
Jam pulang kerja yang ditunggu-tunggu semua pegawai kantor akhirnya telah tiba. Niana masih sibuk karena hari ini pertama dia masuk kerja sehingga banyak tugas menumpuk. Akhirnya dia pulang agak telat dari jam biasanya. Dia menuju lift untuk turun ke lantai paling bawah. Ketika pintu lift terbuka, dia langsung berbalik arah dan mengurungkan niatnya untuk naik lift dan menuruni tangga saja.
"Masuk..!" perintah Dirga pada Niana yang baru satu langkah meninggalkan pintu lift.
"Aku tidak sengaja bertemu Dirga, tolong jangan melototi aku seperti itu Mr Ken. Lagian Tuan Muda anda yang menyuruhku masuk" batin Niana yang mulai masuk ke dalam lift dan menundukan kepalanya pada pemilik perusahan itu
Niana berdiri di depan Dirga dan Mr Ken lalu memencet tombol turun ke lantai 1. Selama lift bergerak turun, selama itu pula Niana menundukan kepalanya. Karena dia tak kuasa kalau harus mengangkat kepalanya dan melihat wajah Dirga dari pantulan pintu lift. Dirga terus memperhatikan rambut kepang Niana. Sepertinya dia ingin mengingat sesuatu tetapi sulit sekali hingga kepalanya terasa sakit.
"Aachh..." ucap Dirga memegangi kepalanya
"Tuan Muda ada apa?" tanya Mr Ken
Niana pun hanya menoleh ke belakang sebentar lalu kembali mengarahkan wajahnya ke depan pintu lift. Kepala Dirga semakin sakit hingga dia mau jatuh tetapi langsung dipapah Mr Ken.
"Nona Niana tolong temani Tuan Dirga sebentar, saya akan cari pertolongan. Bisakah anda memapah Tuan Dirga?" ucap Mr Ken
"Baiklah Mr Ken"
Mr Ken lalu membantu Niana meletakan tangan Dirga melingkar ke pundaknya. Niana pun melingkarkan tangannya ke perut Dirga. Mr Ken segera keluar dari lift mencari pertolongan.
"Aacchh... " teriak Dirga lagi
"Pak Dirga ada apa dengan anda?"
"Kenapa melihat rambutmu membuatku sakit" batin Dirga sambil menyentuh rambut Niana yang dikepang.
Entah kenapa rasa sakit di kepalanya berangsur-angsur menghilang. Dirga pun menatap wajah Niana lekat lekat. Ke dua pasang netra mereka pun saling menatap. Jantung Dirga berdetak sangat kencang. Situasi macam apa yang telah terjadi, mungkinkah dia jatuh cinta hingga tak kuasa mengendalikan debaran kencang yang ada di dadanya.
"Besok jangan mengepang rambut lagi, membuat pusing kepala saya" ucap Dirga salah tingkah dan asal bicara
"Baik Pak" ucap Niana
"Jadi dia kesakitan karena melihat rambutku yang dikepang, tidak masuk akal. Bukankan dulu kamu bilang aku menggemaskan saat dikepang" batin Niana
Kemudian Mr Ken datang dengan kursi roda untuk membawa Dirga menuju ambulan di lantai 1.
"Nona Niana mari dudukan Tuan Dirga ke kursi"
"Baik"
"Ken, aku sudah mendingan tidak perlu ke RS"
"Tetapi saya khawatir tuan kenapa-napa" ucap Mr Ken
"Saya tidak apa-apa"
"Maaf permisi Pak Dirga Mr Ken, kalau begitu saya pulang dulu" ucap Niana sambil menundukan kepala
"Baik silahkan nona" ucap Mr Ken
Di kasurnya yang empuk dan luas, Dirga membaringkan tubuhnya. Dia masih memikirkan apa yang membuat kepalanya sakit ketika melihat rambut Niana yang dikepang. Seperti ingin mengingat sesuatu tetapi tidak bisa dan malah membuat kepalanya sakit. Dia juga bingung kenapa saat bersama Niana, jantungnya berdetak tak menentu.
"Cih apa yang ku pikirkan, itu hanya reaksi terhadap lawan jenis saja. Wanita yang ku sayangi hanya Tania. Aku akan menelfonnya lagi untuk menjelaskan semuanya" ucap Dirga yang mau menghubungi Tania
Berulang kali Dirga mencoba menghubungi Tania tetapi tidak bisa. Kegelisahanya malam itu membuatnya sulit tidur. Sesekali dia melihat ponsel, kalau Tania balik menghubunginya setelah mengirimkan pesan padanya. Ponselnya tiba-tiba berdering membuat matanya tidak jadi terpejam.
