
Siang ini waktu memunjukan pukul
12 waktu Sydney. Nampaknya Dirga sedang istirahat di ruangannya sambil memandangi gelang rajut buatan istrinya. Dia memutar-mutar gelang itu mengelilingi pergelangan tangannya. Senyum tipis menghias di bibirnya, seolah dia sedang mendapatkan mainan baru yang menyenangkan. Mr Ken datang masuk ke ruangan Dirga dengan membawa sebuah box makan siang untuk Dirga.
"Permisi tuan, ini makan siang anda" ucap Mr Ken meletakan box makanan itu di atas meja kerja Dirga
"Hemm" jawab Dirga yang tetap fokus memangdangi gelang di tangannya
"Permisi tuan" ucap Ken sambil menunduk dan akan keluar ruangan
"Tunggu Ken, tolong kamu buatkan duplikat gelang ini. Pastikan bahan dan detail benar-benar mirip" titah Dirga melepas gelang itu dan memberikannya pada Mr Ken
"Baik tuan" ucap Ken
"Aku beri waktu sampai besok pagi, kamu sudah harus mendapatkan duplikatnya" titah Dirga
"Baik tuan, permisi" ucap Mr Ken melangkah menuju pintu
"Tunggu Ken" seru Dirga
"Iya tuan, ada apa?" tanya Mr Ken menghentikan langkahnya dan berbalik badan ke arah Dirga
"Ingat, kamu harus menjaga gelang itu jangan sampai hilang. Jagalah seperti menjaga nyawamu karena itu gelang yang Niana buatkan untuk ku" titah Dirga
"Baiklah tuan, saya permisi sekali lagi" ucap Mr Ken akhirnya pergi dari ruangan Dirga
__ADS_1
"Hemm gelang sepele seperti ini saja ternyata harganya semahal nyawaku. Atau gelang ini lebih mahal dari nyawaku bagi Tuan Dirga. Kalau gelangnya Nona Muda saja semahal nyawaku, pasti Nona Muda lebih berharga dari nyawa Tuan Muda. Jadi aku harus benar-benar hati-hati menjaganya" batin Mr Ken
Dirga yang akan memulai makan siangnya berencana akan menghubungi Niana terlebih dahulu karena waktu makan siangnya bertepatan dengan waktu sarapan Niana. Pukul delapan pagi Niana sudah berada di tokonya dan akan memulai sarapan paginya. Dia mencoba sarapan tanpa memanggil Dirga agar tidak mengganggu pekerjaannya. Dengan memandangi foto Dirga yang diletakan diatas meja kerjanya, dia mulai menyendok bekal sarapannya tetapi belum sempat makanan itu masuk ke mulut, Niana merasa mual dan langsung berlari ke toilet.
Akhirnya Niana memutuskan untuk menunggu Dirga menghubunginya. Pucuk dicinta ulam pun tiba, tak lama kemudian ponselnya berbunyi. Niana pun sarapan di tokonya bersama Dirga yang juga sedang makan siang di kota Sydney melalui vidio call.
"Halo sayang, apakah kamu sudah sarapan?" tanya Dirga
"Aku hampir muntah saat mencoba sarapan dengan melihat fotomu. Aku kira dengan melihat fotomu saat makan sama saja. Tapi si kecil sepertinya tidak mau, maunya bener-bener makan sambil mengobrol dengan daddynya langsung" ucap Niana
"Ternyata si kecil pintar sekali, lebih pintar dari mommynya. Dia tidak mau kamu bohongi pakai foto" ucap Dirga tersenyum tipis
"Baiklah, mommy mengaku salah. Ayo kita makan sayang. Mommy sudah lapar sekali" ucap Niana sambil mengusap perutnya seoalah mengajak bicara bayi dalam kandungannya
"Sayang, suara apa itu tadi?" tanya Dirga penasaran
"Aku juga tidak tahu, coba aku lihat dulu keluar. Sepertinya suara itu dari depan toko ku" tutur Niana
Niana segera bergegas turun ke lantai dasar menuju halaman luar tokonya sambil membawa ponselnya. Terlihat karyawannya berkerumun di depan toko melihat ke halaman toko. Wajah mereka terlihat takut dan khawatir saat pengawal Niana sedang mendekati kotak kardus yang teronggok di depan toko. Sedangan ledakan tadi berada beberapa meter di depan kotak kardus itu.
