
Siang yang mulai menjelang sore, Renata segera berangkat menuju rumah Aska. Seperti biasa dia membawa bekal makanan dari rumah. Tetapi hari ini sepertinya dia harus diantar oleh sopir baru sekaligus menjadi pengawalnya. Sebelumnya Mr Ken sudah memberi tahu pada Mama Sofi dan Renata tentang sopir baru yang juga menjadi pengawal untuk keluarga Sanjaya saat mereka akan keluar dari rumah. Mau tidak mau Renata harus mengikuti aturan yang telah dibuat oleh Mr Ken sesuai permintaan Dirga.
Mr Ken telah merekrut beberapa pengawal pilihan dari perusahaan besar yang khusus memperkerjakan para bodyguard-bodyguard terbaik.Tentunya para bodyguard pilihanya harus memiliki kemampuan dan loyalitas yang setara dengannya.
Renata yang sebelumnya mengira akan bisa bebas pergi kemana saja karena Dirga pergi ke Australi sekarang malah mendapatkan pengawalan kemana pun dia pergi. Akhirnya dia pergi ke rumah Aska diantar oleh pengawal barunya.
"Maaf nona hari ini anda mau pergi kemana?" tanya pengawal yang mengantar Renata
"Bilang saja ke kakak, aku pergi ke rumah teman wanita yang rumahnya ada di luar komplek perumahan Sanjaya" ucap Renata
"Baik nona" ucap pengawalnya
"Merepotkan sekali mau pergi saja harus laporan dulu" gumam Renata
"Pak pengawal? Apa wajah pak pengawal bisa tersenyum sedikit biar tidak terlihat seram" ucap Renata pada pengawal yang sedang mengemudikan mobil tetapi pengawalnya tidak merespon sama sekali
"Menyebalkan sekali kalau seharian bersama manusia seperti robot yang akan bicara kalau ada yang penting saja. Ternyata ada yang lebih seram dari Paman Yan dan Mr Ken. Setidaknya Mr Ken masih terlihat tampan dan muda jadi enak dipandang. Nah yang ini, badannya kekar, matanya besar kepalanya botak, wajahnya seram dan tidak bisa senyum sama sekali. Darimana juga Mr Ken mendapatkan titisan alien seperti ini" batin Renata
Renata merasa tidak bebas karena harus diawasi terus oleh pengawalnya.
Setelah tiba di rumah Aska, Renata segera keluar dari mobil membawa kotak bekalnya. Saat dia memasuki pintu gerbang, pengawalnya membuat dia menghentikan langkahnya.
"Berhenti nona" seru pengawalnya Renata
"Ada apa lagi pak pengawal?" tanya Renata memutar bola matanya dengan jengah sambil menurunkan kedua bahunya
"Maaf nona, silahkah menghadap kamera" titah pengawal itu dan Renata segera berbalik badan
"Cekrek cekrek" pengawalnya tiba-tiba memotret Renata
"Terima kasih atas kerjasamanya nona" ucap pengawal itu setelah mengirimkan foto Renata kepada Mr Ken
__ADS_1
Renata langsung masuk ke rumah Aska karena sudah malas melihat pengawalnya itu. Saat dia membuka pintu ternyata pintunya tidak dikunci. Renata langsung masuk menuju dapur dan meletakan kotak bekalnya di atas meja makan. Lalu menyapu dan mengepel seperti biasa. Saat Renata mengepel, dia melihat pintu kamar Aska yang sedikit terbuka. Karena biasanya Aska mengunci kamarnya, Renata pun jadi penasaran lalu masuk ke dalam kamarnya. Saat masuk kamar Aska, jantung Renata terasa berdetak kencang karena teringat saat kemarin Aska hampir menciumnya.
Renata melihat Aska yanh ternyata masih tidur berselimut tebal dan badannya seperti menggigil. Renata segera menghampirinya karena khawatir. Wajah Aska terlihat pucat dan matanya terpejam. Renata pun meletakan tanganya di atas dahi Aska. Saat mengetahui Aska demam tinggi, Renata langsung menuju dapur mengambil baskom yang diisi dengan air. Renata mulai mengompres Aska dengan washlap yang telah dibasahi dengan air yang ada di baskom.
