Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan

Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan
Episode 113 Jenazah Dirga Ditemukan


__ADS_3

Suasana kediaman rumah Sanjaya yang semula terlihat penuh kegembiraan kini menjadi diliputi kesedihan yang marajam karena kabar tentang Dirga belum terdengar juga. Saat ini waktu sudah menunjukan pukul 2 siang, penghuni rumah pun masih duduk terdiam dengan perasaan gelisah.


"Nona Renata, bibi sudah siapkan makan siang. Sebaiknya ajak semuanya makan siang dulu. Kasihan Nona Niana yang sedang hamil belum makan" bisik Bi Mar pada Renata yang duduk memeluk Mama Sofi


"Mama, Kak Niana, Kak Aska. Ayo kita makan siang dulu. Kita juga butuh tenaga untuk menghadapi semuanya" ajak Renata


"Baiklah, Aska mari makan siang di sini saja sambil menunggu kabar tentang Dirga" ajak Mama Sofi


"Terima kasih tante" ucap Aska


"Niana, ayo makan siang dulu" ajak Aska pada Niana yang duduk di sampingnya


"Kalian makanlah, aku tidak lapar" ucap Niana dengan tatapan mata kosong


"Tapi janin dalam kandunganmu pasti lapar" ucap Aska


"Kak Aska, Kak Niana akan muntah kalau makan tanpa melihat Kak Dirga" bisik Renata ke telinga Aska


"Baiklah, aku tidak akan memaksamu. Tapi nanti tetaplah makan walau sedikit" ucap Aska pada Niana


"Nona Niana, coba makanlah kue ini kalau nona tidak bisa makan nasi. Bibi buatkan beberapa kue untuk nona" ucap Bi Mar membawa beberapa potong kue


"Terima kasih bi" ucap Niana yang masih menatap kosong


"Nona makanlah kalau nona memang mencintai Tuan Dirga dan demi kandungan nona. Tuan Dirga pasti senang kalau nona makan banyak" ucap Mr Ken mengusap ujung hidungnya seolah sedang menahan air matanya


"Sayang, anak mommy. Kamu harus baik jangan dimuntahkan kue ini walau kita belum bisa melihat daddy. Mommy yakin daddy baik-baik saja dan akan segera pulang menemui kita" ucap Niana lirih mengelus perutnya sambil meneteskan air mata. Dia mulai memakan kuenya walau sulit sekali untuk menelan. Mr Ken menyeka sudut matanya karena merasa ikut sedih melihat keadaan Niana.


Mr Ken dan Paman Yan yang masih berdiri di ruang tengah merasa iba melihat keadaan yang dialami Niana. Raut wajah Paman Yan terlihat sedih, dia pun melepaskan kacamatanya lalu menundukan wajah sambil mengusap matanya.


"Apakah ayah sungguh-sungguh menangis karena melihat Nona Niana seperti ini" batin Mr Ken melirik ke arah Paman Yan yang tengah mengusap matanya lalu memakai kacamatanya kembali


"Ayah merasa kasihan pada Nona Niana. Dia harus hidup tanpa Tuan Dirga. Hidup Nona Muda menyedihkan sekali, ayah sampai tak bisa menahan air mata. Kehilangan orang yang kita sayangi itu memang sangat menyakitkan sekali" tutur Paman Yan lirih saat di samping Mr Ken


"Semoga Tuan Dirga selamat dan bisa segera pulang berkumpul dengan Nona Niana dan keluarganya" ucap Mr Ken menatap tajam ke arah ayahnya

__ADS_1


"Semoga saja Ken. Ayah pulang dulu" ucap Paman Yan sambil menepuk-nepuk bahu Mr Ken lalu melangkah pergi


"Aku berharap ayah bukanlah dalang dibalik semua ini. Semoga ayah tidak menaruh dendam pada Tuan Dirga dan tidak berpikir Tuan Dirga yang menjadi penyebab penyakit Nona Tania sampai meninggal" batin Mr Ken


