Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan

Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan
Episode 71 Membuat menunggu lagi


__ADS_3

Sementara di sebuah ruang perawatan di Hospital Sanjaya, tampak Tania duduk di atas bednya dengan kaki sedikit ditekuk sambil memandang ke arah luar jendela. Dia melamunkan sesuatu, entah apa yang dia pikirkan. Biasanya yang dia pikirkan tidak jauh dari karirnya. Tiba-tiba suara pria berjaz putih panjang dan bergantung stetoskope melingkar di lehernya membuyarkan lamunannya.


"Hemm, maaf aku mengganggu waktumu" ucap Dokter Bara


"Dokter Bara, saya tidak merasa terganggu" ucap Tania


"Apakah anda tidak mendengar perkataan saya untuk memperhatikan makanmu?" ucap Dokter Bara sambil menarik kursi lalu mendudukinya di samping bed Tania


"Terima kasih untuk perhatiannya, tapi semua sudah terjadi. Sekarang aku hanya bisa berbaring menyedihkan" ucap Tania yang masih terlihat lemah


"Kenapa selalu memaksakan diri untuk kuat, sekarang keadaanmu sangat lemah, bahkan maag mu sudah naik ke tingkat GERD" batin Dokter Bara sambil menelan salivanya dengan susah karena melihat kondisi Tania yang lebih buruk dari sebelumnya.


Saat Tania masih melakukan penelitian di Hospital Sanjaya kemarin, maagnya pernah kambuh tapi tidak separah sekarang yang terbaring dengan tubuh yang pucat dan lemah. Biasanya dia terlihat selalu semangat dan ceria saat bekerja. Walau kadang maagnya kambuh tetapi selalu ditahannya agar tetap bisa profesional dalam kesibukannya.


"Kadang sakit itu tidak hanya dari makanan tetapi pikiran juga. Sebaiknya jangan memforsir fisikmu demi meraih sebuah impian. Jika sesuatu yang kamu inginkan tidak bisa kau dapatkan, buatlah dirimu bahagia dengan jalan lain walau tidak harus sesuai keinginan" ucap Dokter Bara


"Perkataan anda betul juga, bahkan karena impianku, aku telah kehilangan orang yang dulu mencintaiku, karena impianku sekarang aku penyakit maagku semakin kronis. Aku selalu mengejar karir, terobsesi dengan impianku sendiri hingga aku tidak pernah memperhatikan hidupku sendiri" ucap Tania menahan pelupuk matanya agar kuat membendung air matanya yang akan menetes


"Menanangislah kenapa harus ditahan, aku tahu kamu wanita karir yang kuat tapi bukan berarti kamu lemah jika menangis. Keluarkanlah segala kesedihanmu" ucap Dokter Bara meraih tangan Tania dan menggenggamnya untuk menguatkannya


"Aku berharap kamu bisa kuat dan sembuh secepatnya, dan menjadi Tania yang selalu semangat" batin Dokter Bara


Kemudian Dokter Bara berdiri dan duduk di atas bed memberikan bahunya untuk Tania bersandar. Tania pun menangis tersedu-sedu menumpahkan segala air matanya dengan menyandarkan dahinya di bahu itu seolah sudah tidak mampu mengangkat kepalanya sendiri. Dokter Bara ikut merasakan betapa sedihnya penyesalan yang dirasakan Tania. Ingin rasanya tangannya mengelus rambutnya dan mengusap punggungnya dengan lembut. Tetapi dia tak kuasa melakukannya karena dia menyadari Tania tidak pernah melihat perasaanya.


"Seandainya kamu juga memiliki rasa yang sama seperti perasaanku padamu. Aku ingin segera memelukmu" batin Dokter Bara


Hati Dokter Bara terasa tersayat karena cintanya bertepuk sebelah tangan, bahkan sekarang wanita yang dicintainya dalam diam kini terbaring lemah dengan penyakit kronisnya. Apalagi Dirga sudah meninggalkannya dan sudah menikah, sehingga Tania semakin terluka. Tania telah kehilangan orang yang pernah mencintainya dan sekarang terbaring tak berdaya. Seolah sakit yang dideritanya membuat karir dan impiannya yang selama ini dia kejar, juga ikut menjauh dan pelan-pelan akan berhenti mulai di titik ini.

__ADS_1


Hari sudah mulai malam, jam dinding besar yang terlihat antik di ruang tengah kediaman rumah besar Sanjaya pun berdenting menunjukan pukul delapan. Terlihat Niana dan Renata masih menonton televisi di ruang tengah, walaupun Renata asyik dengan ponselnya tetapi dia masih mau menemani Niana yang sedang menunggu Dirga pulang. Sedangkan Mama Sofi sudah istirahat di dalam kamarnya.


