Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan

Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan
Episode 108 Cemburu


__ADS_3

Getaran dalam dada dan badan yang panas dingin saat di rangkul Aska membuat Renata ingin segera menghindar darinya. Dia terlihat berjalan tergesa dengan rok span pendek selutut yang menyulitkannya untuk melangkah. Renata pun tidak bisa berjalan dengan lebih cepat. Sehingga Aska yang berjalan santai di belakangnya bisa mengejarnya karena kakinya yang panjang tentu saja langkahnya juga lebih mudah menyusul Renata. Sedangkan Sekretarisnya disuruh Aska kembali ke kantor lebih dulu.


"Mau kemana kamu?" tanya Aska sambil meraih tangan Renata


"Rena mau pulang kakak" ucapnya


"Aku akan mengantarmu" ucap Aska yang masih memegang tangan Renata


"Tapi Rena bawa mobil sendiri dan sudah diantar pengawal Rena" ucap Renata melepaskan pegangan tangan Aska dan langsung menuju bassement


Aska pun berjalan di belakangnya menuju bassement juga untuk mengambil mobilnya. Dia berjalan di belakang Renata sambil tersenyum-senyum. Renata pun sesekali menoleh ke belakang karena merasa Aska biasanya tidak sesantai ini saat dia menolaknya. Aska tersenyum karena saat memarkirkan mobilnya dia melihat pengawalnya Renata yang mengecek ban mobilnya yang bocor sehingga dia yakin Renata akan ikut pulang bersamanya.


"Kenapa dia tersenyum-senyum, aneh sekali" batin Renata


Renata akhirnya sampai di tempat mobilnya diparkirkan. Terlihat pengawalnya menggaruk-garuk kepalanya yang botak sambil memandangi mobil Renata. Renata pun segera menghampiri pengawalnya.


"Pak Pengawal, ayo kita pulang. Buka pintu mobilnya" seru Renata


"Maaf nona, ban mobilnya bocor depan dan belakang. Sepertinya kena paku dua-duanya. Saya baru mengganti ban depan saja dengan ban cadangan yang ada di bagasi. Tapi ban belakang belum diganti karena ban cadangannya cuma ada satu" ucap pengawalnya


"Apa? Jadi kita pulang kapan?" seru Renata


"Hemm, tawaranku masih berlaku kalau kamu mau aku antar" seru Aska yang berdiri di belakang Renata


"Tidak perlu, aku bisa naik taksi" ucap Renata bersedekap dada sambil melirik ke arah Aska


"Nona di luar hujan deras, nona bisa kehujanan kalau menunggu taksi di luar. Di dalam mobil juga tidak ada payung. Lebih baik nona ikut mobil Tuan Aska. Bukankah waktu di cafe nona juga diantar olehnya. Jadi keamanan nona lebih terjamin. Daripada nona menunggu taksi di tengah hujan deras" ucap pengawalnya


"Pak Pengawal kenapa anda cerewet sekali sih hari ini" ucap Renata kesal dan Aska pun hanya tersenyum


"Mobil ku ada di sana, aku hitung sampai 10 kalau kamu tidak mau, tawaranku tidak akan berlaku lagi" ucap Aska melangkah melewati Renata


"1...2...3...4...5...6.. 7..." ucap Aska sambil berhitung dan melangkah menuju mobilnya


"Sial sekali hari ini. Aku terpaksa harus ikut dengannya daripada berduaan dengan pengawal botak ini" batin Renata


"Kak Aska... " seru Renata lalu Aska pun menghentikan langkah dan hitungannya


"8...9..." ucap Aska melanjutkan hitungannya lagi karena Renata tidak mengatakan dengan jelas maksudnya


"Baiklah aku ikut mobil kakak" seru Renata dan Aska pun tersenyum tipis


"Ayo masuk" ucap Aska membukakan pintu mobil untuk Renata


Mobil Aska mulai melaju meninggalkan bassement. Saat itu hujan turun deras sekali dan cuaca pun terasa dingin sehingga Aska merasa lapar. Setelah menemukan resto yang tempat parkirnya aman dari guyuran air hujan, Aska menghentikan mobilnya.

__ADS_1


"Ayo kita makan dulu, kamu belum makan siang kan" ucap Aska sambil melepas seat beltnya


"Kita sebaiknya segera pulang saja kak" ucap Renata yang masih diam di tempat duduknya


"Kalau kamu tidak mau turun aku akan menggendongmu" ucap Aska sambil melepaskan seat belt Renata lalu menoleh ke wajah Renata dan terdiam menatapnya dengan senyum tipis menghiasi wajah tampannya


Tatapan Aska membuat Renata bingung harus bersikap apa. Renata terlihat mengerjapkan mata dan berusaha membuang pandangan matanya dari tatapan Aska sambil melipat bibirnya karena dia takut Aska akan menciumnya.


"Kalau kamu seperti ini terlihat manis. Kenapa sifat agresif dan over percaya dirimu bisa hilang? Tapi itu lebih baik karena kamu jadi kalem dan tidak cerewet" batin Aska


"Ayo turun" ucap Aska lirih sambil terseyum tipis saat melihat wajah Renata yang memerah


Mereka pun akhirnya masuk ke restoran. Di sebuah sofa panjang mereka duduk berhadapan. Aska terlihat membolak balik buku menu memilih makanan. Renata hanya duduk terdiam karena sebenarnya dia tidak ingin semakin lama bersama Aska.


