
Niana dan Renata berjalan menuju kursi taman yang tidak jauh dari swalayan. Aska yang berjalan lebih dulu sudah duduk bersandar membentangkan kedua tanganya di sepanjang sandaran kursi seolah ingin menguasai kursi satu-satunya di taman itu. Kursi taman itu hanya bisa di duduki dua orang saja.
Renata yang terburu-buru mau ikut duduk karena takut tidak diberi tempat duduk oleh Aska, tiba-tiba tersandung batu dan jatuh di pangkuan Aska hingga topinya terlepas. Aska dengan sigap memegangi tubuhnya agar kepalanya tidak terbentur kursi yang didudukinya. Aska yang penasaran dengan wajah Renata mulai membuka kacamata yang dipakai Renata.
"Kenapa bocah tengil ini menutup wajahnya, apakah selain tengil wajahnya buruk rupa juga" batin Aska sambil membuka maskernya
"Kakak tampan tunggulah aku akan buat kau takluk denganku saat melihat kecantikanku" batin Renata dengan percaya dirinya sambil tersenyum dalam hati
Aska tiba-tiba terbengong memandangi Wajah Renata setelah melepas masker yang menutupi wajahnya. Wajah Renata memang cantik seperti barbie matanya bulat besar dengan bulu mata yang lentik, dagunya lancip dengan bibir tipis. Aska tidak berkedip menatap wajah Renata, hatinya tidak memungkiri kecantikannya. Dengan wajah datar tiba-tiba melepaskan tangannya yang memegangi tubuh Renata. Tubuh Renata jatuh berguling di atas rerumputan taman. ALih-alih ingin membuat Aska terpesona dengan wajah cantiknya, justru Renata jatuh tersungkur menggelundung di rumput. Karena Aska tak sedikitpun tertarik dengan kecantikan Renata, walau tidak dipungkiri dalam hatinya Renata memang cantik.
"Kakak ipar, kenapa kakakmu ini kejam sekali padaku?" seru Renata
"Sini berikan tanganmu biar aku bantu berdiri" ucap Niana yang duduk di kursi rodanya
"Gimana kakak mau bantuin aku, kakak saja berdiri sendiri saja tidak bisa. Yang ada kita nanti malah sama-sama jatuh" gerutu Renata
"Kak Aska, kenapa diam saja ayo bantuin Renata bangun" titah Niana
Aska berajak dari kursi dan brdiri di samping Renata. Dia memberikan tangannya pada Renata. Senyuman kemenangan terukir di bibir Renata sambil mengulurkan tangannya. Tiba-tiba Aska menarik tangannya lalu membuat gerakan mengusap rambut ke belakang kepalanya dan kembali duduk dengan wajah datarnya.
"Jadi dia hanya pura-pura mau menolongku, keterlaluan sekali" batin Renata yang masih duduk di atas rumput mendengus kesal
"Kak Aska...! Niana tidak mau bertemu kakak lagi kalau kakak tidak bisa bersikap baik dengan Renata" seru Niana
"Baiklah aku bantu bocah tengil ini, berikan tanganmu" ucap Aska pada Renata
Renata pun langsung tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Aska
__ADS_1
"Terima kasih kakak tampan" ucap Renata
"Tidak perlu berterima kasih, aku membantumu karena permintaan Niana"
"Baiklah sekarang kalian sudah tidak bertengkar lagi. Jadi Kak Aska tolong maafkanlah sikap Renata kemarin yang tidak sengaja mengotori bajumu" pinta Niana
"Tidak bisa, dia seenaknya pergi tanpa bertanggung jawab setelah membuat bajuku kotor dan kakak jadi kehilangan proyek kakak di sini"
"Kakak tampan, Rena akan bertanggung jawab. Memangnya proyek dr perusahaan apa? Kakakku bisa membereskannya untuk kakak ganteng dengan mudah" ucap Renata dengan percaya diri
"Cih aku tidak sudi menerima bantuan dari kakakmu yang brengsek itu" ucap Aska kesal
"Kenapa kakak tampan benci sekali dengan Kak Dirga?" batin Renata
"Kak Aska, tolong berbaikanlah dengan Dirga. Aku tahu kakak pernah bertengkar dengannya karena aku. Tapi itu semua hanya kesalahpahaman" ucap Niana
"Maaf Niana, aku tidak bisa berbaikan dengan Tuan Sanjaya dan adiknya yang tengil ini" ucap Aska sambil melirik tajam ke arah Renata
"Kak Aska tampan sekali kalau lagi marah, lirikan matanya membuat hatiku meleleh" batin Renata yang memandangi wajah Aska sampai tidak berkedip sambil tersenyum seperti orang bodoh
