Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan

Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan
Episode 86 Tarian Centil


__ADS_3

Renata mengandeng Niana masuk ke kamarnya yang berada di sisi kanan ruang tengah dimana Mama Sofi sedang merjaut sambil menonton televisi. Lalu dia meletakan tas leptop Aska di atas meja belajarnya yang berjarak 1 meter dekat pintu. Setelah itu, Renata mengunci pintu kamarnya untuk memastikan tidak akan ada orang bisa langsung nyelonong masuk ke kamarnya. Niana yang mengikutinya dari belakang mengeryitkan dahinya karena bingung dengan sikap Renata.


"Ada apa Ren, kenapa harus bicara di kamar?" tanya Niana setelah masuk ke kamar Renata


"Kak ipar, aku tidak sengaja membawa leptopnya Kak Aska, pasti dia saat ini marah sekali karena semua file penting yang akan dikerjakan malah aku bawa. Tolong aku kakak ipar?" rengek Renata sambil memegangi kedua tangan Niana dengan wajah memelas


"Kenapa kamu bisa membawa tasnya Kak Aska yang berisi leptop?"


"Tadi aku buru-buru pulang sampai salah bawa tas leptopnya Kak Aska gara-gara Kak Dirga mengancam akan menyita semua kartu unlimitedku jika tidak pulang dalam waktu 1 jam"


"Hemm kenapa kamu selalu ceroboh? Kalau begitu kembalikan saja ke rumahnya?"


"Tidak mungkin, aku baru saja sampai rumah. Pasti Kak Dirga tidak akan mengizinkanku pergi lagi dan Kak Dirga juga sudah menyuruh Paman Yan untuk mengawasiku"


"Aku juga tidak mungkin menyuruh Kak Aska datang ke rumah. Bisa-bisa orang rumah akan menanyakan kenapa kamu bisa bersama Aska?" ucap Niana melepaskan tangan Renata lalu bersedekap di depan dada


"Lalu aku harus bagaimana kak? Bantu aku" ucap Renata memelas


"Bagaimana kalau menyuruh Kak Aska menunggu di swalayan yang ada di luar komplek perumahan Sanjaya. Dan aku akan menemanimu pergi. Jadi Paman Yan tidak akan curiga" tutur Niana sambil melipat tangan kirinya di depan perut dan tangan kanannya bertopang dagu bertumpu pada tangan kiri

__ADS_1


"Boleh juga kak, ide bagus. Cepat hubungi Kak Aska sekarang. Aku mau mandi dulu, muach terima kasih kakak ipar" ucap Renata mencium pipi Niana lalu segera bergegas ke kamar mandi


Niana mengambil ponsel didalam sakunya dan melakukan panggilan vidio ke ponsel Aska. Beberapa kali panggilan dari Niana tidak diangkatnya. Raut wajah Niana yang sedang duduk di sebuah kursi terlihat cemas sambil mengetuk-ngetukkan ujung-ujung jarinya di atas meja belajar milik Renata. Niana mencobanya sekali lagi dan akhirnya diangkat oleh Aska.


"Halo Kak Aska?" sapa Niana


"Iya Nian-nian, maaf aku tadi sedang masak jadi baru bisa mengangkat panggilanmu" ucap Aska sambil meletekan piring dan gelas di atas meja makan yang berisi makanan yang telah dimasaknya


"Pantas saja, kakak masak apa? Sepertinya enak" ucap Niana saat Aska mengarahkan kameranya ke piring yang berisi potongan daging dengan irisan cabai merah yang memanjakan lidah dan dihiasi garnis cantik yang terlihat menarik


"Aku masak ayam lada hitam, kalau kamu mau mainlah ke rumah kakak. Nanti aku masakan makanan enak untuk adik kakak yang comel" ucap Aska meletakan ponselnya bersandar di sebuah vas bunga yang ada di atas meja dan mengarah kamera depan ke wajahnya


"Iya, leptopku dibawa adik iparmu yang ceroboh itu" ucap Aska mendengus kesal sambil mengunyah makanannya


"Tadi Renata bilang ke aku dan minta bantuanku untuk menggembalikannya pada kakak. Dia tidak berani ke rumah kakak lagi karena Dirga mengancamnya agar segera pulang"


"Lalu bagaimana aku bisa mendapatkan leptopku malam ini. Soalnya besok aku ada rapat dengan karyawan untuk membahas hasil meeting siang tadi"


"Gimana kalau kita ketemuan di depan swalayan samping pintu masuk perumahaan Sanjaya?" ucap Niana

__ADS_1


"Oke, jam berapa?" tanya Aska


Tiba-tiba terdengar Mama Sofi memanggil-manggil Niana dari ruang tengah. Nianapun menghentikan obrolannya sebentar untuk menemui mertuanya.


