
Beberapa waktu yang lalu Paman Yan sedang melakukan cek kesehatan di Hospital Sanjaya. Paman Yan yang mengidap penyakit gagal ginjal kini disuruh melakukan cuci darah rutin. Wajahnya berubah menjadi pucat pasi memikirkan biaya cuci darah yang sering didengarnya dari orang-orang yang memeriksakan diri dengan penyakit gagal ginjal. Biaya cuci darah yang lumayan menguras kantong itu harus dia jalani tiap 1 bulan.
"Paman tidak perlu khawatir masalah biaya, Dirga sudah mengurus semua biaya hemodialisi yang akan paman jalani" ucap Dokter Bara setelah selesai memeriksa Paman Yan
"Tapi bagaimana Tuan Dirga tahu kalau saya sakit ginjal?" tanya Paman Yan
"Maaf paman, saya telah memberi tahu Dirga tanpa izin paman. Karena saya sudah menganggap paman seperti ayah saya sendiri. Selama ini paman selalu setia bekerja untuk keluarga Sanjaya jadi saya hanya meminta Dirga untuk memberi waktu untuk paman lebih banyak beristirahat. Dirga juga mengatakan akan menanggung semua biaya pengobatan paman juga. Paman selama ini sudah hebat sekali menjaga Dirga dari kecil hingga dewasa. Dia sangat menyayangi paman seperti ayahnya sendiri walaupun anak itu sering usil dan sikapnya menyebalkan" tutur Dokter Bara
Sore itu jalanan ramai dengan hiruk pikuk kemacetan lalu lintas yang memenuhi setiap sudut kota. Setelah melakukan cek up kesehatannya di Hospital Sanjaya, Paman Yan terlihat sedang bergelut dengan padatnya mobil dan motor yang berjejal seolah tak ada celah untuk menyalip. Di tengah macetnya jalanan, dia terpaksa harus melajukan mobilnya dengan pelan. Wajah lelahnya masih memikirkan perkataan Dokter Bara yang membuatnya bimbang akan ide yang telah dipersiapkannya dengan matang. Kini dia sedang berpikir ulang untuk menghancurkan kehidupan tuannya.
"Tania puteriku, tenanglah dalam kedamaianmu. Semoga keputusan ayah ini bisa membuatmu bahagia hidup di surga" batin Paman Yan sambil mencengkeram kuat kemudi mobilnya
Jalanan yang cukup padat merayap sore itu, dihiasi pancaran senja yang memperlihatkan semburat jingga terlukis di langit dengan indahnya. Bahkan sinarnya mampu menerobos ke setiap sudut bangunan dan menelusup nakal di antara rerimbunan daun yang ada di ranting pohon melalui celah-celah sempitnya. Tak terkecuali di sebuah sudut kota yang cukup sepi dimana Paman Yan sekarang berada. Tepatnya di sebuah bangunan yang cukup tua tak bertuan dan dikelilingi tanaman liar. Beberapa dindingnya terlihat usang termakan usia dengan jendela yang kacanya sudah pecah entah karena apa. Bahkan pintu yang engselnya sudah berkarat terdengar berderit melengking saat dibuka.
Di dalam sebuah bangunan yang lembab dan minim pencahayaan itu, Paman Yan berbicara serius dengan dua orang yang tengah menghisap rokoknya. Dua orang itu memakai baju yang serba hitam dan rompi berbahan jeans lengkap dengan rantai yang digantungkan di celanannya. Bahkan salah satunya membawa senjata api yang disematkan di saku celananya. Wajah mereka menyeramkan seperti preman dengan kepala yang diikat dengan kain untuk menahan peluh yang bermanik di dahi agar tidak menetes ke wajahnya. Beberapa tato seram pun terlihat di lenganya yang kekar, seolah sudah seperti penjahat kelas kakap yang telah berkali-kali mengeksekusi targetnya. Entah apa yang Paman Yan bicarakan dengan mereka di dalam sebuah bagunan tua itu. Paman Yan terlihat menyerahkan sebuah amplop besar pada mereka setelah kesepakatan telah disetujui oleh mereka
Paman Yan bergegas pergi meninggalkan bangunan tua yang disekitarnya dipenuhi rumput ilalang liar itu. Paman Yan melangkahkan kakinya menuju ke ujung jalan dimana mobilnya terparkir di depan bangunan tua tak berpenghuni. Dia segera bergegas pergi dan melajukan mobilnya karena waktu sudah semakin sore sebelum orang rumah menanyakan perihal kepergiaanya yang sudah cukup lama.