"Kak Aska, bagaiman kalau aku antar kakak periksa ke dokter?" tanya Renata pada Aska yang terlihat setengah sadar
"Niana? Siapa kamu?" ucap Aska lirih dengan pandangan mata yang terlihat sedikir kabur
"Ini Renata kak" ucap Renata
"Renata? tidak usah aku tidak mau ke dokter" ucap Aska
"Tapi badan Kak Aska panas sekali?" ucap Renata
"Aku tidak mau, jangan pedulikan aku. Lakukan saja tugasmu" ucap Aska lirih dengan kondisi mata yang masih terpejam setengah sadar
"Baiklah kalau kakak tidak mau periksa, aku ambilkan obat dan sup hangat untuk kakak"
Selesai menghangatkan sup, Renata mengambil kotak obat yang ada di atas kabinet. Karena Aska pernah mengambil kotak obat dari rak kabinet dapur saat akan mengobati luka bakar di tangan Renata waktu kena strika panas. Renata pun dengan mudah bisa menemukan kotak obat itu. Kemudian dia mengambil obat penurun panas dan menuang segelas air putih.
Renata terlihat menyuapi Aska dengan sup yang dibawanya dengan telaten sampai sup itu habis disuapkan ke Aska. Setelah itu dia membantu Aska meminum obat penurun panas dan mengompresnya kembali. Beberapa kali Renata mengganti air kompresan karena demamnya Aska belum juga turun. Kemudian dia berkeliling kamar menuju meja kerja Aska yang ada di sudut kamar. Renata memandangi pigura yang diletakan di atas meja. Terlihat foto Aska bersama Pak Hadi, Ibu Arini dan Liana. Di balik foto bersama keluarganya ada sebuah kalimat yang ditulis Aska.
"You are my missing piece" ucap Renata lirih saat membaca kalimat yang ada dibalik foto
Renata lalu mengambil foto itu dari bingkainya. Sebuah foto pun terjatuh karena ada sebuah foto yang diselipkan Aska dibalik fotonya bersama keluarganya. Ternyata foto itu adalah foto Niana seorang diri dan kalimat yang ditulis Aska itu pun ada di balik foto Niana.
"Apa maksud Kak Aska menuliskan kalimat ini (You are my missing piece) di balik foto Kak Niana. Apa Kak Aska...." ucap Renata terhenti saat bola matanya mengedar ke sebuah buku diary yang tergeletak di atas meja
Renata pun penasaran ingin membacanya. Dia pun menoleh ke arah Aska yang tidur di kasur yang ada di belakangnya. Karena Aska terlihat masih tertidur, Renata pun mulai membaca buku diary milik Aska itu.
Awalnya Renata terlihat tersenyum-senyum membaca buku diary Aska. Setelah beberapa lembar dibaca, senyum di wajahnya pun berubah menjadi kekecewaan. Betapa terkejutnya saat Renata mengetahui bahwa Aska sangat menyukai Niana. Aska menuangkan segala perasaan yang dipendamnya selama ini dalam buku diarynya.
__ADS_1
Akhirnya Renata tahu perasaan Aska yang sebenarnya hanya untuk Niana. Tak terasa butiran bening pun menetes di pipinya. Baru kemarin dia merasakan asmara yang terindah saat Aska terlihat tertarik padanya dan hampir menciumnya tetapi rasa itu seketika padam bagai api yang disiram air.
Hatinya bagai disayat pisau tajam teriris perih dan mengikis mentalnya hingga tak kuasa melanjutkan ungkapan hati Aska yang tertuang dalam buku diarynya. Tangannya yang masih memegang buku terlihat gemetar hingga pulpen yang ada di dalam buku diary itu terjatuh. Renata terlihat melipat bibirnya dan mendongakan wajahnya ke atas seolah menahan hatinya yang terasa perih. Butiran bening yang terus menetes pun segera diusapnya Renata pun langsung menutup buku diary itu dan mengembalikan ke tempat semula. Dia sudah tak sanggup lagi membacanya sampai selesai.
