Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan

Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan
Episode 88 Salah Sangka


__ADS_3

Akhirnya Renata dan Niana sampai di depan swalayan yang berada di dekat pintu masuk perumahaan Sanjaya. Tidak lama kemudian, Aska datang dan memarkirkan mobilnya. Tiba-tiba perasaaanya jadi tidak karuan karena akan bertemu Renata. Padahal dia sudah biasa menghadapi kelakuan Renata yang selalu agresif padanya. Dia mencoba menata perasaannya agar tidak terlihat salah tingkah saat bertemu Renata karena pikirannya terus terbayang akan Renata yang tengah menari-nari.


"Cih apa yang aku pikirkan. Dengar Aska buang pikiran kotormu" batin Aska yang masih terdiam di dalam mobil


Renata yang sudah hafal sekali dengan mobil Aska langsung menghampiri mobil Aska. Tiba-tiba Renata sudah ada di samping pintu mobil, tepat di depan kaca pintu mobil hingga membuat Aska kaget. Renata menundukan kepalanya dan wajahnya menempel ke kaca mobil Aska karena kaca mobil yang gelap menghalangi pandangannya saat mengintip ke dalam mobil. Aska pun menoleh ke kaca mobilnya dan melihat Renata menyunggingkan senyum manisnya.


"Apakah itu bayangannya lagi" batin Aska saat melihat Renata menyunggingkan senyuman padanya


Aska mulai tidak bisa membedakan mana bayangan mana Renata yang asli. Lalu dia menampar pipinya sendiri agar lekas tersadar. Karena Aska tidak segera membuka pintu mobilnya, Renata yang sedari tadi mengetuk kaca mobil dengan ujung jari telunjuknya kini dia menggedor kaca mobil dengan telapak tangannya hingga Aska membuka pintu mobilnya.


"Kak Aska ngapain sih? Lama banget buka pintunya" gerutu Renata


"Mana leptopku?" ucap Aska menengadahkan telapak tangan kanannya sambil memalingkan wajahnya dari tatapan Renata


Tidak tahunya, Renata malah meletakan dagunya di atas telapak tangan Aska. Saat Aska menoleh padanya, Renata memiringkan kepalanya dan tersenyum manis. Tingkah laku Renata tak ayal membuat Aska semakin grogi dibuatnya. Susah payah dia menjaga agar tetap terlihat stay cool seperti es batu kini es batu itu hampir meleleh karena dia hampir mau membalas senyuman Renata. Tetapi suara Niana membuatnya tersadar dan menarik kembali bibirnya yang hampir melebar.


"Kak Aska" seru Niana yang berada beberapa langkah saat menghampiri mereka


"Kakak ipar, sudah dapat martabaknya? Cepat juga padahal antrinya banyak tadi" ucap Renata


"Aku pakai idemu yang asal bicara jadi aku bilang ke abangnya kalau aku lagi ngidam, terus diduluin sama abangnya" bisik Niana ke telinga Renata lalu menaik turunkan alisnya sambil tersenyum


"Wah pinter juga kakak" ucap Renata mengangkat ibu jarinya sambil manggut-manggut mengakui kelihaian kakak iparnya yang mampu membohongi abang penjual martabak


"Bukankah kamu dari dulu tidak suka martabak?" tanya Aska terheran memicingkan matanya


"Kak Niana lagi ngi...." ucap Renata terhenti karena mulutnya langsung disumpal sepotong martabak oleh Niana


"Aku memang tidak suka martabak kak. Aku hanya lagi ngikutin permintaan Renata untuk membelikannya martabak, iya kan Ren" seringai Niana sambil melirik tajam ke arah Renata dan tangannya mencubit lengan Renata


"Betul Kak Aska, maksudku tadi Kakak ipar lagi ngikutin permintaanku karena aku suka sekali dengan martabak yang manis semanis wajahku ini" tutur Renata mengerlingkan matanya ke arah Aska


"Cih, kenapa bisa ada wanita yang terlalu percaya diri sepertimu" Aska memalingkan wajah dengan senyum menyudut ke salah satu sisi sambil menggelengkan kepala dan berkacak pinggang