"Bocah tengil ini malah tersenyum, apakah dia bodoh tidak bisa melihat kalau aku membenci keluarganya" batin Aska
"Hemm Kak Aska benar-benar keras kepala" ucap Niana kesal
"Yang jelas bocah tengil ini harus bertanggung jawab sendiri atas perbuatannya tanpa melibatkan kakaknya" ucap Aska melirik ke arah Renata yang masih tersenyum seperti orang bodoh
"Renata, bagaimana? apa kamu mau bertanggung jawab sendiri, Ren... Renata?" seru Niana yang memegang tangan Renata sambil menggoyang-goyangkan tangannya
__ADS_1
"Hei bocah tengil, selain wajah bodohmu telingamu juga tuna rungu" ucap Aska menjentikan jarinya ke dahi Renata yang tengah memandangi Aska sambil melamun
"Aach sakit sekali. Tidak perlu menjentik dahiku juga, aku dengar semuanya" seru Renata mengusap-usap dahinya
"Baguslah kalau kamu sudah tahu, jadi untuk membayar proyek ku yang hilang gara-gara kamu, aku minta tiap pagi kamu ke rumahku untuk mengurusi segala keperluanku sebelum aku berangkat ke kantor selama seminggu" titah Aska
"Disuruh jadi istrimu sekalian juga aku mau. Aku akan mengurusmu bukan hanya tiap pagi saja" ucap Renata menyentuh dada bidang Aska dengan jari telunjuknya
"Siapa yang mau menjadikanmu istri? Kamu aku suruh jadi pembantu di rumahku. Dari menyiapkan sarapan, menyetrika baju kantor, dan membereskan rumah saat pagi sebelum aku berangkat ke kantor" ucap Aska memegang tangan Renata yang tidak tahu malu menyentuh dadanya, lalu menghempaskannya dengan kasar
"Tak apa-apa awalnya pembantu selanjutnya jadi istrimu" ucap Renata dalam hati sambil tersenyum
"Dasar wanita aneh, dijadikan pembantu malah tersenyum tidak jelas" batin Aska
"Kak Aska yakin dengan keputusan kakak? Renata itu putri keluarga Sanjaya apakah kakak yakin dia bisa mengerjakan semua perintah kakak" tanya Niana
"Aku tidak peduli dia bisa atau tidak. Sebagai ganti dia sudah menghilangkan proyek ku jadi aku menyuruhnya jadi babu setiap pagi agar aku bisa menemui klienku tepat waktu"
"Lebih baik Kak Aska cari pembantu yang bisa 24 jam mengurusi rumah dan keperluan kakak. Kenapa menyuruh Renata?" protes Niana yang tidak ingin Renata dijadikan pembantu oleh kakaknya
"Kakak ipar, aku setuju kok mengurusi segala kebutuhannya selama seminggu, lebih dari seminggu pun aku juga mau. Hanya menyiapkan sarapan, nyetrika baju dan beres-beres rumah kan? Itu gampang sekali" ucap Renata berbohong karena dari lahir sampai sekarang hidupnya selalu dilayani oleh para pelayan rumah. Bahkan dia belum pernah menyentuh dapur sekalipun, bagaimana mungkin dia bisa menyiapkan sarapan.
"Tuh dia saja senang, jadi kamu tidak perlu khawatir dengan adik iparmu yang tengil ini. Aku tidak akan berbuat macam-macam padanya" ucap Aska
"Hemm baiklah kalau kalian sama-sama sudah sepakat, yang penting masalah kalian sudah selesai" ucap Niana
"Terserah kalian saja, kepalaku pusing memikirkan dua orang ini. Yang satu keras kepala yang satu hemm tersenyum-senyum terus seperti orang bodoh" batin Niana kesal sendiri
__ADS_1
Sebenarnya Niana khawatir dengan Renata jika dia tidak mampu melakukan apa yang diperintahkan Aska. Renata seorang putri Sanjaya yang memiliki tangan halus mulus dengan jari-jarinya yang ramping dan kuku panjang terawat apakah mampu melakukan pekerjaan rumah. Niana kini membayangkan saat Renata yang tidak pernah menyentuh dapur seumur hidupnya, entah masakannya akan layak dimakan manusia atau tidak. Dia juga tidak pernah memegang sapu dan dan mengepel. Bisa-bisa lantai rumah Aska jadi seluncuran dan bisa jadi wahana ice skating. Menyetrika baju pun dia pasti juga tidak tahu, mungkin baju Aska akan rusak atau malah membakar rumah Aska. Bagaimana kalau Renata malah membuat Aska semakin marah. Apalagi kalau Dirga sampai tahu Renata disuruh mengurus pekerjaan rumah oleh Aska. Hal itu akan membuatnya marah besar dan hubungan antara Dirga dan Aska semakin tidak baik.