
Aska menatap tajam ke arah Renata, dia berharap Renata akan mengatakan kalau dia pacarnya agar Toni tidak mendekatinya lagi. Renata yang bingung harus berkata apa hanya menundukan muka sambil meremas rok mininya.
"Renata apakah dia benar pacarmu?" tanya Toni sekali lagi
"Dia bukan pacarku" ucap Renata ragu dan Aska langsung mengepalkan tangannya sambil menata Renata dengan mata elangnya
"Maksudnya aku belum menjawab mau menerima jadi pacarnya atau tidak. Aku masih butuh waktu untuk berpikir" imbuh Renata
"Jadi kamu belum jadi pacarnya bro, sekarang lepaskan tangannya" titah Toni
"Ck, mamanya sudah menitipkan dia padaku jadi lebih baik anda jangan ikut campur" titah Aska
"Mamanya Renata yang galak itu, yang menjewer telingaku saat di tokonya Niana. Kalau mamanya sudah berkata seperti itu sebaiknya aku tidak ikut campur daripada nanti aku terlihat semakin buruk di depan mamanya" batin Toni
"Baiklah kalau mamanya sudah berkata seperti itu. Renata maaf aku tidak bisa membantumu saat ini. Lain kali kita bisa mengobrol lagi" ucap Toni dan langsung pergi meninggalkan mereka
"Lepaskan tanganku kak, baiklah aku akan pulang sekarang" ucap Renata memelas
"Baiklah" ucap Aska melepaskan tangan Renata
"Ingat aku bukan pacar kakak, jangan bicara sembarangan lagi" ucap Renata melirik kesal ke arah Aska sambil mengusap-usap pergelangan tangannya yang sedari tadi digenggam Aska dengan erat. Lalu Renata menatap Aska sambil mendengus kesal melangkah mendahului Aska.
"Berhenti di tempat!" titah Aska pada Renata yang berada 4 langkah darinya
"Mau apa lagi sih?" batin Renata memutar malas bola matanya
Aska langsung melangkah mendekati Renata dan berdiri tepat di belakangnya. Dia mengikatkan jaketnya untuk menutupi paha Renata karena rok yang dipakainya mini sekali. Paha Renata yang tampak putih mulus membuat Aska berkali-kali menelan salivanya. Dia tidak ingin ada laki-laki lain yang melihatnya. Aska mengikatkan jaket itu dari belakang dan berbisik di telinga Renata. "Pahamu terlihat menggoda, bagaimana kalau aku tidak bisa menngendalikan diriku?" ucap Aska lirih hingga membuat Renata bergidik ngeri.
Renata terlihat menelan salivanya dan jantungnya berdegub kencang. Dia pun langsung berlari meninggalkan Aska untuk bergabung lagi dengan teman-temannya. Aska pun mengikutinya dari belakang dan selalu mengawasinya. Ternyata Toni masih ada di cafe, dia duduk dan bergabung dengan teman-temannya di mejanya sendiri. Mejanya berada di sebelah kanan meja Renata dimana dia dan teman-temannya berkumpul.
"Teman-teman, aku pulang duluan. Lain kali kita kumpul bareng lagi" ucap Renata pada teman-temannya dan Aska berdiri di sampingnya sambil bersedekap dada menatap tajam ke arah Toni yang menatap ke arahnya seperti memberi isyarat untuk bersaing mendapatkan Renata.
"Kamu datangnya sudah telat, sekarang mau pulang duluan. Kenapa sih memangnya" tanya salah satu teman Renata
"Rena dia siapa lagi? Tampan sekali" seru beberapa teman yang berada di samping Renata. Hingga membuat Toni yang duduk di sebelah kanan meja Renata melirik ke arah mereka seolah ingin mendengar pembicaraan Renata dengan teman-temannya
"Rena dia pacarmu ya? Kenapa tidak dikenalin ke kita?" tanya salah satu temannya
"Dia telah memiliki wanita spesial di hatinya. Bagaimana mungkin aku pacaran sama dia" ucap Renata pada teman-temannya sambil melirik ke arah Aska
__ADS_1
"Wanita spesial? Siapa yang dimaksud Renata? Apakah Niana?" batin Aska
"Wanita spesial itu adalah Renata. Ayo pulang sekarang" tutur Aska pada teman-teman Renata sambil menggenggam tangan Renata dihadapan mereka.
"Cie cie Renata punya pacar tidak bilang-bilang" seru teman Renata
"Bicara sembarangan lagi, jelas-jelas wanita spesial itu Kak Niana" batin Renata melirik ke arah Aska dengan kesal
"Teman-teman aku pulang, daah..." ucap Renata melambaikan tangan pada teman-temannya sambil mengikuti langkah Aska yang menggandengnya
"Daaah..." seru teman-temannya dengan melambaikan tangan juga
Renata dan Aska akhirnya keluar dari cafe itu. Saat Renata telah sampai di tempat parkir, mobilnya tidak terlihat. Entah kemana pengawalnya pergi dengan mobilnya.
