
Akhirnya Tania sudah mendapatkan penanganan dari dokter. Penyebab sakit perutnya adalah maagnya kambuh karena tidak menjaga pola makan dengan baik selama melakukan penelitian di Sanjaya Hospital. Karena Tania perlu mendapatkan perawatan di RS, akhirnya Tania harus rawat inap. Dirga mengantar Tania bersama seorang perawat ke ruang perawatan karena Tania hanya seorang diri di RS. Dirga pun sudah sangat terlambat untuk pulang ke rumah.
"Terima kasih Ga, pulanglah pakailah mobilku. Aku akan menghubungi keluargaku untuk menjagaku" ucap Tania setelah sampai di ruang perawatan
"Tidak usah, aku sudah pesan taksi online" jawab Dirga
"Oh, oke. Terima kasih sudah membantu membawaku ke RS"
"Baiklah aku pulang dulu, taksiku sudah ada di depan. Jaga dirimu baik-baik" ucap Dirga yang segera bergegas lari meninggalkan Tania
Perasaan gundah gulanan menghinggapi hatinya yang kini menuju ke rumah. Hari ini Dirga telah mengingkari janjinya pada Niana untuk pulang cepat. Nyatanya pukul 11 malam lebih Dirga belum sampai rumah.
Waktu sudah menunjukan pukul 12 malam. Keadaan rumah pun sudah sepi menyisakan keheningan malam. Hanya Paman Yan yang masih setia menunggu Tuan Mudanya pulang untuk membantu mengganti sendalnya.
"Terima kasih, Paman Yan" ucap Dirga setelah sampai di rumah dan mengganti sendalnya
"Apakah tuan sangat sibuk hari ini? Sepertinya tuan terlihat sangat lelah?"
"Aku memang sangat lelah hari ini. Di tengah perjalanan pulang, Dokter Bara tiba-tiba menghubungiku untuk menjenguk Tania jadi aku ke RS dulu" ucap Dirga duduk di sofa kamar tamu menyandarkan punggung dan kepalanya ke sandaran sofa
"Maaf tuan, memangnya Nona Tania sakit apa?" tanya Paman Yan penasaran
"Sakit lambung dan sudah kronis. Paman, tolong jangan bilang ke siapapun terutama Niana kalau aku menjenguk Tania malam ini. Aku tidak mau dia salah paham" titah Dirga
"Baik tuan, apakah tuan ingin saya menggantikan tuan untuk menjenguk Nona Tania setiap hari untuk mendapatkan kabarnya agar Nona Niana tidak curiga pada tuan"
"Tidak perlu paman, aku sebenarnya sudah tidak ingin menemui Tania lagi. Tapi karena Dokter Bara memaksaku, aku tidak bisa menolak" ucap Dirga yang mulai beranjak dari sofa
__ADS_1
"Baik tuan" ucap Paman Yan menunduk patuh
"Baiklah paman, saya ke kamar dulu"
"Maaf tuan, tadi ada insiden kecil di rumah. Kaki Nona Muda terkena pecahan gelas saat membuat jus di dapur" ucap Paman Yan
"Apa? Kenapa tidak ada yang memberitahuku" seru Dirga marah
"Kata Nona Muda ponsel anda sulit dihubungi. Jadi kami segera membawanya ke RS" ucap Paman Yan
"Sial gara-gara ponselku mati, Niana tidak bisa menghubungiku saat dia benar-benar membutuhkanku" batin Dirga mengusap kasar wajahnya
"Lalu dimana dia sekarang? Dan bagaimana keadaannya sekarang, paman?" ucap Dirga khawatir
"Mr Ken dan Renata sudah membawanya ke RS dan telapak kakinya mendapatkan beberapa jahitan karena lukanya cukup dalam. Sekarang sepertinya Nona Muda sudah tidur di kamar setelah minum obat" ucap Paman Yan
Mendengar telapak kaki Niana terluka cukup dalam sampai harus dijahit, Dirga pun langsung bergegas lari menaiki tangga menuju kamarnya. Dia ingin sekali segera memeluk istrinya. Di atas kasur ruang kamar terbaring tubuh Niana yang sudah memejamkan mata berada di alam mimpinya. Dirga menghampirinya istrinya dengan perasaan bersalah, matanya tersirat rasa penuh penyesalan. Dia duduk di pinggir kasur dan dipandanginnya Niana dengan kedua maniknya yang berkaca-kaca, lalu membetulkan selimutnya sampai menutup ke lehernya. Didaratkan kecupan hangat di atas kening istrinya.
Lalu Dirga membaringkan tubuhnya di samping Niana setelah melepas jaznya dan meletakannya di sebelah Niana. Dirga langsung merebahkan badan tanpa menganti bajunya dengan piyama. Dia ingin segera memeluk istrinya yang telah dia kecewakan karena sudah membuatnya menunggu. Direngkuhnya tubuh Niana ke dalam peluknya hingga pagi menjelang.
"Aku berharap besok pagi semua akan baik-baik saja. Maafkan aku sudah membuatmu menunggu" ucap Dirga lirih sambil mengelus rambut kepala Niana yang terbaring di atas dadanya
Sang surya menyinarkan cahaya cinta yang perlahan menyilaukan. Mata Niana yang masih terpejam diusik oleh sinar-sinar nakal yang menelusup melewati celah-celah gorden jendela. Saat kelopak matanya perlahan terbuka, dilihatnya Dirga tidur dengan memeluknya masih memakai kemeja dan dasinya. Sedangkan jaznya terlihat teronggok begitu saja di sampingnya. Entah apa yang membuat Dirga tidur masih berpakaian rapi seperti itu. Dia yang biasanya selalu memakai piyama sebelum tidur seperti malas berganti baju bahkan jaznya dibiarkan teronggok di atas kasur.