Mr Ken masih menatap tajam ke arah ayahnya. Seolah dia tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan ayahnya. Pikirannya menduga mungkin saja ayahnya yang telah melakukan ini semua untuk membalas dendam atas kematian Tania. Karena saat di rumah dia beberapa kali mendengar ayahnya berbicara dengan seseorang melalui ponsel di dalam kamar. Obrolan ayahnya yang dia dengar tidak begitu jelas sehingga dia tidak tahu sebenarnya siapa yang kerap menghubungi ayahnya.


"Ibu, Ken pergi dulu untuk kembali ke kantor" ucap Mr Ken pada Bi Mar yang duduk menemani Niana makan


"Baik nak, hati-hati" ucap Bi Mar


"Nona, habiskan makanan anda. Kalau ada kabar tentang Tuan Muda saya akan segera memberi kabar. Permisi nona" ucap Mr Ken menunduk dan bergegas pergi


Niana tidak merespon ucapan Mr Ken. Pandangan matanya tetap terlihat kosong walau mulutnya mengunyah sedikit demi sedikit kue yang seolah rasanya susah ditelan karena begitu dalamnya kesedihan yang dia rasakan.


"Bi, aku mau ke kamar istrirahat" ucap Niana


"Baiklah, mari saya antar nona ke atas" ajak Bi Mar menuntun Niana ke kamarnya


Saat jarum jam menunjukan pukul 4 sore. Aska masih menemani Renata menunggu kabar tentang Dirga di ruang tengah. Sedangkan Mama Sofi mungkin sedang istirahat di dalam kamarnya. Tiba-tiba telepon rumah yang ada di ruang tengah berdering di atas nakas. Renata langsung mengangkat gagang telepon itu.


"Nona Renata ini saya Mr Ken. Polisi dan tim penyelamat telah berhasil mengangkat mobil Tuan Dirga. Mereka menemukan dua jenazah. Yang satu berada didepan kemudi diduga sopir dan yang satu lagi berada di kursi belakang diduga jenazah Tuan Dirga" ucap Mr Ken


"Tidak mungkin. Mr Ken apakah kamu yakin itu jenazah Kak Dirga?" seru Renata yang terlihat syok dan Aska langsung berdiri di sampingnya


"Sepertinya begitu nona. Karena ledakan mobil itu jenazah mengalami luka bakar jadi sulit dikenali wajahnya.Tetapi jenazah yang duduk di kursi belakang kemungkinan besar Tuan Dirga. Berdasarkan yang saya lihat, semua yang masih menempel di tubuh jenazah, saya yakin itu milik Tuan Dirga" tutur Mr Ken


"Lalu dimana jenazah Kak Dirga sekarang?" tanya Renata


"Sekarang jenazah sudah di rumah sakit dan pihak rumah sakit meminta keluarga segara datang untuk mengkonfirmasi dan menjemput jenazah Tuan Dirga" ucap Mr Ken


"Baik Mr Ken aku dan yang lain akan segera ke rumah sakit" ucap Renata meletakan gagang telepon


Paman Yan pun kembali datang ke rumah setelah Mr Ken memberi tahu padanya bahwa Dirga telah meninggal. Dia langsung memberi tahu Bi Mar dan semua para pelayan rumah untuk mempersiapkan rumah dan segala sesuatu sebelum jenazah Dirga dibawa pulang.