Renata menanyakan info tentang Aska pada Niana seperti sedang menginterogasi. Dari yang disukai Aska dan yang dibenci Aska.Niana yang mulai bosan ditanya-tanya terlihat menguap beberapa kali. Tetapi dia tidak bisa naik sendiri ke lantai atas menuju kamarnya karena kakinya yang sakit belum bisa jalan. Dia hanya bisa menunggu Dirga menggendongnya ke kamar atas.


"Kak Niana tidurlah di sofa dulu kalau sudah ngantuk, Rena akan temani sampai Kak Dirga pulang" ucap Rena yang masih memainkan ponselnya sambil melirik ke arah Niana


"Baiklah, kakak tidur dulu ya sudah ngantuk banget. Infonya sudah cukup kan?" ucap Niana mulai merebahkan dirinya di sofa


"Sementara cukup dulu kak, terima kasih" jawab Renata


"Nona Niana jus stroberrynya sudah siap" seru Rumi yang muncul dari dapur membawa nampan berisi segelas jus


"Ssstttt Kak Niana baru saja tidur" ucap Renata berbisik


"Lah malah tidur si nona, terus ini jusnya gimana?" tanya Rumi


"Kamu minum saja Rum, aku tidak suka jus stroberry. Minum di sini saja sambil nemani aku nonton TV" ucap Renata


"Rumi besok pagi tolong masakin nasi goreng spesial dan buatin jus stroberry juga terus masukin kotak bekal" titah Renata


"Jus stroberry buat siapa nona, bukannya nona tidak suka? Apa nona sudah miskin sampai berhemat minta dibuatin bekal makanan dan minuman segala. Atau kartu ajaib nona disita sama Tuan Dirga?"


"Sembarangan, sudah kamu jangan banyak tanya. Yang penting besok sebelum jam 6 pagi harus sudah siap" titah Renata


"Siap Nona" jawab Rumi


"Ini Kak Dirga kemana sih udah jam 9 belum pulang juga, kasihan Kak Niana nungguin sampai tertidur di sofa. Mana Rena sudah ngantuk sekali" gumam Renata

__ADS_1


"Kalau Nona Rena sudah ngantuk tidur saja ke kamar biar Rumi yang jagain Nona Niana di sini. Tapi Rumi ambilin selimut buat Nona Niana dulu" ucap Rumi


"Oke Rumi, terima kasih"


Sampai jam menunjukan pukul 10 malam, terdengar pintu gerbang rumah terbuka. Rumi masih setia menemani Niana sampai ikut tertidur bersandar di sandaran sofa. Paman Yan membangunkan Rumi agar segera pergi tidur ke kamarnya karena tuannya sudah pulang. Kemudian Paman Yan menuju pintu utama untuk menyambut Dirga.


"Selamat malam Tuan Muda" sapa Paman Yan sambil menunduk hormat. Dirga hanya mengganggukan kepala tanpa suara karena merasa sangat lelah. Lalu mengganti sepatunya dengan sendal.


"Tuan terlihat sangat lelah, apakah banyak pekerjaan di kantor?" tanya Paman Yan


"Tidak paman, aku tadi menjenguk Tania di Hospital Sanjaya" ucap Dirga


"Memangnya Nona Tania sakit apa Tuan?" tanya Paman Yan penasaran


"Asam lambungnya sudah kronis" jawab Dirga singkat


"Bagaimana keadaanya Tuan" tanya Paman Yan lagi


"Dia masih terbaring lemah di RS. Paman, tolong jangan beri tahu siapapun khususnya Niana kalau aku hari ini menjenguk Tania" titah Dirga


"Baik, tuan. Kalau tuan mengizinkan saya bersedia menggantikan tuan menjenguknya tiap hari untuk mengetahui kondisinya. Karena saya kasihan melihat Nona Muda selalu menunggu anda pulang" ucap Paman Yan


"Tidak perlu paman, saya menjenguknya hanya hari ini saja karena kemarin saya yang mengantarkannya ke RS. Untuk selanjutnya sudah saya serahkan pada Dokter Bara. Saya sudah tidak ingin berhubungan dengan Tania lagi. Kami sudah memutuskan menjadi sahabat saja" ucap Dirga


"Baikalah tuan, apakah tuan ingin makan malam?"


"Saya sudah makan di kantor. Oh iya, dimana Niana, paman?" tanya Dirga

__ADS_1


"Nona Muda tertidur di sofa ruang tengah, tuan karena menunggu Tuan Muda pulang" ucap Paman Yan


Sepulang dari kantor, Dirga menjenguk Tania malan ini tanpa memberi tahu Niana. Hari ini dia berbohong lagi pada Niana dan membuat Niana menunggunya lagi. Sebenarnya dia tidak ada rencana sama sekali untuk melihat Tania. Tetapi Dokter Bara mendadak menghubungi Dirga, memintanya untuk menjenguk Tania malam ini saat perjalanan pulang ke rumah. Dirga terpaksa memenuhi permintaan Dokter Bara karena dia sudah banyak membantunya hingga Niana bisa bersamanya lagi, bahkan sekarang telah menjadi istrinya.


__ADS_2