Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan

Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan
Episode 96 Berpamitan Pada Semua Keluarga


__ADS_3

Setelah dinyatakan benar-benar hamil Niana menelepon keluarganya yang ada di Surabaya melalui panggilan vidio. Dia ingin bertukar kabar dengan keluarganya karena sudah lama tidak saling berkomunikasi. Selain ingin tahu kabar keluarga yang ada di sana, Niana pun juga ingin berbagi kebahagiaan tentang kehamilannya.


Saat itu Pak Hadi, Ibu Arini dan Liana berkumpul ingin menyapa Niana. Mereka senang sekali mendengar kabar baik dari Niana. Pak Hadi pun berpesan pada Dirga yang sedang duduk di samping Niana agar menjaga puteri dan calon cucunya dengan baik. Mereka juga mengatakan akan berkunjung ke rumah Dirga saat acara 4 bulan kehamilan Niana.


Selesai bertukar kabar dengan keluarganya, Niana pun segera mengakhiri panggilan vidionya karena ingin membantu Dirga yang sedang mengemasi bajunya ke dalam koper. Dia terlihat mengambil beberapa stel baju dari almari untuk dibawanya saat berada di Australi. Niana pun memandanginya seolah tidak ingin suaminya pergi walau hanya sebentar. Dia mulai menghampiri Dirga yang sedang berdiri di depan almari baju. Niana langsung memeluknya dari belakang.


"Sayang, kamu benar-benar jadi pergi? Kenapa tidak menyuruh Mr Ken saja yang pergi ke Australi. Aku dan si kecil masih merindukanmu" ucap Niana lirih sambil memeluk Dirga dari belakang


"Kenapa kamu jadi tidak ingin aku pergi? Para investor di sana ingin bertemu langsung dengan ku mana bisa digantikan" ucap Dirga memegang tangan Niana yang melingkar di perutnya


"Bagaimana kalau pas makan, si kecil maunya sambil melihat wajah daddynya. Kalau tidak, mommynya bisa muntah-muntah lagi seperti tadi" ucap Niana dan Dirga mulai berbalik badan menghadap Niana sambil melepaskan tangan Niana yang memeluknya.


"Kalau begitu hubungi saja aku pakai panggilan vidio setiap kamu mau makan, jadi kamu bisa melihat wajah suamimu yang tampan ini" ucap Dirga meletakan kedua telapak tangan Niana di kedua sisi pipinya


"Hemm, tapi berjanjilah akan segera pulang secepatnya" ucap Niana menghela nafas


"Baiklah, aku akan berusaha menyelesaikan pekerjaan disana selama 3 hari agar bisa secepatnya pulang" ucap Dirga mendekap Niana ke dalam pelukannya


"Rasanya aku tidak ingin kamu pergi jauh. Semoga kamu bisa segera pulang secepatnya seperti janjimu. Jangan jadi pinokio lagi yang suka berbohong" ucap Niana


"Aku janji pulang secepatnya demi kamu dan si kecil" ucap Dirga melepaskan Niana dari pelukannya. Lalu dia berdiri dengan kedua lututnya sambil berbisik di depan perut Niana yang terlihat masih rata. "Sayang, selama daddy pergi buat mommymu selalu bahagia jadilah anak yang baik. Makanlah yang banyak jangan membuat mommy muntah lagi, oke ! Muach daddy sayang kalian" ucap Dirga lalu mencium perut Niana


"Kami juga sayang daddy" ucap Niana mengusap kepala Dirga yang sedang menciumi perutnya


"Nianku sayang, selama aku tidak ada di rumah. Aku sudah menyiapkan dua orang untuk mengantarmu kemana pun kamu pergi sekaligus menjadi pengawal untukmu. Aturan ini berlaku untuk mama dan juga Renata" ucap Dirga


"Buat apa, aku bisa menyetir sendiri dan aku bukan orang penting jadi tidak butuh pengawal" protes Niana yang tidak ingin dikawal


