Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan

Sandiwara Cinta Yang Menggemaskan
Episode 79 Duka Mendalam


__ADS_3

Mereka akhirnya turun ke lantai bawah setelah berpakaian rapi dan serasi. Semua orang sudah menunggu mereka untuk sarapan. Tidak ada satu orang pun yang berani melakukan protes pada Tuan Muda dan Nona Muda Sanjaya itu, setelah mereka dibuat menunggu lama oleh mereka. Orang-orang yang telah menunggu mereka dari tadi sudah menahan lapar hingga isi perutnya ingin memberontak keluar menyesapi sendiri hidangan makanan yang tersaji di atas meja. Mereka pun mulai menikmati sarapanya dengan lahap karena usus-usus di dalam perut dari tadi menjerit protes ingin segera diberi asupan makanan. Terlihat Mr Ken dan Paman Yan berdiri dibelakang Dirga menunggu keluarga Sanjaya itu sarapan.


"Oh iya ma, Niana juga akan ikut melayat bersama kita. Aku dan Niana akan naik mobil yang dibawa Ken" ucap Dirga memecah kediamaan disaat semua sedang menikmati makanannya


"Baiklah, ajaklah istrimu ikut melayat. Kasihan juga kalau Niana ditinggal di rumah. Apalagi kakinya juga masih sakit" ucap Mama Sofi


"Kasihan Kak Tania, Renata sedih sekali tiba-tiba mendengar kabar yang mengejutkan ini. Padahal dia selalu terlihat bersemangat seperti tidak pernah sakit. Karirnya belum juga tercapai tapi dia sudah pergi selamanya di umur yang masih muda. Kak Tania harus pergi disaat karir yang diimpikan tinggal selangkah lagi, sayang sekali" ucap Renata menghentikan makannya yang baru habis 2 sendok


"Takdirnya sudah begitu. Sudah habiskan makanmu, kita akan segera melayat" ucap Dirga


"Paman Yan tolong nanti antarkan mama dan Renata melayat. Kita akan berangkat bersama" ucap Dirga tetapi tidak ada jawaban dari Paman Yan yang berdiri dibelakangnya. Seolah Paman Yan tidak mendengar ucapan tuannya. Entah apa yang sedang Paman Yan pikirkan.


"Paman...? Paman Yan" seru Dirga yang menghentikan makannya


"Dia satu-satunya miliku telah pergi, bayi mungilku yang baru sekali aku gendong saat itu. Dia pergi karena anda, iya karena anda. Aku tidak akan memaafkannya rasa sakit ini" batin Paman Yan yang tengah berdiri mematung tak mendengar ucapan Dirga, seolah batinnya sedang berbicara dengan orang yang sepertinya sedang dibencinya


Semua orang melihat ke arah Paman Yan yang berdiri mematung di belakang Dirga. Entah pendengarannya mulai berkurang atau karena pandangan matanya yang terlihat kosong seperti sedang melamunkan sesuatu. Dibalik frame kacamata tuanya yang tak pernah lepas dari wajahnya, terlihat matanya seperti berkaca-kaca. Raut wajahnya pun terlihat seperti menahan kesedihan berbalut amarah. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh pria tua yang umurnya sudah setengah abad lebih itu. Sampai telinganya seperti sudah tidak bisa mendengar saat Dirga memanggilnya dua kali.


"Ayah... Tuan Muda memanggilmu" ucap Mr Ken menghampiri Paman Yan yang berdiri di sampingnya. Mr Ken memegang lengan ayahnya yang terlihat diam saja dan mengguncangkannya pelan. Lalu Paman Yan menoleh ke arah Mr Ken

__ADS_1


"Ayah, Tuan Dirga memanggil ayah" ucap Mr Ken lagi pada Paman Yan


"Maaf tuan, saya sedang kurang enak badan" ucap Paman Yan yang terlihat susah menelan salivanya


"Jadi Paman tidak bisa mengantar mama dan Renata melayat?" tanya Dirga berdiri membalikan badan menghadap ke arah Paman Yan


"Mengantar melayat Nona Tania?" ucap Paman Yan terkejut


"Iya Paman, siapa lagi?" seru Renata


"Baiklah saya akan mengantarkan nyonya Besar dan Nona Renata" ucap Paman Yan yang berubah pikiran menjadi antusias sekali


"Saya sudah mendingan tuan, setelah tadi minum obat" ucap Paman Yan


"Baiklah kalau Paman merasa lebih baik" ucap Dirga memicingkan mata saat melihat sikap Paman Yan yang terlihat aneh


Setelah menyelesaikan sarapannya mereka berangkat ke rumah orang tua Tania. Dirga dan Niana berada dalam satu mobil yang dikemudikan Mr Ken, sedangkan Mama Sofi dan Renata berada dalam satu mobil yang dibawa oleh Paman Yan.


