
Isak tangis memenuhi ruangan jenazah yang terasa dingin dan sunyi. Niana terlihat berdiri terdiam di depan jenazah Dirga yang terbaring di atas branka. Dia hanya memandangi Renata dan Mama Sofi yang menangis memeluk jenazah Dirga. Hatinya sebenarnya juga penasaran ingin memastikan bahwa yang terbaring tak bernyawa di depannya bukanlah Dirga. Mr Ken yang berdiri diantara mereka terlihat menelan saliva dan membuang padangan seolah tak mampu melihat kesedihan mereka. Mama Sofi dan Renata berhenti memeluk Dirga dan menutupkan kembali kain putih itu ke wajahnya.
"Niana apa kamu tidak ingin melihatnya" tanya Aska yang berdiri di samping Niana
"Aku ingin melihat kedua tanganya. Kalau dia benar jenazah Dirga pasti dia memakai gelang yang aku berikan" ucap Niana yang tetap terdiam dengan hati yang gemetar dan kedua tangannya terlihat mengepal meremas ujung bajunya.
"Gelang?" lirih Mama Sofi dan Renata liri bersamaan dan saling memandang karena penasaran
"Iya gelang yang aku rajut sendiri dan aku berikan untuk kado ulang tahun Dirga. Dia berjanji akan selalu memakai gelang itu. Kalau dia benar-benar Dirga pasti dia memakai gelang yang aku berikan" ucap Niana mengusap butiran bening yang jatuh di sudut matanya karena teringat janji Dirga tentang gelang yang diberikannya
"Baiklah, aku akan membantumu membuka kainnya" ucap Aska
Aska pun mulai membuka kain penutup itu di bagian tangan sebelah kiri. Semua orang ikut penasaran ingin tahu apakah jenazah Dirga yang ada di depannya memakai gelang yang disebutkan Niana atau tidak. Hati Niana semakin gemetar saat tangan Aska membuka kain itu. Setelah kain itu terbuka Niana menatap tangan kiri Dirga dengan saksama lalu meminta Aska menutup lagi karena tangan kirinya tidak memakai apa-apa.
"Aku ingin melihat tangan kanannya" ucap Niana lalu Mr Ken yang berada di sisi kanan langsung membantu membukakan kain di bagian kanan yang menutup jenazah Dirga
__ADS_1
Mr Ken membuka kain itu dengan ragu. Setelah kain di bagian tangan kanan dibuka, dia terlihat menatap ke arah Mama Sofi dan Renata kemudian berpindah menatap Niana yang membuat mereka semua semakin penasaran mengartikan tatapan Mr Ken. Lalu Mr Ken meletakan tangan Dirga ke bagian atas perut agar semua orang bisa melihatnya.
Mata Niana berkaca-kaca menatap nanar tangan itu sambil menggelengkan kepala. Hatinya terguncang hebat dan seluruh tulang yang menopang tubuhnya terasa lemas dan pikirannya terasa pusing seperti sedang mabuk. Dia pun membungkam hidung dan mulutnya sendiri seolah tak percaya. Nampak sebuah arloji yang sering Dirga pakai. Gelang yang diberikannya pun benar-benar ada di tangan kanan tubuh yang telah terbujur kaku di depannya itu.
"Tidak..." lirihnya yang perlahan melangkah mundur dan berurai air mata sambil menggelengkan kepala
Tiba-tiba Niana pun jatuh pingsan. Aska yang berada di dekatnya dengan sigap langsung menopang tubuh Niana dan menggendongnya. Mereka segera membawa Niana ke ruang perawatan VVIP Hospital Sanjaya yang di sediakan khusus untuk keluarga Sanjaya. Mr Ken pun segera memanggil dokter kandungan untuk memeriksa keadaan Niana.
Dokter mengatakan keadaan janin dalam kandungan Niana baik-baik saja. Namun, Dokter meminta keluarga memberikan dukungan dan semangat untuk Niana agar psikisnya tidak semakin terpuruk. Apalagi kondisinya sedang hamil dan emosinya lebih mudah berubah-ubah. Mereka pun juga harus lebih tegar agar dapat menghibur Niana dan membawa Niana keluar dari keadaannya terpuruknya demi kesehatan mental dan fisiknya.
