
Pagi ini cuaca telihat sedikit mendung. Sang mentari pun terlihat malu menampakan dirinya. Terlihat beberapa pelayan di kediaman rumah Sanjaya yang sibuk merapikan rumah untuk menyambut kepulangan Dirga. Sedangankan para pelayan dapur sibuk menyiapkan menu masakan yang istimewa. Sedangkan Paman Yan nampaknya sedang mengawasi beberapa pelayan rumah di bagian taman.
Karena hari ini Dirga akan pulang, Niana pun juga terlihat sibuk merawat tubuhnya. Dia sedang memakai lulur di kamar mandi untuk membuat kulit tubuhnya terlihat fresh dan halus agar Dirga semakin senang dan semakin candu padanya saat bertemu dengannya. Selesai mandi, ponselnya terdengar berdering di atas nakas. Niana pun segera mengangkatanya dengan suasana hati yang diliputi rasa bahagia, rindu dan sedikit khawatir juga karena dia takut terjadi sesuatu pada Dirga yang telah kembali dari luar negeri.
"Halo kesayangan, kamu sedang apa? Bagaimana keadaanmu dan si kecil?" ucap Dirga melalui ponselnya
"Aku baru selesai mandi. Kami sehat semua daddy" ucap Niana
"Aku baru saja sampai di bandara. Sebentar lagi akan pulang munuju ke rumah"
"Apakah Mr Ken akan menjemputmu?" tanya Niana khawatir
"Dia sedang rapat di kantor tapi dia sudah menyiapkan mobil dan pengawal untuk menjemputku. Kamu tidak perlu khawatir, aku sudah di Jakarta dan akan segera pulang menemui kalian" ucap Dirga
"Hati-hati sayang, jangan membuat kita menunggu lama. Kami sudah rindu sekali sama daddy" ucap Niana sambil mengusap perutnya
"Oke aku tutup dulu panggilannya. Aku mau menuju ke tempat parkiran" ucap Dirga
"Baiklah, hati-hati muaacchh" ucap Niana mematikan ponselnya
Dirga pun menuju bassment yang khusus untuk menjemput para penumpang yang sudah turun dari pesawat. Dia mencari mobil yang diinstruksikan Mr Ken melalui earpiece yang dipasang di dalam telingannya.
"Tuan para pengawal menunggu anda di dekat mobil lexus milik tuan yang berwarna hitam" ucap Mr Ken
"Oke aku akan mencari mereka. Apakah rapatmu sudah selesai?" tanya Dirga
"Baru saja selesai tuan. Tapi masih ada beberapa berkas yang harus saya kerjakan dan harus segera diserahkan pada klien siang ini" ucap mr Ken
__ADS_1
"Oke, sepertinya aku sudah menemukan mobilku" ucap Dirga berdiri di depan mobilnya sambil mencocokan plat mobilnya yang tentunya sudah sangat dihafalnya
Di samping mobil itu terlihat dua orang pengawal sedang berdiri berpakaian hitam-hitama seperti seragam para pengawal Renata dan Niana. Salah satu pengawal itu bertubuh besar dan kekar sedangkan yang satunya berpostur tinggi mirip perawakan Dirga. Mereka menunduk hormat saat Dirga mengamati mobilnya.
"Pengawal, Tuan Dirga sudah tiba. Segera antarkan Tuan Dirga ke rumah" ucap Mr Ken melalui earpiece yang terhubung juga dengan pengawal yang mengawal Dirga
"Baik tuan" jawab kedua pengawal itu bersamaan pada Mr Ken
"Kenapa suara mereka seperti sedikit berbeda. Apa mungkin karena mereka berbicara bersamaan jadi terdengar beda?" batin Mr Ken
Karena merasa aneh dengan para pengawal yang menjemput Dirga akhirnya Mr Ken memutuskan earpiece yang terhubung dengan para pengawal itu. Dia juga bingung kenapa suara pengawal sebelumnya tidak sama dengan yang baru saja dihubunginya. Terakhir para pengawal yang menjemput Dirga berpamitan padanya untuk ke kamar mandi. Entah apa yang terjadi suara mereka pun sudah sedikit berubah.
"Silahkan masuk Tuan Dirga, kami pengawal yang diperintah Mr Ken untuk menjemput tuan" ucap pengawal yang berpostur mirip Dirga sambil membukakan pintu untuk Dirga
Dirga pun masuk ke mobil dan pengawalnya memasukan kopernya ke dalam bagasi belakang. Mobilnya terlihat mulai meninggalkan bassment bandara
tanya Mr Ken
"Iya Ken, mobilku baru saja keluar dari bandara. Ada apa Ken?" tanya Dirga penasaran
"Tuan tetaplah waspada. Saya merasa pengawal anda ada yang aneh" ucap Mr Ken
"Baik aku mengerti" ucap Dirga mengangkat tangannnya ke atas membenarkan posisi earpiece yang ada di dalam telingannya
Pengawal yang menjemput Dirga terlihat saling mengedipkan mata seolah sedang memberi kode ketika Dirga mulai duduk di kursi belakang. Dirga pun merasa curiga pada mereka karena mereka tak memakai name tag seperti para pengawalnya Renata dan Niana. Tak ada identitas yang mereka kenakan.
