Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan

Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan
Episode 115 Tamu Tak Dikenal


__ADS_3

Sudah 2 minggu kepergian Dirga meninggalkan Niana dan keluarganya. Semakin hari Niana semakin tidak bisa makan karena selalu muntah setiap mulai menyendok makanan ke dalam mulutnya. Akhirnya dokter memberikan obat antimual dengan dosisi yang lebih tinggi dari yang biasanya dia minum. Tetapi obat antimual pun sepertinya tidak memberikan pengaruh yang signifikan. Akhirnya dia pun jarang berangkat ke tokonya karena kondisi tubuhnya tidak kuat untuk melakukan pekerjaan. Dia pun sering merasa pusing dan berkunang-kunang hingga mau pingsan.


Siang itu dia ingin makan di taman, mungkin saja mualnya bisa teralihkan jika memandangi bunga-bunga mawar yang bermekaran indah dan menyejukan mata. Dia pun duduk di kursi yang berada di teras taman dengan makanan yang dia letakan di atas meja. Saat menyendok makanannya sambil melihat ke seliling taman, perutnya terasa mual lalu ia membungkam mulutnya sendiri untuk menahan makanan yang sudah memenuhi mulutnya agar tidak keluar.


Saat Niana mengedarkan pandangan matanya sambil membungkam mulutnya, tiba-tiba terlihat seorang wanita berumur lebih dari separuh baya dari jarak sedikit jauh darinya. Kira-kira wanita itu seumuran Mama Sofi. Wanita itu sedang memandangi mawar-mawar yang tumbuh indah menarik perhatian. Dia terlihat berdecak kagum memandangi bunga mawar di taman itu. Sebuah senyuman menghiasi wajahnya saat menyentuh bunga mawar yang ada di depannya, seolah terpesona dengan keelokan warnanya.


"Siapa ibu-ibu itu? Apakah dia masih punya hubungan keluarga dengan keluarga Sanjaya. Kenapa aku belum pernah melihatnya" batin Niana yang masih membungkam mulutnya


Niana pun terkesiap saat melihat seorang laki-laki berkacamata bulat berwarna bening berjalan menuju taman juga. Laki-laki itu terlihat berpakaian santai layaknya anak muda seumuran Niana. Dia mengenakan kaos panjang hitam dengan topi hitam di kepalanya. Laki-laki itu datang menghampiri wanita yang seumuran Mama Sofi itu. Terlihat laki-laki itu merangkul wanita yang tersenyum melihat bunga-bunga mawar di depannya.


"Siapa lagi laki-laki itu, mereka ingin bertemu siapa? kenapa mereka tidak langsung masuk rumah saja kalau mau menemui keluarga Sanjaya? " batin Niana


Niana tak menghiraukan mereka karena dia mau memulai makan siangnya. Entah kenapa rasa mual yang bergejolak di perut Niana pun pelan-pelan mulai menghilang bahkan makanan yang hampir dimuntahkannya tadi akhirnya ditelan dengan nikmat. Niana yang merasa sudah kelaparan mulai makan dengan lahap sambil memandang ke arah mereka. Entah apa yang membuat dia tidak memuntahkan makanannya bahkan rasa mualnya tak terasa lagi.


Saat memandangi sekeliling taman rumah, Laki-laki itu menatap Niana yang sedang makan dengan lahap. Terlihat laki-laki itu menggelengkan kepala dan sebuah senyum menyudut nampak dari sudut bibirnya seolah menertawakan Niana yang seperti tidak makan selama berhari-hari.


Niana tidak mempedulikan siapa mereka, yang penting dia bisa makan dulu. Karena jarak Niana dan mereka cukup jauh jasi Niana tidak bisa melihat dengan jelas wajah laki-laki itu dan topi yang dipakainya menutupi setengah wajahnya.


