
Pagi ini Renata dan Mama Sofi sedang sarapan di meja makan. Sedangkan Niana langsung pamit ke toko dengan membawa bekal sarapannya yang akan dimakan di toko. Dia akan menunggu jam makan siang Dirga yang bertepatan dengan jam sarapannya. Dia tidak mau muntah-muntah kalau sarapan tanpa melihat Dirga. Apalagi pagi ini, dia sudah muntah-muntah karena melihat golok yang menjijikan karena berlumuran darah dan berbau anyir.
Renata yang sedang makan mulai menceritakan pada mamanya kalau dia akan menyerahkan kontrak kerja di Alexander Corp. Mama Sofi pun terlihat kecewa dengan keputusan Renata.
"Apakah kamu sudah memikirkan dengan baik keputusanmu untuk kerja di Alexander Corp?" tanya Mama Sofi
"Aku sudah memikirkannya dengan baik semalam" ucap Renata setelah menyendok makanan ke mulutnya
"Baiklah terserah kamu, yang penting bertanggungjawablah dengan keputusanmu sendiri" ucap Mama Sofi menggelengkan kepalanya lalu mendengus kesal
"Iya Rena akan bertanggungjawab, mama tidak perlu khawatir. Sebelum Kak Dirga pulang aku harus segera menyerahkan kontrak kerjaku. Waktu ku tinggal hari ini dan besok Kak Dirga juga sudah pulang. Aku tidak mau dia melarangku dan berdebat denganku" ucap Niana sambil melahap makanannya dengan cepat karena tergesa-gesa
"Jadi Dirga besok sudah pulang?" ucap Mama Sofi tersenyum bahagia
"Iya mama, kata Kak Niana. Besok Kak Dirga akan pulang. Rena pamit dulu ya ma, mau ke Alexander Corp nyerahin kontrak kerjaku" ucap Renata meraih tangan mamanya dan menciumnya lalu segera berangkat diantar pengawalnya
Mama Sofi memberi tahu Paman Yan kalau dia sudah mentransfer uang sebesar 50 juta ke rekeningnya. Mama Sofi juga mengatakan pada Paman Yan bahwa Dirga akan pulang besok. Dia menyuruh Paman Yan yang menjadi kepala pelayan rumah untuk mengatur para pelayan merapikan seluruh rumah dan membuat hidangan yang istimewa untuk menyambut kepulangan Dirga.
"Besok Tuan Dirga sudah pulang, aku harus segera menemui para bandit itu hari ini" batin Paman Yan
Setelah Paman Yan mendapatkan uang dari Mama Sofi. Siangnya, dia mengemudikan mobilnya menuju bank untuk mengambil uang. Kemudian dia menemui para bandit itu di bangunan tua yang sepi di tempat mereka biasa bertemu. Paman Yan terlihat memasuki bangunan tua itu dengan membawa tas hitam besar. Para bandit itu pun sudah menunggunya di dalam dengan pakaian layaknya preman seperti saat pertama kali Paman Yan bertemu dengan mereka.
__ADS_1
"Bagaiman rencana kalian?" tanya Paman Yan dan salah satu bandit itu mendekati Paman Yan sambil membawa beberapa lembar foto
"Anda lihat saja ini semua, tuan. Pasti anda puas dengan rencana kami" ucap bandit yang mendekati Paman Yan sambil menyerahkan foto yang dipegangnya
"Bagus. Kalian sudah yakin tidak akan ada polisi yang mengetahui ini semua" ucap Paman Yan memandangi foto-foto yang dipegangnya lalu melirik ke arah bandit di depannya
"Tuan tidak perlu khawatir, selama ini kami masih aman-aman saja. Kalau kami masih aman artinya tuan juga bisa tenang" ucap bandit itu tertawa diikuti bandit lain yang ada di belakangnya
"Tapi foto ini tidak cukup untuk meyakinkan kalau pekerjaan kalian memang sudah beres" protes Paman Yan
"Baiklah kami akan mengirimkan vidionya pada anda besok" ucap bandit itu dengan tatapan tajam dan senyum menyudut
"Baiklah, ingat kalau anda menipu kami. Anda juga akan menyusulnya ke neraka" ucap bandit itu sambil mengambil amplop dari tangan Paman Yan lalu pergi meninggalkan bangunan tua itu
"Semoga para bandit itu benar-benar membereskan pekerjaannya dengan baik" ucap Paman Yan yang masih berdiri mematung sendirian di dalam bangunan tua itu
"Hah dasar tua bangka bodoh" batin seseorang yang bersembunyi di belakang pilar besar di dalam bangunan tua itu lalu melangkah pergi
Tiba-tiba terdengar seperti suara langkah kaki setelah para bandit itu meninggalkan Paman Yan sendirian. Pintu tua dari besi yang sudah berkarat pun ikut berderit seperti ada seseorang yang baru saja keluar melalui pintu itu. Entah manusia atau hantu yang barusan membuka pintu itu, Paman Yan pun tidak tahu dan tidak ingin tahu karena sudah ketakutan. Bangunan tua yang lembab dan minim cahaya itu membuat bulu kuduk Paman Yan mulai berdiri.
