
Kini Niana harus hidup serumah dengan Arga laki-laki yang mirip sekali dengan Dirga. Tetapi Niana merasa mereka berbeda walaupun wajahnya sama. Niana juga merasa sikap Arga padanya sepertinya tidak suka dengannya. Sikap Arga membuat Niana tidak ingin lama-lama melihatnya, apalagi sedari tadi dia sudah menahan untuk buang air. Niana pun segera naik ke kamarnya dan menuju kamar mandi.
Mama Sofi dan Renata masih terlihat berpelukan. Mereka merasa sangat bahagia karena Arga ternyata masih hidup. Semua orang tidak menyangka sama sekali, berita mengejutkan itu benar-benar terjadi dalam hidup mereka. Arga yang dikabarkan sudah meninggal waktu masih bayi ternyata kembali lagi di kehidupan mereka. Sungguh di luar logika tetapi semua tanda yang dimiliki Arga memang ada pada orang yang bernama Reval itu.
Paman Yan pun mengantar Arga naik ke atas menuju kamarnya. Terlihat Paman Yan membawakan tas dan koper yang berisi pakaian milik Arga. Sementara Arga dengan santainya berjalan mengikuti Paman Yan dari belakang. Kebetulan Niana yang baru saja keluar dari kamarnya melihat Paman Yan membawa koper dan tas besar sendirian. Niana yang merasa kasihan pada Paman Yan yang terlihat kelelahan membawa koper, langsung menghampiri Paman Yan.
"Stop paman, taruh tas itu. Biar saya yang mengantarkan Tuan Arga ke depan kamarnya. Paman boleh pulang sekarang" titah Niana pada Paman Yan saat sampai di lantai atas
"Tapi nona, saya harus meletakan barang milik Tuan Arga ke kamarnya" tolak Paman Yan yang terlihat ngos-ngosan membawa koper dan tas
"Apakah anda tidak diajari menghormati orang tua? Paman Yan ini sedang sakit kenapa kamu tidak membawa kopermu sendiri" seru Niana pada Arga yang tampak acuh berdiri mematung sambil bersedekap dada sambil membuang muka
"Nona saya tidak apa-apa, ini sudah tugas saya" tutur Paman Yan
"Telingamu masih baik kan? Harusnya kamu dengar kalau pak tua ini tidak apa-apa" ucap Arga
"Nona Niana, ini hanya masalah kecil sebaiknya tidak perlu diributkan" ucap Paman Yan
"Ini bukan masalah kecil atau besar tapi ini masalah atitude kepada orang tua" tutur Niana
"Baiklah. Kalau begitu terima kasih Paman Yan. Paman boleh pergi sekarang, saya akan bawa koper saya sendiri" ucap Arga pada Paman Yan dan Paman Yan langsung turun ke lantai dasar setelah menunduk hormat kepada mereka
"Kalian memang benar-benar berbeda, ternyata Dirga memang lebih baik darimu" gumam Niana lirih dan berlalu meninggalkan Arga
"Berhenti" titah Arga pada Niana dan Niana langsung menghentikan langkahnya
"Mau apalagi?" tanya Niana memutar bola matanya dengan malas
"Dimana kamarku? Bukankah kamu bilang mau mengantarkanku ke kamar. Di sini banyak pintu aku harus masuk ke pintu yang mana?" ucap Arga
__ADS_1
"Dimana kamarmu? cari saja sendiri" ucap Niana ketus dan langsung turun ke lantai bawah
"Oh, baiklah" ucap Arga sambil bersedekap dada
Niana turun ke lantai bawah menuju dapur. Dia merasa perutnya lapar lagi, padahal belum lama dia menghabiskan makan siangnya. Rasanya dia ingin mengemil sesuatu. Belum sampai dapur dia merasa mual karena dia mencium aroma makanan yang membuat perutnya bergejolak. Ternyata Rumi terlihat sedang makan mie instan di meja dapur. Bau mie instan itu membuat perutnya seperti diaduk-aduk.
Dengan cepat Niana berlari menaiki anak tangga menuju ke kamarnya sambil membungkam mulutnya. Dia segera masuk ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Setelah memuntahkan isi perutnya di wastafel, dia merasa lemas dan pusing. Niana pun langsung berjalan menuju kasurnya dan ingin beristirahat saja.
Setelah meminum segelas air putih yang ada di atas nakas dan mengoleskan minyak angin di pelipisnya, Niana merebahkan tubuhnya. Kepalanya yang terasa pusing membuatnya ingin segera tidur. Dia pun langsung memejamkan matanya.
Sore ini sang senja mulai memancarkan sinar jingganya. Sepertinya Niana menikmati tidur siangnya hingga sore. Cahayanya seperti memberi rasa nyaman dan hangat saat perlahan Niana membuka matanya. Dia merasa seperti memeluk guling tetapi saat matanya telah terbuka, dia langsung mendongkan wajahnya. Dilihatnya wajah seseorang yang mirip Dirga terbaring dipeluknya.
