
Niana mencoba mengatur nafasnya sejenak. Kemudian Dirga kembali menciumnya dan tangan Niana diletakan melingkar di leher Dirga. Kedua paha Niana dilingkarkan memeluk pinggangnya sehingga Dirga menggendong Niana seperti koala tanpa melepaskan bibir mereka yang berciuman penuh gairah yang membara.
Keinginan untuk melakukan penyatuan dengan Niana sudah tak bisa di tahan lagi, begitu melihat sofa di ruang ganti baju yang cukup luas, Dirga mendudukkan tubuh Niana secepatnya di atas sofa itu. Dia ingin segera menuntaskan hasratnya yang telah membuat aliran darahnya berdesir hebat hingga seperti tersengat listrik bertegangan tinggi.
Tubuh Niana dibaringkan di atas sofa dengan perlahan, lalu Dirga melepas bajunya sendiri dan membuangnya begitu saja. Jubah tipis yang menutupi lekuk tubuh Niana dilepas Dirga dan dilemparnya entah kemana. Kini yang tersisah hanya lingerie seksi bertali mungil di kedua pundak Niana. Kain yang sangat minim itu membuat tubuh Niana terlihat memesona.
Selimut yang ada di atas sandaran tangan sofa diraih Dirga sambil membuat tanda kegemasan di area favoritnya dengan gemas. Dikibaskan selimut yang telah berhasil diraihnya sampai menutupi tubuh mereka yang setengah telanjang. Menyadari kaki Niana yang masih sakit, Dirga hanya bisa melakukan gaya missionaris yang membuatnya memegang kendali permainan. Dirga tidak ingin melakukan gaya bercinta yang aneh-aneh yang akan membuat kaki Niana sakit.
"Dirga.... emmh" Niana melenguh saat Dirga memainkan jari-jarinya di bulatan mungil berwarna pink milik Niana sambil sesekali menyusu seperti bayi. Dia seperti orang yang tengah kehausan di tengah padang pasir yang begitu panas. Sesekali matanya menatap wajah Niana yang melenguh sambil mengacak-acak rambut kepala Dirga.
"Kenapa dia nakal sekali, apa dia mau membalas mengerjaiku" batin Niana sambil memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya saat tangan dan bibir Dirga bergerak aktif di lekuk indah milik Niana yang membuatnya menggelinjang tak karuan
"Kalau wajahmu seperti itu semakin membuatku menginginkanmu. Kamu memang pandai menggodaku" bisik Dirga ke telinga Niana yang masih menggigit bibir bawahnya
"Kamu yang mengerjaiku malah menuduhku menggodamu, katakan saja kalau otakmu mesum" batin Niana
"Aahh Dirga sakit" seru Niana saat bibir Dirga bergerak gemas di bulatan kecil mungil berwarna pink milik Niana dengan kuat
"Benda mungil ini membuatku gemas" ucap Dirga langsung melahapnya kembali
__ADS_1
Tangan Dirga meraba bagian bawah milik Niana yang mulai basah. Miliknya pun dari tadi sudah keras dan menegang di bawah sana. Dilepaskannya kain satu-satunya yang menutupi miliknya yang tengah memberontak ingin keluar. Dengan nafas yang terengah-engah, Dirga mulai membenamkan miliknya perlahan sambil memejamkan matanya merasakan sempitnya jalan yang harus dilaluinya.
"Niana aku memcintaimu," ucap Dirga memandangi wajah Niana yang tengah memejamkan mata saat milik Dirga telah terbenam sempurna ke dalam milik Niana yang terasa berdenyut-denyut dan mencengkeram kuat
Dirga mulai menghentakan miliknya setelah menariknya perlahan. Mulutnya membuka dan mengeluarkan suara seperti sedang kepedasan "Eessshh aacchh". Niana yang tengah malu hanya memejamkan mata dan membuang muka dari tatapan Dirga.
"Ayo bukalah matamu, jangan malu" titah Dirga sambil tersenyum melihat raut wajah Niana
"Kenapa kamu nakal sekali?" ucap Niana yang masih malu menatap Dirga
"Apa kamu menyukainya" tanya Dirga saat Niana menatapnya sambil menghentak-hentakan miliknya
"Ssshhh achh" Niana yang tak kuasa berkata hanya membalas dengan *******
"Katakan kamu menginginkannya, jangan malu karena aku suamimu. Katakanlah apa yang kamu inginkan" ucap Dirga dengan suara serak dan terlihat susah menelan salivanya
Dirga seperti benar-benar ingin mengerjai Niana. Bisa-bisanya dia menghentikan permainan di saat sedang panas-panasnya.Padahal dia sendiri juga sedang bersusah payah menahan hasrat yang tengah menguasai dirinya.