"Dimana mobilku dan pak pengawal?" batin Renata kebingungan
"Lepaskan tangan Rena kak. Kakak mau bawa aku kemana? Kenapa mobilku tidak ada" tanya Renata
"Jangan banyak tanya, ayo masuk mobil" ucap Aska saat sampai di depan mobilnya laku membukakan pintu untuk Renata
"Tidak mau, Rena harus pulang dengan Pak pengawal" tolak Renata sambil bersedekap dada
"Baiklah, lebih baik aku naik taksi saja" ucap Renata pergi meninggalkan Aska
"Jadi kamu mau mencoba menghindar lagi" batin Aska mendengus kesal
Aska langsung mengejar Renata dan dengan cepat menggendongnya. Dia membawa Renata menuju mobilnya. Renata terlihat memberontak dan berteriak ingin turun dari gendongan Aska. Tetapi Aska tidak mempedulikan teriakan Renata
"Turunkan Rena kak" seru Renata
"Diamlah dan duduklah yang manis" titah Aska mendudukkan Renata di kursi mobil lalu menarik seat belt untuknya
Posisi wajah Aska yang sangat dekat dengan wajah Renata membuat jantung Renata berdebar-debar. "Bagaimana bisa ada orang setampan ini?" batin Renata saat melihat wajah Aska dari samping saat memakaikan seat belt padanya. "Kita mau kemana?" tanya Renata lirih sambil menelan salivanya. Aska pun langsung menoleh ke arahnya hingga hidung mancung mereka saling bertemu. Mereka diam terpaku saling menatap dan saling mengangumi. Jantung Aska pun langsung terpompa dengan cepat.
"Priitttt priitttt" terdengar suara peluit yang ditiup tukang parkir yang sedang membantu memarkirkan sebuah mobil di samping mobil Aska hingga membuat Aska terjengit kaget dan langsung berdiri hendak keluar dari mobil sampai kepalanya terbentur atap mobil dengan cukup keras.
"Aachh... " pekik Aska mengusap-usap kepalanya dan Renata pun mengulum senyumnya saat melihat kepala Aska terbentur atap mobil
"Apa ada yang lucu?" tanya Aska kesal saat memasang seat beltnya sendiri
__ADS_1
"Tidak ada" jawab Renata pada Aska yang mulai mengemudikan mobilnya. Renata masih tersenyum sambil
memalingkan wajahnya ke arah kaca mobil.
Saat ini waktu menunjukan pukul 6 sore di negara Australia. Dirga terlihat sudah pulang dari kantornya yang berada di kota Sydney. Kini dia berada di apartemennya sedang melepas bajunya hendak mau mandi. Niana yang berada di Jakarta akan memulai makan siangnya. Perbedaan waktu antara Sydney dan Jakarta kira-kira 4jam. Sehingga Niana makan siang saat Dirga sudah pulang dari kantornya agar tidak mengganggunya saat bekerja. Dia pun menghubungi Dirga melalui ponselnya.
"Hai Nianku sayang, kamu sedang apa?" tanya Dirga melalui vidio call
"Sayang aku mau makan siang, kamu kenapa tidak pakai baju?" tanya Niana
"Aku habis pulang kerja dan mau mandi. Tapi karena kamu mau makan, aku akan menemanimu dulu agar si kecil tidak membuat mommynya muntah-muntah" ucap Dirga
"Terima kasih sayangku. Apa kamu sudah makan malam?" ucap Niana sambil meletakan ponselnya di atas meja makan agar bisa tetap memandangi wajah Dirga
"Nanti saja, aku mau memastikan istri dan anakku sudah makan dan tidak kelaparan" ucap Dirga
"Sayang kamu pulang kapan jadinya?" tanya Niana yang terlihat makan dengan lahapnya
"Hemm aku baru sehari disini, kamu sudah tanya kapan pulang"
"Si kecil sudah rindu sama daddynya, katanya mommy aku mau peluk daddy...maupeluk daddy.. " ucap Niana
"Sepertinya mommynya si kecil sudah rindu berat sama daddynya" ucap Dirga mengulum senyumnya
"Si kecil bukan mommynya, kenapa tersenyum seperti itu" ucap Niana yang pipinya menggembung saat makanan memenuhi mulutnya
"Bagaimana aku tidak tersenyum, kamu makan seperti ikan buntal lucu sekali?" ucap Dirga mengejek
"Hemm" Niana pun langsung memasukan makanan sesendok penuh ke dalam mulutnya dengan kesal dan pipinya malah semakin kelihatan menggembung lagi
"Hahaha si kecil pasti lebih lucu dan menggemaskan, mungkin sama buntalnya seperti kamu" ucap Dirga tertawa
"Yang penting tidak seperti pinokio, wek" ucap Niana menjulurkan lidahnya sambil memutar bola matanya ke atas
"Ha ha ha kenapa kamu lucu sekali sih" ucap Dirga semakin tertawa melihat sikap Niana
"Aku sudah selesai makan, segeralah mandi dan makan. Dah sayang, muach" ucap Niana
"Baiklah, muach muach muach... Sepertinya nanti malam aku mau telepon lagi karena aku jadi rindu sekali sama kamu" ucap Dirga menciumi layar ponselnya berkali-kali
__ADS_1
"Oke" ucap Niana mengakhiri panggilannya