__ADS_1
"Halo, Tuan Dirga. Maaf mengganggu tidur anda" ucap Mr Ken
"Ada apa Ken?"
"Ada undangan besok minggu pukul 8 malam dari Tuan Alex pemilik Alexander Corporation di rumahnya"
"Acara apa"
"Perayaan ulang tahun pernikahannya, apakah tuan akan datang?"
"Baik besok saya akan datang, sampaikan padanya"
Malam itu Niana sibuk memasak di dapur. Dia sedang membuat pudding pesanan Ibu Lusy, ibu-ibu yang dulu memesan pudding pada Dirga untuk ulang tahun anaknya. Ibu Lusy mengetahui rumah Niana karena dulu Dirga memberikan alamat rumah Niana ketika mengantar pudding ke rumahnya. Kali ini Ibu Lusy memesan untuk acara ulang tahun pernikahannya. Untungnya dulu Dirga mengajarinya membuat pudding spesial itu sehingga dia tahu resepnya. Pudding 500 cup sudah selesai dibuat dan besok Minggu sore tinggal diantar ke rumahnya. Karena Minggu pagi Niana akan berkunjung ke Panti Kasih seperti biasa.
Melihat senyuman anak-anak panti yang sedang bersih-bersih di taman membuat hari Niana saat itu menjadi semangat. Sudah 2 kali dia absen berkunjung karena sesuatu hal yang tidak bisa dia ceritakan pada mereka.
"Halo anak-anak kak Niana datang" seru Niana yang menenteng plastik besar berisi buah dan susu segar
"Kak Niana kita kangen sama kakak" teriak anak-anak itu
"Kalian sedang apa? Boleh kakak bantuin?"
"Lagi bersih-bersih taman kak, boleh dong"
ucap salah satu anak
"Kalau gitu kakak bantuin kita menyiram taman ya" ucap anak panti yang lain
"Siap komandan" ucap Niana
Niana pun mulai menyirami bunga di taman ruang Ibu Fatiyah pimpinan Panti Kasih. Bersama anak-anak, Niana bernyanyi sambil menyirami bunga. Tiba-tiba air selangnya macet, Niana mencoba menekan keran berulang-ulang tetapi airnya tidak keluar juga. Niana dan anak-anak tidak tahu juga kenapa selangnya tidak keluar air. Ketika selang air itu mengarah ke arah pintu masuk, tiba-tiba air itu keluar menyembur ke arah seorang laki-laki yang baru saja keluar dari ruang Ibu Fatiyah. Laki-laki itu langsung menutupi mukanya dengan tangan untuk menghindari semburan air dari selang yang dipegang Niana tetapi seluruh badannya sudah basah kuyup. Niana langsung mematikan keran dan menghampirinya.
"Maafkan saya pak, saya benar-benar tidak sengaja" ucap Niana menangkupkan ke dua tanganya memohon maaf di depan laki-laki yang sedang mengusap air di wajahnya
"Apakah anda tidak bisa bekerja dengan benar?" ucap laki-laki itu mengusap wajahnya kasar
"Pak Dirga...!" ucap Niana kaget
"Kamu lagi...!!!! Jadi kamu yang dulu menumpahkan susu juga? bodoh benar-benar pembawa sial" ucap Dirga geram sambil menujuk ke dahi Niana dengan mata tajamnya.
Hari ini Dirga benar-benar sangat marah, apalagi dari kemarin suasana hatinya sedang kurang baik karena tidak ada kabar dari Tania, ditambah dengan kejadian hari ini yang semakin membuatnya geram. Bahkan dia tidak kuasa menahan emosinya di depan anak-anak panti.
"Maafkan saya Pak Dirga saya tidak sengaja, saya bisa jelaskan karena kran airnya tiba-tiba mati" ucap Niana
"Kamu selalu membuatku sial, pergilah menjauhlah dari ku"
"Maafkan saya Pak, saya benar-benar tidak sengaja"
"Cukup..! Jangan muncul di hadapan saya lagi"
Mendengar keributan di luar, Ibu Fatiyah dan Mr Ken keluar ruangan. Mereka mendapati Dirga yang sudah basah kuyup dengan wajah penuh amarah. Ibu Fatiyah langsung meminta maaf kepada Dirga atas kejadian yang dialaminya. Dirga pun langsung pergi tanpa bicara apapun. Mr Ken berpamitan kepada Ibu Fatiyah lalu menyusul Tuan Mudanya.