"Ada apa ndre?" tanya Niana pada Andrea dengan wajah panik
"Sepertinya ada yang menyulut petasan di depan sana. Dan mungkin seseorang sengaja menaruh kotak kardus di situ sebelum menghidupkan petasannya. Kita juga belum tahu apa isi kotak kardus itu. Pengawalmu sedang mencoba memeriksanya" ucap Andrea
"Pak pengawal hati-hati" seru Andrea pada pengawal yang sedang berjalan mengendap-endap mendekati kardus
__ADS_1
"Niana, aku takut sepertinya ada yang mau meneror toko kita" ucap Andrea memegangi tangan Niana dengan wajah ketakutan
"Tenang Ndre, kita tunggu saja Pak Pengawal membuka kardus itu" tutur Niana
"Semoga isinya bukan bom aktif, aku jadi takut kayak di drama yang sering aku tonton" ucap Andrea memeluk lengan Niana
Pengawal Niana terlihat mendekati kardus yang membuat semua orang di toko penasaran dan juga khawatir. Dia mengintip dari kejauhan isi yang ada di dalam kotak kardus itu. Selintas dia seperti melihat seekor ayam jago. Kemudian dia semakin mendekat karena merasa bukan benda yang berbahaya. Dibukanya kotak itu dengan tangannya langsung. Wajahnya terkesiap saat melihat seekor ayam jago yang telah mati dan ada sebuah nama yang ditulis di atas kertas yang dikalungkan ke leher ayam jago yang telah mati itu.
"Pak Pengawal apa isinya?" seru Niana saat pengawal sudah membuka tutup kardus dan dia hanya diam melihat ke arah Niana
Niana pun berlari mendekati pengawalnya karena penasaran dengan isinya. Andrea segera mengikutinya dari belakang. Seekor ayam yang berlumuran darah segar dengan sebuah kertas yang bertuliskan nama Dirga tercetak dengan huruf besar ada di dalam kotak kardus itu. Seketika wajah Niana langsung syok saat melihatnya. Dia pun menjatuhkan ponselnya dan melangkah mundur sambil membungkam mulutnya sendiri karena mual. "Tidak, tidak mungkin" lirihnya sambil melangkah mundur dan menggelengkan kepalanya. Andrea segera mengambil ponsel Niana yang terjatuh saat panggilan dari Dirga masih aktif. Niana juga hampir mau terjatuh tetapi Andrea yang ada di sampingnya langsung memapahnya menjauhi kotak kardus itu.
"Halo Tuan Dirga, ini saya Andrea. Maaf saya matikan dulu ponselnya. Saya mau membantu Niana dulu" ucap Andrea
"Halo Ndre, ada apa dengan Niana. Apa yang sebenarnya sedang terjadi?" tanya Dirga penasaran
"Tuan Dirga, nanti biar pengawalnya Niana yang mengabari lagi" ucap Andrea mematikan ponsel Niana dan memampah Niana
"Ndre, apa maksud semua ini? Apakah dia mau mencelakai Dirga?" tanya Niana dengan wajah ketakutan dan tangannya gemetar
"Tenanglah dulu. Ayo kita masuk saja biar Pak Pengawal yang membereskan kotak kardus itu" ucap Andrea mengajak Niana masuk ke dalam toko
Sementara Renata sudah berada di perusahaan Alexander Corp diantar pengawalnya seperti biasa. Ternyata sampai di sana dia langsung diterima setelah melakukan interview karena perusahaanya sedang membutuhkan karyawan. Sebenarnya Renata diterima karena rekomendasi Toni pada kakak iparnya, Tuan Alexander. Toni mengatakan bersedia membantu kakak iparnya bekerja di Alexander Corp asalkan Renata diterima di perusahaannya.
Renata pun diberikan kesempatan untuk memikirkan lagi perjanjian kontrak kerja dengan perusahaan Alexander Corp setelah dinyatakan lolos seleksi. Batas waktu penyerahan berkas kontrak kerja dapat diserahkan sampai besok. Renata memilih membawa pulang dulu berkas kontrak kerja itu sebelum menandatanginya. Dia ingin memikirkan lagi keputusannya dengan matang.
__ADS_1