Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan

Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan
Episode 53 Cincin tunangan sudah ketemu


__ADS_3

Saat Dirga berada di kamar mandi, Niana segera bangun dari ranjang menuju ruang ganti baju. Dia berdiri di depan cermin besar seluas dinding ruangan yang ada di ruang ganti itu. Banyak tanda merah di area leher dan dadanya karena ulah nakal Dirga.


Kedua tangannya menutup wajahnya dengan mata terpejam karena malu melihat dirinya sendiri di depan cermin. Sepertinya Dirga sudah selesai mandi karena suara percikan air shower sudah tidak terdengar lagi. Niana segera berlari menuju ranjang karena dia hanya memakai bra dan belum memakai bajunya lalu dengan cepat bersembunyi di balik selimut lagi.


"Hemmm, apakah kamu sudah tidur" seru Dirga berdiri di samping ranjang setelah selesai berpakaian rapi


Karena tidak ada jawaban dari Niana, selimut yang menutupi seluruh tubuhnya ditarik Dirga. Terlihat Niana pura-pura tidur dengan posisi miring menghadap Dirga dan kedua tangannya menyilang menutupi bagian dadanya. Banyak tanda cinta bekas ulahnya nakalnya.


"Kenapa belum pakai baju" ucap Dirga lirih di telinga Niana yang pura-pura tidur


Niana pun masih tidak menjawab padahal sudah terlihat jelas oleh Dirga kalau dia bersandiwara memejamkan mata. Dirga tersenyum gemas sambil menggelengkan kepalanya melihat Niana yang tidak pandai berakting.


"Pakailah bajumu atau kamu ingin aku memberi tanda kegemasan lagi yang lebih banyak" bisik Dirga ke telinga Niana.


Nianapun langsung membelalakan matanya dan segera bangun sambil menarik selimutnya lagi. Kemudian Dirga mengambil kemeja Niana yang masih tergeletak di lantai dan menyerahkanya pada Niana.


"Aku pergi ke RS dulu" ucap Dirga lalu mencium pipi Niana dengan cepat dan meninggalkan kamarnya


"Dia menyebut bekas merah-merah karena ulah brutalnya ini adalah tanda kegemasan. Dasar tidak bermoral, menjijikan sekali" ucap Niana kembali melihat ke arah dadanya yang banyak bekas ciuman dan gigitan nakal Dirga


Saat Dirga sampai di RS, mamamya sudah dipindahkan ke ruang perawatan VVIP karena sudah sadar. Mama Sofi ditemani oleh Renata di kamarnya. Sepertinya Mama Sofi sudah bisa diajak berkomunikasi dengan baik.


"Mama, bagaimana keadaanmu?" ucap Dirga mencium kening Mama Sofi


"Mama sudah baikan, bagaimana dengan Niana, dia tidak terluka kan?"


"Niana tidak apa-apa ma, hanya siku tangannya masih dibalut perban" ucap Dirga


"Kamu tidak memarahinya kan atas kejadian ini?"


"Tidak ma, mama tidak usah khawatir"


"Mama, kak Dirga Rena pulang dulu ya, tadi Rena dari kampus langsung ke sini. Rena mau mandi dan ganti baju. Nanti Rena kembali lagi jagain mama"


"Rena jangan lupa ajak kakak iparmu makan malam" ucap Mama Sofi


"Baik ma" jawab Renata lalu meninggalkan ruangan

__ADS_1


"Oh iya Dirga apakah kamu akrab dengan Toni keluarganya Tuan Alexander itu"


"Dia sebenarnya teman SD Dirga, tidak terlalu akrab juga. Memangnya kenapa Ma"


"Mama tidak suka dia dekat-dekat dengan Niana, waktu mama ke tokonya Niana, mama melihat dia membawa kotak perhiasan sepertinya mau diberikan pada Niana makanya mama buru-buru mengajak Niana pergi tetapi mama malah jatuh dan pingsan" ucap Mama Sofi


"Kotak perihasan? Apa yang diinginkan Toni sebenarnya. Aku harus menemuinya untuk menegaskan padanya bahwa Niana sudah jadi istri sah ku di mata hukum dan agama" batin Dirga


"Mama tidak usah khawatir, aku akan mengurusnya" ucap Dirga


"Ken atur pertemuanku dengan Toni malam ini. Pastikan dia akan datang" ucap Dirga pada Mr Ken yang dari tadi siang masih berada di RS


"Baik tuan"


Mr Ken mulai menghubungi Toni, entah dia mendapatkan nomer ponsel Toni dari siapa yang jelas itu sangat mudah dilakukan oleh Mr Ken. Setelah melakukan pembicaraan yang yang tidak perlu bertele-tele dengan Toni, akhirnya Toni menyetujui untuk datang jam 8 malam ini di Cafe I-Like yang biasa dikunjung Dirga.


Dirga sudah datang lebih awal dari Toni. Dia duduk di meja paling ujung sendiri menghindari riuhnya para pengunjung cafe yang kebetulan terlihat sangat ramai. Sedangkan Mr Ken berdiri di sampingnya sembari menjaga tuannya dari wanita-wanita pengujung cafe yang ingin mendekati Tuan Mudanya. Tak berapa lama kemudian Toni datang menghampiri Dirga yang tengah menyesap air lemon dengan tambahan beberapa batu es tanpa gula


"Hai bro, kita bertemu lagi" ucap Toni sambil mengulurkan tangan pada Dirga yang sudah duduk di sofa


Dirga tak menyambut uluran tangannya karena masih kesal dengan Toni yang selalu mendekati istrinya. Dirga mengubah posisi duduk dengan meyilangkan kakinya dan menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, sedangkan tangannya masih memegang segelas air lemon.


