
Malam semakin larut, waktu menunjukan pukul 9 malam. Namun, Niana belum bisa memejamkan matanya. Niana terlihat sedang mengobrolan dengan Andrea melalui ponsel. Mereka membicarakan tentang laporan toko hari ini. Dia juga sedikit bercerita tentang adik iparnya yang menyukai Aska. Andrean pun menjadi menarik diri karena saingannya terlalu tinggi. Dia harus bersaing dengan puteri Sanjaya Group, perusahaan besar yang usahanya merabah ke seluruh Indonesia dan memilik beberapa cabang di luar negeri. Sedangkan Andrea hanyalah puteri yang entah siapa orang tuanya tidak pernah dia ketahui, karena sejak kecil dia dibuang ke panti tanpa identitas yang jelas.
"Aku ini hanya remahan sisa biskuit yang tidak mungkin dilirik oleh Kak Aska. Ya sudahlah aku lebih baik mundur. Kak Aska sepertinya hanya menganggapku adiknya dari dulu" ucap Andrea
"Jadi kamu menyerah sebelum berperang?" tanya Niana
"Gimana tidak menyerah kalau sainganya puteri Sanjaya Group. Aku juga tidak mau memikirkan masalah cinta yang membuat stres. Pekerjan yang kamu berikan saja sudah cukup membuatku sibuk dan tidak sempat memikiran masalah cinta" gerutu Andrean
"Baiklah besok aku naikan gajimu"
"Jangan lupa kasih libur yang lama juga besti. Aku juga butuh piknik dan healing" pibta Andrea
"Oke, tapi tunggu aku bisa kerja lagi di toko. Kakiku juga baru beberapa hari sembuh. Mungkin besok aku mulai berangkat ke toko lagi"
"Baiklah. Aku sudah ngantuk, besok masih harus kerja. Sampai jumpa besok bye" ucap Andrea menutup ponselnya
Selesai menelepon Andrea, Niana melihat beberapa chat dari Dirga yang belum sempat dibacanya tadi. Saking banyaknya dia bingung membalasnya. Apalagi chat terakhir dari Dirga membuat kedua maniknya terbelalak dan menepuk dahinya.
"Sayang I love you" chat pertama
"Nianku sayang kamu lagi apa?" chat ke dua
"Niana kamu dimana? Kenapa tidak balas chatku" chat ke tiga
"Balas atau aku akan menghukumu nanti malam!" chat ke empat
"Hemmmmmm" chat ke lima
"Sayang apa kamu habis beli martabak dengan Renata?" chat ke enam
"Benarkah kamu lagi ngidam?" chat ke 7
"Bagaimana aku menjelaskannya pada Dirga? Pasti Paman Yan sudah mengatakan kalau aku ngidam. Semua gara-gara Renata, aku barus berpikir untuk menyelesaikan kekacauan yang dibuatnya hiks hiks hiks" gumam Niana mengacak-acak rambutnya sendiri
__ADS_1
"Bagaimana kalau aku merayu Dirga untuk berhubungan sesering mungkin sebelum dia pergi ke Australi. Walau kemungkinannya kecil untuk aku bisa benar-benar hamil. Setidaknya berusaha dulu" batin Niana
Niana yang sudah frustasi dan stres merasa bingung harus menjelaskan apa pada Dirga. Kemudian dia menjadi merasa lapar setelah berpikir keras untuk mendapatkan solusi. Perut yang tadi sudah diisi nasi 4 centong dan ayam kecap 3 potong beserta sayur-sayuran seperti menguap entah kemana. Kemudian dia keluar kamar dan turun menuju ke dapur.
Saat itu jam dinding sudah menunjukan pukul 11 malam. Niana berjalan mengendap-endap dan hati-hati karena tidak ingin membangunkan semua orang yang sudah berada dalam alam mimpi. Seolah tidak ingin kejadian yang membuat heboh seluruh penghuni rumah terulang kembali seperti waktu menjatuhkan mesin blender hingga berujung kakinya terkena pecahan gelas. Saat dia membuka kulkas, hanya ada buah apel dan pisang.
"Sepertinya aku tidak akan kenyang hanya dengan apel dan pisang ini" ucap Niana mengambil satu buah apel dan satu buah pisang dari kulkas
Niana langsung membawa buah-buahan itu ke meja makan. Satu buah apel dan satu buah pisang sudah habis dimakannya tetapi seperti tidak berasa apa-apa diperutnya. Dia pun ingat sesuatu saat membuka kulkas tadi. Sebuah kotak kardus yang sepertinya dia kenal tetapi isinya tidak dia sukai. Tanpa pikir panjang, Niana kembali membuka kulkas lagi dan mengambil kotak kardus martabak yang masih setengah porsi dan sebotol air dingin.
Niana sebenarnya tidak suka martabak, tetapi perutnya yang lapar terus berbunyi seolah meneriakan protes keras kalau ingin segera diisi makanan apa saja. Awalnya dia memakan satu potong martabak rasa stroberry karena dia menyukai buah stroberry. Setelah habis dia penasaran dengan rasa nanas. Sepotong martabak rasa nanas pun habis dilahapnya.
