Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan

Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan
Episode 95 Benar-benar Hamil


__ADS_3

Selesai berdiskusi dengan Mr Ken, Dirga masih terlihat duduk di kursi ruang kerja pribadinya. Dirga masih memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi karena perbuatan Paman Yan. Segala cara dia pikirkan untuk mengatisipasi hal buruk yang bisa saja terjadi.


"Sebenarnya apa yang menjadi alasan Paman Yan sampai merencanakan kejahatan. Walau Paman Yan jarang bicara selama ini sikapnya masih terlihat selalu baik. Kalau dia sampai berbuat kejahatan berencana artinya dia merasa sakit hati. Mungkin saja dia sakit hati karena kehilangan Tania dan ingin membalas dendam pada orang yang telah menyakiti puterinya" batin Dirga


Pikirannya pun mulai menerka-nerka, kemungkinan yang menjadi alasan Paman Yan berbuat kriminal. Selain Tuan Ferdinan yang sikapnya pada Tania kurang perhatian dan membedakan kasih sayang antara Tania dan kedua anak laki-lakinya. Dirga juga meninggalkan Tania dan memilih menikah dengan Niana, mungkin saja hal itu juga telah membuat Paman Yan tidak terima. "Bisa saja target kejahatan yang direncanakan Paman Yan adalah aku dan Tuan Ferdinan" pikir Dirga.


Saat menuju kamarnya, Niana sudah tertidur di atas kasur dan tangannya masih memegang buku yang tadi dibacanya. Lalu Dirga mengambil buku yang ada di tangan Niana dan meletakannya di atas nakas. Dia menyelimuti Niana dan mencium keningnya.


"Aku akan selalu menjagamu dan anak kita. Kalian harus tetap hidup dengan baik" batin Dirga mengelus rambut Niana yang tertidur pulas


Paginya Dirga terlihat sarapan seperti biasa dengan keluarganya. Hari ini dia tidak berangkat ke kantor karena siang nanti dia akan terbang ke Australi. Niana duduk di sisi kanan Dirga dan berhadapan dengan Mama Sofi. Renata pun juga ikut sarapan dan duduk di samping Niana. Dirga meletakan makanan ke atas piring Niana.


"Makanlah yang banyak" ucap Dirga memegang puncak kepala Niana yang menyunggingkan senyum manis padanya


Niana terlihat memakannya dengan lahap. Dia makan sambil melihat wajah Dirga yang selalu tersenyum padanya sambil makan juga. Bahkan dia ingin menambah sarapannya di saat yang lainnya belum habis memakan sarapannya. Dirga pun meletakan nasi dan lauk saat melihat piring Niana yang sudah kosong lagi.


"Wah kakak ipar nafsu makanmu bertambah pesat. Bukankah kemarin kakak merasa mual dan pusing" ucap Renata terbengong melihat ke arah Niana


"Aku juga tidak tahu, mungkin aku sudah sembuh" ucap Niana tanpa melihat ke arah Renata yang duduk di sampingnya.


"Mungkin si kecil senang kalau makan ditemani daddy nya" ucap Dirga


"Hemm kenapa membicarakan si kecil lagi sih?" batin Niana


"Bisa jadi itu, ibu hamil kan kadang aneh-aneh karena bawaan bayinya" sahut Mama Sofi


"Bayi darimana coba? Andai kalian tahu perutku ini isinya cuma usus dan nasi saja" batin Niana hanya nyengir kuda ke arah Mama Sofi lalu melanjutkan makannya


Niana lebih sering melihat ke arah Dirga saat makan hingga tak terasa dia sudah menghabiskan sarapan sebanyak 2 porsi. Lalu dia menambah nasi lagi setengah porsi. Dirga pun mengambilkan lauk untuk Niana. Setelah mengambilkan lauk untuk Niana Dirga mengakhiri sarapannya karena sudah merasa kenyang.

__ADS_1


"Sayang, aku mau menemui Ken di ruang kerjaku. Habiskan makananmu. Jika kamu memerlukanku tunggu sampai aku keluar" ucap Dirga beranjak dari kursinya sambil memegang puncak kepala Niana yang tengah mendongakan wajah ke arahnya


"Oke" ucap Niana singkat sambil nyengir kuda


"Mama, Renata. Dirga permisi duluan" ucap Dirga


"Baiklah, mama akan menemani Niana sampai menghabiskan makanannya" ucap Mama Sofi dan Renata yang mulutnya penuh makanan hanya memberi isyarat "oke" dengan tanganya


Dirga lalu masuk ke ruang kerja pribadinya dengan Mr Ken. Walau ruang pribadinya itu kedap udara, sepertinya Mr Ken mengunci pintu ruang kerja itu dari dalam. Sepertinya mereka ingin membicarakan hal penting dan tidak ingin diganggu.


