
Dirga yang mencari perhatian kini mulai merebahkan kepalanya di pangkuan Niana. Matanya terpejam dan tangan kananya memijat kedua sisi pelipisnya menggunakan ibu jari dan jari-jarinya yang lain. Sepertinya ada hal yang berat sedang dipikirkannya. Niana yang masih sibuk membalas chat dari Andrea, mulai melirik ke arah Dirga yang memijat kepalanya. Dia pun segera meletakan ponselnya di atas nakas. Lalu Niana membantu memijat kepala Dirga setelah melepaskan tangan Dirga yang tengah memijat kepalanya sendiri.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Niana sambil memijat kedua sisi pelipis Dirga
"Sebentar lagi aku akan ke Australi dan besok aku akan sibuk seharian di kantor untuk menyelesaikan pekerjaanku"
"Bukannya tiap hari kamu selalu sibuk dan pulang malam"
"Seharusnya sebelum ke Australi, aku habiskan waktu bersamamu dulu tapi pekerjaanku di kantor banyak"
"Kita bisa lain kali menghabiskan waktu berdua. Memangnya kamu mau mengajakku kemana?"
"Mau kemana saja yang penting bersamamu. Oh iya kita sudah menikah tapi kenapa kamu tidak pernah meminta ku kencan berdua"
"Aku kira bos besar sepertimu tidak suka kencan dengan pasangannya. Apalagi wajahmu tampan seperti ini, bisa-bisa kita tidak jadi kencan tapi malah jadi acara jumpa fans karena banyak orang yang akan memgerubungimu" ucap Niana sambil menangkupkan kedua tangannya ke pipi Dirga dan mengesek-gesekkannya dengan gemas hingga bibir Dirga mengerucut seperti mulut ikan yang kehabisan oksigen
"Lain kali aku akan mengajakmu kencan. Mungkin setelah pulang dari Australi"
"Baiklah aku akan menunggu janjimu Tuan Pinokio" ucap Niana menarik hidung mancung Dirga
"Hem jangan panggil Pinokio lagi" ucap Dirga mendesah kesal lalu memejamkan matanya
"Pinokio, pinokio, pinokio !" ucap Niana malah semakin mengejeknya dengan menjulurkan lidah ke arah Dirga
Dirga hanya pura-pura mendesah kesal dan tidak suka dipanggil pinokio padahal dalam hatinya bunga-bunga malah tumbuh bermekaran setiap kali Niana memanggilmya pinokio. Dia merasa Niana memiliki panggilan spesial untuknya. Lalu kedua tangannya meraih kepala Niana dan mencium bibirnya yang menggemaskan saat berulang kali menyebutnya Pinokio dengan menjulurkan lidah.
Karena merasa sangat gemas Dirga menyedot bibir Niana seperti vacum cleaner. Niana pun gelagapan seperti ikan dilempar ke daratan. Tangannya menepuk-nepuk pundak Dirga agar melepaskan ciumannya. Dirga pun melepaskan ciumannya setelah puas, hingga Niana megap-megap menarik nafasnya.
"Dasar bodoh, kenapa tidak bernafas. Bagaimana masih mau memanggilku Pinokio lagi" ucap Dirga
"Bagaimana aku bisa bernafas kalau kamu menciumku seperti vacum cleaner" batin Niana
"Tidak Dirga sayang, aku sudah kehabisan nafas" ucap Niana terenggah-enggah
"Baiklah ayo tidur" ucap Dirga memeluk Niana ke dalam dekapan dadanya dan mencium ujung kepalanya
Pagi telah datang dan langit tampak begitu cerah karena mentari mulai menunjukan jati dirinya. Sinarnumya menyebar ke seluruh penjuru bumi penuh hangat sesuai rotasinya. Terlihat kegelapan telah pergi meninggalkan pagi, dengan membawa bintang dan bulan. Terdengar burung-burung berkicau dengan sangat merdunya.
Deringan jam weker mungil di atas nakas begitu berisik memekak telinga. Dengan mata masih terpejam, Renata meraba keberadaan jam weker itu dan mematikannya lalu melemparnya entah kemana. Dia mulai membuka kelopak matanya dan bangun dari mimpi indahnya, walaupun masih ingin terus tertutup rapat.
"Uugghh..." bibirnya melenguh
Tubuhnya masih sangat kaku. Dia duduk di bibir kasur mencoba mengumpulkan nyawanya yang masih belum sadar sepenuhnya. Tetapi, ia mencoba untuk menapakan kakinya yang masih lemas sambil menyeretnya langkahnya menuju kamar mandi.
__ADS_1
"Pagi ini aku merasa sangat malas. Tapi aku harus semagat demi mendapatkan hatinya Kak Aska!" gumam Renata yang sedang menggosok gigi
Tiba-tiba dia teringat sesuatu hingga matanya terbelalak dan menghentikan tangannya yang bergerak menyikat gigi-gigi rapinya. Lalu memaksa tubuhnya yang masih malas harus bergerak secepat kilat saat mandi. Dia berlari panik seperti kebakaran jenggot dengan memakai bathrobe dan handuk kecil yang digelung di atas kepala. Kakinya yang tadinya melangkah dengan diseret sekarang berlari tunggang langgang menuju ke dapur.