Kurang dari satu jam, Renata pun telah sampai di rumah. Dia baru saja memarkirkan mobilnya dengan rapi di garasi lalu melihat jam tangannya dan menghela nafasnya dengan kasar setelah berpacu dengan kecepatan dan waktu saat menuju rumah. Dilepasnya seat belt yang mengikat tubuhnya dengan kencang selama melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Matanya tertuju pada sebuah tas yang diletakan di samping kursi mobil.
"Astaga jadi yang aku bawa leptopnya Kak Aska, bukan kotak bekalku? Mati aku, bisa-bisa Kak Aska ngamuk. Aku baru saja sampai rumah mana mungkin aku bisa langsung pergi lagi. Bisa-bisa Kak Dirga menyita semua kartu-kartu ajaibku. Bodoh banget sih kenapa aku bisa-bisanya mengambil leptopya Kak Aska. Bodoh bodoh bodoh" ucap Renata merutuki dirinya sendiri dan membenturkan kepalanya di stir mobilnya
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Paman Yan datang dan memarkirkan mobilnya tidak jauh dari mobil Renata. Dia langsung mengangkat panggilan ponsel yang berdering sejak memasuki pintu gerbang. Saat keluar dari dalam mobil, Paman Yan terlihat sedang berbicara serius dan menatap ke arah Renata yang sedang keluar dari mobilnya. Renata pun juga menatap ke arah Paman Yan penasaran.
"Iya tuan Nona Renata sudah pulang, dia baru saja sampai rumah" ucap Paman Yan melangkah menghampiri Renata
"Baik tuan saya akan mengirimkannya" ucap Paman Yan mengakhiri pembicaraannya
"Jadi Kak Dirga benar-benar mau memastikan aku sudah pulang belum. Untung aku sudah sampai rumah" batin Renata
"Hai paman, apa yang dikatakan Kak Dirga?" tanya Renata
"Maaf nona Paman hanya disuruh Tuan Muda untuk mengirim bukti kalau Nona Renata sudah ada di rumah" ucap Paman Yan seperti akan memotret Renata
"Bagaimana paman, apakah aku cocok jadi model" ucap Renata berpose centil seperti model sambil menenteng tas
"Hemm" ucap Paman Yan yang langsung berlalu meninggalkan Renata dan tidak mempedulikan gaya Renata yang sudah seperti model bersekala internasional
"Dasar paman tua, bilang saja paman tidak tahu fashion. Setidaknya bilang sesuatu nona anda berbakat, anda keren sekali" gerutu Renata kesal karena diacuhkan begitu saja oleh Paman Yan
"Kenapa aku juga bodoh, sudah tahu Paman Yan dari dulu jarang bicara kecuali ada hal penting yang ingin dikatakan masih saja mengajaknya bicara" ucap Renata merutuki dirinya sendiri sambil melangkah masuk ke rumah
Di ruang tengah tampak Niana dan Mama Sofi sedang menonton televisi sambil merajut dengan asiknya. Renata menghampiri mama dan kakak iparnya itu dam langsung duduk di antara mereka.
__ADS_1
"Sore mama, kaka ipar kalian sedang apa?" sapa Renata menghempaskan badannya di atas sofa
"Kakak lagi bantu mama merajut sambil nemani mama nungguin kamu yang belum pulang-pulang" ucap Niana
"Kamu dari mana saja seharian ini" tanya Mama Sofi
"Maafin Rena ya ma, Rena tadi main ke rumah teman nyari tempat kerja" ucap Renata berbohong
"Ya sudah mandi sana, kamu sudah bau asem" titah Mama Sofi
"Oke, tapi Rena mau pinjam menantu mama sebentar" ucap Renata menarik tangan Niana agar beranjak dari duduknya
"Renata, kakak mau dibawa kemana?" tanya Niana penasaran
"Ikut Rena ke kamar sebentar kak, Rena mau ngomongin sesuatu" ucap Renata melirik ke arah Mama Sofi
"Kenapa tidak ngomong di sini saja"
"Ini masalah anak muda mama" seru Renata langsung berjalan mengganeng Niana ke kamarnya
Entah apa yang ingin dikatakan Renata pada Niana. Rasa penasaran pun juga sedang bergelayut di benak Niana. Harapanya, Renata tidak melakukan kecerobohan yang membuat Aska kesal.
__ADS_1