Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan

Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan
Episode 72 Hari pertama bertanggung jawab pada Aska


__ADS_3

Dirga langsung berjalan menuju ruang tengah, setelah Paman Yan mengatakan kalau Niana tertidur di sofa karena menunggunya. Dia melihat istrinya tidur meringkuk seperti kucing yang menggemaskan. Kemudian menggendongnya menaiki anak tangga menuju kamar. Niana direbahkan di atas kasur dengan pelan dan hati-hati karena tidak ingin istrinya terbangun dari mimpinya yang indah. Selimut tebal dibentangkan menutupi tubuh istrinya, lalu menuju ruang ganti baju setelah mencium kening Niana.


Selesai mandi dan memakai piyama, Dirga segera naik ke atas kasur memeluk tubuh Niana yang tidur terlentang. Pipi Niana yang halus seperti kulit bayi diciuminya dengan gemas. Lalu hidung mancung milik Dirga yang bergaris tegas di gesek-gesekan ke pipi Niana. Kebiasaan Dirga setelah menikah selalu menjadikan Niana mainannya sebelum tidur. Dulu sebelum menikah dia selalu memainkan ikat rambut Niana hingga dia tertidur sendiri. Sekarang kalau belum main-main dengan boneka hidupnya yang menggemaskan itu, Dirga tidak akan bisa tidur.


"Kamu menggemaskan sekali. Hari ini aku sangat lelah tapi sepertinya kamu lebih lelah karena menungguku. Lagi-lagi aku membuatmu menunggu, maafkan aku Nianku sayang" ucap Dirga lirih sambil mengelus pipi Niana lalu mencium pipinya


Niana yang tengah tertidur menggeliatkan tubuhnya lalu tangannya memeluk dada bidang Dirga. Kakinya diangkat melingkar ke kaki Dirga seperti sedang memeluk guling dengan posesifnya. Kepalanya bergerak mengesek di atas dadanya Dirga seolah ingin menyelami kenyamanan yang lebih dalam sampai ke titik terdalam.


"Tertidur pun kamu masih manja dan menggoda, kalau kamu tidak tidur aku sudah menyerangmu dari tadi" ucap Dirga lirih memeluk Niana lalu memejamkan matanya hingga tertidur


Pagi-pagi sekali Renata sudah berpakaian rapi dan berdandan cantik menuju dapur. Dia terlihat bersemangat sekali hari ini. Bi Mar dan Rumi melihatnya dengan tatapan heran karena Renata tidak pernah bangun sepagi ini dan meminta membuatkan bekal.


"Maaf Nona Renata mau kemana pagi-pagi begini?" tanya Bi Mar


"Ke rumah teman Bi" jawab Renata


"Kenapa bawa bekal?" tanya Bi Mar heran


"Iya karena perginya pagi-pagi jadi bawa bekal buat sarapan di sana"


"Baiklah kalau begitu bekalnya saya kasih 2 porsi untuk Nona Rena dan temannya" ucap Bi Mar


"Boleh juga, terima kasih Bi Mar" ucap Renata segera bergegas pergi


"Nona Rena tunggu dulu" seru Bi Mar

__ADS_1


"Maaf Bi saya buru-buru" seru Renata


"Anak itu apakah sudah izin sama Tuan Dirga?" batin Bi Mar


Renata buru-buru berjalan menuju garasi.Mobil pink kesayangannya terparkir di samping mobil warna silver yang sering dipakai Paman Yan. Karena terlalu tergesa-gesa dia hampir menabrak pintu mobil warna silver yang tiba-tiba terbuka dari dalam. Terlihat Paman Yan keluar dari dalam mobil silver itu. Paman Yan yang juga terlihat terburu-buru mau keluar dari mobil, tidak memperhatikan kalau Renata tiba-tiba ada di samping pintu mobilnya. Untung saja bekal yang dibawa Renata tidak tumpah saat menabrak pintu mobil yang dibuka Paman Yan.


"Astaga, siapa sih buka pintu tidak lihat-lihat " pekik Renata


"Maafkan saya nona, saya tidak melihat Nona Renata yang tiba-tiba ada di sini" ucap Paman Yan seperti orang ketakutan


"Oh ternyata Paman Yan, nasi gorengku hampir saja tumpah gara-gara paman" gerutu Renata


"Sekali lagi saya minta maaf nona" ucap Paman Yan sambil menunduk


"Kenapa wajah Paman Yan seperti orang ketakutan, aku kan tidak memarahinya. Bahkan dia tidak menanyaiku mau pergi kemana sepagi ini apa karena saking takutnya? Bodoh amat, aku harus segera pergi ke rumah kakak tampan" batin Renata yang tidak ingin ambil pusing memikiran Paman Yan


Entah habis darimana Paman Yan pergi dan kenapa pagi-pagi sekali tiba-tiba keluar dari mobil. Sebagai kepala pelayan rumah Sanjaya, seharusnya pagi-pagi begini dia mengawasi para pelayan rumah yang sedang bekerja. Dia pun terlihat segera bergegas masuk rumah sambil mengedarkan pandanganya menatap ke sekeliling halaman rumah.