"Apa aku tidak manis?" ucap Renata mendekat ke wajah Aska sambil mendongakkan wajahnya dengan senyuman manis


"Manis sekali" batin Aska terbengong dengan tatapan sendu dan hampir tidak berkedip


"Hemmm" suara Niana membuyarkan pikiran Aska


"Lihat ini segala coklat, susu, selai belepotan di pipimu bagaimana tidak terlihat manis" sahut Aska sambil mengusap pipi Renata dengan ibu jarinya


"Lalu bagaimana sekarang apa aku terlihat lebih manis" ucap Renata mendekat ke Aska lagi setelah isian martabak yang menempel di pipinya diusapnya sampai bersih


"Menjauhlah dari ku" titah Aska menempelkan ujung jari telunjuk ke dahi Renata dan mendorongnya

__ADS_1


"Akui saja kalau aku memang manis" gumam Renata melahap martabaknya lagi


"Sudah kalian jangan berdebat lagi. Renata berikan leptopnya pada Kak Aska. Kita harus segers pulang" titah Niana


Setelah Aska menerima leptopnya, mereka pun segera pulang ke rumah masing-masing. Terlihat Mama Sofi telah menunggu Renata dan Niana untuk makan malam di ruang makan.


"Paman Yan apakah Renata dan Niana sudah pulang? Bukankah hanya ke swalayan depan, kenapa lama sekali" tanya Mama Sofi saat Paman Yan masuk ke dalam rumah


"Mungkin Nona Niana masih antri beli martabak nyonya. Kata Nona Renata, Nona Muda lagi ngidam" ucap Paman Yan membuat Mama Sofi kaget


"Benarkah? kenapa Niana tidak cerita ke saya kalau sedang hamil. Dirga juga tidak mengatakan pada saya" ucap Mama Sofi


"Saya kurang tahu nyonya, saya hanya mendengar dari Nona Renata" ucap Paman Yan


"Kalau begitu saya mau menanyakan pada Dirga saja benarkah Niana sedang hamil" ucap Mama Sofi beranjak dari tempat duduknya dan mau mengambil ponselnya yang ada di kamarnya


Sebelum Mama Sofi mengambil ponselnya, suara panggilan telepon rumah pun berdering melengking di telinga. Entah siapa yang melakukan panggilan ke telepon rumah. Jarak Paman Yan yang berada lebih dekat dengan nakas segera melangkah dan mengangkat gangang telepon itu.


"Halo, selamat malam?" ucap Paman Yan


"Halo paman, dimana semua orang kenapa tidak ada yang menganggkat panggilannku. Renata, Niana dan mama kenapa tidak membalas chat dan panggilannku"


ucap Dirga


"Tuan Muda, maaf tuan. Nyonya besar sedang menunggu nona Niana dan Nona Renata di ruang makan. Ponsel Nyonya besar ada di kamarnya jadi tidak tahu kalau Tuan Muda meneleponnya" ucap Paman Yan


"Nona Renata menemani Nona Niana pergi membeli martabak di luar perumahan depan swalayan. Kata Nona Renata, Nona Niana lagi ngidam, tuan"


"Ngidam?" ucap Dirga kaget


"Paman Yan tolong berikan teleponnya, saya mau bicara dengan Dirga" ucap Mama Sofi yang berjalan mendekati Paman Yan


"Ini nyonya" ucap Paman Yan menyerahkan gagang telepon ke Mama Sofi


"Dirga, ini mama. Apakah benar Niana sedang hamil? Kenapa tidak bilang ke mama?"


"Dirga juga baru saja tahu dari Paman Yan, ma" ucap Dirga


"Ya sudah, nanti mama tanya sama Niana langsung. Kamu sudah makan belum?"


