
Tamparan keras menyakitkan membuat Dirga pun menjadi sangat marah. Kemudian digendongnya Niana ke ranjang. Dengan cepat Dirga memposisikan tubuhnya di atas Niana lalu meletakan kedua tangan Niana ke atas. Dirga yang dibakar api cemburu mulai menghujani ciuman di seluruh wajah, bibir dan leher Niana. Seperti disulut api, emosinya semakin menjadi-jadi.
"Dirga lepaskan aku, tanganku sakit" ucap Niana sambil menangis
"Karena akal sehatku sudah habis, sepertinya aku tidak bisa melepasmu" ucap Dirga lalu kembali menciumi Niana
Tak puas dengan menggigit leher Niana hingga memberi tanda merah. Tangannya mulai melepas kancing kemeja Niana satu persatu hingga tampaklah lekuk keindahan milik Niana yang selama ini selalu dijaganya dengan baik dari pandangan setiap mata manusia.
Akal sehat Dirga pun berhenti kala menatap keindahan yang putih, bersih dan mulus milik Niana yang terekspos begitu nyata di depan kedua netranya. Matanya menatap nanar dan bibirnya memberikan ciuman lembut disana. Kali ini dia ingin bermain lembut dan penuh kasih sayang. Dia pun melepas kemejanya sendiri yang membuatnya gerah.
Setelah melepas kemejanya, Dirga mengelus rambut Niana dan mengusap butiran bening di pipinya. Dipandanginya wajah cantik Niana dengan mata yang seolah menginginkan jiwa dan raga Niana seutuhnya. Kedua mata mereka saling menatap dengan tatapan saling menginginkan. Kemudian Dirga mencium kening, hidung, lalu bibir Niana dengan penuh kelembutan. Ciumannya pindah ke leher, lalu semakin turun dengan nafas berat dan wajah tegang memandangi area dada Niana, dibenamkannya wajahnya dilekukan indah milik Niana yang masih terbungkus kain merah berenda yang membuat bagian itu terlihat mempesona.
Niana pun tak kuasa menahan perlakuan lembut Dirga dan hanya terdengar lenguhan pelan dari bibir mungil Niana. Pandangan mata Niana seolah berkabut, nafasnya memburu, pikirannya seakan terbang melayang meninggalkan segala masalah hidup. Hingga jemari-jemari tangannya hanya bisa menari-nari di atas rambut kepala Dirga. Meresapi setiap perlakuan lembut Dirga saat bagian indah miliknya dimanja dengan lembut penuh gemas dan sayang oleh bibir Dirga.
Kemudian Dirga membuka kemeja Niana yang mengganggu aktivitasnya saat menyusuri setiap inci tubuh Niana. Ketika kemeja Niana terlepas, betapa kagetnya Dirga saat mendapati tangan kanan Niana yang dibungkus perban. Rasa bersalah pun tiba-tiba menghapus segala hasrat dan gairah yang hampir menghentikan akal sehatnya itu.
"Bodoh kau Dirga, kau telah menyakitinya, tanganya memang benar-benar sakit" batin Dirga mengumpat dirinya sendiri penuh penyesalan
Niana yang terbaring di antara ke kedua kaki Dirga dengan mata terpejam kemudian membuka matanya. Terlihat sedikit kekecewaan di mata Niana yang sedang terbang melayang setinggi-tingginya malah berhenti di tengah jalan ketika melihat ke arah Dirga yang tiba-tiba terdiam mematung berdiri dengan kedua lututnya. Lalu Niana bangun terduduk meraih selimut untuk menutupi dadanya. Dengan cepat direngkuhnya tubuh Niana ke dalam pelukan Dirga. Perasaan bersalah atas kebodohannya membuat Dirga meneteskan butiran bening di pipinya.
"Niana maafkan aku telah menyakitimu" ucap Dirga mencium rambut kepala Niana
Niana hanya mengangguk pelan tanpa sepatah kata pun. Hanya suara isak tangis yang terdengar lirih dan perih menahan luka jiwa dan raga.
"Dasar bodoh, kenapa tidak mengatakannya? Apakah tanganmu masih sakit" ucap Dirga masih memeluk Niana
"Bukankah aku sudah bilang tanganku sakit tapi kamu yang tidak percaya" ucap Niana
"Apa yang terjadi dengan tanganmu?"
