
Niana khawatir sekali dengan keadaan ibu mertuanya, wajahnya tampak panik dan takut terjadi apa-apa dengan Mama Sofi sampai dia tidak peduli dengan siku tangannya sendiri yang sebenarnya terasa sakit sekali karena dipakai sebagai tumpuan saat menahan kepala ibu mertuanya.
Entah apa yang akan Dirga lakukan padanya kalau sampai tahu mamanya jatuh dari tangga di tokonya gara-gara membawanya pergi dari Toni. Niana merasa bersalah hingga pikirannya pun mengikuti prasangka Dirga seperti yang diucapkannya pada mamanya. Kalau mamanya akan ikut bernasib sial seperti Dirga karena Niana. Dia berdiri mematung di depan pintu ruang pemeriksaan sambil memegangi siku tangan kanannya.
"Niana tenanglah, duduklah. Apakah kamu baik-baik saja? Ada apa dengan siku tanganmu" tanya Toni
"Aku tidak apa-apa, aku takut terjadi apa-apa dengan Mama Sofi. Pasti Dirga tidak akan memaafkanku" ucap Niana dengan wajah kalut sambil menangis
"Tante Sofi tidak akan kenapa-kenapa. Aku sudah menceritakan semua pada Paman Yan apa yang sebenarnya terjadi. Paman Yan ada di luar sedang menghubungi Dirga" ucap Toni
"Tapi aku takut Dirga akan marah besar pada ku"
"Tenanglah Niana, aku akan membantu menjelaskan pada Dirga. Lebih baik kita obati dulu siku mu itu. Takutnya ada yang retak di tulang tanganmu" ucap Toni
"Aku tidak bisa tenang kalau belum tahu keadaan Mama Sofi, tanganku tidak apa-apa hanya sedikit sakit saja" ucap Niana
Beberapa saat kemudian dokter keluar ruangan. Setelah melakukan pemeriksaan menyeluruh pada Nyonya Sofi. Dokter menjelaskan jika Nyonya Sofi pingsan karena dipicu riwayat hipertensinya dan kadar gula darahnya rendah, sedangkan kepalanya hanya mengalamai cidera ringan. Dokter sudah memberikan obat dan perawatan sesuai kondisi Nyonya Sofi saat ini. Tetapi Nyonya Sofi masih dalam pengawasan intensif di ruang ICU (Intensive Care Unit) selama belum sadar.
Setelah mendapatkan penjelasan dari dokter. Niana baru mau memeriksakan tanganya yang sakit. Toni menemaninya untuk melakukan pemeriksaan. Sementara Paman Yan diminta menunggu Mama Sofi dulu saat Niana pergi memeriksakan tangannya di rumah sakit yang sama.
Beberapa saat kemudian Dirga datang bersama Mr Ken. Saat Dirga datang, Paman Yan sedang pergi ke toilet. Dirga langsung masuk ke ruang ICU VVIP dimana Mama Sofi dirawat. Dirga terlihat khawatir melihat keadaan Mama Sofi. Dirga berdiri di samping bed, dipegangnya tangan mamanya lalu mencium kening mamanya yang masih terbaring tak sadar.
"Dimana Niana kenapa dia malah pergi dan tidak menemani mama" batin Dirga
"Ken cari dimana Niana" titah Dirga
__ADS_1
Saat Mr Ken mau keluar ruangan, Niana sudah muncul di depan pintu. Langkah Mr Ken terhenti saat mau keluar ruangan membuat Dirga menoleh ke arah pintu. Dilihatnya Niana berdiri di depan pintu bersama Toni. Niana terlihat mengusap air mata yang menetes di pipinya sambil menata hatinya mencoba kuat dan siap dengan apapun yang akan Dirga lakukan padanya. Dirga pun datang menghampirinya dangan tatapan marah dan rahang wajah yang mengeras.
"Darimana saja kamu, mama terbaring sakit kamu malah berduaan denganya" ucap Dirga dipenuhi rasa cemburu dan amarah
"Aku dari... " ucap Niana ketakutan menundukan wajah
"Sudah cukup jelas kamu datang bersamanya, apalagi yang mau kamu jelaskan" ucap Dirga memotong kalimat Niana
"Bro tenanglah, jangan membuat Niana takut, aku akan menjelaskan semua" ucap Toni
"Pergilah ini urusanku dengan istriku" ucap Dirga
"Bukankan Paman Yan sudah mengatakannya pada mu, apa kamu tidak bisa mengerti. Dimana Paman Yan" ucap Toni
"Niana, kamu jangan mau ditindas lagi oleh Dirga" ucap Toni memegang tangan Niana agar melihat ke arahnya karena Toni merasa Niana hanya pasrah saja tanpa mau membela diri.