"Siapa bilang kamu bukan orang penting? Kamu itu orang yang sangat penting di hidupku. Jadi kamu tidak boleh protes karena kalau ada apa-apa, para pengawalmu bisa segera membantu apalagi kamu sedang hamil" ucap Dirga dengan tegas


"Lalu Renata dan mama kenapa juga pakai pengawal?" tanya Niana penasaran


"Berhubung Paman Yan sedang sakit sebaiknya dia beristirahat di rumah. Jadi mama dan Renata juga punya sopir baru yang sekaligus pengawal" ucap Dirga sambil memasukan baju-bajunya dalam koper

__ADS_1


"Jam berapa pesawatmu akan terbang?" tanya Niana


"Jam 2 siang nanti, jadi aku harus segera berangkat karena sekarang sudah jam setengah 12" ucap Dirga melirik ke arloji di tangannya


"Kenapa waktunya cepat sekali, aku masih merindukannmu" ucap Niana memeluk Dirga lagi sambil menangis


"Hey aku cuma mau ke Australi tidak pergi jauh kenapa menangis seperti ini? Ayo tersenyumlah, aku tidak mau melihatmu menangis. Aku janji 3 hari lagi pulang" ucap Dirga menangkupkan kedua tangannya di kedua pipi Niana sambil sedikit menundukan wajah memandangi Niana


Tok tok tok terdengar suara pintu kamar diketuk.


"Siapa?" seru Dirga


"Ini Bi Mar tuan, semua sudah menunggu tuan di bawah" ucap Bi Mar


"Baik Bi aku akan segera turun" seru Dirga kembali


Akhirnya Dirga selesai berkemas dan turun ke bawah bersama Niana dengan membawa kopernya. Mr Ken sudah menunggunya di bawah bersama Mama Sofi dan Renata. Dirga pun menghampiri mamanya dan memeluknya.


"Mama Dirga pergi dulu, doain Dirga sukses menyelesaikan masalah di sana" ucap Dirga


"Mama kenapa menangis seperti ini, Dirga hanya akan pergi sebentar" ucap Dirga sambil menghapus butiran bening yang membasahi pipi Mama Sofi


"Anak laki-laki mama satu-satunya mau pergi lagi ke Australi, bagaimana mama tidak sedih. Dulu kamu ada di sana cukup lama sampai tak ingat pulang. Dan pulang karena ayahmu mulai sakit jadi kamu mau tidak mau harus pulang untuk mengurus Sanajay Group yang ada di Jakarta. Mama jadi teringat Arga, pasti dia juga mirip kamu saat ini" ucap Mama Sofi


"Mama, Dirga akan segera kembali. Dirga pasti pulang kok. Jangan menangis lagi ma" ucap Dirga memeluk Mama Sofi bersama Niana dan Renata


"Renata kakak pergi dulu, jaga mama dan kakak iparmu selama di rumah" ucap Dirga pada Renata yang ikut memeluknya


"Baik kak, jangan lama-lama perginya. Kakak ipar pasti merindukanmu kalau terlalu lama di sana" ucap Renata lalu Dirga mengacak-acak rambut Renata sambil berkata "oke bawel"


"Niana sayang, aku pergi dulu" ucap Dirga menangkup wajah Niana dan menciumi seluruh wajahnya


"Sayang berhenti mencium seperti ini semua orang melihat" ucap Niana

__ADS_1


"Baiklah, aku berangkat dulu. Jaga dirimu baik-baik, sayang daddy berangkat dulu, muach" ucap Dirga lalu mengecup perut Niana


Mr Ken yang sedari tadi telah berdiri mematung di samping mobil menunggu tuannya. Dirga langsung menuju ke mobil yang berada di depan teras rumah setelah berpamitan pada semua keluarganya. Mr Ken segera membukakan pintu mobil untuk Dirga. Setelah itu Mr Ken menuju kursi depan bersama sopir baru yang akan mengantarkan mereka ke bandara. Mobilnya pun segera melaju meninggalkan rumah setelah Dirga melambaikan tangan ke arah keluarga yang masih berdiri di teras rumah.