"Gawat aku lupa belum meminta Rumi membuatkan sarapan yang harus ku bawa untuk Kak Aska" batin Renata
"Rumi...Rumi...!" teriak Renata memanggil Rumi walau langkahnya belum sampai di dapur
"Iya nona" sahut Rumi dari dapur
"Rumi tolong buatkan aku sarapan, yang cepat saja dan tidak ribet masaknya" ucap Renata terenggah-enggah
"Apa ya?" ucap Rumi dengan menempelkan ujung telunjuknya di kepala
"Cepetnya mikirnya jangan lama-lama" titah Renata
"Nona, saya buatkan sandwich saja ya"
"Oke, buatkan aku sandwich dan jus stroberry masukin kotak bekal seperti kemarin" ucap Renata yang langsung berlari lagi menuju kamarnya
Dia berlari lagi dengan paniknya menuju kamar untuk segera ganti baju. Harusnya saat ini dia sudah berangkat menuju ke rumah Aska. Tetapi dia masih bersolek di depan meja riasnya walau jari-jarinya secepat kilat memake up wajahnya tetapi wajahnya yang seperti barbie tetap terlihat cantik memesona.
"Memang aku sudah cantik dari lahir, Kak Aska muach" ucap Renata memanyunkan bibirnya sambil mengerlingkan satu matanya dengan centil di depan cermin
"Terima kasih Rumi" ucapnya sambil meraih kotak bekal yang diberikan Rumi
"Nona mau kemana?" tanya Bi Mar
"Maaf Bi aku buru-buru, dah semuanya aku pergi dulu" ucap Renata langsung pergi menuju garasi mobil
Saat Renata masuk ke dalam mobil, dia melihat Paman Yan seperti sedang menerima panggilan telepon dari seseorang di teras samping rumah yang sepi. Paman Yan terlihat mengedarkan matanya ke segala arah sepertinya dia tidak ingin ada yang mendengar pembicaraanya dengan orang yang sedang meneleponnya. Dia pun berjalan menuju pilar rumah yang berdiri kokok, tinggi dan besar seoalah mampu menjadi tempat persembunyian yang aman.
"Kenapa Paman Yan aneh sekali akhir-akhir ini, mau terima telepon saja pakai bersembunyi segala" ucapnya sambil memasang seat belt lalu bergegas menjalankan kemudi mobil
Akhirnya dia sampai di rumah Aska pukul 7 lewat 30 menit. Dia langsung menuju pintu rumah, saat dia memencet bel pintu. Aska langsung membuka pintu dan sudah bersiap ke kantor dan sudah barpakaian rapi dengan membawa tasnya.
"Kakak tampan cepat sekali bukain pintunya, padahal Rena baru saja mencet bel pintunya he he he" ucapnya terkekeh
"Kamu tidak perlu mengerjakan tugas rumah hari ini, sekarang ikutlah denganku" ucap Aska mengunci pintu rumahnya lalau bergegas menuju garasi mobil
"Tapi kak, kita mau kemana? Apa kakak sudah sarapan?" ucap Renata yang masih berdiri di depan pintu
"Cepat masuk mobil, aku sudah tak punya waktu, nanti aku jelaskan" seru Aska
__ADS_1
"Baik kak" seru Renata yang segera menghampiri Aska
"Kakak mau mengajak ku kemana?" tanya Renata yang penasaran melihat Aska seperti terburu-buru
"Buka leptop di dalam tas dan buatkan file untuk presentasi ku hari ini. Materinya sudah ada di dalam leptop. Cepatlah"
"Jadi kakak mau presentasi tetapi belum buat filenya, harusnya kakak persiapkan kemarin biar tidak dadakan seperti ini. Tidak profesional sekali" gumam Renata sambil membuka tas yang berisi leptop
"Tidak profesional? Semua gara-gara kamu" ucap Aska melirik tajam ke arah Renata
"Gara-gara aku? Kenapa aku yang disalahkan?" ucap Renata terbengong menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya
"Sebenarnya semua sudah siap tetapi gara-gara kamu terlambat datang, saat aku mengeceknya pagi ini aku malah tak sengaja mendeletnya" ucap Aska sambil mengemudikan mobil
"Kalau tidak profesional mengaku saja kenapa menyalahkanku" gerutu Renata
"Cepatlah buat filenya, aku tidak punya waktu untuk berdebat denganmu" ucap Aska
"Oke, oke. Apa kakak sudah sarapan? Aku sudah membawakan sandwich untukmu" ucap Renata membuka kotak bekalnya
"Kamu pikir aku bisa sarapan disaat seperti ini" ucap Aska fokus dengan kemudinya
"Tidak profesional dan tidak pandai merawat diri" gumam Renata
"Apa ka..." ucapan Aska terhenti saat Renata mulai menyuapinya dengan potongan sandwich ke dalam mulutnya dan terlihat Aska mengunyahnya dengan kesal
"Bagaimana enak kan, disuapi dari wanita cantik seperti ku" ucap Renata sambil membuat file presentasi
"Kerjakan tugasmu secepatnya" titah Aska
"Ini juga sambil aku kerjakan, presentasi itu juga butuh tenaga, buka mulutmu aaa!" ucap Renata mau menyuapi Aska lagi
"Aku tidak lapar" tolak Aska dan tiba-tiba perutnya berbunyi riuh seperti menjerit protes seakan tidak mau diajak kerja sama dengan si empunya
"Masih mau bilang tidak lapar? Buka mulutmu" titah Renata mendekatkan tangannya ke arah mulut Aska
Aska pun malu-malu tetapi mau juga membuka mulutnya karena dia memang merasa lapar dan belum sempat sarapan. Dia menyambar sandwich dari tangan Renata, lalu memalingkan wajahnya sambil mengunyah dengan gengsi.
"Hah, dia lucu sekali, pakai acara gengsi segala tapi tetap ditelan juga" batin Renata terkekeh dalam hati
"Lagi" ucap Aska sambil melirik sandwich yang dipegang Renata
Tanpa diminta membuka mulut, Aska pun sudah mangap-mangap membuka mulutnya sendiri seperti anak burung minta disuapi oleh induknya.
__ADS_1
"Lapar bilang bilang bos" ucap Renata sambil terkekek melihat Aska