Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan

Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan
Episode 42 Ketahuan pura-pura amnesia


__ADS_3

Niana panik melihat kasur Dirga yang sudah dihias dengan kelopak bunga mawar. Mr Ken yang telah menyuruh pelayan hotel untuk mempersiapan kasur yang didesain khusus untuk pengantin baru. Niana seoalah tidak ingin tidur di kasur itu dan ingin mengobarak-abrik hiasan bunga mawar yang memenuhi ranjang itu. Dia lalu memutuskan untuk rebahan di sofa saja setelah melepas segala asesoris yang tidak berguna yang menempel di seluruh tubuhnya.


Lalu Dirga keluar dari kamar mandi dengan bathrobes dan melihat Niana tertidur di sofa masih dengan kebaya yang dipakainya saat ijab qobul tadi pagi. Dirga menghampiri Niana dan membungkukan badan memandangi wajah Niana. Tangannya mulai menyentuh pipi mulus Niana, lalu menyentuh hidung kemudian bibirnya. Rambut Dirga yang masih basah tiba-tiba meneteskan air di pipi Niana tanpa permisi. Sehingga Niana terbangun dan kaget saat Dirga menyentuh bibirnya. Dirga pun ikut terkejut lalu malah ambruk di atas tubuh Niana.


"Kamu mau apa?" ucap Niana menyilangkan tangan ke dadanya


"Memangnya aku mau apa sama istriku sendiri"


"Ingat walau kita sudah menikah, kamu tidak boleh melakukan apapun kalau aku tidak mengizinkan"


"Bukankah aku sudah menikahimu aku tidak perlu meminta izin pada mu. Kamu mau membodohiku dengan perjanjian tidak boleh saling menyentuh lagi. Aku bisa melakukan seperti ini tanpa izin" ucap Dirga yang langsung mencium pipi Niana lalu bangun dari atas tubuh Niana


"Kamu.. ah menyebalkan" ucap Niana marah


"Aku tidak ingin disetuh oleh mu karena kamu melakukan semua ini karena amnesia dan saat ingatanmu kembali, kamu akan meninggalkanku lagi seperti dulu. Bahkan di hatimu yang sebenarnya hanya ada Tania"


batin Dirga


"Mandilah dan ganti bajumu. Setelah itu kita makan siang"


"Niana aku tidak akan memaksamu selama kamu belum mencintaiku" batin Dirga


Tok tok tok Mr Ken mengetuk pintu kamar Dirga.


"Masuklah Ken"


"Maaf tuan muda mengganggu kesibukan anda"


"Ini kunci kamar Niana, serahkan ke resepsionis"


"Oh iya tuan, kemarin Saya bertemu Nona Tania di Hospital Sanjaya. Penelitiannya sebentar lagi akan selesai. Sebelum dia kembali ke Jerman, dia ingin berterima kasih kepada tuan dangan mengajak makan malam di resto favoritnya"


"Kamu tidak memberi tahu padanya kan, kalau aku sudah menikah dengan Niana"


"Tidak tuan, saya sudah paham"


"Bagus Ken. Atur saja Ken kapan aku harus menemuinya"

__ADS_1


"Nona Tania ingin makan malam saat hari ulang tahun anda besok"


"Baiklah"


"Ini akan jadi hari terakhir aku merayakan ulang tahunku bersamanya untuk mengucapkan salam perpisahan. Sekalian aku akan menegaskan kembali kalau aku sudah tidak mencintainya" batin Dirga


"Maaf tuan kapan tuan akan mengakhiri sandiwara ini. Saya ingin segera melihat tuan muda hidup bahagia dengan wanita yang anda cintai"


"Sandiwara ini akan berakhir setelah Niana mulai mencintaiku" ucap Dirga


"Hemmm kenapa anda masih suka bermain-main dengan Nona Niana. Jujurlah saja kalau sebenarnya anda tidak amnesia lagi" ucap Mr Ken


"Kalau saya tidak melakukan permainan ini, bagaimana saya tahu kapan Niana akan mencintaiku"


"Terserah tuan saja"


Di kamar mandi Niana kesulitan melepaskan kancing baju yang ada di belakang punggunggnya. Dia sudah berusaha melepasnya sendiri tetapi tetap sulit. Tanpa sengaja Niana mendengar semua percapakan Dirga dan Mr Ken saat dia mau meminta bantuan Dirga untuk melepas kancing baju di belakang punggungnya.