"Dirga sudah makan baru saja"


"Kamu benar akan lembur hari ini, apakah pekerjaanmu masih banyak"


"Iya ma, Dirga pulang telat malam ini karena waktu Dirga untuk menyelesaikan pekerjaan kantor tinggal besok dan lusa Dirga terbang ke Australi"

__ADS_1


"Kamu jadi terbang ke Australi besok lusa"


"Iya ma, mau tidak mau Dirga harus ke sana karena wakil direktur perusahaan meminta Dirga datang menemui klien untuk menyelesaikan masalah disana. Kalau begitu Dirga tutup teleponnya mau lanjutin kerja"


"Ya sudah, hati-hati pulang nanti. Kalau capek istirahatlah" ucap Mama Sofi lalu menaruh gagang telepon ke tempatnya


"Maaf nyonya, benarkah Tuan Muda jadi pergi ke Australi besok lusa" tanya Paman Yan yang sedari tadi berdiri di samping Mama Sofi


"Sepertinya begitu paman" ucap Mama Sofi


"Lalu kapan Tuan Muda akan kembali ke Jakarta lagi?" tanya Paman Yan lagi


"Mungkin dia disana selama 3 hari paling cepat, kalau urusannya belum selesai juga bisa seminggu"


"Mama aku pulang" seru Renata yang tiba-tiba sudah muncul di depan pintu rumah


"Kalian darimana saja, kenapa lama sekali" tanya Mama Sofi


"Beli martabak ma, kakak ipar lagi pengen martabak jadi Rena anterin. Sampai Rena bela-belain antri cukup lama demi kakak ipar"


"Renata mau bilang apa lagi ke mama? Benar-benar ini anak membuatku harus berpikir keras" batin Niana mengatupkan bibirnya dan melotot ke arah Renata


"Iya ma tadi antriannya banyak jadi lama. Apa mama mau martabaknya" tanya Niana menunjukan kotak kardus yang berisi martabak yang tinggal setengah porsi


"Nanti saja Niana, kita makan dulu. Kalian belum makan kan?" ucap Mama Sofi


"Iya ma, Rena juga sudah lapar. Apalagi kakak ipar pasti lapar sekali karena... " ucap Renata terhenti karena Niana segera menarik tangannya menuju ruang makan


"Baiklah ayo kita makan Niana sudah lapar sekali" sahut Niana sambil melangkah dan menarik tangan Renata


"Niana sudah makan martabak setengah porsi tapi masih lapar juga, bukankah orang hamil biasanya makannya banyak. Jadi benar Niana lagi ngidam? Apa dia malu memberi tahu kehamilannya. Dasar anak muda masih malu-malu saja" batin Mama Sofi yang tengah membawa martabak di dalam kotak kardus yang diberikan oleh Niana.


Mereka pun akhirnya memulai makan malam bersama di ruang makan pukul setengah 8 malam. Kedua netra Mama Sofi terus mengamati Niana yang tengah menaruh makanan di piringnya. Niana terlihat mengambil nasi 3 centong, 2 potong ayam kecap dan sayuran dalam porsi lumayan banyak. Sepertinya Niana sedang lapar sekali seolah belum makan seharian. Sedangkan Renata yang sudah kekenyangan karena sudah menghabiskan setengah porsi martabak hanya makan sedikit.


"Niana tambah lagi" ucap Mama Sofi menaruh nasi satu centong dan satu potong ayam kecap ke dalam piring Niana


"Makasih ma" ucap Niana sambil mengunyah makanan yang memenuhi mulutnya


"Sepertinya Niana benar-benar lagi hamil, hari ini makanya lebih banyak dari biasanya padahal dia sudah makan martabak setengah porsi" batin Mama Sofi terkekeh dalam hati


"Mama, kakak ipar. Rena duluan ke kamar ya. Perut Rena sudah kenyang sekali" ucap Renata beranjak dari kursinya sambil mengusap perutnya


"Bagaimana kamu tidak kekenyangan, sudah makan martabak manis setengah porsi masih makan nasi" batin Niana


"Baiklah, Mama juga sudah mau selesai makannya. Niana kamu lanjutkan makannya tidak usah buru-buru" ucap Mama Sofi meninggalkan Niana sendirian menikmati makanannya

__ADS_1


"Baik ma" ucap Niana


Mama Sofi meninggalkan Niana sendirian di ruang makan agar Niana tidak canggung menikmati makanannya yang porsinya lumayan banyak. Tidak biasanya Niana makan dalam porsi sebanyak itu sehingga Mama Sofi pun menjadi salah sangka dan mengira Niana benar-benar sedang hamil.


__ADS_2