"Lepaskan tangan istriku" titah Dirga dengan wajah emosi dan rahang yang menegang
"Tuan Toni sebaiknya anda segera pergi demi kabaikan semuanya" titah Mr Ken
"Aku mohon pergilah Ton" ucap Niana melepaskan tangan Toni dari tanganya
"Bro jangan melampiaskan kencemburuanmu dengan memarahinya itu membuatnya takut, bicaralah baik-baik pada Niana. Jangan biarkan akal sehatmu habis dimakan api cemburu?" ucap Toni
"Ayo kita pulang, kalau dia tidak mau pergi. Akan ku tunjukan padamu kalau akal sehatku memang sudah habis" ucap Dirga menarik tangan Niana
__ADS_1
"Tuan Muda gunakanlah akal sehat anda yang masih tersisa, semoga tuan bisa berbicara baik-baik dengan Nona Niana"
Dirga membawa Niana pulang dengan menyeret paksa tanganya untuk mengikuti langkahnya menuju ke mobil yang terparkir di halaman RS. Setelah memasukan Niana ke dalam mobil dan memakaikan seatbelt, Dirga melajukan mobil dengan kecepatan tinggi dan membuat Niana semakin ketakutan. Melihat kemarahan Dirga membuatnya bergidik ngeri. Niana berusaha berpegangan erat di pegangan besi di dalam mobil walau siku tangannya terasa sakit.
"Ya Tuhan, apakah nyawaku akan berhenti disini. Apakah dia ingin mengajakku mati bersama" batin Niana yang tidak berani berkata apa-apa pada Dirga
Sesampainya di rumah, Dirga langsung menarik tangan Niana untuk mengikuti kemana langkah kakinya pergi. Niana hanya pasrah dengan apa yang akan dilakukan Dirga padanya.
"Achhh sakit lepaskan tanganku, jangan menariknya, aku akan mengikutimu" ucap Niana menahan sakit tetapi Dirga tidak menghiraukan rintihan Niana
Dirga meraih telapak tangan kanan Niana yang bagian sikunya retak terbalut perban dan menariknya dengan kasar. Karena Niana memakai kemeja panjang Dirga pun tidak tahu kalau tangan Niana benar-benar sakit dan sedang diperban. Mendengar Niana berteriak kesakitan terus menerus. Akhirnya sampai di depan pintu rumah, Dirga mulai menggendong Niana menaiki tangga menuju kamarnya. Semua para pelayan rumahpun melihat Tuan Muda mereka sedang marah besar tanpa berani berkata sepatah kata pun kecuali hanya menunduk hormat.
Sesampainya di pintu kamar Niana diturunkan dari gendongannya. Kemudian Dirga mengunci pintu kamar dan mendorong tubuh Niana bersandar ke pintu. Kedua tangannya memegangi kedua bahu Niana.
"Kamu membuat tanganku sakit sekali. Apa yang ingin kamu lakukan sekarang?" ucap Niana
"Benarkah sakit, apa kau tahu perasaanku lebih sakit melihatmu berdua dengannya" ucap Dirga menempelkan dahinya di kening Niana dengan nafas memburu
"Aku mohon berpikirlah dengan kepala dingin" ucap Niana
"Baiklah, buatlah kepalaku menjadi dingin sekarang" ucap Dirga berusaha mencium bibir Niana tetapi Niana membuang pandangannya untuk menghindar
Dirga yang gagal mencium Niana terlihat memejamkan mata kemudian dengan cepat menjulurkan sedikit lidahnya seolah ingin membasahi bibirnya yang kering lalu menggigit bibir bawahnya sendiri dengan posisi dahinya masih disandarkan di kening Niana. Kemudian tangan kirinya memegang kedua pipi Niana mengunci kepalanya agar tidak bisa menghindar, lalu memberikan ciuman lagi tanpa memberi kesempatan Niana untuk melepaskannya. Kepala Niana berusaha bergerak menghindari ciumannya dan tangannya berusaha mendorong bahu Dirga dan akhirnya Niana bisa lepas dari ciuman brutal Dirga.
"Plak....!" sebuah tamparan keras mendarat di pipi Dirga
__ADS_1