"Iya ma, Niana ke situ" teriak Niana dari dalam kamar


"Sebentar kak, mama mertua memanggilku" ucap Niana bergegas keluar dari kamar Renata


Niana meninggalkan kamar dengan ponsel yang panggilan vidionya masih aktif menyala karena terburu-buru menemui Mama Sofi yang tengah memanggilnya. Aska pun tidak mematikan panggilan vidionya karena mengira Niana hanya pergi sebentar. Ponsel Niana berada di kolong rak yang nampak kosong dari tumpukan buku-buku dengan kamera vidio mengarah ke seluruh ruangan kamar Renata sehingga Aska bisa melihat seluruh sudur ruangan di kamar itu. Aska tampak fokus menyantap ayam lada hitamnya sambil menunggu Niana kembali.


Sepertinya Renata sudah selesai mandi. Dia keluar dari kamar mandi yang ada di sisi kanan meja belajarnya. Diambilnya pengering rambut di dalam nakasnya. Ia pun merasa bersemangat setelah mandi dan ingin menari untuk melepaskan beban pikiran yang membuatnya stres hari ini. Dia berjalan menuju meja belajarnya untuk menghidupkan musik dari tape yang ada di rak paling atas meja belajarnya. Musik pun berbunyi nyaring hingga terdengar dari ponsel Aska. Sementara Aska yang sedari tadi fokus dengan makanannya, kini memutar bola matanya ke arah ponsel karena tiba-tiba mendengar suara musik dari ponselnya.


Renata terlihat menari-nari begitu energik menghadap meja belajar di depan ponsel Niana berada, sambil mengeringkan rambutnya dengan hairdryer. Dia pun mulai menyanyi dan menari mengikuti alunan musik yang berdentum begitu energik tanpa menyadari ada ponsel Niana yang ada di rak meja belajar dengan panggilan vidio yang masih aktif menyala. Hairdryer ditangannya seolah menjadi microphone yang digunakan untuk mengeraskan suaranya. Alunan musik beat terdengar ceria dan happy membuat suasana hatinya menjadi senang. Tubuhnya terlihat seksi dengan hanya berbalut sebuah handuk yang melilit dari atas lutut sampai ke dada. Rambutnya yang basah dibiarkan tergerai berantakan tanpa menutupi wajah cantiknya.


Gerak tubuhnya yang begitu energik dan centil. Tangan kirinya diangkat ke atas lalu tangan kanannya mengusap tangan kirinya perlahan sambil menekuk kaki kanan sehingga dia terlihat berdiri dengan satu kaki kiri. Dan langsung berganti gaya dengan cepat mengikuti alunan musik. Dia melangkah menuju ke arah meja belajar sambil berlenggak lenggok dengan centil lalu berhenti seolah memberikan ciuman jauh sambil mengerlingkan matanya ke arah ponsel Niana yang ada di depannya. Aska yang tengah melahap makanannya dengan sendok sampai diam terbengong tanpa melepas sendok yang masih digigitnya. Matanya terbelalak menatap ke arah ponselnya. Dia memandangi Renata yang sedang menari centil sambil mengibas-ngibaskan rambutnya yang masih basah hingga sendok yang digigitnya pun terjatuh begitu saja.


Aska berulang kali menelan makannya dengan susah payah. Tanganya meraih gelas di atas meja tanpa melepaskan pandangan matanya dari ponsel, lalu meneguk air dalam gelas sampai habis. Aliran darahnya pun terasa berdesir panas menjalar ke seluruh tubuh. Suasana panas dan hati yang berdebar-debar membuatnya merasa masih haus. Dia pun mencari air dingin di kulkas yang berada tepat di belakangnya. Dia meneguk sebotol air putih dingin dalam botol yang yang diambilnya dari kulkas. Air dingin itu diteguknya seperti seorang yang tengah kehausan karena berada di tengah gurun pasir yang gersang dan sangat terik. Bola matanya tetap melirik ke arah ponsel sambil meneguk air di botol.


Tiba-tiba Aska tercengang dan menghentikan mulutnya yang tengah meneguk air saat melihat Renata mengambil pakaian dalam yang berwarna senada dan meletekannya di atas kasur. Sepertinya Renata akan memakai baju dan mau melepas handuknya. Saat handuknya mulai terlepas Aska segera mengambil ponselnya yang berada di atas meja mematikan panggilan vidionya.

__ADS_1


Jantung Aska saat itu berdetak tak terkendali, bagai genderang yang ditabuh kencang tanpa henti. Dia menggelengkan kepalanya dengan cepat untuk memulihkan akal sehatnya dari pikiran nakal yang membuatnya membayangkan sesuatu yang hampir saja dilihatnya. Sepertinya malam ini dia tidak akan bisa tidur dengan tenang karena bayang-bayang tarian centil Renata telah merasuk ke dalam pikirannya.


__ADS_2