"Renata siapa yang menelepon?" tanya Mama Sofi yang telah keluar dari kamar

__ADS_1


"Mr Ken, ma" ucap Renata sambil mengusap butiran bening di pipinya


"Apa yang Mr Ken katakan? Kenapa kamu menangis?" tanya Mama Sofi


"Mr Ken bilang mobil Kak Dirga sudah diangkat dari laut dan jenazah Kak Dirga sudah dibawa ke rumah sakit. Kita harus segera ke rumah sakit untuk mengkonfirmasi" ucap Renata sambil terisak


"Apakah itu benar-benar jenazah Dirga?" tanya Mama Sofi


"Makanya kita harus ke rumah sakit sekarang ma untuk mengetahui kebenarannya" ucap Renata


"Dirga anak mama benar-benar meninggal, kenapa rasanya sulit dipercaya" ucap Mama Sofi diiringi isak tangis


"Tante harus kuat dan sabar. Saya akan menemani kalian ke rumah sakit" ucap Aska merangkul bahu Mama Sofi


"Tidak mungkin, Dirga tidak mungkin meninggal. Tidak...!!!" teriak Niana yang sudah berdiri di anak tangga. Dia telah mendengar semua pembicaraan Renata dengan Mama Sofi


"Kak Niana" ucap Renata bergegas menghampiri Niana yang sudah ada di pertengahan tangga


"Ren, Dirga masih hidup. Dia tidak mungkin pergi meninggalkanku. Dirga tidak meninggal. Mr Ken berbohong" ceracau Niana yang terduduk di anak tangga sambil menempelkan kedua telapak tangannya ditelinga seolah tidak ingin mendengar kabar buruk itu


"Kakak ipar, kakak harus sabar dan kuat. Semua sudah terjadi kita harus ikhlas menerimanya. Mari kita ke rumah sakit untuk melihatnya" ucap Renata sambil memeluk Niana


"Baiklah, ayo ke rumah sakit. Kakak yakin jenazah itu bukan jenazah Dirga" ucap Niana membelalakan mata menatap Renata tajam


Akhirnya mereka semua menuju ke rumah sakit. Jenazah Dirga dibawa ke rumah sakit Hospital Sanjaya atas perintah Mr Ken. Setibanya di Hospital Sanjaya, Mr Ken langsung mengantar mereka menuju ruang jenazah. Terlihat Dokter Bara telah berdiri di depan kamar jenazah.


"Tante, Bara turut berduka cita. Semoga tante sekeluarga diberi kesabaran dan keikhlasan. Ini hasil visum yang menyatakan jenazah yang ada di dalam adalah jenazah Dirga" ucap Dokter Bara pada Mama Sofi sambil menyerahkan beberapa lembar berkas visum atas nama Dirga


Mama Sofi dan Renata membaca berkas itu. Pihak rumah sakit telah mengatakan Dirga telah meninggal. Hasil visum menyatakan jenazah itu benar-benar jenazah Dirga. Berdasarkan tes DNA menunjukan 99% jenazah itu adalah jenazah Dirga. Sedangan Niana hanya melirik tajam ke arah berkas itu. Dia tetap menganggap itu adalah berkas palsu. Hatinya masih meyakini Dirga masih hidup.


Kini mereka melihat jenazah Dirga yang telah terbaring kaku di atas branka dan ditutupi kain putih. Mereka semua seolah tak percaya kalau Dirga benar-benar sudah meninggal. Semua merasa yang mereka alami ini seperti mimpi. Perlahan mereka mendekat ke bagian kepala Dirga yang masih tertutup kain putih itu. Mama Sofi dan Renata berdiri di sisi kanan, sedangkan Niana dan Aska berda di sisi kiri.


Tatapan mata Niana seoalah tak percaya jenazah yang ada dibalik kain putih itu adalah Dirga. Bahkan air matanya telah kering. Walau dia merasa jenazah itu bukan Dirga tetapi dadanya tetap gemetar untuk melihatnya.


Mama Sofi membuka penutup kain itu dengan perlahan. Mama Sofi langsung menangis memeluk tubuh Dirga yang telah terbujur kaku dengan luka bakar akibat ledakan mobil. Walaupun luka bakar itu membuat wajah Dirga sulit dikenali tetapi Mama Sofi dan Renata percaya itu jenazah Dirga.

__ADS_1


__ADS_2