"Bu Fati, Niana minta maaf, Niana benar-benar tidak sengaja melakukannya" ucap Niana terisak menangis
"Sudah tidak apa-apa, ibu tahu Niana karena tadi listriknya mati sebentar terus nyala"
__ADS_1
"Terima kasih bu"
Di dalam mobil wajah Dirga masih tampak kesal. Mr Ken hanya meliriknya lewat kaca depan. Dari kemarin tuannya dalam suasana hati yang buruk.
"Ken selidiki si rambut kepang itu, apakah dia bekerja di panti"
"Nona Niana donatur di panti itu juga tuan"
"Cih... donatur, emang apa yang bisa dia sumbangkan, dia hanya karyawan biasa devisi 2"
"Kemarahan membuat Tuan Muda menjadi sombong lagi, kenapa anda tidak selamanya menjadi Tuan Muda yang baik dan ramah seperti saat bersama nona Niana saja biar kita sama-sama hidup tenang" batin Mr Ken
"Walau donaturnya tidak sebanyak tuan tapi dia sudah menyumbangkan separuh gajinya untuk panti ditambah dari tokonya"
"Kenapa dia harus menyumbang di Panti Kasih, tidak di panti lain saja"
"Sejak kecil dia tinggal di sana tuan, jadi untuk membalas budi dia menyumbang di sana" ucap Mr Ken sambil mengemudi
Kelihatanya Dirga sangat kesal dengan kelakuan Niana yang telah membuat bajunya basah. Dua kali pergi berkunjung ke Panti Kasih, dua kali juga nasib tak baik terjadi pada Dirga. Pertama kena tumpahan susu dari Niana dan yang ke dua kena semprot air dari Niana juga, yang membuat basah seluruh bajunya.
Jarum jam dinding di ruang makan berdenting, seolah ingin menunjukan sudah pukul 6 sore. Niana pun segera bersiap-siap untuk menuju rumah Nyonya Lusi sebelum para tamu undangan pesta datang. Dia sedang menata Pudding di atas meja yang panjang berisi dessert lainya. Tiba-tiba ada seseorang yang memegangi pundaknya dari belakang.
"Niana? Kamu Niana kan?" ucap seorang laki-laki yang ada dibelakang Niana, saat mengenali rambutnya yang dikepang
"Toni...?" seru Niana setelah menoleh ke arah laki-laki itu
"Dimana Dirga suami palsumu?" ucap Toni
"Sssttt jangan menyebut namanya lagi. Darimana kamu tahu tentang Dirga?"
"Aku yang membantu menolong Dirga dan kamu saat kecelakaan di Surabaya waktu itu. Aku tahu dari pengawalmu yang botak-botak itu" ucap Toni sambil meraih pudding yang ada ditangan Niana
"Kamu kenapa bisa ada disini, apakah kamu tamu pesta juga?"
"Aku adik iparnya Kak Alex, adiknya Kak Lusy. Kamu sendiri kenapa disini, apakah suami palsumu benar-benar sudah kembali ingatnnya? Terus kamu melanjutkan bisnis pudding ini"
"Aku minta sekali lagi jangan menyebut namanya. Dia sudah tidak mengingatku. Jadi jangan menyebar gosip yang tidak-tidak" titah Niana kesal
"Baiklah, aku akan menyimpan rahasiamu tapi dengan satu syarat"
"Apa syaratnya?"
"Kamu harus membantuku sekarang untuk jadi pacar pura-pura ku di depan Kak Alex karena aku tidak mau dijodohkan dengan anak dari rekan bisnis Kak Alex hanya karena kepentingan bisnisnya" ucap Toni melahap kembali puddingnya
"Tidak, aku memang pernah jadi tunangan palsu Dirga karena terpaksa. Bukan berarti kamu juga bisa seenaknya memintaku jadi pacar pura-pura mu"
"Kalau kamu tidak menolongku, aku akan menyebarkan hubungannmu ke publik" ucap Toni mengancam
"Kalau Dirga sampai tahu aku pernah menjadi tunangan palsunya dan istri palsu juga. Bahkan dia sampai jualan pudding juga walau itu keinginannya sendiri tanpa sadar, aku yakin dia akan memakanku hidup-hidup kalau sampai tahu" batin Niana
"Baiklah aku setuju dengan syaratmu tapi hanya untuk sekali saja"
"Oke kalau begitu ayo ikut aku" ucap Toni sambil menggandeng tangan Niana dan berjalan terburu-buru
"Mau kemana?"
__ADS_1
"Nanti kamu juga akan tahu"