"Sepertinya rasa coklat juga enak, katanya coklat bisa ngilangin stres kan" batin Niana mulai memakan martabak rasa coklat
"Kenapa aku jadi suka makan martabak? Mungkin stres membuat ku jadi sangat lapar" batin Niana lagi yang masih menikmati martabak coklat
Setengah porsi martabak itu berisi 6 potong martabak dengan rasa yang berbeda. Niana sudah menghabiskan martabak rasa stroberry, nanas dan coklat. Sisanya ada rasa blueberry, keju dan kacang. Setelah meneguk sebotol air, mata Niana melirik kambali martabak yang masih tersisa. Ketiga martabak yang masih tersisa itu tak luput dari mulut Niana hingga tak bersisa. Diam-diam dia hampir menghabiskan martabak itu.
"Hemmm apakah martabaknya enak sekali" tanya Dirga sambil menuangkan segelas air yang ada di atas meja makan untuk Niama
"Sayang, sejak kapan kamu ada di situ?" tanya Niana seperti kesusahan menelan sisa air yang yang diteguk air dari gelas yang diberikan Dirga
"Aku ada disini saat martabaknya masih 3 potong. Mungkin sebelumnya kamu sudah makan beberapa potong" ucap Dirga tersenyum penuh arti
Niana merasa malu karena ketahuan memakan habis semua martabak yang ada di kotak kardus. Melihat Niana yang mampu memakan habis semua martabak itu, tak ayal Dirga semakin yakin Niana sedang hamil.
"Gawat Dirga pasti mengira aku benar-benar ngidam karena menghabiskan semua martabak ini. Aku semakin sulit menjelaskan pada Dirga kalau aku hanya lapar karena stres bukan karena hamil. Bagaimana kalau dia tahu sebenarnya aku tidak hamil. Dia pasti kecewa. Apalagi lusa dia akan ke Australi mengurus masalah perusahaan di sana. Aku tidak ingin membuat dia jadi tidak bersemangat dan menambah beban pikirannya. Huh Kepala ku rasanya mau pecah" batin Niana memutar bola matanya dan menghentikan memakan martabak yang masih dipegangnya
"Kenapa berhenti memakan? Apakah si kecil di dalam sudah kenyang? Habiskan saja kamu tidak usah malu" tanya Dirga melirik ke perut Niana dan Niana pun sontak memegang perutnya
"Si kecil siapa? Aku tidak hamil kenapa semua orang salah sangka" batin Niana
"Yang rasa bluebarry ini rasanya tidak enak, sebenarnya aku tidak suka martabak tapi perutku lapar sekali karena stres" ucap Niana menggiring pikiran Dirga agar tidak mengira dirinya hamil
__ADS_1
"Sudah tidak membalas chatku, sekarang masih tidak mau bilang kalau sedang hamil" batin Dirga
"Ck, benarkah tidak enak? Sampai kamu sudah memakannya setengah potong" ucap Dirga tersenyum sambil menggelengkan kepala
"Iya, tidak enak makannya tidak ku habiskan" ucap Niana menaruh martabak yang dipegangnya ke dalam kotak kardus
"Baiklah aku akan mencicipinya" tutur Dirga mendekat ke arah Niana
Dirga meraih pinggang istrinya yang tak berani menatapnya. Hingga tubuh Niana mendekat ke tubuhnya dan dipeluknya dengan erat. Wajah mereka saling bertemu dan hidung mereka saling menempel hingga mengkikis jarak diantaranya. Mereka saling merasakan hembusan nafas yang terdengar menderu. Dirga mulai mengusap selai bluebarry yang menempel di sudut bibir Niana dengan ibu jarinya.
"Enak, manis sekali" ucap Dirga mencecap selai blueberry dari ibu jarinya
"Kalau kamu suka makan saja tapi tinggal setengah potong itu" ucap Niana
"Kamu tidak akan bisa tidur kalau aku memakannya" bisik Dirga ke telinga Niana
"Aku sudah kenyang" Niana meletakan tanganya di depan dada Dirga dan berusaha melepas pelukannya
"Habiskan atau aku akan menyuapimu dengan mulutku langsung" titah Dirga mengulum senyumnya dan terus mempererat pelukannya
"Baiklah aku habiskan" sambar Niana yang langsung memakan sisa martabak yang tinggal setengah potong itu
"Manis sekali" kata Dirga sambil mengacak puncak kepala Niana
"Sudah habis kan, aku mau kembali ke kamar sudah ngantuk sekali"
"Oke, aku akan menggendongmu ke atas" ucap Dirga langsung menggendong Niana
"Turunkan aku, aku bisa jalan sendiri, tidak perlu digendong" protes Niana dengan tangan dan kaki yang memberontak ingin turu
"Diamlah, bukankah kamu senang kalau aku gendong. Kalau kamu senang, bukankah si kecil di dalam juga senang" ucap Dirga tersenyum sambil mencium pipi Niana
"Apakah dia bersikap seperti ini karena berpikir aku hamil? Sepertinya dia terlihat bahagia sekali. Ya Tuhan apakah aku benar-benar harus merayunya untuk berhubungan malam ini agar aku bisa segera hamil beneran" batin Niana tak henti-hentinya menatap wajah Dirga yang tersenyum penuh kebahagiaaan
__ADS_1