"Kamu mau makan apa?" ucap Aska sambil membaca buku menu dan melirik ke arah Renata yang hanya terdiam saja


"Terserah Kak Aska" ucap Renata


"Baiklah, saya mau pesan ini, lalu ini, ini, ini kemudian ini dan ini" ucap Aska pada pelayan resto sambil menujuk ke arah buku menu yang dipegangnya


"Kak Aska pesan apa? Kenapa banyak sekali. Siapa yang akan menghabiskannya" tanya Renata


"Bukankah katamu terserah aku. Jadi kitalah yang akan menghabiskannya" ucap Aska


"Tapi aku tidak bisa menghabiskan makanan sebanyak itu" protes Renata mendengus kesal


"Apakah kamu tidak ingat saat kamu makan martabak setengah porsi dan di rumah kata Niana kamu masih makan nasi juga" ucap Aska tersenyum tipis


"Itu tidak sepenuhnya benar. Menyebalkan sekali" ucap Renata kesal sambil bersedekap dada


Beberapa saat kemudian makanan pun datang. Dan benar saja makanan yang dipesan Aska banyak sekali. Melihat makanan itu disajikan di atas meja membuat Renata menurunkan rahangnya kebawah sehingga mulutnya terngaga dengan mata terbelalak.


"Kakak siapa yang akan menghabiskan ini semua?" ucap Renata menelan salivanya


"Tentu saja kita, memang siapa lagi. Ayo makanlah tidak perlu malu-malu bukankah kamu selalu malu-maluin" jawab Aska


"Menyebalkan" batin Renata sambil meminum jus dengan sedotan dan memutar bola matanya ke arah lain


Tiba-tiba Renata melihat seseorang yang berjalan ke arahnya. "Kak Toni" ucapnya lirih. Renata pun langsung berdiri saat Toni sampai di meja tempatnya makan.


"Kak Toni" seru Renata


"Renata, sedang apa?" ucap Toni tanpa menyadari Aska yang duduk di belakangnya


"Kak Toni, ayo makan bersama kita" ucap Renata melirik ke arah Aska sambil menarik tangan Toni untuk duduk di sampingnya

__ADS_1


"Renata kamu benar-benar membuatku kesal" batin Aska menghembuskan nafas dengan kasar saat melihat Renata memegang tangan Toni


"Hai bro, bolehkah aku bergabung dengan kalian?" ucap Toni pada Aska tapi Aska mengabaikannya


"Sudah, jangan pedulikan dia. Dia memang menyebalkan seperti itu. Silahkan makan kak, kakak boleh makan yang mana saja" ucap Renata penuh senyuman sambil melirik ke arah Aska


"Memangnya ini acara apa?" tanya Toni


"Aku diterima di Alexander Corp dan hari ini aku sudah menyerahkan kontrak kerjaku jadi aku ingin merayakannnya" ucap Renata


"Selamat Rena, sepertinya kita akan sering bertemu" ucap Toni


"Memangnya kakak kerja di sana juga" tanya Renata


"Tentu saja, itu perusahaan kakak iparku jadi aku harus membantu perusahaannya" ucap Toni


"Ck, kamu pikir bisa bertemu Renata setiap hari. Sepertinya itu semua hanya mimpi" ucap Aska sambil mengunyah makananya dengan malas


"Wah bagus kalau begitu, semoga kita bisa jadi partner kerja yang baik" ucap Renata mengambilkan makanan ke piring Toni dan menyunggingkan senyum manis pada Toni yang duduk di sampingnya


"Seharusnya Renata bersikap manis padaku bukan pada laki-laki yang baru dia kenal 2 hari ini. Setelah membaca diaryku kenapa sikapnya malah berubah. Dia tahu kan kalau aku menyukainya" batin Aska memotong-motong steak di piringnya dengan kesal


Saat ini Dirga sedang berkemas karena besok pagi dia akan segera pulang ke Jakarta. Masalah perusahaan yang ada d Australi sudah selesai dalam waktu 3 hari. Dia mengemasi baju-bajunya sambil melakukan panggilan vidio dengan Niana yang sedang makan siang di toko.


"Sayang, bagaimana kalau aku menjemputmu di bandara besok pagi?" tanya Niana


"Tidak perlu sayang, Ken sudah menyiapkan mobil untuk menjemputku. Dia aku suruh pulang duluan karena ada masalah di Sanjaya Group yang harus segera diselesaikan. Mungkin sekarang dia sedang memimpin rapat di kantor" ucap Dirga


"Jadi Mr Ken sudah pulang duluan? Berarti kamu akan pulang sendiri?" tanya Niana khawatir


"Kamu jangan khawatir, Ken sudah menyiapkan pengawal untuk menjemputku" ucap Dirga


"Baiklah, jangan lupa kalau kamu sudah sampai bandara hubungi aku" titah Niana


"Oke Nyonya Dirga" ucap Dirga tersenyum


"Aku mencintaimu, Dirga sayang. Muaach" ucap Niana


"Aku juga sangat mencintaimu, muuacchh. Apakah makan siangmu sudah selesai?" tanya Dirga


"Sudah sayang, si kecil juga sudah kenyang" ucap Niana mengusap perutnya


"Baguslah, kalau begitu aku mau lanjut mengemas baju" ucap Dirga


"Oke, bye bye sampai jumpa besok" ucap Niana menutup panggilannya

__ADS_1


__ADS_2