Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan

Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan
Episode 91 Suara Yang Familier


__ADS_3

Hari ini Paman Yan akan pergi ke Hospital Sanjaya untuk melakukan medical cek up. Kebetulan Niana juga akan pergi ke toko pagi ini dan perjalanan menuju Hospital Sanjaya juga melewati toko milik Niana. Mama Sofi telah meminta Paman Yan untuk mengantarkan Niana ke tokonya sekalian sesuai perintah Dirga.


"Paman, biarkan saya yang menyetir. Saya akan mengantarkan paman ke Hospital Sanjaya" ucap Niana saat Paman Yan membukakan pintu mobil untuknya


"Tidak nona, biar paman saja. Ini sudah tugas paman" sahut Paman Yan


"Kalau paman tidak mau, lebih baik Niana naik ojek online saja" protes Niana


"Tapi nona, Tuan Muda sudah menyuruh saya untuk mengantarkan nona ke toko" cegah Paman Yan


"Kalau begitu biarkan saya yang menyetir, paman. Daripada Tuan Muda anda tahu istrinya naik ojek online. Bisa-bisa paman kena marah kalau saya melaporkan paman ke Dirga" titah Niana mengancam


"Maaf Paman Yan aku mengancammu karena kata Mama Sofi, paman yan sedang sakit mana mungkin aku tega membiarkan paman mengemudikan mobil untuk ku" batin Niana


"Baiklah kalau nona memaksa" ucap Paman Yan setelah memikirkan perkataan Niana


Akhirnya Niana berhasil membuat Paman Yan mengikuti permintaannya untuk mengemudikan mobil. Paman Yan pun diminta untuk duduk di kursi depan di samping Niana. Ini adalah pertama kalinya Niana berkomunikasi dengan Paman Yan yang jarang bicara karena sifat Paman Yan terlihat lebih suka menutup diri.


"Maaf paman tadi aku sedikit mengancam karena paman sedang sakit dan aku tidak tega kalau paman yang mengemudikan mobil untuk ku" ucap Niana sambil mengemudikan mobil


"Kenapa anda baik kepada saya nona?" batin Paman Yan melirik ke arah Niana yang tengah fokus menatap kondisi jalan di depannya karena ada beberapa polisi tidur yang di laluinya

__ADS_1


"Apakah kaki nona benar-benar sudah sembuh" tanya Paman Yan


"Tenang saja paman, kaki ku dalam keadaan baik sekali. Oh iya nanti Niana antarkan paman ke Hospital Sanjaya, lalu mobilnya aku bawa ke toko. Pulangnya nanti aku akan menjemput paman" ucap Niana


"Tapi nona, bagaimana kalau Tuan Muda tahu? Saya tidak ingin membuat Tuan Muda marah kalau tahu nona sudah mengantar dan menjemput saya ke RS, apalagi nonaa sedang hamil" ucap Paman Yan


"Kalau Paman Yan diam-diam saja dan saya juga tidak bilang ke Dirga, bukankah Dirga tidak akan tahu" ucap Niana menaik turunkan alisnya sambil melirik ke arah Paman Yan


"Kenapa anda baik sekali pada saya nona" ucap Paman Yan menoleh ke arah Niana


"Paman, aku juga memilik seorang ayah yang tinggal di Surabaya dan aku jarang menemuinya. Dulu hampir 13 tahun aku hidup sebatang kara tanpanya karena sebuah kesalahpahaman jadi saya kabur ke Jakarta dan tinggal di panti. Dulu aku benar-benar hidup sendirian tanpa orang tua di kota ini hingga aku bisa hidup mandiri dan punya toko kecil. Sekarang aku dan ayah sudah berbaikan tapi aku tetap saja tidak bisa bersamanya dan merawatnya karena kita sudah hidup di kota yang berbeda. Jadi bolehkah aku menganggap paman seperti ayahku sendiri dan biarkan aku membantu mengantarkan paman ke rumah sakit" ucap Niana sambil menyetir


"Baiklah nona" ucap Paman Yan


Terlihat Paman Yan membuka frame kacamata tuanya, menundukan wajah lalu mengusap butiran yang hampir menetes dari pelupuk matanya. Entah apa yang membuat Paman Yan hampir berurai air mata. Takdir hidup Tania atau kisah hidup Niana yang tengah membuatnya bersedih, hanya Paman Yan dan Tuhan yang tahu.


