Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan

Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan
Episode 25 Tersenyum-senyum dengan kekonyolan Niana


__ADS_3

Semua teman satu devisinya juga tidak mau berkata apa-apa pada Niana. Niana pun langsung menuju ruang Bu Niken. Lalu Bu Niken memberi tahu apa yang membuatnya dipecat. Niana juga sudah menjelaskan bahwa dia tidak seperti yang dituduhkan, dia tidak pernah menukar atau menjual berkas laporan yang beberapa hari yang lalu diserahkan kepada Dirga kepada perusahaan Askara Company. Tetapi siapa yang akan percaya dengan perkataan Niana kalau dia sendiri adalah adik pemilik Askara Company. Air mata menetes di pipinya, begitu sakit dirinya dituduh berhianat pada perusahaan. Diapun langsung keluar dari ruang Bu Niken menuju meja kerjanya. Sampai di meja kerja semua barang-barangnya sudah dibersihkan dari atas mejanya.


"Hei penghianat ini barang rongksokanmu" ucap Risti mantan sekretaris Bu Niken


Risti adalah sekretaris Bu Niken saat Niana ada di devisi 1. Dia dipindahkan ke devisi 3 karena Niana dipindah ke devisi 2 dan mengambil posisinya sebagai sekretaris Bu Niken. Setelah Niana dipecat, Risti kembali dipindahkan ke devisi 2 sehingga dia ada diposisinya seperti dulu.


"Tidak usah pura-pura nangis deh, kamu kan tinggal kerja di perusahaan besar Askara Company milik kakakmu atau perusahan besar ayahmu. Ngapain susah-susah jadi karyawan biasa kalau bukan untuk menipu perusahaan Sanjaya" ucap Risti


Niana pun kaget, kenapa Risti bisa tahu kalau ayah dan kakaknya punya perusahaan besar. Dia pun curiga kalau Risti yang telah memfitnahnya. Karena dia baru pertama kali bertemu dengan Risti.


"Niana apakah benar kamu adiknya pemilik Askara Company? Jadi kamu benar-benar menipu Sanjaya Grub. Dasar penghianat bermuka polos" ucap Dita dan karyawan lain pun juga ikut mengumpat dirinya karena termakan gosip yang disebarkan Risti


"Iya dit, aku memang adiknya pemilik Askara Company tetapi aku tidak pernah menipu Sanjaya Grub, aku bisa jelaskan" ucap Niana


"Lebih baik segera pergi saja dasar penghianat" ucap Risti


"Saya tidak pernah menipu Sanjaya Grub" jelas Niana


"Tidak usah munafik, bahkan kamu sudah menggoda Dirga dengan kepolosanmu untuk menipunya" ucap Risti


Niana pun langsung pergi dengan membawa kotak kardus berisi barang-barangnya sambil meneteskan air matanya. Semua karyawan yang melihatnya dengan tatapan tidak suka. Ternyata banyak gosip beredar kalau Niana telah menggoda Dirga dan menipu Sanjaya Grub. Bahkan di gosip itu dia dikatakan wanita polos penggoda bos.


Niana pun tidak terima dengan pemecatan yang memfitnah dirinya, apalagi dikatakan menggoda bosnya untuk menipu. Dia pun tidak punya nyali juga untuk ke ruangan Dirga dan meminta penjelasan atas pemecatannya kenapa Dirga menuduhnya menukar proposal perusahaan. Niana sadar dia hanya akan dianggap serpihan debu yang terabaikan. Dia melangkah menuju basement untuk pulang. Saat di pintu masuk basement, Dirga ada di depannya sepertinya habis memarkirkan mobilnya.


Mata mereka saling bertemu, menatap dengan pandangan saling membenci. Ketika Dirga melihat mata Niana berkaca-kaca, hatinya ikut merasa sakit. Dia tidak menyangka Niana yang terlihat polos di depannya kenapa bisa menipunya. Apalagi setelah Niana membantu membalut luka di tangannya, perasaan yang baru mulai akan tumbuh akhirnya gagal bersemi di hati Dirga. Karena Dirga merasa Niana hanya menipunya dengan perhatiannya yang palsu.


