
Setelah selesai mandi dan mengganti bajunya dengan baju santai. Niana duduk bersandar di ranjang yang sudah bersih dari taburan bunga mawar. Dia merenung memikirkan cara agar bisa secepatnya bercerai dengan Dirga. Dalam perjanjian sebelum menikah Dia bisa bercerai kalau Dirga sembuh dari amnesianya dan sudah tidak lagi mencintainya.
"Harusnya aku tadi merekem pembicaraan Dirga dan Mr Ken untuk dijadikan bukti agar bisa bercerai dengannya" batin Niana sambil mengetuk-ngetuk pelipis kepalanya dengan telujuknya
"Tunggu... kenapa aku tidak berpura-pura jatuh cinta padanya saja agar dia segera menghentikan sandiwaranya sendiri. Bagaimana kalau dia tahu aku sudah mencintainya lalu dia meminta macam-macam dengan tubuhku. Sepertinya pura-pura jatuh cinta padanya sama saja aku memberikan tubuhku ke kandang buaya. Ini ide buruk" pikir Niana lagi
"Bukankah dia akan merayakan ulang tahunnya bersama Tania sebelum Tania pergi ke Jerman. Aku harus diam-diam mengikutinya dan merekam mereka saat bermesraan sebagai bukti kalau Dirga tidak amnesia dan memang tidak pernah mencintaiku. Sebenarnya dia juga tidak mencintaiku, semua kata-kata manis yang diucapkannya hanya sandiwara untuk mempermainkanku karena dendam" batin Niana yang telah mendapatkan cara untuk segera bercerai dari Dirga
Tiba-tiba Dirga masuk kamar dan diikuti dua pelayan hotel yang membawa troli berisi banyak makanan. Pelayan hotel meletakan makanan itu di atas meja makan lalu meninggalkan kamar dan membawa trolinya. Aroma makanan yang tercium sangat enak itu membuat perut Niana keroncongan.
"Ayo kita makan" ucap Dirga berdiri di depan meja makan
"Aachh" seru Niana kesakitan saat mau melangkah
Otot kakinya Niana mungkin kram lagi karena dipaksa berdiri lama saat mandi tadi dan memakai air dingin sehingga ototnya kembali kaku. Melihat Niana seperti belum bisa berjalan, Dirga lalu menghampiri Niana dan menggendongnya ke meja makan.
"Kamu suka sekali bersikap manja denganku, menggemaskan sekali" ucap Dirga menempelkan hidung mancungnya ke hidung Niana saat menggendongnya
"Siapa yang ingin bermanja denganmu, kakiku benar-benar masih sakit" gerutu Niana
"Baiklah, mari makan dulu" ucap Dirga menurunkan Niana di kursi
"Kenapa banyak sekali makanannya. Apakah orang kaya sepertimu suka membuang-buang makanan"
"Siapa yang membuang-buang makanan. Yang setengah bagian ini milik Ken. Dia yang memesannya sendiri. Karena dia sedang pergi dan tidak ada di kamarnya.Aku meminta pelayan membawa ke kamar kita sekalian" ucap Dirga duduk di samping Niana
"Kenapa Ken makannya banyak sekali seperti kudanil? Apa aku boleh mencicipi semuanya sedikit" tanya Niana menjilat bibir dengan lidahnya seperti sudah tak sabar memaka apa saja yang ada di atas meja
"Ambilah, Ken juga tidak akan marah kalau cuma sedikit" ucap Dirga tersenyum saat melihat Niana mengambil satu-satu makanan milik Ken
"Apa yang kamu tertawakan" tanya Niana
"Kamu mengatai Ken seperti kudanil, apakah kamu anaknya kudanil?" tanya Dirga yang pandangan matanya ke arah piring Niana yang berisi berbagi makanan yang bertumpuk-tumpuk sampai menggunung tanpa dia sadari
"Siapa yang anaknya kudanil, aku hanya sangat lapar"
"Kamu yakin mampu mengabiskannya?"
"Iya, sudah jangan mengurusi makanannku" ujar Niana
"Baiklah kalau kamu tidak bisa menghabiskannya, aku akan menghukummu karena membuan-buang makanan"
"Lihat saja aku akan menghabiskannya" ucap Niana sambil melahap sate di tangannya
"Hemm, makanlah dengan baik kenapa selalu belepotan" ucap Dirga membersihkan sambal sate yang ada di pinggir sudut bibirnya dengan tisu
"Biar aku bersihkan sendiri" ucap Niana merebut tisu di tangan Dirga
"Sudah bersihkan?" tanya Niana
__ADS_1
"Belum yang sebelah sini" ucap Dirga menunjukkan jari di pipinya sendiri sambil memberikan arah yang tepat pada Niana
"Dimana? Apakah yang sini?" tanya Niana mengusap area pipinya
"Bukan, tapi yang sebelah sini" ucap Dirga membersihkan pipinya Niana yang sebenarnya sudah bersih lalu menciumnya
"Kamu membohongiku karena ingin menciumku kan"
"Sudah makanlah lagi, habiskan makanmu atau kamu ingin aku menciummu lagi" ucap Dirga tersenyum
"Baik jangan ganggu aku lagi" titah Niana kesal
"Oke, setelah makan minumlah obat ini agar kakimu cepat sembuh" ucap Dirga memberikan obat yang dibelinya tadi
"Terima kasih" jawab Niana singkat
"Kenapa hanya terima kasih, apakah kamu tidak ingin menciumku"
"Tidak mau"
"Kalau kamu tidak mau maka aku yang akan menciummu berkali-kali"
"Tidak"
"Jadi kamu benar-benar tidak mau menciumku" ucap Dirga yang semakin mendekat ke arah Niana lalu menghujani pipinya dengan ciuman
"Stop, baiklah aku akan menciummu"
"Terima kasih, sekarang makanlah, aku akan keluar sebentar" ucap Dirga sambil mengusap-usap ujung kepala Niana
"Kamu bersikap seperti ini karena ingin membuatku jatuh cinta padamu kan lalu meninggalkanku begitu saja. Aku tidak akan lemah dengan rayuan manismu"
Langit terlihat mendung lalu hujan deras datang menguyur kota Surabaya. Malam yang dingin semakin dingin karena AC di hotel terus menyala. Niana tampak memakai baju tebal sedang menerima panggilan telepon dari Aska. Sejak pagi Aska berkali-kali menghubunginya tetapi Niana belum sempat menjawab. Aska meminta maaf pada Niana karena dia tidak bisa membantunya. Tetapi berjanji akan membantu untuk membayar hutangnya pada Dirga.