"Sepertinya aku juga harus segera pergi dari tempat mengerikan ini" batin Paman Yan yang merasa takut dan segera pergi dari tempat tak berpenghuni itu
__ADS_1
Di sebuah gedung yang menjulang tinggi, Renata terlihat sedang menunggu lift untuk menuju lantai 10 gedung Alexander Corp. Dia akan menyerahkan berkas kontrak kerja yang sudah ditandatanganinya. Karena liftnya lumayan penuh, dia masuk lift dan memilih berdiri paling belakang. Saat pintu lift segera menutup tiba-tiba ada dua orang yang masuk dengan cepat untuk ikut naik ke lantai atas. Renata yang berdiri di pojok belakang ruang lift terjengit kaget saat melihat dua orang terakhir yang ikut naik ke dalam lift.
"Astaga kenapa Kak Aska juga ada di sini sih? Dia kesini mau apa?" batin Renata sambil menutupi wajahnya dengan map besar yang dipegangnya
Setelah pintu lift terbuka Aska dan sekretarisnya berjalan keluar ke arah kiri. Aska terlihat berjalan terburu-buru menuju sebuah ruangan. Sedangkan Renata berjalan ke arah kanan menuju ruangan tempat penyerahan berkas kontrak kerja.
"Untung Kak Aska tidak melihatku, hemm" ucap Renata mendengus lega
"Kira-kira ada urusan apa Kak Aska datang ke Alexander Corp" batin Renata saat sudah sampai di ruangan yang dia tuju
Di perusahaan Alexander Corp, Renata akhirnya benar-benar telah menyerahkan kontrak kerjanya. Saat dia hendak pulang dan menunggu pintu lift untuk turun ke lantai dasar tiba-tiba Aska dengan sekretarisnya berjalan mendekatinya. Renata segera membalikan badannya dan menutup wajahnya dengan mapnya lagi. Aska pun berdiri di samping Renata menunggu pintu lift terbuka, sepertinya dia dan skretarisnya juga ingin turun ke lantai dasar.
"Sial, apakah ini hari sialku harus bertemu dengannya lagi" batin Renata yang berdiri membelakangi Aska dan menutup wajahnya dengan map
"Hemm, apakah kau hanya akan berdiri di situ dan tidak mau masuk?" ucap Aska yang sudah berdiri di dalam ruang lift memandangi Renata yang tak menyadari pintu liftnya sudah terbuka
Renata pun segera masuk lift karena sudah ketahuan oleh Aska, dia tidak lagi menutup wajahnya dengan map. Dia melangkah dengan malas memasuki lift dan berdiri di depan Aska. Mendadak banyak orang berdatangan masuk ke dalam lift sehingga Renata tersenggol-senggol oleh mereka dan tergeser tidak dapat berdiri dengan seimbang dari tempatnya berdiri. Aska pun dengan sigap menarik tangannya, mendekat tepat di sampingnya dan merangkul bahunya agar dia tidak terjatuh
"Susah payah aku menghindarinya, kenapa malah jadi sedekat ini" batin Renata yang selalu menundukan kepala karena tidak ingin menatap Aska
Terasa getaran yang berdebar-debar dalam dada Renata saat Aska merangkulnya seolah sedang melindungi dirinya. Aska pun melirik ke arah Renata dengan senyum tipis di wajahnya. Setelah pintu lift terbuka, dengan cepat Renata segera keluar dari ruang lift yang membuat badannya panas dingin itu.
__ADS_1