"Pak Dirga, terima kasih atas surat pemecataan yang anda buat. Entah apa yang anda pikirkan tentang saya, anda boleh mengatakan saya bodoh, saya jelek, saya hanya butiran debu yang tidak berguna. Saya bisa menjelaskan semuanya, saya tidak seperti yang anda pikirkan. Tolong jangan pecat saya Pak. Saya butuh pekerjaan ini" ucap Niana menangis


"Saya tidak ingin melihat penghianat di perusahaan saya" ucap Dirga membuang muka dari tatapan Niana


"Saya tidak pernah menghianati perusahaan pak"


"Tidak usah sok polos, kau menukar berkas perusaahaan kepada kakakmu untuk menghancurkan Sanjaya Grub"


"Saya tidak pernah melakukannya, tolong biarkan saya bekerja di sini pak" ucap Niana memohon dan memegangi tangan Dirga


"Lepaskan tangan saya!!!" seru Dirga sambil menarik kuat tangan yang dipegang Niana, hingga Niana pun jatuh karena tangan satunya membawa kardus sehingga tidak seimbang


"Aachhh... " ucap Niana mengusap lututnya yang lecet berdarah


Dirga melirik lutut Niana yang lecet, dia sebenarnya tidak tega melihatnya tetapi Dia tidak mau terkena rayuan Niana lagi. Hatinya terasa sakit melihat Niana jatuh tersungkur dengan luka di lututnya.


"Anda benar-benar tidak punya muka, sudah berhianat tidak minta maaf malah mengemis minta pekerjaan lagi. Kakak sama adik sama-sama tidak tau malu" batin Dirga

__ADS_1


"Anda tidak meminta maaf malah meminta pekerjaan lagi. Saya muak melihat sikap polos anda" ucap Dirga


"Saya tidak akan minta maaf atas perbuatan yang tidak saya lakukan" ucap Niana yang masih duduk menekuk kedua lutunya sambil mendongakan wajah ke arah Dirga dengan raut wajah marah


Dirga meninggalkan Niana sendiri. Terpaksa tidak peduli dengan lutut Niana yang terluka karena dia tidak mau tertipu lagi. Diam-diam dia menyuruh cleaning servis wanita untuk membantu mengobati lukanya. Setelah itu dia menuju ke ruang kerjanya. Terlihat Mr Ken sedang sibuk di depan leptopnya. Dirga lalu duduk di kursi presedirnya dan membuka ponsel


"Bagaimana apakah anda sudah mengobati lukanya?" (Chat Dirga pada cleaning servis yang disuruh mengobati Niana)


"Maaf Tuan Dirga, Niana sudah diobati cleaning servis lain"


"Laki-laki atau wanita"


"Laki-laki tuan"


"Foto Niana duduk di kursi yang ada di bessement dan seorang laki-laki yang berjongkok di depannya sedang menempelkan plester"


Entah kenapa melihat foto Niana bersama cleaning servis itu terbesit rasa sakit di hati Dirga hingga susah menelan ludahnya sendiri. Kepalanya terasa pusing setiap kali memikirkan tentang Niana. Dia mengusap kasar wajahnya merenungi apakah salah atau benar sikap yang telah dia lakukan pada Niana tadi. Harusnya dia membenci Niana yang dianggap penghianat perusahaan tetapi hatinya seakan tidak seirama dengan pikirannya. Masih ada kepedulian di hatinya untuk Niana.


"Tuan minumlah obat anda" ucap Mr Ken menyerahkan obat yang masih dikonsumsi


"Apakah saya masih harus mengkonsumsinya?"


"Tinggal beberapa hari saja tuan"


Pikiran Dirga tidak bisa fokus, dia masih teringat kesedihan di wajah Niana saat di bassement tadi. Dia takut Niana yang sedang sedih akan ceroboh saat di jalanan apalagi dia tadi siang hampir tertabrak mobil saat memyebrang di zebra cross.


