Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan

Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan
Episode 33 Terkuak semua yang dilakukan untuk menghindari Dirga


__ADS_3

Hari-hari berikutnya Niana masih melewati tangga darurat saat berangkat dan pulang kantor. Sampai akhirnya ketika Dirga menemui kepala devisi di lantai 8, tanpa sengaja melihat sikap Fatir yang aneh saat mengecek lift lantai 8 kosong dia segera berlari ke pintu masuk ruang tangga dimana Niana sedang duduk menunggu info dari Fatir kalau lift sudah kosong.


"Niana, liftnya sudah kosong. Kamu bisa naik lift sekarang. Pak Dirga mungkin sudah di ruangannya"


"Terima kasih brother Fatir" ucap Niana yang mulai memakai high heelsnya lagi


"Sampai kapan kamu naik turun tangga terus" tanya Fatir


"Entahlah, yang penting aku bisa menjauhi Pak Dirga. Aku pergi dulu, sekali lagi terima kasih, daahh" ucap Niana yang selesai memakai high heelnya


Saat Niana masuk lift Dirga bersembuyi di samping dinding ruang lift. Akhirnya Dirga tahu selama ini Niana berusaha menjauhinya dengan naik turun tangga darurat saat berangkat dan pulang kantor.


Saat Dirga sudah berada di ruangannya, dia membuka seluruh gorden yang menutupi dinding kaca di ruangannya dengan remot dan membuka kaca yang tembus pandang ke arah luar tetapi kondisi di dalam ruangannya tidak terlihat jika berada diluar. Sehingga Dirga bisa melihat langsung kenapa Niana tidak pernah mengangkat telefon kantor dan tidak pernah terlihat di meja kerjanya. Terkuak sudah semua cara yang dilakukan Niana untuk menjauhi Dirga, dari yang selalu naik turun tangga saat berangkat dan pulang kantor sampai alasan tidak pernah menangkat panggilan telepon darinya.


"Halo" ucap Dirga


"Halo, maaf pak, Niana sedang pergi. Apa ada yang bisa saya bantu?" jawab Riska yang disampingnya ada Niana ikut menguping sambil membawa secarik kertas dan pulpen


"Kali ini dia mau beralasan apalagi" batin Dirga sambil memandang ke arah Niana dan Riska melalui dinding kaca ruangannya yang tembus pandang


"Dia pergi kemana, saat masih jam kerja" ucap Dirga


Riska pun menjawab sesuai apa yang sudah ditulis Niana di kertas.


"Dia pergi ke toilet karena sakit perut, Pak" jawab Riska ikut berbohong pada Dirga entah sudah ke berapa kalinya


"Baik, suruh Niana ke sini nanti"


Niana terlihat memohon pada Riska untuk mengatakan pada Dirga kalau Niana tidak bisa menemuinya dengan menuliskan alasannya di sebuah kertas lagi.


"Tapi pak dia benar-benar sakit perut, dia sudah 5 kali ke toilet dari pagi tadi. Kalau Pak Dirga butuh sesuatu biar saya yang ke ruang bapak" jawab Riska yang sudah membaca tulisan di kertas yang dipegang Niana.


Niana pun lalu kembali berdiri disamping Riska ikut menguping lagi

__ADS_1


"Kalau kamu tidak menyuruhnya ke sini, gajimu saya potong 20%. Bos mu dia atau saya?" ucap Dirga dengan nada marah


"Baik pak saya akan menyuruh Niana segera ke ruangan Pak Dirga" jawab Riska dengan cepat tanpa menunggu Niana menuliskan alasan lagi di kertas


Riska terpaksa tidak bisa membantu Niana lagi karena gajinya akan dipotong. Niana pun juga tidak bisa memaksa Riska, dia terpaksa menyanggupi perintah Dirga untuk menemuinya. Akhirnya Riska dan Niana mengakhiri main telepon-teleponannya dengan Dirga.


Tok tok tok... Terlihat Niana mengetuk pintu ruangan Dirga. Mr Ken yang sedang duduk di sofa segera menutup kaca tembus pandang itu sehingga kaca itu terlihat berwarna hitam seperti dilihat dari arah luar.