"Paman Yan, mereka siapa?" tanya Niana pada Paman Yan yang tiba-tiba muncul dari arah belakang Niana


"Sepertinya saya juga kurang tahu nona. Kalau begitu saya akan menyambut mereka. Permisi" ucap Paman menunduk dan langsung melangkah menghampiri mereka


"Permisi, tuan dan nyonya ingin bertemu siapa?" tanya Paman pada mereka

__ADS_1


"Perkenalkan saya Elisa dan ini anak saya namanya Reval" ucap wanita itu sambil mengulurkan tangannya


"Reval" jawab singkat lelaki itu mengulurkan tangannya pada Paman Yan dengan setengah wajah yang masih tertutup topi


"Maaf ada keperluan apa tuan dan nyonya datang kemari?" tanya Paman Yan lagi sambil melirik ke arah lelaki yang sedari tadi menundukan wajahnya


"Kami mau bertemu Tuan Hartawan Sanjaya dan Nyonya Sofi" ucap wanita itu


"Maaf nyonya, Tuan Hartawan Sanjaya sudah meninggal beberapa tahun yg lalu. Anda bisa menemui Nyonya Sofi. Apakah anda sudah membuat janji dengan Nyonya Sofi?" tanya Paman Yan


"Sebenarnya saya sudah lama membuat janji dengan Nyonya Sofi tapi kami baru bisa datang sekarang" ucap wanita itu


"Baiklah silahkan masuk, tuan dan nyonya bisa ikut dengan saya" ucap Paman Yan


"Permisi, Nyonya Besar. Ada dua orang tamu yang katanya sudah membuat janji bertemu dengan nyonya? Mereka menunggu di ruang tamu" ucap Paman Yan pada Mama Sofi yang sedang duduk santai di ruang tengah


"Tamu? Sepertinya saya tidak membuat janji dengan siapapun hari ini. Siapa mereka Pak Yan" ucap Mama Sofi


"Saya juga kurang tahu nyonya. Namanya Nyonya Elisa dan anaknya bernama Reval" ucap Paman Yan


"Baiklah saya akan menemui mereka" ucap Mama Sofi


Mama Sofi melangkah menuju ruang tamu. Dia melihat wanita yang kira-kira seumuran dengannya duduk di sofa. Sedangkan anak laki-lakinya masih di luar melihat ke arah taman tempat Niana berada. Entah kenapa laki-laki itu seoalah tertarik melihat Niana yang makan dengan lahap.

__ADS_1


"Selamat siang Nyonya Sofi, perkenalkan saya Elisa, saya bersama anak saya Reval. Dia masih diluar" ucap Ibu Elisa


"Iya bu, maaf ada keperluan apa mencari saya?" tanya Mama Sofi


"Apakah nyonya tidak mengenali saya" tanya Ibu Elisa


"Maaf saya lupa, seperti saya pernah melihat anda tapi dimana ya?" ucap Mama Sofi sambil berpikir


"Saya Elisa perawat yang dulu membantu menjaga kedua anak kembar nyonya" ucap Ibu Elisa


"Oh iya saya baru ingat, anda suster Elisa yang dulu sering membantu merawat anak saya waktu saya lahiran di rumah sakit kan?" ucap Mama Sofi


"Iya nyonya" jawab wanita itu singkat


"Ada apa Ibu Elisa ingin menemui saya?" tanya Mama Sofi penasaran


"Sebelumnya saya mengucapkan turut berduka cita atas meninggalnya putra nyonya yang bernama Dirga. Saya benar-benar syok mendengar kabar putra keluarga Sanyaja yang disiarkan di televisi beberapa hari yang lalu. Saya juga ingin meminta maaf atas kesalahan yang saya lakukan pada nyonya. Sebagai sesama perempuan saya benar-benar tidak pantas disebut seorang ibu yang baik" ucap wanita itu tertunduk sedih seolah merasa sangat menyesal dan Mama Sofi pun terlihat kebingungan


"Saya jadi bingung, memangnya Ibu Elisa telah melakukan kesalahan apa pada saya?" tanya Mama Sofi


"Kesalahan saya terlalu besar dan mungkin sulit untuk dimaafkan. Tapi saya benar-benar menyesalinya nyonya, saya berharap nyonya akan memaafkan saya setelah saya mengatakan semuanya" tutur wanita itu sambil menangis dan langsung duduk bersimpuh mau mencium kaki Mama Sofi


"Apa yang anda lakukan Ibu Elisa, bangunlah. Katakan kesalahan apa yang sebenarnya anda lakukan, saya akan memaafkannya" ucap Mama Sofi memegang kedua bahu wanita itu seraya membantunya berdiri dan duduk kembali ke sofa

__ADS_1


__ADS_2