"Kenapa dia selalu membuatku merasa cemas setiap dia dalam kesulitan, kenapa hatiku sakit melihatnya sedih, dia tidak pernah membiarkanku tenang sekejap saja"


"Ken aku mau keluar dulu" ucap Dirga


"Tapi tuan barusan minum obat, sebaiknya saya yang menyetir"


"Aku ingin pergi sendiri, kamu selesaikan pekerjaanmu" ucap Dirga bergegas pergi


"Tuan muda Berhati-hatilah"


Kemudian Dirga menuju bassemet dia mengemudikan mobilnya menyusuri jalan sambil mengarahkan pandangannya ke segala arah. Lalu Dirga menghentikan mobilnya ketika mendapati wanita yang sedang dicarinya. Dia tidak berani menemuinya setelah apa dia lakukan padanya. Niana tampak sedang duduk di kursi taman masih membawa kotak kardusnya. Lalu Niana melirik ke sebuah patung di samping kursi taman. Sebuah patung laki-laki yang sedang duduk berjongkok melipat kakinya menyedekapkan tangan diatas lutut sambil tersenyum lebar. Lalu Niana menaruh kotak kardusnya dan duduk jongkok diatas kursi menirukan gaya patung itu.


"Gadis konyol apa yang dia lakukan" ucap Dirga di dalam mobil sambil mengamatinya dari jarak jauh


Niana lalu beranjak dari kursi taman dan melanjutkan jalannya. Dia menyebrang jalan dan akhirnya berada di pusat taman kota. Kali ini dia melihat patung seorang laki-laki yang gagah membungkukan setengah badannya tangan kirinya berada di belakang pinggangnya sambil mengulurkan tanganya kananya. Patung itu juga nampak seperti sedang ingin mengajak berdansa seseorang. Tiba-tiba Niana melepas ikat rambut yang mengepang rambutnya.


Rambutnya yang hitam lurus terurai indah seperti putri raja. Lalu dia meraih tangan patung laki-laki itu yang posisinya lebih tinggi dari kepala Niana. Niana terlihat seperti menerima ajakan seseorang untuk berdansa dengan menyambut tangan patung itu sambil membungkukan badan lalu dia menari dengan memutar-mutar badanya dan berpegangan di tangan patung laki-laki itu.

__ADS_1


"Dia tetap terlihat cantik dengan kekonyolannya" ucap Dirga sambil tersenyum memegang kemudi mobil



(Dirga senyum-senyum sendiri saat diam-diam mengamati Niana dari dalam mobil)


"Cih aku sudah tergoda lagi dengan rayuannya" ucap Dirga tersadar dengan ucapanya tadi


Walaupun di sepanjang jalan itu cukup ramai dilalui orang dan dihiasi lampu-lampu kota yang menyinari sepanjang jalan. Niana menganggap dirinya seperti serpihan debu pinggir jalan yang tidak dihiraukan semua orang sehingga Niana tidak mempedulikan orang-orang melihat kelakuan konyolnya. Niana seperti sedang asyik dengan dunianya sendiri. Dia pun melanjutkan perjalanannya, lalu dia melompat-lompat di trotoar jalan yang dicat berwarna warni.


Dirga masih mengikutinya dari belakang dengan mobilnya yang dijalankan cukup pelan agar tidak diketahui Niana, sambil sesekali menghentikan mobilnya ketika Niana juga berhenti berjalan. Niana yang asyik melompat-lompat di trotoar kemudian menoleh ke belakang karena takut menghalangi orang yang ingin lewat dari belakangnya. Ketika Niana menoleh ke belakang, Dirga segera mematikan lampu di dalam mobilnya dan membungkukan badan ke kursi sampingnya agar tidak terlihat oleh Niana.