"Tidak...! siapa kamu...!" teriak Niana sambil menendang orang yang terbaring di sampingnya hingga jatuh dari ranjang
"Ck berisik sekali. Apa kamu tidak bisa bersikap lembut" ucap Arga terduduk di lantai dan masih memejamkan matanya
"Kenapa kamu tidur di kamarku?" seru Niana
"Tidak mungkin, kamu sengaja kan masuk ke kamarku untuk berbuat yang tidak-tidak. Aku akan melaporkan perbuatanmu pada mama" ucap Niana mengancam
"Bukankah kamu yang sudah berbuat yang tidak-tidak padaku? Aku hanya tidur saja tapi kamu malah tidur sambil memelukku hingga aku sulit bergerak. Sepertinya tubuhku membuatmu nyaman" ucap Arga yang sudah berdiri di depan Niana sambil bersedekap dada
"Siapa yang merasa nyaman? Justru aku merasa tidak nyaman makanya aku menendangmu" tutur Niana
"Baiklah terserah, yang pasti kamu sudah menikmati tidur siangmu hingga sore. Sepertinya itu cukup jelas" ucap Arga sambil mengangkat koper dan tasnya
"Kalau kamu tidak tidur di kamarku aku juga tidak akan memelukmu. Dan tanpa kamu aku bisa tidur sampai kapanpu" seru Niana pada Arga yang melangkah pergi meninggalkan kamarnya dan mengacuhkan perkataan Niana
"Hem, tidak berterima kasih malah marah-marah" batin Arga menutup pintu kamar Niana sambil menggelengkan kepala
__ADS_1
Sementara Niana yang masih terduduk di atas ranjang terlihat masih merasa benar-benar kesal pada Arga yang seenaknya tidur dikamarnya. Dia pun mengambil foto pernikahannya dengan Dirga. Dielusnya foto yang menampakan wajah Dirga.
"Sayang, kenapa kembaranmu menyebalkan seperti itu. Aku benar-benar marah padanya. Aku akan bilang pada mama agar dia bisa bersikap baik ke depannya" batin Niana
Waktu menunjukan pukul setengah 7 malam. Niana mulai keluar dari kamarnya dan ingin makan malam bersama keluarga. Dia pun menutup pintunya pelan-pelan agar Arga tidak terbangung dan dia bisa segera mengadukan sikap Arga yang tidak sopan pada Mama Sofi.
"Pasti orang menyebalkan itu masih tertidur. Aku harus segera menemui mama sebelum dia turun ke bawah" batin Niana menengok ke samping kanan dan kiri karena tidak tahu Arga tidur di kamar sebelah mana
Niana menuruni anak tangga dan langsung menuju ruang makan. Dia tiba-tiba menghentikan langkahnya saat sampai di ruang makan. Dia yang awalnya bersemangat untuk segera menermui Mama Sofi kini semangatnya meredup. Terlihat Arga sudah duduk di samping Mama Sofi sambil menikmati makanannya.
"Niana kemari sayang, ayo kita makan sama-sama" seru Mama Sofi
"Iya kak, ayo makan bareng. Mungkin saja kakak tidak mual kalau makannya sambil melihat Kak Arga bukankah kak Arga mirip dengan Kak Dirga" tutur Renata
"Tidak ma, aku mau ke dapur saja minta Bi Mar antar makanan ke kamar. Aku baru sampai di sini sudah merasa mual duluan" ucap Niana melirik tajam ke arah Arga yang terlihat begitu menikmati makannya sambil melirik ke arah Niana
"Kamu mau makan apa? Ayo duduklah dulu.Biar mama panggilkan Bi Mar untuk membuatkan makanan untukmu" ucap Mama Sofi
"Tidak perlu ma, biar Niana ke dapur sendiri saja. Mama lanjutkan makan saja" tolak Niana
"Jadi kakak tidak mau makan sama-sama? Daripada nanti muntah, apa salahnya dicoba makan disini sambil lihatin Kak Arga" imbuh Renata
"Aku bisa lihat foto atau vidio Dirga saat makan di kamar. Di sini malah membuatku semakin mual" ucap Niana dan Argapun tampak cuek sambil tetap menikmati makanannya
"Iya, Niana makan disini saja. Arga juga sudah bilang kalau dia salah kamar dan sudah tidur di kamarmu karena kamu tidak membantunya menuju kamarnya. Dia bilang merasa lelah sekali dan langsung tidur begitu saja saat melihat ranjang. Mama harap kamu bisa memaafkan Arga" tutur Mama Sofi
"Duduklah aku bersedia membantumu biar tidak muntah kalau kamu meminta dengan baik" ucap Arga
"Jadi dia sudah bilang duluan ke mama dengan berbagai alasan agar terlihat tidak bersalah. Dasar manusia licik. Lagian siapa yang sudi meminta bantuanmu. Aku bisa makan sendiri" batin Niana
__ADS_1
"Maaf mama dan semuanya, Niana benar-benar tidak bisa makan bersama kalian" ucap Niana