"Jadi dia hanya pura-pura amnesia hanya untuk menikahi ku dan mempermainkanku.Dia bersandiwara agar tahu kapan aku akan memcintainya. Dan setelah aku mencintainya, dia akan mengakhiri sandiwara ini dan meninggalkanku. Lalu kembali bersama Tania. Dirga kenapa kamu sangat jahat pada ku. Aku membencimu" batin Niana yang matanya berkaca-kaca dan butiran bening pun menetes di pipinya


Hati Niana terasa sedang digores pisau tajam. Langit seolah runtuh menghancurkan dan menghimpit jiwa dan batinya mendengar perkataan Dirga. Niana berpikir Dirga ternyata menikahi dirinya hanya untuk menorekan luka yang kedua kalinya. Tak mungkin bagi Niana untuk mencintainya lagi, sementara sakitnya masih membayangi.


Niana lalu mengusap air matanya. Dia buru-buru masuk kamar mandi lagi sebelum Dirga menyadari kalau dia telah mendengar pembicaraannya. Karena tidak hati-hati, kakinya terpeleset lantai kamar mandi yang basah. Sepertinya kakinya terkilir dan tidak bisa berjalan.


Gubrak...! Terdengar suara sesuatu yang jatuh di kamar mandi


"Aaachhhh....!" teriak Niana


"Niana kamu kenapa?" seru Dirga yang langsung membuka pintu


"Aku hanya terpelset karena lantainya basah. Apa yang kamu lakukan turunkan aku" ucap Niana saat Dirga menggendongnya


"Kamu diamlah kakimu sakit jangan dipaksa untuk berjalan?"


"Peduli apa kamu dengan kakiku? ini juga sandiwaramu saja kan" batin Niana


"Turunkan aku" teriak Niana tanpa dipedulikan Dirga

__ADS_1


"Jangan bandel" ucap Dirga sambil mencium pipi Niana


"Kamu... " ucap Niana kesal sambil memegang pipinya


"Kalau kamu tidak menurut, ciumanku bisa kemana-mana" ucap Dirga sambil tersenyum lalu membaringkan Niana di atas ranjang


"Apa yang mau kamu lakukan" ucap Niana panik karena dirinya sudah berada di atas ranjang yang dipenuhi mawar merah itu


"Kenapa kamu belum mengganti baju" ucap Dirga yang sedang mencari sesuatu dalam kotak obat di nakasnya


"Bajuku susah di buka, kancingnya dibelakang aku susah menggapainya" ucap Niana yang tangannya diletakan ke belakang berusaha meraih kancing-kancing bajunya


"Aku akan mengobati kakimu dulu" ucap Dirga yang membawa sebuah botol kecil


"Itu apa" tanya Niana


"Ini krim pereda nyeri dan melemaskan otot yang kram" ucap Dirga yang duduk di ranjang lalu meletakan kaki Niana di atas pahanya lalu mengoles sambil memijit pelan pergelangan kaki Niana


"Sepertinya kakiku sudah mendingan. Terima kasih" ucap Niana yang masih sibuk berusaha melepas kancing bajunya


"Baiklah istirahatlah dulu" ucap Dirga berjalan meletakan botol krim di atas meja yang ada di samping ranjang.


Dirga melirik ke arah tangan Niana yang kesusahan melepas kancing. Bahkan dari tadi baru 2 kancing baju yang baru terlepas. Padahal kancing baju itu banyak berderetan disepanjang tulang punggungnya.


"Baju ini benar-benar menyebalkan" gumam Niana yang tangannya masih ada dibelakang


"Aku akan membantumu membukanya" ucap Dirga yang sudah duduk di belakang Niana sambil melepas kancing itu


Niana pun terdiam saat Dirga mulai membuka kancing bajunya. Dia berharap segera bisa melepas baju yang membuatnya gerah itu. Punggung Niana yang putih mulus sedikit demi sedikit mulai terpampang di depan Dirga. Tak kuasa matanya melihat keindahan punggung Niana yang putih mulus itu hingga membuat pikirannya berdesir nakal. Dirga pun memejamkan matanya agar bisa menguasai dirinya.


Setelah kancing sudah terbuka setengahnya, Dirga menghentikan tangannya untuk membuka kancing lagi karena sudah dirasa cukup buat Niana untuk melepas bajunya sendiri.


"APakah segini sudah cukup?" tanya Dirga berhenti melepas kancing


Nianapun menggelengkan kepala karena merasa masih sedikit kesusahan. Lalu Dirga melepas beberapa lagi kancing baju sampe bajunya terbuka hingga pinggang Niana. Ingin rasanya Dirga menyentuhnya lembut. Entah apa yang akan terjadi kalau dia tidak segera pergi dari sana. Mungkin dia tidak akan bisa mengendalikan diri untuk melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh pasangan pengantin baru.


"Saya keluar dulu, gantilah bajumu. Kalau butuh bantuan panggil aku" ucap Dirga bergegas pergi

__ADS_1


"Baik, terima kasih"


__ADS_2