"Kak Aska terima kasih mau membantuku mencicil hutang ke Dirga, maaf membuatmu khawatir" ucap Niana di ponselnya
"Nian-Nian kalau tuan sanjaya itu menyakitimu lagi katakan pada kakak"
"Siap kak Aska yang ganteng. Kak Aska kapan pulang ke Indonesia Nian-Nian kangen jalan-jalan sama kak Aska" ucap Niana dengan manja
"Kak Aska belum tau, besok kalau kakak pulang kita jalan-jalan, kita coba semua wahana sampai puas"
"Aku ingin berenang dengan wahana yang seru-seru buat ngilangin stres"
"Oke, besok kalau kakak pulang. Kita pergi ke kolam renang yang banyak wahananya"
"Kelamaan kakak, Niana sudah stres sekali hiks hiks" ucap Niana berakting menangis agar kakaknya cepat pulang
"Iya kakak usahain pulang secepatnya. Jaga dirimu baik-baik. Selamat istirahat"
__ADS_1
"Oke, selamat istirahat juga kak"
Tanpa Niana sadari Dirga dari tadi menguping pembicaraan mereka. Dia yang telah selesai mandi kembali merasa gerah, apalagi setelah mendengar Niana bersikap manja pada Aska. Derasnya hujan dan dinginnya AC tak mampu memadamkan api cemburu yang telah membakar hatinya.
"Hemmm, kamu habis telepon siapa?" tanya Dirga dengan wajah kesal
"Aku menghubungi Kakak ku"
"Kamu sangat manja sekali dengan kakak sambungmu"
"Lalu kenapa?"
"Bilang saja kalau kamu menyukainya"
"Apa maksudmu. Apa kamu cemburu dengan kakakku sendiri?"
"Tuan Tengil anda benar-benar pandai berakting. Berpura-pura cemburu saja juga anda lakukan untuk membuatku jatuh cinta" batin Niana
"Benarkah kamu menganggap pemilik Askara Company itu hanya sebagai kakakmu"
"Darimana kamu tahu pemilik Askara Company itu adalah kakak ku? Bukannya kamu amnesia?"
"Ken yang memberi tahu ku semua tentangmu"
"Dasar pembohong, kamu pikir aku tidak tahu kalau kamu pura-pura amnesia. Kalau saja aku tidak berhutang padamu, sudah ku ceraikan hari ini juga" batin Niana
"Benarkah" ucap Niana yang bangun dari sofa lalu menatap dekat ke mata Dirga seperti ingin menerawang pikiran Dirga
"Kenapa kamu mengalihkan pertanyaanku. Apakah kamu hanya menganggapnya sebagai kakak" tanya Dirga mendekatkan dirinya ke arah Niana hingga Niana berjalan mundur ke belakang dan jatuh ke sofa
"Kami memang kakak adik, kalau kamu tidak percaya terserah"
"Lalu kenapa kalian punya panggilan sayang segala. Bukankan dia memanggilmu Nian-Nian dan kamu memanggilnya kak Aska" ucap Dirga menyandarkan tanganya di sandaran sofa dan posisi Niana duduk di sofa di antara tangan Dirga
"Kalau kamu mau memanggilku Nian-Nian juga boleh kenapa mempermasalahkan hal yang tidak jelas"
"Aku Dirga Bustoni Sanjaya tidak akan pernah meniru orang lain" ucap Dirga lalu menggendong Niana menuju ranjang
"Turunkan aku, kamu mau apa?"
"Bukankah ini malam pertama kita, lalu kita mau apa?" ucap Dirga yang membaringkan Niana keranjang dan menindih tubuhnya
"Tapi aku....... "
"Sssttt.... Memangnya mau apa di malam yang dingin ini selain tidur" bisik Dirga ke telinga Niana lalu berguling ke samping dan memejamkan mata
"Apa kamu sudah tidur?"
"Pakailah selimutnya, udara sangat dingin" ucap Dirga membentangkan selimut untuk Niana
__ADS_1
Malam pertama yang seharusnya mereka lewati dengan memadu kasih dan menumpahkan seluruh hasrat kini terlewat sudah. Dirga pun tidak ingin memaksa Niana jika belum melihat cinta di matanya.Dia memandangi Niana yang mulai tertidur dengan rambut lurusnya yang tergerai indah. Kemudian mengecup keningnya, lalu hidung dan bibirnya. Niana melenguh lalu memeluk Dirga. Dada Dirga yang bidang dipakainya sebagai bantal. Dia terlihat sangat nyaman tertidur memeluk Dirga hingga pagi.