Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan

Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan
Episode 93 Pemilik Sapu Tangan Merah


__ADS_3

Hari ini sepertinya Dirga pulang lebih awal karena dia telah menyelesaikn pekerjaanya lebih cepat dari perkiraannya. Mungkin karena efek semangat yang berkobar karena istrinya telah hamil. Dia pun nampak antusias menyempatkan diri berbelanja buku tentang kehamilan, persiapan menjadi orang tua dan cara mengasuh bayi. Saking atusiasnya tidak menyadari hampir semua buku dimasukannya ke dalam keranjang belanjaan. Belum yang dibawa Mr Ken yang hampir menggunung menutupi wajahnya.


"Hemm, maaf tuan sepertinya buku yang anda beli sudah lebih dari cukup untuk membuat perpustakaan baru di rumah" ucap Mr Ken sambil membawa buku yang hampir menutupi wajahnya


"Cerewet sekali kamu" ucap Dirga sambil menendang sepatu Mr Ken hingga Mr Ken hampir kehilangan keseimbangan


"Sebaiknya tuan membeli beberapa buku saja yang kira-kira isinya bagus" ucap Mr Ken


"Tapi masih banyak buku-buku yang sepertinya bagus" ucap Dirga yang masih terus memasukan setiap buku yang diambilnya dari rak seperti orang kalap


"Ck, kenapa anda tidak membeli saja toko ini sekalian tuan atau pindahkan saja toko ini ke rumah anda?" batin Mr Ken berdecak kesal


"Saya rasa Nona Muda juga tak mungkin mampu membaca semua buku yang anda beli" ucap Mr Ken


Kemudian Dirga melihat keranjang belanjaannya yang menggunung dan baru menyadari kalau buku yang dibelinya terlalu banyak. Sehingga dia mengurungkan niatnya untuk membeli semua buku yang sudah diambilnya.


"Kenapa bukunya jadi sebanyak ini Ken? Rasanya aku baru sebentar masuk toko ini" ucap Dirga berjengit kaget saat melihat keranjang belanjaannya


"Bukankah saya sudah mengingatkan anda, tuan" ucap Mr Ken memutar bola matanya dengan jengah


"Ken tolong kamu pilih diantara semua buku ini yang kira-kira isinya bagus dan kembalikan setengahnya yang tidak terpilih ke rak toko lagi" titah Dirga


"Lagi-lagi aku harus membereskan kekalapan ini" batin Mr Ken menghembuskan nafas beratnya


Dirga akhirnya sampai di rumah saat semua orang baru memulai makan malam di ruang makan. Terlihat hanya ada Mama Sofi dan Renata di ruang itu. Niana tidak ikut makan malam bersama mereka karena masih merasa mual dan pusing.


"Malam mama, Renata" sapa Dirga diikuti Mr Ken di belakangnya yang membawa beberapa kantong plastik besar yang penuh buku-buku


"Malam kak" jawab Renata


"Kamu belanja apa sayang? Sepertinya banyak sekali?" tanya Mama Sofi


"Ini buku tentang kehamilan untuk Niana. Oh ya ma, dimana Niana? Kenapa tidak ikut makan bersama kalian?" tanya Dirga


"Dia sedang kurang enak badan, katanya pusing dan hanya ingin makan bubur ayam. Bi Mar sedang memasakanya" ucap Mama Sofi


"Kakak beli buku sebanyak itu, memangnya kakak mau membangun perpustakaan di dalam kamar?" ucap Renata terkekeh


"Bawel" ucap Dirga kesal sambil melirik ke arah Mr Ken yang sepertinya ikut terkekeh dengan mengulum senyumnya


"Ken bawa buku-bukunya ke atas" titah Dirga


"Baik tuan" ucap Mr Ken


"Nyonya bubur untuk Nona Niana sudah siap" ucap Bi Mar yang datang dari dapur dan membawa nampan berisi semangkuk bubur yang masih panas dan segelas air putih


"Terima kasih bi, langsung saja antarkan ke atas untuk Niana" titah Mama Sofi


"Bi, biar saya yang mengantarkan untuk Niana" sambar Dirga dan langsung mengambil nampan yang dipegang Bi Mar


"Kakak tidak mau makan malam dulu. Membangun perpustakaan juga butuh tenaga lho" seru Renata mengejek lagi


"Habiskan makananmu saja, hiperaktif dan agresif sepertinya lebih membutuhkan tenaga yang lebih banyak" seringai Dirga membalas ejekan Renata lalu berjalan menaiki anak tangga

__ADS_1


"Menyebalkan, siapa yang hiperkatif" gerutu Renata sambil mengunyah makanannya


Mr Ken menaruh kantong plastik yang berisi penuh buku di lantai saat sampai di depan kamar Dirga. Dia membukakan pintu kamar untuk tuannya yang sedang membawa nampan berisi semangkuk bubur dan segelas air putih. Mr Ken pun lalu ikut masuk ke kamar sambil membawa plastik yang berisi buku-buku.