Renata langsung berjalan pergi dari kamar Aska dan ingin pulang ke rumah. Tetapi saat dia melangkah sampai di pintu kamar, Aska terdengar mengigau dan menggigil. Renata pun menoleh ke arah Aska yang masih terpejam di atas kasurnya. Hatinya pun menjadi tak tega untuk meninggalkannya dalam kondisi seperti itu. Akhirnya dia mengurungkan niatnya untuk pulang.
Renata menghampiri Aska dan mengganti washlapnya lagi. Dia terlihat telaten dan sabar mengompres Aska sampai menunggu demamnya turun. Hingga tak terasa dia ikut tertidur duduk di lantai dan meletakan kepalannya di atas kasur.
Dua jam kemudian Aska terbangun dan perlahan membuka matanya, dia merasa demamnya sudah mulai turun. Dipegangnya washlap yang menempel di dahinya. Lalu dia menoleh ke arah nakasnya karena ingin mengambil minum di gelas yang ada di atas nakas. Saat dia bangun, dia terkesiap melihat Renata tertidur di lantai.
"Apakah dia yang mengompresku?" batin Aska saat melihat baskom yang teronggok di lantai
Aska juga melihat mangkuk yang sudah kosong dan obat penurun panas yang ada di atas nakas. Tangan Aska mulai menyibakan rambut Renata yang menutupi wajahnya. Dipandanginya wajah Renata dengan senyum bahagia. Tiba-tiba Renata terbangun dan dia terjengit kaget saat melihat wajah Aska di depannya. Renata pun langsung berdiri menjauh dari Aska.
"Maaf Kak Aska, aku tidak sengaja tertidur di sini. Apakah kakak sudah baikan?" ucap Renata meremas jarinya karena takut Aska akan marah padanya
"Aku sudah mendingan, terima kasih sudah merawatku" ucap Aska
"Kalau begitu Rena pulang dulu. Oh ya hari ini hari terakhir Rena melaksanakan tugas dan tanggungjawab pada Kak Aska. Jadi diantara kita sudah tidak ada ikatan apapun. Rena permisi pulang kak. Selamat tinggal" ucap Renata
"Ta.. ta.. tapi, baju apa sudah disetrika?" ucap Aska terbata bingung karena Renata mendadak mengucapkan selamat tinggal padanya
"Sudah kak, sudah semua. Rena permisi pulang" ucap Renata langsung melangkah keluar kamar
"Tu.. tu.. tunggu" ucap Aska terbata lagi dan Renata tak mempedulikannya hingga terus bergegas meninggalkan Aska begitu saja
Entah kenapa hati Aska tiba-tiba seperti tergores sembilu pisau tajam yang terasa sangat menyakitkan saat mendengar ucapan Renata. Dia pun juga tak mampu mencegah Renata pergi karena dia juga tahu diri diantara mereka memang sudah tidak ada ikatan apapun lagi. Renata pun berhak pergi setelah dia menunaikan tanggungjawabnya untuk bekerja di rumahnya selama seminggu sesuai permintaan Aska.
"Kenapa terasa menyakitkan disini saat mendengarmu pergi dariku" ucap Aska memegang dadanya
"Sial, kenapa kamu bodoh sekali Aska? Kenapa tidak mengejarnya dan mengatakan yang sebenarnya?" ucap Aska merutuki dirinya sendiri
__ADS_1
Renata pun terlihat keluar dari rumah Aska dengan meneteskan air mata sampai dia membungkam mulutnya sendiri karena tidak ingin isak tangisnya terdengar oleh siapa pun. Dia langsung berlari masuk ke mobil dan menyuruh pengawalnya untuk segera melajukan mobilnya.