Kali ini Niana sedang meletakan telinganya di tangan sebuah patung wanita yang nampak anggun seperti ibu-ibu sedang memarahi anaknya. Patung itu terlihat mengulurkan jempol dan telunjuknya kanannya sedang tangan kirinya berkacak pinggang dan posisi berdirinya sama tinggi dengan orang-orang. Kemudian Niana meletakan telinganya di antara jempol dan telujuk patung itu seolah telinga Niana sedang dijewer patung ibu-ibu itu. Dia pun memperagakan sedang kesakitan dijewer dengan memicingkan satu matanya, lidahnya melet ke samping kiri dan kepalanya miring ke samping kanan seolah-olah ingin menjauh dari cubitan di telinganya.


"Cih kenapa dia lucu sekali" ucap Dirga yang kembali tersenyum-senyum


Waktu sudah menunjukan pukul enam sore. Akhirnya Niana sampai di tokonya. Pengujung toko Niana Craft saat itu terlihat mulai meninggalkan toko. Niana langsung masuk ke tokonya karena masih ada waktu untuk mengecek toko.


"Niana Craft... Jadinya ini tokonya. Kecil sekali" ucap Dirga yang kepalanya menunduk-nunduk melihat Niana dari dalam mobil


Toko Niana memang kecil, ukurannya mungkin sebesar kamarnya tidur Dirga. Dinding toko yang sebagian besar dari kaca yang tembus pandang itu membuat Dirga mudah melihat aktifitas Niana di lantai bawah. Terlihat Niana menyapu toko, sambil membersihkan etalase dengan kain lap yang dia letakan di pundaknya.


"Apa yang dia lakukan, menyapu toko? Apa dia jadi cleaning servis di tokonya sendiri?" ucap Dirga


Kemudian Niana membawa kantong plastik hitam besar keluar dari toko.


"Dia juga membuang sampah sendiri? Kenapa tidak menyuruh karyawannya" ucap Dirga yang masih menunggu Niana


Selepas dari tokonya, dia ingin menikmati udara dingin di bawah sinar bulan dengan duduk di sebuah ayunan taman. Niana pun menjejakan kakinya untuk mengayun ayunan yang didudukinya. Dia merenungi setiap masalah hidup yang dia alami agar mendapat suntikan semangat walau harus dihantam oleh kerasnya kehidupan.


"Taman ini kenapa sepertinya aku pernah ke sini. Niana sedang apa duduk di ayunan sendirian" ucap Dirga yang


Terlintas kilat kejadian yang pernah dia alami di taman itu. Samar-samar terdengar suara tertawa lepas dari seorang wanita yang dia ayun di taman itu. Seolah tampak nyata, dia sedang menarik ayunan yang diduduki Niana. Betapa bahagianya mereka saat itu.


"Kenapa hatiku seolah tak ingin melihatnya sedih " ucap Dirga yang memandangi Niana dari kejauhan


Tanpa sadar Dirga mengikutinya sampai ke rumah. Dirga hanya ingin memastikan Niana pulang dengan selamat sampai rumah. Apalagi melihat kejadian tadi siang, dia hampir ketabrak mobil saat di zebra cross. Sesampainya di rumah Niana, Dirga memandangi rumahnya yang hanya terlihat tembok tinggi dan pintu gerbang yang seluruhnya tertutup kayu sehingga tidak bisa melihat keadaan di balik tembok itu. Dia berdiri lama memandangi rumah itu, seperti merasa familier dengan rumah yang baru dilihatnya itu.


"Kenapa rumahnya sederhana dan kecil sekali, bukankan kakaknya pemilik Askara Company dan ayahnya juga memiliki perusahaan besar di Surabaya. Apakah dia hidup sendirian di sini"


"Achh..... " seru Dirga kepalanya terasa sakit lagi saat melihat tempat pembuangan sampah di depan rumah Niana di sebrang jalan.


Dirga merasa melihat dirinya pernah membuang sampah di situ. Pandangan matanya tiba-tiba terlihat kabur kemudian dia memutuskan untuk segera pulang dan melajukan mobilnya pelan-pelan. Rasa kantuk pun datang karena pengaruh obat yang tadi diminumnya, saat ditikungan dia tidak fokus dan akhirnya mobilnya menabrak pembatas jalan. Kepalanya membentur pintu mobil dan tidak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2