"Kenapa tidak ganti baju. Dan tidur dalam pakain seperti ini. Semalam kamu kemana? Bukankah kamu menghabiskan waktu dengan Tania lalu kenapa sekarang memeluk erat sekali sampai badanku pegal karena susah bergerak" batin Niana melihat Dirga yang tidur memeluk erat tubuhnya
Dengan perlahan dan gerakan begitu hati-hati seperti sedang menjinakan bom, Niana menyingkirkan tangan Dirga yang melingkar di atas tubuhnya. Kemudia dia bangun dan terduduk di samping Dirga yang masih memejamkan mata terbuai dalam mimpinya. Niana mengangkat kedua tangannya ke atas, ditarik setinggi-tingginya seakan ingin melemaskan otot-otot tubuhnya yang pegal karena dipeluk Dirga. Saat dia menoleh ke arah Dirga, betapa terkejutnya saat mendapati bekas lipstik di kemeja putih yang masih dipakai Dirga. Serasa tercabik hatinya melihat di kemeja suaminya terukir sebuah kecupan bibir berwarna merah.
__ADS_1
"Jadi dia tidak ganti baju untuk memamerkan bekas lipstik wanita pujaannya. Aku kira kamu tidak sempat ganti baju karena merasa bersalah dan segera ingin bersamaku. Apa yang telah kamu lakukan kemarin malam dengan Tania?" batin Niana mendongakan wajahnya ke atas untuk membendung air matanya walaupun tetap saja air mata itu memaksa keluar dari pelupuk matanya. Lalu Niana memejamkan matanya seolah sedang meresapi betapa menyedihkan nasibnya.
"Kamu sudah bangun?" ucap Dirga yang mulai mengganti posisi tidurnya lalu duduk bersandar di headbroad kasur
"Semalam kamu menghabiskan waktu dengan siapa?" ucap Niana tanpa memandang ke arah Dirga seolah ingin mengacuhkannya
"Bukankah Mr Ken sudah memberi tahumu kalau aku pergi ke pesta klien" ucap Dirga
"Kamu masih bisa membohongiku. Kamu kira aku tidak tahu" batin Niana yang enggan menangggapi perkataan Dirga dan
"Aku minta maaf karena telah membuatmu menunggumu semalaman" ucap Dirga lagi
"Sepertinya kamu menikmati malammu kemarin. Apa yang mau kau tunjukan dengan memamerkan bekas lipstik di kemejamu itu" ucap Niana
Dirga pun kaget dan melihat kemejanya sendiri. Dia baru menyadari ada bekas lipstik merah menempel di kemejanya. Dia berpikir sejenak, kenapa ada bekas lipstik di kemejanya.
"Apakah ini bekas lipstik Tania saat kemarin jatuh ke arahku dan bibirnya menepel di kemejaku. Sial, apa yang harus aku katakan pada Niana" batin Dirgs kesal
"Niana percayalah padaku, aku tidak pernah menghianatimu, aku sangat mencintaimu" ucap Dirga memegangi kedua bahu Niana yang menundukan wajah tak ingin melihat Dirga
"Kamu masih bisa mengucapkan cinta? Belum puaskah kamu setelah ku berikan seluruh jiwa ragaku dan kamu telah mendapatkanku sepenuhnya. Lalu kamu menyakitiku dan mempermainkanku dengan memamerkan betapa mesranya kalian malam itu" batin Niana yang meratapi hidupnya yang menyedihkan hingga tak terasa air mata menetes begitu saja
Runtuh jiwa raga Niana hingga hancur berkeping-keping. Saat kemarin Dirga yang selalu menelanjanginya lewat indahnya belai kasih hingga merangkul kalbu dan membelenggunya dalam cinta yang indah. Kini Niana merasa seolah dihempas dari ketinggian tanpa perasaan.
Niana tak mampu berkata apapun, seolah ingin membisu. Bukan santunnya terbungkam hanya hatinya berbatas untuk mengerti Dirga. Sulit baginya hanya untuk mengucapkan sepatah kata pada Dirga seolah tenggorokannya kering kerontang dan sulit menelan salivanya sendiri karena terlalu sakit yang ia rasa.
"Niana ini tidak sengaja, kemarin saat di pesta klien ada seorang wanita yang tiba-tiba mau pingsan dan jatuh ke arahku. Aku juga tidak mengenalnya. Mungkin lipstiknya tidak sengaja mengenai kemeja ku" ucap Dirga yang sudah frustasi harus berkata apalagi untuk meyakinkan Niana
__ADS_1
"Untuk apa lagi kamu beralasan lagi,bukankah kamu sudah menang, sudah mampu mengambil hatiku dan mendapatkanku sepenuhnya. Kenapa tidak meninggalkanku saja, malah memamerkan kemesraan dengan wanita pujaanmu. Sampai kapan kamu akan menyiksa perasaanku?" batin Niana
"Maafkan aku Niana, aku tidak bisa mengatakan kalau aku sudah bertemu Tania. Aku takut kamu semakin salah paham karena orang yang aku temui saat ulang tahunku adalah Tania" batin Dirga