Niana tiba-tiba menghentikan makannya saat Dirga sudah masuk ke ruang kerjanya. Sepertinya dia merasa mual saat melihat makanan di atas piringnya. Entah apa yang membuatnya ingin muntah dan tidak mau makan lagi hingga akhirnya perutnya seolah bergejolak ingin memuntahkan isinya. Karena sudah tidak tahan, Niana segera berlari menuju toilet. Dia memuntahkan makanan yang telah dimakannya ke dalam kloset.


"Kakak ipar, kakak tidak apa-apa?" tanya Renata yang berada di belakangnya sambil menepuk pelan punggungg Niana


"Kepalaku sedikit pusing" ucap Niana setelah selesai memuntahkan isi perutnya dan dipapah Renata keluar dari toilet


"Niana kamu kenapa sayang?" tanya Mama Sofi yang menunggu di depan pintu toilet


"Bawa Niana ke ruang tengah dan oleskan minyak ini untuk meredakan pusingnya. Mama akan menyuruh Bi Mar untuk membuatkan minuman jahe buat Niana" ucap Mama Sofi


"Baik ma" ucap Renata memapah Niana ke sofa ruang tengah


Wajah Niana seketika terlihat pucat dan hampir pingsan. Dia merasa pusing dan matanya berkunang-kunang. Renata segera mengolesinya dengan minyak di kedua pelipis Niana dan lehernya agar segera merasa nyaman. Bi Mar pun datang membawakan minuman jahe hangat untuk mengurangi rasa mualnya.


Dirga pun segera keluar dari ruang kerja pribadinya setelah dipanggil Mama Sofi dan Mr Ken mengikutinya di belakang. Dia langsung berlari menuju ruang tengah. Dan langsung duduk merangkul Niana.


"Sayang ada apa denganmu?" tanya Dirga panik saat menghampiri Niana


"Kepalaku pusing sekali dan perutku rasanya mual" ucap Niana memejamkan matanya sambil memijat pelipisnya

__ADS_1


"Ken tolong panggil dokter Bara, bukan bukan. Dokter Rani saja yang perempuan" titah Dirga


"Baik tuan" jawab Ken langsung memanggil Dokter Rani yang berdinas di kantor Sanjaya Gruop


"Sayang, aku tidak apa-apa nanti juga sembuh sendiri. Tidak usah manggil dokter" ucap Niana


"Tidak, kamu harus diperiksa. Aku tidak akan tenang kalau meninggalkanmu dalam kondisi seperti ini" ucap Dirga memegang kedua tangan istrinya


"Iya Niana, sebaiknya kamu diperiksa agar tahu keadaanmu dan bayi dalam kandunganmu. Mama juga khawatir kalau belum tahu bagaimana kesehatan kalian" imbuh Mama Sofi


"Kepalaku pusing sekali, terserah mereka saja aku sudah tidak kuat untuk menolak. Biarlah mereka tahu berita pahit yang sebenarnya kalau aku tidak hamil" batin Niana


"Baiklah, aku ikut saja" ucap Niana


"Kalau begitu aku bawa kamu ke kamar biar bisa beristirahat dengan nyaman" ucap Dirga yang langsung menggendong Niana ke lantai atas


Tidak lama kemudian Dokter Rani datang. Lalu Mama Sofi dan Renata mengantarkannya ke kamar Dirga. Dokter Rani mulai memeriksa Niana dan ditemani oleh Dirga sedangkan yang lainnya menunggu di luar. Selain melakukan anamnesa dan memeriksa kondisi fisik Niana, Dokter Rani juga menyuruh untuk melakukan tes HCG (human chorionic gonadotropin) lewat urine untuk memastikan kehamilannya.


"Tuan Dirga, Nona Niana saat ini sedang hamil 8 minggu jadi wajar jika dia mengalami mual muntah asal tidak berlebihan" ucap Dokter Rani


"Sayang, jadi aku hamil benaran? Jadi di dalam perutku ada si kecil bukan hanya usus dan nasi?" ucap Niana pada Dirga yang duduk di kasur menemani di sampingnya


"Dasar bodoh? Pertanyaan macam apa itu?" ucap Dirga mengacak rambut Niana yang tersenyum bahagia seoalah tak percaya dirinya sedang hamil


"Saya akan memberikan obat antimual dan obat pusing serta vitamin untuk Nona Niana. Jika nona merasa mual makanlah sedikit-sedikit tapi sering agar tetap ada nutrisi yang masuk" ucap Dokter Rani


"Baik dok, terima kasih" ucap Niana


"Sekali lagi selamat Tuan Dirga dan Nona Niana. Permisi" ucap Dokter Rani lalu meninggalkan kamar

__ADS_1


"Ya Tuhan terima kasih atas anugerah luar biasa yang Engkau berikan, aku benar-benar hamil dan tidak membuat kecewa Dirga, Mama Sofi dan Renata" batin Niana memeluk Dirga yang duduk di sampingnya


Akhirnya Niana mengetahui kalau dirinya memang benar-benar hamil. Perasaanya bahagia semakin membuncah karena dia tidak membuat Dirga dan keluarganya kecewa.


__ADS_2