Aska pun telah menghubungi keluarganya yang ada di Surabaya saat jenazah Dirga di temukan. Beberapa jam kemudian keluarga Pak Hadi dan Ibu Arini serta Liana datang. Mereka langsung menghampiri Niana yang duduk bersimpuh di depan jenazah Dirga yang telah dikelilingi para takziah yang sedang membacakan doa.
"Niana, kamu harus sabar dan ikhlas ya sayang. Mama dan ayahmu akan selalu bersamamu" ucap Ibu Arini yang telah memeluk Niana dan Niana hanya bisa terisak meneteskan air mata tak mampu mengucap sepatah katapun
"Puteri ayah pasti kuat, ingat kamu harus terus semangat demi calon anakmu" ucap Pak Hadi dan Niana langsung berpindah memeluk ayahnya dengan berurai air mata dan terlihat susah menelan salivanya
__ADS_1
"Kak Niana harus semangat, kita semua bersama kakak. Pasti adik kecil di perut kakak senang kalau mamanya tersenyum" ucap Liana yang ikut duduk di sampingnya. Niana pun tersenyum tipis walau rasanya menyakitkan harus memaksa bibirnya tersenyum
Keesokan paginya Niana masih dengan kesedihannya. Pandangan matanya hanya bisa menatap kosong dan mulutnya terdiam membisu seolah tak ada semangat dalam hidupnya. Setengah jiwanya seperti terasa hilang meninggalkannya sendiri. Bahkan dari kemarin dia tidak berselera makan, walau dia sudah memaksa dirinya untuk makan tetapi makanan itu tetap saja keluar. Niana berada dalam kondisi seperti itu dari kemarin sampai proses acara pemakaman Dirga hingga Dirga dimasukan ke tempat peristirahatannya yang terakhir siang ini.
Para pelayat yang ikut mengantarkan jenazah Dirga ke peristirahatannya yang terakhir mulai meninggalkan makam. Niana yang terakhir kali meninggalkan makan Dirga. Dia mulai berjalan menghampiri keluarganya di sebrang jalan. Saat pengawalnya membantunya menyebrang jalan, tiba-tiba ada seseorang yang mengendarai motor dengan kecepatan tinggi hingga hampir menyerempet Niana yang saat itu tengah melamun. Untung saja pengawal lainnya langsung menariknya ke tepi jalan.
Entah siapa yang mengendarai motor seperti brandalan jalan dan sepertinya sengaja ingin mencelakai Niana. Mr Ken pun langsung mengikutinya dengan mobil, tetapi motor itu begitu gesit sehinga tidak terkejar. Motor itupun tidak punya plat nomor sehingga sulit untuk melacaknya.
Aska langsung menghampiri Niana yang tampak gemeter karena syok saat motor itu hampir menabraknya. Dia merangkul Niana dan membantunya menyebrang.
Kini suasana rumah sudah sepi dari para pelayat. Pak Hadi dan Ibu Arini memutuskan untuk tinggal di rumah Sanjaya selama seminggu untuk ikut mengirim doa selama 7 hari kepergian Dirga dan untuk memberi semangat pada Niana. Kehadiran keluarganya cukup mampu mengalihkan kesedihan Niana agar tidak berlarut-larut di dalamnya.
Setelah 7 hari kepergian Dirga, Niana tampaknya sudah mulai bisa menata hatinya. Dia berusaha kuat karena banyak keluarga yang berada didekatnya dan selalu mendukungnya. Pak Hadi dan Ibu Arini pun berpamitan untuk pulang ke Surabaya. Mereka berjanji akan datang lagi saat acara 4 bulan kehamilan Niana.
Sudah dua minggu Niana hidup tanpa Dirga di sampingnya. Saat bersama banyak orang, dia bisa sejenak melupakan segala kesedihan dan kenangan indahnya saat bersama Dirga. Tetapi saat malam datang, rasa sepi dan bayang-bayang Dirga mulai menghampiri ingatnya.
__ADS_1
"Sayang, aku merindukanmu. Apakah kamu benar-benar telah meninggalkanku dan si kecil? Kenapa begitu cepat kamu pergi? Bukankah kamu sudah berjanji akan datang menemuiku dan tidak membuatku menunggu lagi? Kenapa kamu malah pergi selamanya meninggalkan kami?" batin Niana yang telah merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil memandangi foto Dirga yang ada di atas nakas hingga matanya yang lelah menangis mulai terpejam