"Bukankah Ken merekrut mereka dari satu perusahaaan. Kenapa mereka tidak memakai name tag" batin Dirga
__ADS_1
Beberapa saat kemudian pengawal itu mengemudikan mobil ke jalan yang berbeda. Mereka membawa Dirga melewati jalan yang tidak biasanya dilalui saat pulang ke rumah. Sepertinya pengawalnya melajukan mobil yang melewati pantai. Jalur itu memang jarang dilalui karena banyak tanjakan dan tikungan yang curam bahkan di sisi samping jalan itu jurang dan lautan yang cukup dalam. Walau jalur itu bisa juga menjadi alternatif menuju ke rumah tetapi Dirga mulai menyadari bahwa mereka memang bukan pengawalnya. Dengan tetap tenang Dirga memutar akalnya agar bisa keluar dari mobil itu.
"Pengawal kenapa kita melewati jalan ke arah pantai. Jalan ini akan semakin lama menuju ke rumah dan jarang dilewati" ucap Dirga
"Jalan ini juga bisa mengantarkan tuan pulang, bukankah jalan yang sepi ini lebih nyaman dan tidak macet" ucap pengawal yang mengemudi sambil melirik ke arah pengawal lain yang duduk di sampingnya
Kemudian pengawal yang postur tubuhnya mirip Dirga itu berpindah ke belakang sambil menodongkan belati ke arah Dirga. "Tuan, anda diamlah saja. Serahkan semua yang anda miliki" ucapnya dengan mata terbelalak.
"Kalian siapa dan siapa yang menyuruh kalian? tanya Dirga
"Itu tidak penting, serahkan tas yang anda bawa kalau tidak belati ini akan menusuk leher anda" ucap pengawal gadungan yang ada di samping Dirga sambil meletekan belati itu ke leher Dirga. Pengawal gadungan itu mengira tas Dirga berisi uang dalam jumlah banyak.
"Astaga tuan apakah anda baik-baik saja? Saya akan segera menyusul tuan" ucap Mr Ken segera meninggalkan ruangan kantor dan masih tetap mendengar percakapan Dirga dengan para pengawal gadungan itu
"Baiklah aku berikan tas ini" ucap Dirga menatap tajam ke arah belati yang tengah menyentuh kulit lehernya
"Apakah kamu tidak menginginkan baju dan semua asesoris yang aku pakai? Kalian boleh mengambil semuanya tapi turunkan aku dijalan" ucap Dirga pada pengawal gadungan di sampingnya
"Bagus sekali berikan semua pada kami. Tapi jangan anda pikir kami akan membiarkan anda tetap hidup?" ucap pengawal gadungan yang duduk di samping Dirga sambil tertawa terbahak-bahak diikuti pengawal gadungan yang mengemudikan mobil
Mr Ken segera meninggalkan kantor menyusul Dirga ke jalan yang menuju arah ke pantai. Dia langsung tancap gas dengan kecepatan tinggi karena tuannya sedang dalam bahaya. Kemacetan jalan semakin membuatnya khawatir, apalagi terdengar suara perkelahian dari earpiecenya.
Mr Ken terjebak di dalam kemacetan jalanan kota. Wajahnya terlihat tegang dan panik. Dia pun mulai mengambil rute jalan yang tidak macet walau jaraknya lebih jauh. "Setidaknya aku bisa menambah kecepatan lagi daripada terjebak dalam kemacetan" batinnya setelah berada di rute jalan yang sedikit sepi. Mobilnya kini terlihat bergerak lebih gesit daripada saat berada di rute jalan yang macet tadi. Kecepatan mobil pun nampak semakin lebih kencang karena perkelahian antara Dirga dan pengawal gadungan itu terdengar semakin panas. Mobil yang ditumpangi Dirga juga terdengar menghantam sesuatu beberapa kali.
Mendadak Mr Ken menghentikan mobil yang dikemudikannya. Suara rem yang diinjaknya sampai terengar berderit melengking memekak telinga. Pandangannya pun menatap kosong ke depan setelah terdengar bunyi ledakan dan dibarengi teriakan dari dalam mobil. Setelah itu earpiecenya tidak mendengarkan sesuatu lagi.
"Tuan...? tuan Dirga apakah anda masih disana? Tuan apa yang terjadi? Apakah anda masih mendengar saya?" ucap Mr Ken yang sepertinya tak ada jawaban apapun dari Dirga. Terlihat Mr Ken terdiam meletakan kepalanya di atas kemudinya setelah dipukulnya berkali-kali kemudi itu dengan kepalan tangannya.
__ADS_1
Paman Yan yang masih sibuk mengawasi para pelayan rumah yang tengah merapikan rumah dan taman terlihat berjalan menuju sebuah tempat yang sepi di belakang rumah saat membaca pesan dari para bandit suruhannya. Dia berdiri di balik pilar besar yang seoalah bisa menutupi persembunyiannya. Nampak sebuah vidio yang dikirimkan para bandit itu di ponselnya. Paman Yan pun melihatnya dengan senyum tipis seolah merasa telah yakin para bandit itu sudah bekerja dengan baik.