Niana yang sudah kepalang basah harus mengubur rasa malunya dalam-dalam. Walau bibir atasnya sulit mengatakan tetapi bagian bawahnya memaksa dan mendesaknya mengatakan sangat menginginkan milik Dirga bergerak ke dalam intinya.
__ADS_1
"Dirga aku menginginkan milikmu. Aku sangat merindukan milikmu" ucap Niana lirih dengan tak tahu malu dan nafas sedikit tersengal serta mata yang sayu. Dia membuang rasa malunya karena dia juga tidak bisa membohongi dirinya yang memang membutuhkan milik Dirga untuk dipuaskan. Dia sudah seperti kerbau dicucuk hidungnya, mau saja menuruti perintah Dirga.
"Aku sudah benar-benar seperti wanita yang tidak tahu malu seperti wanita yang haus belaian, apa yang ku ucapkan tadi? Benar-benar menjijikan sekali" batin Niana mengutuki dirinya sendiri sambil meresapi pikirannya yang seakan melayang tanpa beban saat tangan Dirga kembali memijat lembut benda bulat milik Niana yang terasa pas di tangannya
"Aku juga sangat merindukanmu, Niana" ucap Dirga yang pandangannya berkabut dan tarikan nafasnya terdengar memburu
Seperti vacum cleaner yang menyedot debu dengan kuat ketika bibir Dirga mencium bibir Niana. Pinggulnya yang bergelung selimut tebal terlihat mulai bergerak berirama naik turun tanpa henti. Kini meraka telah dikuasai gelora yang begitu panas, sepanas terik matahari di gurun pasir sampai bermandikan peluh. Hentakan demi hentakan dihujamkannya hingga membuat mereka menuju ******* yang sensasinya luar biasa dan diakhiri dengan erangan hebat. Mereka seperti dibawa terbang ke awang-awang hingga terasa ruhnya seperti terlepas dari jiwanya dan segala beban pikiran sirna menyisakan kenikmatan yang tidak bisa diukur seberapa besarnya.
Energi Dirga kini seperti telah terkuras habis, setelah menyeburkan cairannya ke dalam rongga kehidupan yang akan menjadi tempat buah cintanya berkembang. Tubuh Dirga terkulai lemas dan ambruk di atas tubuh Niana.
Sementara Mr Ken dari tadi mondar mandir di bawah tangga menunggu tuannya turun dari kamarnya. Dia sudah datang sekitar 30 menit yang lalu untuk mengantar Dirga ke kantor. Dengan sabar dia menunggu 15 menit tetapi Dirga tak kunjung turun, mau naik ke atas menuju kamar Dirga juga tak berani karena takut mengganggu tuannya yang mungkin sedang panas-panas di atas ranjang. Bisa-bisa bulan ini gajinya dipotong 100% hanya karena mengetuk pintu kamarnya. Hingga 1 jam berlalu Dirga belum juga turun. Nasib seorang asisten yang harus sabar menunggu saat hasrat tuannya sedang menggebu-gebu di pagi hari.
"Cih, apa saja yang mereka lakukan sampai sesiang ini. Apakah berkembang biak harus selama ini seperti menunggu telur ayam menetas di depan kandang saja" batin Mr Ken
Sedangkan di dalam kamar Dirga masih terbaring menindih tubuh Niana. Dia masih betah bergulung dengan selimut tebal yang menutupi tubuh mereka yang polos tanpa sehelai benang pun.
"Sayang bangun, apa kamu tidak berangkat ke kantor?" ucap Niana sambil mengacak-acak rambut Dirga yang tertidur lemas di atas dadanya
"Jam berapa ini, aku masih merindukanmu" ucap Dirga dengan mata yang masih terpejam
__ADS_1
"Pasti Mr Ken sudah menunggumu di bawah"
"Biarkan saja dia menunggu, itu kan memang tugasnya" ucap Dirga yang mulai bangun lalu duduk di sofa sambil menarik tubuh Niana ke atas pangkuannya dan bergelung selimut tebal