"Oh iya paman, kira-kira berapa lama paman menjalani pemeriksaan di rumah sakit biar Niana bisa menjemput tepat waktu" tanya Niana saat sampai di depan lobi Hospital Sanjaya


"Mungkin 5 jam sudah selesai nona. Jadi nona bisa datang jam 2 siang" jawab Paman Yan sambil melepas seat beltnya


"Baik paman. Nanti Niana tunggu di lobi rumah sakit ini ya paman" ucap Niana

__ADS_1


"Baik nona" ucap Paman Yan menundukan kepala


Selesai mengantar Paman Yan ke Hospital Sanjaya, Niana bertolak ke tokonya. Di rumah sakit Paman Yan menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatan. Dirga sudah meminta pada Dokter Bara untuk memberikan pelayanan yang terbaik untuk Paman Yan. Setelah kondisi fisik Paman Yan dinyatakan baik, selanjutnya proses hemodialisis pun dilakukan.


Akhirnya Paman Yan selesai menjalani proses cuci darah yang memakan waktu selama 4 jam. Dia pun sudah terlihat duduk di ruang perawatan yang disediakan khusus untuk keluarga Sanjaya untuk beristirahat sebentar.


Niana pun sudah tiba di RS untuk menjemput Paman Yan. Dia sengaja datang pukul 1 siang, lebih awal dari perkiraan yang Paman Yan katakan karena tidak ingin membuat Paman Yan menunggu. Sepertinya Paman Yan belum terlihat di lobi rumah sakit sehingha Niana memutuskan untuk mencari makan di foodcourt Hospital Sanjaya. Niana memesan beefsteak dan jus strobbery untuk mengisi perutnya yang terasa lapar.


Tiba-tiba Niana merasa mual saat memasukan sepotong daging ke dalam mulutnya. Dia pun langsung berlari menuju toilet rumah sakit dan memuntahkan isi perutnya. Saat dia keluar dari toilet terdengar suara yang familier di telinganya. Sepertinya suara orang yang dia dengar sedang berbicara melalui ponsel. Orang itu bersembunyi di sebelah kanan pintu masuk toilet laki-laki.


"Suara itu kenapa terdengar tidak asing" batin Niana memicingkan matanya ke arah sumber suara


Niana pun berjalan mengendap-endap mengintip laki-laki yang tengah bersembunyi di dekat toilet itu. Sayangnya Niana tidak bisa melihat jelas wajah orang itu karena dia bersembunyi di samping tong sampah besar. Bahkan seluruh tubuhnya tak bisa terlihat karena tertutup tong sampah dan hanya terlihat ujung sepatunya yang berwarna hitam.


"Bagus sekali tidak sia-sia aku membayar kalian, jangan sampai polisi mengetahui rencana kalian" ucap laki-laki yang berada di samping toilet


"Siapa laki-laki itu, kenapa dia sepertinya merencanakan kejahatan agar tidak diketahui polisi" batin Niana


"Kalian tidak perlu menculiknya, batalkan rencana penculikan itu. Waktu kalian untuk menyingkirkannya hanya tinggal besok. Aku tidak ingin wanita itu mengancam dan memerasku lagi" ucap laki-laki itu kembali lalu mematikan ponselnya


Nianapun bergidik ngeri saat mendengar kata penculikan bahkan rencana pembunuhan yang terlontar dari mulut lelaki yang masih betah bersembunyi di samping tong sampah yang baunya busuk. Hingga Niana segera berlari masuk ke toilet perempuan karena tidak ingin lelaki itu mengetahui keberedaannya yang tengah menguping. Selain itu Niana juga tak tahan dengan bau busuk dari tong sampah yang terasa sangat menyengat menusuk hidungnya walau jarak tong sampah itu cukup jauh sekitar 5 meter darinya.

__ADS_1


Niana memuntahkan kembali isi perutnya kembali di dalam toilet. Setelah itu dia kembali melangkah ke tempat laki-laki tadi bersembunyi sambil memutup hidungnya rapat-rapat karena tidak tahan dengan bau busuk dari dalam tong sampah. Ternyata lelaki sudah tidak ada disana. Tetapi Niana menemukan sebuah sapu tangan berwarna merah yang mungkin tidak sengaja dijatuhkan oleh lelaki misterius tadi karena sapu tangan itu terlihat masih bersih. Tidak mungkin sapu tangan itu sampah yang terjatuh dari tong sampah.


"TANIA" ucap Niana tercengang dan terbata saat membaca nama yang tertulis di sapu tangan yang dipegangnya


__ADS_2