"Ayo ma, kakak ipar kita masuk" ajak Renata saat mobil Dirga sudah tak telihat lagi


"Oh iya ma, siapa Arga?" tanya Niana melangkah menuju ruang tengah


"Kak Arga itu kembarannya Kak Dirga tapi sudah meninggal sejak kecil" ucap Renata sambil duduk di sofa


"Jadi Dirga punya kembaran, kenapa dia tidak pernah cerita" gumam Niana


"Bagaimana Kak Dirga mau cerita, dia saja tidak pernah melihatnya karena Kak Arga meninggal sejak masih bayi" ucap Renata


"Iya Niana, mama saja hanya melihatnya sekali seumur hidup mama waktu dia lahir. Saat lahir kondisi Arga tidak sebaik Dirga yang sudah lahir duluan jadi dokter langsung membawanya ke ruang perawatan khusus bayi agar segera mendapatkan perawatan yang baik. Kata dokter kondisi Arga sempat membaik di hari ke 3 tapi tiba-tiba kondisi Arga memburuk lagi di hari ke 4 hingga akhirnya dia meninggal. Mama waktu itu masih dirawat di RS karena saat hamil tekanan darah mama selalu tinggi sehingga mengalami preeklamsia (keracunan kehamilan). Sampai lahiran pun tekanan darah mama belum stabil sehingga dokter belum mengizinkan pulang. Jadi saat Arga di makamkan mama tidak bisa melihatnya untuk yang terakhir kali. Saat itu hanya Paman Yan yang membantu ayahnya Dirga memakamkan Arga" ucap Mama Sofi sampai bergetar tubuhnya karena menangis mengingat anaknya yang hanya pernah dilihatnya sekali seumur hidup. Bahkan belum sempat Mama Sofi menggendongnya tapi Arga sudah kembali ke pangkuan Tuhan. Renata yang duduk di samping kanannya langsung memeluk mamanya.


"Maafin Niana ma, Niana sudah membuat mama sedih" ucap Niana ikut memeluk Mama Sofi


"Tidak apa-apa Niana, wajar kamu bertanya karena kamu tidak tahu" ucap Mama Sofi mengelus bahu Niana yang memeluknya di samping kirinya


"Sayang semoga urusanmu di Australi bisa cepat selesai dan segera kembali secepatnya. Kami di sini selalu menunggumu pulang" batin Niana


Di sebuah kamar yang nampak sepi terlihat Paman Yan duduk di sebuah kursi ayunnya. Dirga menyuruh Paman Yan untuk beristirahat selama Dirga berada di Australi. Biasanya Paman Yan bekerja di pagi dan sore hari lalu malamnya menunggu Dirga pulang kantor. Sekarang Paman Yan hanya dibolehkan bekerja saat pagi saja untuk mengawasi para pelayan rumah yang sedang bekerja karena kondisinya juga sedang sakit. Paman Yan terlihat sedang menghubungi seseorang melalui ponselnya.


"Bagaimana rencana kalian? Ini hari terakhir kalian" tanya Paman Yan duduk di kursi ayunnya


"Semua berjalan lancar bos. Rencana selanjutnya kita akan membuangnya ke laut bos"


"Bagus, lanjutkan rencana kalian dan jangan sampai pihak berwajib mengetahuinya saat kalian membuangnya" ucap Paman Yan dengan tegas


"Itu masalah mudah bos, rencana selanjutnya akan kita lakukan tapi kami ingin bos menambah bayaran kami setenganya lagi"


"Baiklah, yang penting pastikan dia tewas terlebih dahulu" ucap Paman Yan mengepalkan tangannya dengan mata terbelalak

__ADS_1


"Oke bos"


Panggilan ponsel pun dimatikan oleh Paman Yan yang masih duduk mengayun kursinya. Matanya pun terlihat berkaca-kaca karena teringat Tania kembali yang membuat rasa perih menjalar ke seluruh ruang hatinya. Lalu dia memejamkan matanya sambil menikmati ayunan kursinya yang bergoyang hingga tertidur.


__ADS_2