Sesampainya di rumah duka, sudah terlihat banyak orang yang pakaiannya di dominasi warna hitam begitu juga dengan Dirga dan keluarganya. Seolah pakaian hitam yang mereka kenakan itu menandakan ikut merasa kesedihan dan duka yang mendalam. Tampak Nyonya Fenita, mamanya Tania, terisak meneteskan air mata berdiri menyambut tamu dan didampingi Tuan Ferdinan suaminya. Kedua kakak Tania dan kakak iparnya juga ikut menyambut tamu, keluarga, sanak kerabat handai taulan yang ingin mengucapkan turut berduka atas kepergian Tania. Hanya Tuan Ferdinan yang wajahnya tidak menunjukan kesedihan sama sekali, entah ingin terlihat tegar atau memang punya alasan tersendiri.

__ADS_1


Dirga dan keluarganya menemui Tuan Ferdinan dan Nyonya Fenita. Sebelumnya Dirga pernah bertemu mereka sekali saat Tania mengajaknya makan malam di rumahnya saat mereka pulang dari Australi dulu. Dirga sedikit mengenal bagaimana karakter Tuan Ferdinan yang saat itu seperti mengacuhkannya dan seolah tidak peduli dengan apapun yang berhubungan dengan Tania. Sedangkan Nyonya Fenita yang ceria terlihat ramah dan mudah mencairkan suasana saat suaminya terlihat kaku dan acuh pada Dirga.


Tuan Ferdinan sepertinya sangat mencintai Nyonya Fenita dan menyayangi kedua kakak laki-laki Tania yang sering dibanggakannya. Namun entah mengapa hanya pada Tania saja perlakuaanya sedikit berbeda. Walaupun ayahnya membedakan kasih sayang antara kakaknya dan dirinya, Tania selalu menghormati dan menyayangi ayahnya. Bahkan demi meraih karirnya agar bisa seperti kedua kakak laki-lakinya dan bisa menjadi kebanggaan ayahnya, Tania sampai rela memilih karirnya daripada Dirga kekasihnya yang saat itu ingin segera menikahinya.


"Om Ferdinan, Tante Fenita saya turut berduka cita atas meninggalnya Tania" ucap Dirga di depan kedua orang tua Tania sambil mengulurkan tangan menyalami keduanya dengan membawa Niana yang duduk di kursi rodanya di depan Dirga


"Terima kasih Dirga, maafkan atas sikap Tania yang dulu. Tante tidak bisa mencegahnya saat dia memilih karirnya daripada kamu kekasihnya" ucap Nyonya Fenita yang terisak dan sesekali mengusap matanya dengan tisu


"Dirga sudah memaafkannya Tante. Dirga juga minta maaf tidak bisa bertahan dengan Tania dan sekarang Dirga sudah menikah. Semoga Tania bahagia disurga" ucap Dirga sambil memegangi pundak Niana yang duduk di kursi rodanya


"Salam kenal om, tante. Saya Niana istrinya Dirga. Saya turut berduka cita atas meninggalnya Tania" ucap Niana


"Terima kasih Dirga, Niana" ucap Nyonya Fenita yang langsung menyenderkan kepalanya ke pelukan suaminya Tuan Ferdinan yang berdiri di sampingnya dengan wajah datar tanpa terlihat kesedihan sedikitpun dari sorot matanya


Kemudian Mama Sofi dan Renata menyalami mereka dan mengucapkan bela sungkawa. Setelah semua keluarga Sanjaya menyalami keluarga Tania disusul Mr Ken dan ayahnya yang ada di belakang. Terlihat Paman Yan menyalami Nyonya Fenita dan Tuan Ferdinan tanpa memandang ke arah mereka dan tanpa mengucapkan apapun, seolah ingin segera berlalu dari hadapan mereka.


"Ken ayah mau ke toilet sebentar, kamu masuklah dulu nanti ayah menyusul" ucap Paman Yan


"Baik ayah, jangan lama-lama karena para pelayat semakin banyak. Kasihan kalau Nyonya Sofi dan Nona Renata menunggu lama" ucap Mr Ken dan langsung masuk mengikuti Dirga dan yang lainnya

__ADS_1


Mereka satu persatu mendekat ke peti jenazah seraya memberikan doa yang terbaik untuk sang mendiang Tania yang telah pergi selama-lamanya. Setelah semua mendoakan Tania, mereka segera meninggalkan ruangan yang mulai dipenuhi para pelayat. Dirga dan yang lainnya lalu meninggalkan ruangan peti jenazah tempat Tania di baringkan.


__ADS_2