"Oke, apakah kamu masih terbakar api cemburu ha ha ha" ucap Toni teratawa santai menanggapi sikap Dirga yang dingin


"Katakan apa tujuanmu menemui Niana" ucap Dirga sambil menaruh gelas lemon dengan sedikit menekannya ke meja karena merasa kesal atas sikap Toni terlihat slengekan menangggapi ucapannya


"Santailah bro, santai.... kenapa kamu serius sekali tidak seperti waktu amnesia, kamu terlihat sedikit santai walau masih sedikit arogan" ucap Toni sambil mengangkat kedua telapak tangannya ke arah Dirga


"Tidak perlu mengaturku" titah Dirga


"Oke, aku pesan minuman dulu biar kita bisa ngobrol sambil menikmati hidup ini dengan santai. Pelayan...?" seru Toni


"Iya tuan, ada yang saya bisa dibantu" tanya pelayan cafe


"Saya ingin minuman yang sama persis dengan minuman tuan yang di depan saya ini. Ingat ya harus sama" ucap Toni seolah ingin memancing amarah Dirga, seolah dia mau mengatakan menginginkan milik Dirga


"Kamu bisa mendapatkan segelas air lemon yang sama tetapi tidak dengan Niana. Karena dia hanyalah milikku" batin Dirga meneguk air lemonnya lagi

__ADS_1


"Katakan apa tujuanmu menemui istriku?" titah Dirga lagi


"Benarkan kamu sudah menikahi Niana, bukankah setelah ingatanmu kembali waktu itu, kamu tidak mengingatnya lagi dan meninggalkannya sendirian tanpa kabar di RS Harapan Surabaya" ucap Toni


"Darimana kamu bisa tahu?" tanya Dirga penasaran


"Karena aku ada di tempat kejadian saat kalian kecelakaan dan aku yang membantu pengawalnya Niana membawa kalian ke RS. Aku tahu keadaannya Niana waktu itu dari para pengawalnya. Tahukah kamu keadaan Niana saat itu. Dua hari dia tak sadarkan diri dan saat tersadar kamu sudah pergi meninggalkannya. Saya dengar dari pengawalnya selama seminggu Niana seperti tak punya semangat hidup karena kamu meninggalkannya begitu saja"


"Benarkah yang dikatakan Toni, apakah Niana saat itu merasa kehilanganku. Apakah dia juga mencintaiku" batin Dirga


"Permisi tuan, ini minuman yang anda pesan" ucap pelayan cafe memberikan segelas air lemon yang sama persis dengan yang diminum Dirga


"Oke terima kasih" ucap Toni pada pelayan cafe


"Itu sudah masa lalu karena memang dulu hanya pernikahan palsu, tetapi sekarang aku sudah suami sahnya Niana secara hukum dan agama. Aku tidak akan meninggalkannya lagi. Jadi aku peringatkan mulai sekarang jauhi Niana" ucap Dirga


"Itu tergantung sikapmu padanya, aku akan menjauhi Niana kalau kamu tidak menyakitinya lagi. Kalau kamu menyakitinya aku akan tetap berada dekat dengannya" ucap Toni sambil meminum air lemonya


"Biiuuuhhh baaah...arghh minuman apa yang kamu minum, rasanya tidak karuan" ucap Toni memuntahkan minuman yang baru seteguk diminumnya


"Cih lain kali pesanlah sesuatu yang kamu sukai bukan ikut-ikutan memiliki sesuatu yang kumiliki karena belum tentu sesuatu itu pantas untukmu" ucap Dirga tersenyum kecil melihat Toni memuntahkan minuman yang sama persih dengan minumannya


"Oke, aku tahu. Aku hanya tidak ingin kamu menyakiti Niana saja karena dia temanku. Dia pernah menolongku untuk pura-pura jadi pacarku di depan kakak iparku. Dan Aku sudah berjanji padanya untuk membantunya" ucap Toni


"Beraninya kamu meminta Niana jadi pacar pura-puramu. Mau ku patahkan tanganmu" ucap Dirga menarik tangan Toni yang sedang membawa gelas lemonnya lalu memelintirnya dengan satu tangan hingga Toni kesakitan


"Aacchh sakit bro lepaskan tanganku" teriak Toni


"Kamu ingin aku melepaskannya?"


"Iya lepaskanlah tanganku, sorry bukannya saat ingatanmu kembali, kamu tidak peduli waktu aku bersama Niana, kenapa sekarang baru marah. Bahkan saat di taman dekat kantormu kamu menyuruhku mengambil Niana. Apa kau tidak ingat"


"Cerewet sekali, Kau benar-benar ingin tanganmu patah? ucap Dirga semakin kencang memelintir tangan Toni


"Aaacchhh sakit. Tolong lepaskan tanganku"


"Katakanlah dulu kamu tidak akan meminta Niana jadi pacar pura-pura mu lagi" titah Dirga memaksa

__ADS_1


"Oke bro oke, aku tidak akan minta bantuan Niana untuk pura-pura jadi pacarku lagi, sekarang lepaskan tanganku" ucap Toni


__ADS_2