
Malam pertama yang seharusnya mereka lewati dengan memadu kasih dan menumpahkan seluruh hasrat kini terlewat sudah. Dirga pun tidak ingin memaksa Niana jika belum melihat cinta di matanya.Dia memandangi Niana yang mulai tertidur dengan rambut lurusnya yang tergerai indah. Kemudian mengecup keningnya, lalu hidung dan bibirnya. Niana melenguh lalu memeluk Dirga. Dada Dirga yang bidang dipakainya sebagai bantal. Dia terlihat sangat nyaman tertidur memeluk Dirga hingga pagi.
Suara alarm ponsel membangunkan Niana dari tidur lelapnya. Matanya terbuka perlahan, tangannya mengerayangi dadanya Dirga. Tiba-tiba matanya terbelalak melihat dirinya ternyata tertidur memeluk Dirga. Lalu Niana mendongakan kepala melihat ke arah Dirga ternyata Dirga sudah bangun entah sejak kapan. Dirga melirik ke wajah Niana yang sedang menatapnya dengan seyuman.
"Apa yang kamu lakukan padaku?" tanya Niana menjauhkan diri dari Dirga
"Seharusnya aku yang bertanya? Apakah nyaman tidur di dadaku sampai baru bangun?" ucap Dirga tersenyum
"Aku tidak sengaja"
"Benarkah?" goda Dirga merangkak mendekati Niana
"Aku tidak berbohong"
"Semalaman kamu memakai dadaku sebagai bantal sampai aku tidak bisa bergerak. Nanti malam kamu harus membayar dengan hal yang sama" bisik Dirga di telinga Niana sambil tersenyum lalu pergi ke kamar mandi
"Hal yang sama? Maksudnya, dia mau memakai dadaku sebagai bantal begitukah. Dasar mesum" batin Niana menutupi dadanya dengan selimut padahal baju tebal menutupi tubuhnya tanpa celah
Pagi ini Niana akan menjenguk ayahnya bersama Dirga. Mr Ken mengantarkan mereka dengan mobil menuju RS. Di dalam mobil, Dirga memainkan rambut Niana yang dikepang menjadi dua. Dia menarik-narik rambut Niana hingga kepala Niana bersandar di bahunya.
"Tuan Muda, kapan kita akan kembali ke Jakarta?"
"Nanti sore"
__ADS_1
"Apakah Nona Niana juga pulang bersama"
"Tidak, aku pulang besok saja"
"Kamu harus pulang bersamaku. Apa kamu lupa harus membayar hal yang sama nanti malam" ucap Dirga yang tiba-tiba mulutnya ditutup oleh tangan Niana
"Di sini ada Mr Ken, apa kamu tidak malu?" bisik Niana sambil melirik ke arah Mr Ken yang sedang mengemudikan mobil
"Ken akan pura-pura tidak mendengar, benarkan Ken?"
"Benar tuan, saya tidak mendengar pembicaraan tuan dan nona"
"Bos dan asisten nya sama-sama bego, mana mungkin dia tidak mendengar suara Dirga" batin Niana
Setelah sampai di bandara Jakarta, mereka segera pulang menuju rumah Sanjaya. Niana tampak lelah dan tertidur di dalam mobil. Karena takut kepala Niana terbentur kaca mobil atau kursi, Dirga pun menggeser duduknya dan meraih kepala Niana lalu menidurkan kepala Niana ke dadanya.
Mereka sampai di rumah Sanjaya pukul 9 malam. Para pelayan sudah menyambut kedatangan Tuan dan Nona Muda Sanjaya.Tak ingin membangunkan Niana, Dirga menggendong Niana yang masih tertidur langsung menuju kamar. Kebiasaan Dirga saat pulang pun tidak dilakukan seperti biasa, dia hanya mengganti sepatunya dengan sendal rumah saja. Sedangan cuci tangan dan melepas jas tidak dilakukan walau pelayan rumah sudah mempersiapkan semuanya karena dia harus menggendong Niana dan segera merebahkannya di kamar.