"Masuk" ucap Dirga


"Permisi Pak, apa ada yang bisa saya bantu?" ucap Niana menundukan wajahnya


"Duduk" ucap Dirga


Niana pun segera duduk di depan Dirga yang sedang duduk di kursi presedirnya sambil memainkan ikat rambut milik Niana. Ikat rambut itu di masukan ke jari telujuknya lalu menggerakan jari telujuknya memutar-mutar. Seperti anak kecil yang tengah mendapat main baru, ikat rambut itu selalu dibawanya kemana-mana.


"Ternyata dia tidak membuang ikat rambutku tapi malah dipakai untuk mainan" batin Niana


"Jadi apa yang bisa saya bantu, pak?" tanya Niana lagi


"Baik pak, saya akan mengetiknya di meja kerja saya. Permisi"


"Saya bilang ketik di ruang ini" seru Dirga


"Baik pak" ucap Niana membawa leptop Dirga dan kertas laporan ke sofa, lalu duduk di depan Mr Ken dan mulai mengetik


"Kenapa duduk di sofa, ketiklah di meja in"


"Saya lebih nyaman duduk di sofa pak, yang penting di ruangan ini kan" ucap Niana


"Kenapa hatiku sakit melihat sikapmu seperti ingin menghindariku" batin Dirga


Dirga lalu menghampiri Niana yang duduk di sandaran tangan sofa di sampingnya. Niana hanya fokus pada leptop dan laporan yang dia ketik. Seperti menganggap tidak ada siapapun di sampingnya.

__ADS_1


"Mr Ken bisakah kamu membantuku membacakan angka-angka ini. Ini terlalu banyak dan rumit untuk diketik. Saya takut salah ketik"


"Hemmm" seru Dirga


"Maaf nona saya juga sedang sibuk" ucap Mr Ken pura-pura sibuk


"Sebentar saja Mr Ken please ya ya ya... " rengek Niana seperti anak kecil


"Hemmm" seru Dirga lagi tak dihiraukan Niana


"Kenapa dengan Ken dia bisa seakrab itu, bahkan merengek manja. Kenapa tidak memintaku seperti itu juga" batin Dirga


"Apakah Tuan Dirga bisa membantu Niana" ucap Mr Ken pada Dirga yang seolah tau keinginan tuannya


"Baiklah saya berbaik hati membacakannya untuk anda" ucap Dirga pada Niana


"Maaf pak tidak usah, saya baca sendiri saja" tolak Niana


Dirgapun langsung berjalan menghampiri Niana dan duduk di samping. Dirga mengambil kertas yang ada ditangan Niana. Walau Niana sudah menolak bantuannya untuk membacakan laporan itu, tetapi Dirga tetap ingin membacakannya.


"Maaf pak kembalikan kertasnya" ucap Niana yang bangun dari duduknya


"Saya akan membacakannya untukmu, harusnya kamu berterima kasih" ucap Dirga


"Lebih baik Pak Dirga bekerja di meja kerja Pak Dirga sendiri, dan tolong kembalikan kertas itu"


"Tidak akan" ucap Dirga sambil membaca sekilas apa yang ada di kertas


"Saya mohon kembalikan kertasnya biar pekerjaan saya cepat selesai"


"Biar cepat selesai saya bacakan. Kalau anda menolak, ambil saja kertas ini kalau bisa" ucap Dirga ingin mengerjai Niana


Dirga mulai meninggikan kertas yang ada di tangan kananya karena Niana mulai berjalan menghampirinya. Kertas itu Dirga pindahkan dari tangan kanan ke tangan kiri hingga Niana sulit merebutnya karena postur tubuhnya kalah tinggi. Sampai Niana berjinjit-jinjit berpegangan pada tangan kiri Dirga, Niana hampir bisa merebut kertas itu. Dirga berjalan semakin mundur dan mentok di meja kerjanya. Lalu dia memindahkan kertas itu ke belakang punggungnya. Niana segera memindahkan tangannya ke belakang punggung Dirga juga. Posisi Dirga terdorong Niana sedikit miring ke meja. Tangan kiri Dirga lalu merangkul pinggang Niana agar mereka tidak jatuh tersungkur ke meja. Merekapun saling berpandangan, ada debaran-debaran nakal yang mengusik kedamaian jantung mereka.

__ADS_1


"Sampai kapan kalian main rebut-rebutan kertas seperti anak kecil hemmm" batin Mr Ken menggeleng-gelengkan kepalanya


__ADS_2