"Siapa yang menyuruhmu masuk, tunggu diluar ! Niana sedang pakai baju seksi, berani melihatnya ku tendang kau dari keluarga Sanjaya" titah Dirga saat berbalik badan mau menutup pintu


"Saya hanya mau memasukan buku-buku ini tuan" ucap Mr Ken


"Nanti saja, kalau aku panggil baru kau boleh masuk. Sekarang tutup pintunya" titah Dirga dan Mr Ken langsung menutup pintu


Dirga lalu menghampiri Niana yang sedang duduk di atas kasur. Niana terlihat memandangi sapu tangan merah yang dipegangnya. Sepertinya dia masih memikirkan sebenarnya siapa pemilik sapu tangan itu.


"Nianku sayang, aku bawakan bubur ayam untukmu" ucap Dirga langsung menaruh nampan di atas nakas


"Sayang kamu sudah pulang?" sahut Niana dan Dirga langsung memakaikan jubah tidur Niana yang tergeletak di atas kasur untuk menutupi tubuhnya yang terlihat seksi


"Iya, si kecil membuatku semangat untuk menyelesaikan pekerjaan kantor. Jadi aku pulang lebih awal. Sekarang makanlah buburnya pasti si kecil sudah lapar" ucap Dirga mengambil manguk di atas


"Jadi karena kehamilanku dia jadi semangat. Bagaimana kalau dia tahu aku tidak hamil. Aku benar-benar tak bisa membayangkannya" batin Niana


"Aaaa buka mulutmu" ucap Dirga setelah meniup sesendok bubur dan akan menyuapi Niana. Nianapun terlihat menikmatinya tanpa rasa mual


"Apa yang kamu rasakan sekarang? Kata mama kamu kurang enak badan?" tanya Dirga


"Aku hanya sedikit pusing dan sedikit mual" ucap Niana


"Sepertinya wajar kalau wanita hamil muda sepertimu merasa mual dan pusing"


"Darimana kamu tau kalau itu wajar untuk wanita hamil?" tanya Niana


"Aku tadi sempat baca buku tentang kehamilan yang aku beli" ucap Dirga menyuapi Niana lagi


"Buku kehamilan?" ucap Niana terbata


"Iya, aku membelikan banyak buku tentang kehamilan untukmu. Kamu bisa membacanya agar kamu tidak bosan saat aku tinggal ke Australi nanti" ucap Dirga


"Kamu membeli buku berapa banyak?" tanya Niana penasaran


"Ken masuklah !" seru Dirga


"Baik tuan" ucap Mr Ken membuka pintu dengan membawa satu kantong plastik berukuran besar berisi buku


"Tolong letakan di sini Ken" ucap Dirga dan Mr Ken pun meletakannya di dekat kasur lalu keluar kamar


"Syukurlah kalau hanya satu kantong plastik itu. Aku kira Dirga akan memborong isi toko" batin Niana yang mulai bernafas lega


Tiba-tiba Mr Ken pun masuk lagi ke kamar dan membawa 2 kantong plastik yang berukuran sama besarnya dari yang pertama. Lalu segera meninggalkan kamar dan menutup pintu. Raut wajah Niana langsung berubah syock karena kaget saat melihat 3 kantong plastik besar hingga dia terlihat susah menelan bubur yang memenuhi mulutnya.


"Huk huk huk" Niana terbatuk memuntahkan sedikit buburnya. Dirga pun segera mengambil sapu tangan merah yang dipegang Niana untuk menyeka mulut Niana. Lalu mengambilkannya minum.


"Minumlah dulu, apa kamu ingin muntah?" tanya Dirga panik


"Bagaimana aku tidak muntah kamu membelikanku buku seperti mau membuatkanku perpustakaan" batin Niana mencebikan bibirnya dengan mata menyipit seoalah ingin menangis

__ADS_1


"Kenapa kamu malah mau menangis" ucap Dirga menyeka pipi Niana dengan sapu tangan merah itu lagi


"Kamu dari tadi mengelap mulutku pakai sapu tangan ini?" ucap Niana sambil membersihkan mulutnya sendiri dengan tangannya dan membuang sapu tangan itu ke lantai


"Memang kenapa? Bukankah sapu tangan itu memang untuk mengelap?" tanya Dirga


"Itu sapu tangan kotor yang ku temukan di dekat tong sampah dan aku tidak tahu siapa pemiliknya" ucap Niana


"Kenapa istriku menyedihkan sekali, apakah kartu unlimited dariku tidak pernah kamu pakai? Sampai memungut sapu tangan sampah" ucap Dirga terkekeh


"Aku menemukannya saat di rumah sakit saat menjeput Paman Yan?"