Dirga pelan-pelan merebahkan Niana di ranjang, lalu melepas sepatunya dan menyelimuti tubuh Niana. Selesai mandi dan memakai piyama, Dirga menuju ranjang mendekati Niana dan mencium keningnya. Dia melepas ikat rambut Niana, lalu mengurai kepangan rambut Niana dan menyisir dengan jari tangannya. Setelah rambut Niana terurai, mata Dirga tak henti-hentinya nemandangi wanita yang pernah di bencinya itu. Seolah tak percaya wanita yang dulu dibencinya kini malah dinikahi dan menjadi istri sahnya. Seperti yang sering dibilang orang-orang jika terlalu membenci nanti malah jatuh cinta.
Mungkin kebencian Dirga pada Niana membuat Niana selalu ada di dalam pikirannya. Hatinya pun ikut merasakan resah, gelisah dan khawatir saat Niana ada dalam masalah dan kesulitan. Kecemburuan yang selalu membuat hatinya tidak bisa tenang saat bersama laki-laki lain. Sikap polosnya selalu membuat Dirga tersenyum dan mampu menghipnotis hati dan pikiran Dirga. Sehingga cinta itu tumbuh perlahan di hati Dirga.
Jari telujuk Dirga kini menyusuri setiap lekuk wajah Niana dari atas. Dirga mengusap alis Niana, mengelus pipinya lalu menyusuri hidungnya seperti sedang mengukir hidung mancungnya. Kemudian mengusap bibir Niana dengan ibu jarinya lalu meraih dagu Niana dengan telujuk dan ibu jarinya. Dirga pun mencium bibir Niana yang mungil dan mengemaskan itu. Niana pun hanya melenguh sebentar lalu kembali tertidur.
__ADS_1
Setelah puas bermain-main di wajah Niana, Dirga pun mengantuk. Tak terasa Dirga sudah tertidur di dada Niana. Dirga membenamkan kepalanya ke dada Niana untuk merasakan kenyamanan tertidur di pelukan Niana hingga pagi.
"Apa ini seperti rambut seseorang" batin Niana yang belum sepenuhnya sadar dari tidurnya sambil menarik-narik rambut Dirga
"Kenapa kamu menjambak rambutku" ucap Dirga
"Aku ada dimana?" ucap Niana sontak kaget dan segera bangun menyingkirkan kepala Dirga dan mendekap bantal
"Di rumah suamimu" ucap Dirga masih memejamkan mata dan melanjutkan tidurnya
"Kenapa kamu membawaku ke sini?" tanya Niana yang tak dihiraukan Dirga karena Dirga masih mengantuk
"Apa dia tidur lagi?" batin Niana sambil mengecek apakah Dirga pura-pura tidur atau tidak
"Ku akui wajah Tuan Tengil ini tampan sekali, dari kejauhan pun sudah terlihat pesona ketampanannya. Aku tidak menyangka bisa melihatnya sedekat ini" batin Niana memandangi Dirga tanpa berani menyentuh
Pandangan Niana lalu berali ke sekeliling kamar Dirga. Semua interior yang ada di kamaranya berisi barang-barang mewah. Ranjang yang dia pun sangat besar, luas dan mewah. Niana langsung beranjak dari ranjang dan berjalan melihat-lihat ada ruangan apa saja di dalam kamarnya.
"Alamari khusus baju-bajunya saja dua kali luas kamarku, koleksi jam, dasi dan sepatunya banyak sekali seperti toko saja ruangan ini" gumam Niana
"Aku mau mandi saja, dia punya baju yang bisa ku pakai tidak. Kenapa semua alamarinya harus dibuka pakai pasword segala. Apa orang kaya hidupnya serumit dia" ucap Niana
Setelah melihat satu persatu pintu alamari, ternyata hanya satu rak yang berisi kemeja yang tidak dikunci dengan pasword. Akhirnya Niana memilih satu kemeja putih untuk baju gantinya. Lalu dia menuju kamar mandi yang ada di dalam ruangan tadi. Niana pun keluar dari ruang ganti baju dan berdiri di depan pintu sambil mengosok pelan rambutnya yang basah dengan handuk.
__ADS_1