Renata akhirnya sampai di alamat yang ada di kartu yang diberikan Aska pada Niana kemarin. Dia memarkirkan mobilnya di depan rumah yang terlihat minimalis tanpa pintu gerbang. Terlihat sebuah mobil yang terparkir di garasi yang cukup mungil, menandakan Aska ada di dalam rumah. Lalu dia berjalan dengan percaya diri memasuki halaman rumah dan memencet bel pintu yang berkamera menempel di dinding samping pintu.


"Ini adalah hari pertamaku untuk bertanggung jawab kepada Aska. Kelak dia yang akan bertanggungjawab atas diriku ha ha ha" batin Renata terkekeh entah apa yang ada di pikirkannya


Renata melambaikan tangannya ke arah kamera. Lalu mendekatkan tangan ke bibirnya dan mengucapkan kata “muah”. Kemudian bibirnya meniup di atas telapak tanganya seperti mengirimkan ciuman tersebut ke arah Aska yang mungkin sedang melihatnya melalui kamera. Aska yang berada di dalam kamarnya sampai bergidik ngeri melihat kelakuan Renata yang tidak tahu malu.


"Kenapa ada wanita yang benar-benar tidak punya malu seperti dia" ucap Aska sambil menggelengkan kepalanya dan masih bergidik ngeri karena sikap Renata yang agresif

__ADS_1


Tak lama kemudian pintu rumah terbuka sendiri secara otomatis setelah Aska memencet tombol yang ada di dalam kamarnya. Renata mulai masuk ke dalam rumah dan matanya bergerilya kemana-mana memandangi keadaan rumah yang sangat simple. Hanya ada ruang tamu, dapur, ruang makan, toilet dan tempat loundry. Ada satu kamar yang pintunya tertutup dan pastinya adalah kamar Aska.


Renata segera menuju ke dapur dan menaruh bekal yang dibawanya ke atas meja. Dia melihat secarik kertas yang diletakan Aska di atas meja. Sepertinya Aska tidak ingin menemuinya. Di kertas itu tertulis apa saja yang harus dilakukan Renata selama ada di rumahnya. Aska juga menyampaikan sebelum jam 8 pagi dia harus sudah pergi dari rumahnya.


"Kenapa dia tidak mau menemuiku, aku seperti pembantu yang tidak diinginkan saja. Menyebalkan sekali" ucap Renata sambil memindahkan nasi goreng dari kotak bekal ke piring yang sudah diambilnya dari dalam kabinet.


Sarapan untuk Aska sudah disiapkan Renata di atas meja. Kemudian Renata mulai mengambil sapu yang ada di ruang loundry dan menyiapkan cairan untuk mengepel lantai. Wajahnya terlihat bingung saat melihat botol-botol yang berisi cairan berjajar di atas rak. Dia pun mulai membaca satu persatu botol itu sampai menemukan cairan pembersih lantai. Setelah cairan pembersih lantai ketemu, dia membuat larutan di dalam ember sesuai petunjuk di botol.


"Ternyata aku cukup pintar juga, walau seumur hidup belum pernah membunuh kuman-kuman yang ada di lantai" ucap Renata sambil tersenyum bangga dengan kemampuannya


Sesuai instruksi yang diberikan Aska di dalam kertas, Niana disuruh menyapu rumah dulu sebelum mengepel lantai. Walaupun dia tidak pernah menyapu rumah setidaknya sebagai seorang manusia yang masih punya akal sehat alias tidak gila, pasti dia tahu bagaimana cara menyapu rumah. Selesai menyapu rumah, lalu dia mengepel menggunakan alat pel yang tidak perlu memeras dengan tangan secara langsung. Entah akan jadi seperti apa kuku-kuku panjangnya yang terawat rapi kalau Aska memberinya alat pel yang harus diperas dengan tangan langsung.


Kali ini Renata akan menyetrika baju Aska. Sekarang dia berada di depan meja setrika yang ada di dekat ruang loundry. Mungkin ini hal yang paling sulit untuk dilakukannya karena dia orang yang tidak sabar dan tidak terampil untuk merapikan sesuatu. Dia mulai menyertika baju yang sudah disiapkan Aska dalam keranjang baju. Tiba-tiba ponselnya yang diletakan di atas meja makan berdering. Dia meletakan setrika di tatakannya dan mengambil ponselnya lalu kembali ke ruang loundry.


"Halo Renata, apakah kamu sudah di rumah Aska?" ucap Niana memelankan suara ahar tidak terdengar oleh Dirga yang masih tidur


"Iya kak, ini Rena tinggal menyertika bajunya"


"Kalian tidak bertengkar lagi kan?"


"Kakak ipar tidak usah khawatir, aku bahkan belum bertemu denganya dari tadi karena Kak Aska saja mengunci diri di kamarnya. Dia akan keluar kamar setelah tugasku selesai" ucap Renata


"Syukurlah kalau kalian tidak berantem. Baiklah lanjutkan nyetrikanya, hati-hati dengan setrikanya jangan melamun" ucap Niana


"Oke" jawab Renata singkat lalu meletakan ponselnya di meja tempat keranjang baju.

__ADS_1


__ADS_2