__ADS_1
"Percuma juga dikatakan kalau kamu tidak percaya"
"Dasar bodoh, jadi masih tidak mau mengatakannya, kamu sengaja ingin membuatku menderita dengan menyakitimu. Apakah kamu tahu aku merasa sangat menyesal atas apa yang aku lakukan padamu barusan"
"Maksudnya?" tanya Niana bingung
"Aku menyesal telah menciumimu tadi. Aku minta maaf dan tolong kamu lupakan" ucap Dirga yang berharap Niana melupakan perlakuan kasarnya tadi
"Jadi dia menyesal bercinta denganku yang sudah menjadi istri sahnya. Bukankah yang barusan itu dia memperlakukanku dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang. Keterlaluan, sudah memaksakku, menyakitiku dan aku hampir terbuai terbang melayang bersamanya dengan kelembutannya lalu dia mengatakan menyesal dan dengan mudah menyuruhku melupakannya. Ternyata itu semua hanya permainannya. Sengaja membawaku terbang tinggi lalu menjatuhkanku ke bawah tanpa perasaan" batin Niana yang salah paham
"Saya juga tidak akan mengingatnya" ucap Niana kesal
"Jadi katakan tanganmu kenapa?" tanya Dirga melepaskan kepala Niana yang ada di dalam pelukannya lalu memandangi wajahnya
"Tidak apa-apa. Apa pedulimu" ucap Niana membuang pandangannya dari wajah Dirga
"Sekarang kamu mengatakan peduli karena aku istrimu. Tapi setelah aku jatuh cinta padamu, kamu akan membuangku dan kembali pada hatimu yang sebenarnya. Iya kan" batin Niana
"Baiklah kalau kamu bilang aku istrimu, apakah kamu berani mempublikasikan hubungan kita sebagai suami istri"
"Nianku sayang waktunya belum tepat" ucap Dirga meraih jemari Niana dan menggenggamnya
"Panggilan apa itu Nianku sayang Nianku sayang, aku bukan kesayanganmu" batin Niana
"Niana aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu kalau Tania tahu tentang hubungan kita, sebelum aku menemui Tania dan bicara secara baik-baik dengannya lalu memastikan dia tidak akan mengganggu hidup kita. Aku tidak akan mempublikasikan hubungan kita sebelum waktunya tepat. Aku takut mimpiku waktu itu benar-benar terjadi, aku tidak ingin kehilanganmu" batin Dirga
"Memangnya kapan waktu yang tepat?" tanya Niana
"Besok kalau tiba saatnya kamu juga akan tahu. Istirahatlah aku mau mandi lalu ke RS lagi" ucap Dirga beranjak dari ranjangnya
__ADS_1
"Tunggu.....!" seru Niana
"Ada apa Nianku sayang" ucap Dirga
"Aku mau minta maaf karena gara-gara aku mama jadi sakit sampai pingsan. Aku memang pembawa sial seperti apa katamu"
"Dasar bodoh, mama sakit karena hipertensi disertai gula darahnya rendah. Mama jatuh bukan karena kamu tetapi mama sudah pusing saat gula darahnya rendah sehingga tidak bisa berpijak dengan benar saat menuruni tangga"
"Darimana kamu tahu semuanya?" tanya Niana heran
"Aku sudah melihat CCTV di tokomu dan dari penjelasan dokter"
"Lalu kenapa kamu sangat marah padaku sampai membuatku takut"
"Aku marah padamu, pikirkan dengan baik kenapa aku marah agar kamu tidak mengulanginya lagi" ucap Dirga mau melangkah menuju ruang ganti baju untuk mandi
"Apa kamu benar-benar cemburu dengan Toni? Memangnya kamu mencintaiku?" seru Niana ingin tahu kepastian dari Dirga
"Kalau aku tidak mencintaimu buat apa aku menikahimu, dasar bodoh" ucap Dirga sambil mengacak-acak rambut kepala Niana
"Baiklah aku ingin mengetes mu apakah kamu benar-benar mencintaiku atau tidak, kalau matamu tidak fokus pada ku artinya kamu tidak mencintaku" batin Niana
"Kalau begitu katakan kamu mencintaiku" titah Niana yang masih memegangi selimut untuk menutupi dadanya
Dirga lalu duduk di pinggir ranjang menghadap Niana, telapak tangannya bertumpu di atas kasur di antara tubuh Niana. Wajahnya sangat dekat dengan paras cantik Niana, sampai terasa hembusan nafas yang saling bertukar, matanya menatap dalam ke mata Niana. Sedangkan Niana malah tertunduk malu dan jantungnya berdebar sangat kencang karena sikap Dirga.
"Bukankah kamu ingin mendengar perasaanku, lihatlah mataku" titah Dirga memegang dagu Niana untuk memandang ke arahnya
"Pergilah mandi, aku mau tidur" ucap Niana mendorong bahu Dirga, lalu dengan secepat kilat menyelimuti seluruh tubuhnya. Niana bersembunyi dari tatapan Dirga yang membuat jantungnya berdetak kencang di dalam selimut. Dirga hanya tersenyum melihat sikap Niana yang malu-malu kucing, lalu pergi menuju kamar mandi.
__ADS_1