kehilangan pinokiomu ini" ucap Dirga


"Jangan bicara seperti itu. Aku tidak mau kehilanganmu" ucap Niana meletakan jari telunjuknya di bibir Dirga lalu memeluk tubuhnya dengan erat


"Sudah jangan cengeng, kenapa kamu malah menangis" tutur Dirga mengelus rambut Niana


"Aku tiba-tiba merasa sedih saja saat kamu bilang mati, aku tidak ingin kamu meninggalkanku sendirian"


"Hei, aku ini Dirga Bustoni Sanjaya, tidak ada yang bisa membuatku mati dengan mudah kecuali Tuhan. Sudah jangan menangis lagi" ujar Dirga menangkup kedua pipi Niana dan mengusap air matanya


"Jangan bicara kematian lagi, aku tidak mau mendengarnya setelah kabar kematian Tania kemarin yang cukup membuatku merasa sedih" ucap Niana


"Baiklah, aku berangkat ke kantor dulu" tutur Dirga mencium bibir mungil istrinya


"Aku bantu kamu pakai jaz" seru Niana


"Baiklah, hati-hati sayang" ucap Niana yang telah selesai memakaikan jaz kerja Dirga


"Aku mencintaimu" ucap Dirga mencium kening Niana lalu bergegas keluar kamar dan Niana pun pergi mandi


Di lantai dasar tampak Mr Ken yang sudah menunggu Dirga turun. Mama Sofi terlihat duduk di kursi makan sendirian menunggu Dirga turun untuk sarapan. Renata yang biasanya sudah duduk di kursi ruang makan, tidak terlihat batang hidungnya.


"Pagi Ma" sapa Dirga


"Pagi sayang" ucap Mama Sofi


"Dimana Renata?" tanya Dirga

__ADS_1


"Mama juga tidak tahu dia tidak pamitan sama mama, kata Rumi main ke rumah temannya" ucap Mama Renata menyendokan nasi goreng ke piring Dirga


"Anak itu semakin dewasa semakin berani. Nanti Dirga akan menegurnya"


"Tegurlah adikmu dengan baik dan jangan bertengkar. Oh iya Niana kenapa tidak ikut turun?" tanya Mama Sofi


"Dia masih mandi ma, aku turun duluan karena kerjaan ku di kantor banyak dan harus segera ku selesaikan secepatnya" tutur Dirga menyendok nasi gorengnya


"Kenapa seperti terburu-buru, apakah urusan kantor hari ini sangat penting" tanya Mama Sofi


"Sebenarnya Dirga 2 hari lagi akan ke Australi mengurus masalah perusahaan kita yang di sana. Jadi sebelum aku pergi ke Australi, setidaknya pekerjaan kantor yang di Jakarta sudah selesai" jawab Dirga


"Kamu mau ke Australi berapa hari? Apakah Nianan juga akan kamu ajak?"


"Paling cepat 3 hari, kalau molor ya seminggu. Niana sepertinya aku tinggal ma, karena aku tidak ingin dia bosan di apartemen sendirian soalnya aku akan sibuk sekali di sana nanti. Aku titip Niana ya ma"


"Oke, mama akan menemaninya sampai kamu pulang"


"Ya sudah, Dirga mau berangkat dulu" ucap Dirga mencium tangan Mama Sofi


"Hati-hati nak" tutur Mama Sofi


"Jadi Tuan Muda mau pergi ke Australi?"


batin Paman Yan yang sedari tadi berdiri di belakang Dirga seperti biasa bersama Mr Ken


Paman Yan selalu ada di belakang Dirga saat sarapan untuk menunggu tuannya selesai sarapan dan membantu Dirga mengganti sendalnya dengan sepatu sebelum meninggalkan rumah. Pembicaraan antara Mama Sofi dan Dirga, sepertinya membuat Paman Yan memdapatkan cara untuk membalas dendam pada Dirga. Entah apa yang akan dilakukan Paman Yan, ia masih memikirkannya dengan ragu.


"Tuan Dirga akan ke Australi 2 hari lagi, ini adalah kesempatan baik untuk membalas penderitaan puteriku Tania" batin Paman Yan mengepalkan tangannya setelah mengambil sendal yang dilepas Dirga dan menggantinya dengan sepatu

__ADS_1


Driga pun pergi meninggalkan rumah diikuti Mr Ken yang selalu setia berada di sekitarnya. Selain sebagai asisten pribadi, Mr Ken juga menjadi bodyguard untuk Dirga. Walaupun Dirga sendiri sebenarnya juga jago bela diri, tetapi dia memilih menggunakan bodyguard yang bisa menjaganya dari segala sesuatu yang akan mengganggunya secara senyap dan mendadak dari segala arah. Sehingga dia bisa merasa tetap aman tanpa harus memikirkan jika ada bahaya yang mengintainya kapan saja.


Mobil Dirga terlihat telah meninggalkan gerbang rumah yang menjulang tinggi. Paman Yan masih memperhatikan sampai mobil tuannya itu tak terlihat lagi sudut pintu. Saat melihat pintu gerbang itu tertutup otomatis, dalam benak Paman Yan berharap Tuan Mudanya itu tidak akan pernah kembali untuk memasuki pintu gerbang rumahnya lagi. Dia masih memikirkan cara yang tepat untuk membalas dendam atas pemderitaan yang dialami puterinya hingga harus pergi dari hidupnya selama-lamanya. Sorot matanya begitu tajam, bibirnya pun mengatup terkunci rapat dan kedua tangannya mengepal merasakan getirnya hidup karena kehilangan puteri kandung satu-satunya.


__ADS_2