"Kamu menjemput Paman Yan? Jadi Paman Yan tidak mengantarmu ke toko?" tanya Dirga marah


"Sayang, aku tidak tega karena Paman Yan sedang sakit. Jadi maafkan Paman Yan karena semua adalah ideku. Jangan memarahinya" ucap Niana memelas memegangi kedua tangan Dirga


"Aku tidak akan memarahinya tapi aku takut dengan kondisimu yang sedang hamil kalau kamu menyetir mobil sendiri"


"Lihatlah aku baik-baik saja kan" ucap Niana mengerjapkan matanya


"Lain kali jangan menyetir mobil sendiri, aku tidak mengizinkan" titah Dirga


"Baiklah sayang, aaa" ucap Niana membuka mulutnya minta disuapi bubur lagi oleh Dirga


"Lalu kenapa kamu sampai memungut sapu tangan sampah itu" tanya Dirga


"Ceritanya pas aku keluar dari toilet rumah sakit, aku mendengar suara yang sepertinya aku kenal tapi aku tidak ingat. Dia sedang berbicara melalui ponsel dan bersembunyi di samping tong sampah besar jadi aku tidak bisa melihat wajahnya. Karena aku penasaran lalu aku menguping. Sepertinya orang itu sedang merencanakan kejahatan mungkin pembunuhan berencana. Awalnya dia membatalkan rencana penculikan lalu meminta untuk menyingkirkan seseorang. Aku tidak tahu pasti perkataannya. Setelah orang itu pergi, aku melihat sapu tangan ini terjatuh di tempat dia sembunyi. Sepertinya ini sapu tangan miliknya karena masih bersih. Selain suaranya yang membuat aku penasaran, sapu tangan ini juga membuatku bertanya-tanya karena ada nama Tania di sapu tangan itu. Coba kamu lihat" ucap Niana


Dirga langsung mengambil sapu tangan yang teronggok di lantai. Bola matanya memandang jauh seakan memikirkan sesuatu. Sepertinya dia pernah melihat sapu tangan yang Niana temukan. Tetapi Dirga tak mengingat dimana dia pernah melihat sapu tangan itu. Dirga mencoba mengingatnya kembali sambil terus memandangi sapu tangan itu.


"Sapu tangan ini mirip dengan sapu tangan milik Paman Yan yang pernah aku temukan" batin Dirga


*Flashback 11 tahun yang lalu*


Saat itu Paman Yan terlihat murung ketika pulang entah darimana. Dia terlihat berpakaian rapi dan membawa kotak kado berukuran kecil yang sudah terbuka dan tidak ada isinya. Dirga yang saat itu berusia 15 tahun sedang bermain di teras melihat sapu tangan merah yang terjatuh dari saku Paman Yan saat melangkah ke dalam rumah. Dirga lalu mengambil sapu tangan yang masih terlipat rapi itu dan membukanya.


"Tani... " Dirga mengeja nama yang tertulis di sapu tangan yang tengah dibukanya.Belum selesai dia membaca tulisan di sapu tangan itu, Paman Yan langsung meraihnya


"Paman sapu tanganmu terjatuh" ucap Dirga


"Oh, terima kasih Tuan Muda" ucap Paman Yan sambil mengusap kedua netranya


"Paman menangis" tanya Dirga


"Tidak Tuan Muda, mata paman hanya lelah karena habis menyetir" ucap Paman Yan yang langsung masuk ke dalam rumah


*Flashback selesai*


"Sayang.... sayang..... Apa yang kamu pikirkan?" tanya Niana penasaran


"Tidak apa-apa, kamu tidak usah memikirkan sapu tangan ini lagi. Mungkin hanya perasaan mu saja kalau suara orang yang kamu dengar saat di toilet, seperti tidak asing bagimu. Belum tentu juga ini sapu tangan milik orang itu. Aku tidak ingin kamu banyak pikiran dan mempengaruhi kondisi si kecil" ucap Dirga


"Iya sih, perkataanmu betul juga" ucap Niana mengangguk-anggukan kepala

__ADS_1


__ADS_2